Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singularitas Qi Lin — Runtuhnya Hukum Berat Dunia
[Bagian 1: Kedatangan Sang Penjaga Bumi]
Magnus-Terra tidak bisa lagi menahan amarahnya di dalam istana yang bergetar. Dengan raungan yang menyerupai longsoran pegunungan purba, sang Senopati 5 itu melesat keluar, membelah udara dengan massa tubuhnya yang masif. Ia mendarat di puncak tertinggi tembok Gerbang ke-4, menciptakan retakan sedalam tiga puluh meter yang menjalar hingga ke kaki kawah. Zirah Inti Bumi miliknya membara dengan cahaya cokelat pekat, memancarkan tekanan gravitasi statis yang membuat setiap butir debu di sekitarnya memadat menjadi kristal padat sebelum jatuh menghantam tanah.
"Arkan! Kau pikir kau bisa melintasi wilayahku hanya dengan bermodalkan sedikit kegelapan?!" teriak Magnus-Terra, suaranya menggelegar, meruntuhkan beberapa menara pengintai di sekitarnya. "Aku adalah Magnus-Terra! Aku memegang mandat Hukum Berat dari Kaisar Drak! Di hadapanku, Black Hole milikmu hanyalah lubang kecil yang akan kutimbun dengan berat seluruh dunia ini!"
Arkan, yang duduk dengan anggun di atas singgasana gravitasi kasat mata, perlahan membuka kelopak matanya. Pupil matanya yang berwarna ungu kosmik menatap Magnus-Terra dengan tatapan yang sangat datar—bukan tatapan benci, melainkan tatapan seorang predator puncak yang melihat seekor serangga mencoba menghentikan badai.
"Berat seluruh dunia?" Arkan berbisik. Suaranya tidak keras, namun frekuensinya memotong semua mantera pelindung musuh seolah-olah itu hanyalah kertas tipis. "Magnus... kau bicara tentang berat seolah-olah kau memahami apa itu massa yang tak terbatas. Biarkan Aku menunjukkan padamu... apa artinya berat yang sebenarnya di hadapan Kehampaan."
[Bagian 2: Benturan Dua Gravitasi — Penekanan Seribu Gunung]
Magnus-Terra tidak menunggu lagi. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah langit yang kini berwarna kelabu. Teknik Sovereign: Penekanan Seribu Gunung!
Seketika, atmosfer di atas Arkan berubah warna menjadi cokelat tua yang sangat pekat. Massa energi tanah yang ditenagai oleh esensi Sovereign Menengah turun menekan Arkan dan Tiga Pilarnya. Tekanan itu begitu kuat hingga tanah di bawah kaki Arkan amblas seketika sedalam seratus meter. Partikel udara di sekitar mereka berderit, terkompresi hingga menjadi materi cair yang meledak karena panas. Sepuluh ribu prajurit di atas tembok bersorak, yakin bahwa Arkan akan hancur menjadi lempengan daging tipis.
Namun, Arkan hanya mengangkat satu jari telunjuknya ke arah massa gunung yang menekan dari langit. Singularitas Qi Lin: Penelanan Massa.
Di ujung jari Arkan, sebuah titik hitam yang lebih pekat dari kegelapan mana pun muncul. Titik itu tidak meledak, ia justru menghisap. Massa "Seribu Gunung" milik Magnus-Terra yang seharusnya bisa meratakan satu benua, tiba-tiba melengkung ke arah jari Arkan. Seperti air yang masuk ke dalam pusaran air raksasa, energi tanah yang masif itu terdistorsi, memadat, dan menghilang masuk ke dalam titik hitam di jari Arkan tanpa menyisakan satu debu pun.
"Apa?! Tidak mungkin!" Magnus-Terra terbelalak, langkahnya mundur selangkah hingga tembok di bawahnya retak. "Teknik Sovereign-ku... tertelan tanpa jejak?!"
[Bagian 3: Dekomposisi Atom — Kehancuran Zirah Inti Bumi]
Arkan tidak membiarkan Magnus-Terra bernapas. Ia melesat—bukan dengan gerak fisik, melainkan dengan Perpindahan Dimensi. Dalam sekejap, Arkan sudah berada tepat di depan wajah raksasa Magnus-Terra. Tangan kanan Arkan yang kini ditutupi oleh sisik hitam Dewi Qi Lin mencengkeram leher sang Sovereign yang berlapis baja inti bumi.
Magnus-Terra mencoba menghantamkan tinjunya yang seberat inti planet ke arah dada Arkan, namun tinjunya berhenti di udara—tertahan oleh medan gravitasi statis yang diciptakan Arkan secara instan.
"Hukum beratmu adalah budak bagi kegelapanku," bisik Arkan tepat di telinga Magnus-Terra yang mulai gemetar.
Arkan mengaktifkan Elemen Tanah: Dekomposisi Inti.
Zirah Inti Bumi milik Magnus-Terra yang legendaris, yang diklaim tak bisa dihancurkan oleh pedang dewa mana pun, mulai bergetar hebat. Arkan memerintahkan atom-atom penyusun zirah itu untuk saling menolak. Dalam hitungan detik, baja legendaris itu hancur menjadi pasir halus yang tertiup angin, meninggalkan sang Sovereign dalam kondisi telanjang dan rapuh di hadapan sang Penguasa Kosmik.
[Bagian 4: Sang Penguasa Berdiri di Puncak]
Magnus-Terra benar-benar hancur secara mental. Seluruh otoritasnya sebagai Senopati 5 musnah di depan sepuluh ribu pasukannya yang kini sudah tidak lagi berani mengangkat senjata. Mereka hanya bisa menonton dengan horor murni saat pemimpin mereka diangkat seperti ayam sayur oleh seorang Nirvana Realm.
"Arkan... ampuni... aku hanya menjalankan tugas..." Magnus-Terra terbata-bata, darah hitam mengalir dari setiap lubang di wajahnya karena tekanan internal yang menghancurkan organ dalamnya.
"Ampun?" Arkan tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang jauh lebih mengerikan dari amarah mana pun. "Aku datang bukan untuk menaklukkan, Magnus. Aku datang untuk meniadakan. Dan ketiadaan tidak mengenal konsep pengampunan."
Arkan mengaktifkan Eternal Ruin pada tingkat rendah. Tangan kirinya menyentuh dahi Magnus-Terra, dan seketika, esensi jiwa sang Sovereign itu mulai terurai menjadi partikel ungu yang terhisap masuk ke dalam dada Arkan. Magnus-Terra lenyap tanpa suara, seolah-olah ia tidak pernah ada di dunia ini.
Arkan berdiri di titik tertinggi reruntuhan Gerbang ke-4 yang mulai runtuh secara total. Ia menatap lurus ke arah pusat kekuasaan Kaisar Drak di cakrawala jauh. Di belakangnya, Srikandi, Liem, dan Cici berlutut serempak, aura mereka kini jauh lebih stabil dan mematikan setelah menyaksikan dominasi mutlak tuannya.
"Tiga gerbang tersisa," Arkan bergumam, suaranya merambat melalui frekuensi dunia yang kini ketakutan. "Dan setelah itu... Langit akan merasakan bagaimana rasanya tertelan oleh kegelapan yang mereka remehkan selama ini."
[Gema Pemusnahan]
Arkan mengepalkan tangannya perlahan, dan seketika, sisa-sisa energi Sovereign milik Magnus-Terra yang masih melayang di udara tersedot masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Langit yang tadinya kelabu mendadak bergetar, seolah fondasi ruang di atas Gerbang ke-4 tidak lagi sanggup menahan berat keberadaan Arkan.
"Tuan," Cici melangkah maju, sayap hitam-emasnya mengeluarkan percikan api yang melenyapkan debu di sekitarnya. "Sepuluh ribu prajurit ini... apakah mereka juga harus menjadi bagian dari
Arkan menatap hamparan lautan zirah hitam yang kini bersujud di bawah kawah. Sepuluh ribu prajurit elit itu tidak lagi memegang pedang; mereka memegangi kepala mereka, merintih dalam ketakutan yang melampaui kematian. Bagi Arkan, mereka bukan lagi ancaman, melainkan sekadar partikel materi yang tidak relevan.
"Biarkan mereka hidup," ucap Arkan dingin. "Dunia butuh saksi mata. Jika Aku membunuh mereka semua sekarang, siapa yang akan menceritakan pada Kaisar Drak bagaimana rasanya melihat hukum dunianya dikunyah oleh kegelapanku?"
Arkan mengangkat tangan kanannya ke arah gerbang raksasa yang sudah retak seribu. Teknik Pemusnahan Materi: Dekomposisi Total.
Tanpa ada ledakan suara, tanpa ada api yang berkobar, seluruh Gerbang ke-4—struktur yang dibangun dari mineral terkeras di alam semesta—mulai terurai menjadi butiran pasir hitam yang halus. Dalam hitungan detik, benteng legendaris itu hilang dari pandangan, menyisakan padang pasir hitam yang luas dan sunyi. Sepuluh ribu prajurit itu kini terduduk di atas tanah kosong, menatap langit yang kini benar-benar bolong karena auranya telah dimakan oleh Arkan.
"Srikandi, Liem, Cici... pergilah ke batas wilayah Gerbang ke-3," perintah Arkan. "Jangan serang dulu. Biarkan teror ini merambat melalui angin. Aku ingin mereka menghabiskan malam-malam mereka dengan membayangkan kapan lubang hitam ini akan sampai di depan pintu mereka."
"Siap, Tuan!" ketiganya menghilang dalam kilatan frekuensi yang merobek udara.
Arkan berdiri sendirian di tengah padang pasir hitam itu. Ia menutup matanya, merasakan getaran dari Dewi Qi Lin yang kini sedang mencerna esensi Magnus-Terra di dalam jiwanya. Sebuah penglihatan muncul di benak Arkan—sebuah singgasana di atas awan, di mana para Dewa dan Utusan Surga duduk dengan angkuh.