Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Inara Kembali
Riki juga mengikuti abang nya kebelakang, ia juga berlari, sambil memanggil Inara.
"Uni Naraa." Ucapnya langsung memeluk inara, tidak lama setelah itu kerah bajunya diangkat seseorang lalu ia melepaskan pelukan Inara.
"Nara, mengapa tidak memberitahu abang kalau kesini." Ucap Riko ia juga memeluk Inara, Hanya pelukan kasih sayang sebagai saudara, Riko memang menyayangi Inara adik perempuan satu-satunya.
Riko sekarang seumuran dengan Kenzo dia juga kelas tiga SMA tahun ini, dia sekolah di SMA satu Pariaman.
Sekolah disana juga terkenal dengan prestasi nya termasuk sekolag bagus di kota Pariaman.
"Aku tidak mau merepotkan karena aku tidak manja lagi, lagian abang kan juga sekolah!, aku tadi kebetulan lewat disini dan turun dari bus! Tidak dari stasiun jadi bang Riko tidak perlu menjemputku."
Inara menjelaskan kedaannya kepada Riko, kalau tidak Riko pasti merasa bersalah, karena membiarkan Inara kesini sendirian.
Mereka semua makan bersama karena Inara sore ini akan kembali ke Padang, teman teman timnya sudah mengabari bahwa mereka akan kembali.
Inara diantar keluar untuk menunggu bus karena mereka tidak menjemput jadi mereka hanya mengantarkan saja, sudah membuat hati mereka senang.
Inara juga membawa oleh-oleh dari Pariaman, tadi ia pergi dengan koper penuh, ia kira saat pulang kopernya akan ringan, nyatanya tidak justru penuh lagi.
Beberapa jam kemudian rombongan Inara sampai di kota Padang, mereka sampai did kota malam hari, jadi bus hanya langsung menuju kesekolah.
Inara juga sudah memberitahu keluarganya bahwa ia sampai malam hari dan turun di sekolah ia minta tolong untuk menjemputnya kesekolah.
Saat ayah Inara akan berangkat kebetulan Kenzo juga lewat.
"Om, apakah mau jemput Nara?, aku saja yang menjemputnya kebetulan aku juga perlu kesekolah." Ucap Kenzo kepada ayah Inara.
"Kamu pakai motor, kata Inara ia banyak membawa barang penuh." Ucap Ayah Inara, lalu ia teringat sesuatu.
"Lebih baik om saja yang menjemputnya hari sudah larut malam, tidak baik dengan reputasinya, dia seorang gadis dan kamu seorang laki-laki." Ucap Ayah Inara lagi, ia berubah pikiran.
Kenzo juga memikirkan itu, lalu ia setuju dengan ide Ayah inara, tiba-tiba saja ia mendapatkan Ide baru.
"Tunggu Om...! Aku saja yang nyetir kamu duduk saja bisa istirahat." Ucap Kenzo lagi sambil tersenyum lalu ia menyimpang motor nya lagi kedalam rumahnya.
"Tunggu aku om!." Ucap Kenzo dia putar balik kembali ke rumahnya, tidak lama setelah itu ia kembali.
Ayah Inara hanya bengong dia belum sempat menjawab pertanyaan Kenzo, tetapi Kenzo sudah kembali dan ada dihadapannya sekarang sambil meminta kunci mobil.
"Om mana kuncinya dan silahkan masuk om." Ucap Kenzo membukakan pintu mobil untuk Ayah inara.
Ayah Inara terpaksa masuk kedalam mobil ia hanya berpikir tidak apa sekalian mendapatkan sopir jadi ia tidak lelah lagi nyetir.
Setelah mobil berjalan, baru ayah Inara mengeluarkan isi pikirannya, ia melihat Kenzo yang fokus menyetir.
"Kamu memang sengaja menjemput Inara, tidak ada keperluan sama sekali! " Tanya Ayah Inara kepada Kenzo.
"Aku memang ada keperluan om, karena aku sebagai ketua osis, aku harus memastikan keselamatan teman-teman yang lain nya." Jawab kenzo dengan lancar.
"Benarkah." Ayah inara mulai percaya apa yang di omongin Kenzo, tetapi dia juga merasa sedikit ganjil dan dia hanya mengabaikan perasaannya karena tidak tahu apa yang ganjil.
Tidak lama setelah itu mereka sampai di depan gerbang sekolah, Inara dan kawan-kawan yang jemputannya belum datang menunggu disana.
Kenzo memarkirkan mobil, lalu keluar dari dalam mobil, sambil memanggil Inara.
"Nara!." Panggil Kenzo ia berlari kearah Inara lalu mengambil koper di tangan inara, ia terkejut isinya sangat berat.
"Kenapa berat sekali, apakah kamu yang mengangkat keluar dari bos?" Tanya Kenzo sambil membawa Koper inara ke mobil.
"Ayo ikuti keparkiran." Ucap Kenzo lagi, dari tadi Inara ingin berbicara tetapi tidak bisa karena kenzo mengerocos dari tadi.
"Bang Ken sudah selesai ngomongnya, giliran aku sekarang." Ucap Inara dengan sambil menahan suaranya karena kesal.
"Udah apa yang ingin kamu bicarakan, kita bicara saat berjalan saja, ayahmu sudah menunggu di mobil." Ucap Ken lagi, lagi-lagi Nara terkejut ternyata ayahnya juga datang semobil dengan Kenzo.
"Kamu datang bersama ayah ku ?mana motormu lalu mengapa kamu ada disini?" Ucap Inara ia bertanya sangat banyak tanpa spasi dan koma, karena jika ia berhenti kenzo tidak mengizinkannya berbicara lagi.
"kebetulan aku ada urusan disini, dan aku ngebeng dengan ayahmu karena searah, sekalian menjemputmu." Ucap Kenzo lagi menjawab dengan santai.
"Terimakasih telah menjemputku!, ayo kasihan ayah menunggu lama dia juga harus istirahat, tapi aku malah merepotnya, seandai aku bisa bawa mobil." Kata Inara lagi, ia melanjutkan langkahnya menuju parkiran.
"Apa kamu mau belajar bawa mobil aku bisa mengajarinya." Ucap Kenzo lagi kepada Inara.
"Baiklah, setelah liburan semester aku belajar dengan mu." Ucap Inara ia tidak keberatan jika kenzo yang mengajarinya.
"Tapi jangan bosan ya, aku sedikit susah jika mempelajari membawa kendaraan, karena aku takut jatuh." Ucap Inara lagi dengan santai.
"Aku pasti sabar mengajarimu, tetapi Nara jika ingin belajar memang ada jatuh dan merasakan sakit terlebih dahulu." Ucap Kenzo lagi.
"Iya aku tahu, karena itu aku berusaha agar tidak jatuh." Ucap Inara lagi, dan ia sudah sampai di depan mobilnya.
Kenzo membukakan pintu di belakang untuk Nara duduk, lalu menaruh koper dibagasi mobil.
"Apakah urusanmu sudah selesai nak kenzo." Ucap Ayah Inara, karena ia melihat Kenzo dengan cepat kembali bersama Inara.
"Sudah om! Dan kebetulan aku bertemu Nara di gerbang." Ucap Kenzo lalu nyalain mesin mobilnya dan bersiap berangkat.
Ayah Inara hanya mengangguk tanda setuju, sedangkan Nara mengernyit dahinya.
"jadi seperti itu dia bisa ngebeng dengan ayah, pantas saja ayah percaya?." Gumam inara sambil tersenyum.
Tidak lama setelah itu mereka sampai dirumah, Bunda Dewi dan Varel belum tidur masih menunggu mereka.
"Bunda mengapa belum tidur!" Inara melihat bunda nya belum cukup khawatir dengan kesehatan bunda lalu ia melihat Varel.
"Jangan salahkan adikmu dia sudah mengingatkan bunda untuk istirahat, bunda tidak tenang sebelum melihatmu pulang." Ucap bunda Dewi
"Bunda aku tidak apa-apa sekarang masuklah kedalam, Varel bawa bunda kedalam tidak baik angin malam untuk kesehatan bunda." Ucap inara kepada bundanya, juga kepada adiknya.
"Ayo bun kita tunggu didalam!, apa kataku uni pasti memarahiku." Ucap Varel sambil mengajak bunda masuk kedalam, bunda Dewi hanya mengelus kepala Putranya lalu ia ikut ke dalam bersama Varel.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?