NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Penyesalan di Ujung Napas, Kesempatan di Ujung Mata

Dingin. Ruangan ini sangat dingin, tapi tidak sedingin hatiku saat melihat tubuh kaku di atas ranjang itu. Seeula, istriku yang malang, akhirnya pergi mendahuluiku. Wajahnya yang keriput tetap terlihat anggun, namun ada satu hal yang terus menghujam dadaku seperti belati berkarat: dia mati tanpa pernah merasakan kehangatan yang tulus dariku. Selama puluhan tahun, aku menjadi dinding es yang tak tertembus, mengabaikan senyum tulusnya hanya karena egoku sebagai pria yang haus kekuasaan.

"Maafkan aku, Seeula," bisikku dengan suara serak yang terlambat puluhan tahun.

Lalu, segalanya menjadi gelap. Pandanganku kabur, napasku sesak, dan jantungku seolah berhenti berdetak secara paksa. Aku pikir ini adalah akhir. Aku pikir aku akan membusuk di neraka atas ketidakpedulianku.

Namun, saat aku membuka mata, bau yang menyengat langsung menusuk hidungku. Bukan bau disinfektan rumah sakit atau parfum mahal di mansionku, melainkan bau apek dari bantal busuk dan hawa panas yang pengap. Aku tersentak bangun, memandang sekeliling dengan jantung yang berdegup kencang. Ini adalah kamar kos sempitku saat aku masih berusia dua puluh tahun. Kamar berukuran tiga kali tiga meter dengan atap bocor yang selalu menjadi saksi bisu kemiskinanku dulu.

Aku bangkit dan langsung berdiri di depan cermin kecil yang retak di pojok ruangan. Sosok di dalam cermin itu bukan lagi kakek tua yang rapuh, melainkan pemuda dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tajam, meskipun tubuhnya terlihat agak kurus karena kurang gizi.

"Aku... kembali?" gumamku sambil menyentuh wajahku sendiri.

Aku mencari kalender di atas meja kayu yang sudah reot. Tahun ini adalah tahun di mana aku baru saja memulai segalanya dari nol. Tahun di mana aku belum memiliki apa-apa selain otak yang jenius dan ambisi yang meluap-luap. Dan yang paling penting, ini adalah waktu sebelum aku bertemu dengan Seeula.

Aku mengepalkan tangan hingga buku-bukuku memutih. Di kehidupan sebelumnya, aku sukses besar, tapi aku gagal sebagai manusia. Kali ini, aku akan membangun kekaisaranku lagi. Aku akan menjadi lebih kaya, lebih kuat, dan lebih dominan dari sebelumnya. Tapi tujuanku bukan lagi sekadar harta, melainkan untuk memberikan dunia yang terbaik bagi Seeula saat waktunya tiba nanti.

Namun, aku tahu satu hal. Aku tidak boleh menemuinya sekarang. Dengan kondisiku yang miskin dan tidak punya apa-apa ini, aku hanya akan menjadi beban atau pria biasa yang tidak bisa melindunginya dari kerasnya dunia. Aku harus membangun benteng kesuksesanku dulu sebelum menjemput ratuku.

"Tunggu aku, Seeula. Aku akan datang padamu sebagai pria yang paling layak di dunia ini," janjiku pada udara kosong yang pengap.

Langkah pertamaku dimulai hari ini. Aku hanya punya uang sepuluh ribu rupiah di saku celanaku. Tapi bagiku, itu sudah lebih dari cukup untuk memutar roda takdir. Aku keluar dari kamar kos, mengabaikan perutku yang keroncongan, dan berjalan menuju pusat bisnis kota. Di kepalaku, ribuan strategi bisnis yang sudah terbukti berhasil di masa depan mulai berputar seperti mesin yang baru saja diberi bahan bakar.

Aku mendekati sebuah kios koran dan melihat grafik bursa efek yang terpampang di halaman depan. Mataku menyipit. Aku ingat betul, minggu depan perusahaan teknologi 'X-Core' akan mengalami skandal besar yang menjatuhkan harga sahamnya hingga ke titik nadir, sebelum mereka bangkit menjadi raksasa setahun kemudian. Ini adalah celah pertamaku.

Aku butuh modal cepat. Dan aku tahu persis di mana harus mencari uang haram untuk dijadikan modal halal yang berlipat ganda. Ada sebuah tempat pelelangan barang antik di sudut kota yang sering kali salah menilai barang berharga. Dengan pengetahuan masa depanku, aku tahu ada sebuah guci kusam di sana yang sebenarnya adalah peninggalan Dinasti Ming yang tak ternilai harganya.

Aku melangkah dengan pasti, mengabaikan tatapan remeh orang-orang yang melihat pakaianku yang lusuh. Mereka tidak tahu bahwa pria yang mereka pandang rendah ini adalah calon penguasa ekonomi di masa depan. Namun, saat aku baru saja akan menyeberang jalan, sebuah mobil mewah melintas cepat dan hampir menyenggol tubuhku.

Kaca mobil itu terbuka sedikit, memperlihatkan sosok pria angkuh yang melempar uang receh ke arahku sambil tertawa mengejek.

"Minggir, gelandangan! Jangan menghalangi jalan orang sukses!" teriak pria itu dengan nada yang sangat meremehkan.

Aku hanya diam, mengambil uang receh itu, dan menatap tajam ke arah mobil yang menjauh. Nama pria itu adalah Darwin, kompetitor utamaku di masa depan yang dulu pernah membuatku jatuh bangun. Di kehidupan ini, dia baru saja memulai kesalahan terbesarnya dengan meremehkanku di hari pertama reinkarnasisiku.

"Tertawalah selagi bisa, Darwin," ucapku dengan senyum dingin yang bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya.

Aku terus berjalan menuju tempat pelelangan itu. Rencanaku harus sempurna. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Aku masuk ke gedung pelelangan yang megah, kontras dengan penampilanku. Penjaga keamanan langsung menghadangku dengan wajah tidak senang.

"Maaf, tempat ini bukan untuk pengemis," cegatnya dengan nada ketus.

Aku menatap matanya dalam-dalam, menggunakan aura dominanku yang sudah terasah selama puluhan tahun sebagai CEO. Penjaga itu tampak tersentak, langkahnya mundur selangkah seolah-olah dia baru saja melihat predator buas di depannya.

"Aku di sini bukan untuk mengemis. Aku di sini untuk membeli sesuatu yang kalian tidak tahu harganya," kataku dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Tanpa menunggu izinnya lagi, aku melangkah masuk. Di dalam sana, suasana sangat riuh dengan orang-orang berpakaian formal. Mataku langsung memindai sudut ruangan, mencari guci kusam yang aku maksud. Ketemu. Guci itu terletak di rak paling bawah, tertutup debu dan dianggap sebagai sampah oleh para kolektor amatir di sini.

Harga pembukaannya hanya seratus ribu rupiah. Aku harus mencari cara mendapatkan uang itu dalam waktu satu jam, atau guci itu akan jatuh ke tangan orang lain yang beruntung. Aku menoleh ke arah meja administrasi dan melihat seorang pria tua yang tampak frustrasi dengan laptopnya.

Aku mendekatinya. "Anda butuh bantuan dengan enkripsi data itu? Saya bisa menyelesaikannya dalam lima menit, asalkan Anda memberi saya upah seratus ribu rupiah sekarang juga."

Pria tua itu menatapku ragu, tapi karena keputusasaan di wajahnya, dia akhirnya menggeser laptopnya ke arahku. Tanganku bergerak lincah di atas keyboard, mengetikkan barisan kode yang bahkan belum ditemukan di era ini. Hanya dalam tiga menit, data yang terkunci itu terbuka sempurna.

"Ini... bagaimana bisa?" tanya pria itu terperangah.

"Simpan kekaguman Anda. Saya butuh uangnya sekarang," tuntutku tanpa basa-basi.

Setelah mendapatkan uang itu, aku langsung menuju meja lelang. Saat guci kusam itu mulai ditawarkan, aku mengangkat tangan dengan mantap. Tidak ada yang menawar. Orang-orang hanya tertawa melihatku membeli barang rongsokan itu.

"Satu... dua... tiga! Terjual kepada pemuda di sana!" seru juru lelang.

Aku mengambil guci itu dengan tangan gemetar. Bukan karena beratnya, tapi karena aku tahu guci ini adalah kunci pertamaku menuju kekayaan miliaran rupiah. Tapi, saat aku hendak keluar dari gedung, seseorang menabrak bahuku dengan keras hingga guci itu hampir terlepas dari tanganku.

Sesosok pria berbadan besar dengan pakaian safari hitam berdiri di depanku. Dia menatap guci di tanganku dengan tatapan serakah.

"Hei, Nak. Serahkan guci itu padaku. Aku beri kau satu juta rupiah. Itu untung sepuluh kali lipat untukmu," katanya dengan nada memerintah yang tidak menyenangkan.

Aku mendongak, menatapnya datar. "Barang ini tidak dijual."

"Jangan keras kepala. Kau tidak tahu siapa aku," ancamnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.

Aku tahu persis siapa dia. Dia adalah anak buah dari salah satu mafia pasar gelap yang nantinya akan menjadi musuh besarku. Di saat yang sama, aku menyadari bahwa keluar dari gedung ini dengan guci berharga ini tidak akan semudah yang aku bayangkan. Penyesalan terbesarku di masa lalu adalah tidak pernah belajar bela diri, tapi di masa depan aku adalah ahli strategi yang tahu cara memanfaatkan situasi.

Aku melihat sekeliling, mencari celah. Dan di saat itulah, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku hampir copot. Di ujung jalan, di seberang gedung ini, seorang gadis dengan gaun putih sederhana sedang berjalan sambil memeluk buku-buku kuliahnya.

Seeula.

Darahku berdesir hebat. Keinginanku untuk berlari dan memeluknya begitu kuat hingga dadaku sakit. Tapi aku langsung menahan diri. Aku tidak boleh. Belum saatnya. Jika aku menemuinya sekarang dalam keadaan dikejar preman, aku hanya akan membahayakannya.

Aku memalingkan wajah, menyembunyikan identitasku, dan kembali fokus pada pria besar di depanku.

"Kau ingin guci ini?" tanyaku sambil mengangkat guci itu tinggi-tinggi.

Pria itu menyeringai. "Nah, begitu dong. Anak pintar."

"Tangkap kalau bisa!"

Aku melemparkan guci itu bukan ke arahnya, melainkan ke arah tumpukan karung pasir di pojok ruangan yang empuk, lalu aku berlari ke arah berlawanan dengan kecepatan penuh. Aku harus menghilang dari pandangan Seeula dan menyelesaikan urusan ini sebelum matahari terbenam.

Namun, saat aku berlari melewati gang sempit, aku menyadari bahwa aku tidak hanya diikuti oleh satu orang. Ada tiga orang lainnya yang sudah menunggu di ujung gang dengan kayu pemukul di tangan mereka.

Aku terjebak. Dan satu-satunya senjataku hanyalah otakku dan tekad untuk hidup demi menebus dosa pada istriku.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!