NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Dewan

Detak jam dinding di ruang rapat dewan terdengar seperti dentuman palu hakim di tengah keheningan yang mencekam. Kalimat Itsuki masih menggantung di udara, menciptakan getaran yang meruntuhkan dominasi Maruo Nakano dalam sekejap. Para anggota dewan saling pandang dengan wajah pucat; kehilangan lima siswi dari keluarga terpandang sekaligus, disertai skandal intimidasi, akan menjadi kiamat bagi reputasi Akademi Sakura.

Kepala Sekolah menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan yang sudah basah kuyup. Ia menatap Maruo, mencari instruksi, namun pria itu masih terpaku. Mata Maruo tidak lagi menatapku; ia menatap kelima putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, amarah, dan setitik pengakuan yang menyakitkan.

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Target (Maruo Nakano) Mengalami Kebuntuan Strategis]

[Bahasa Sistem: Otoritas Institusi Runtuh 92%]

"Kalian... benar-benar serius dengan ini?" Maruo akhirnya bersuara, nadanya rendah namun tidak lagi setajam sebelumnya.

"Kami tidak pernah seserius ini seumur hidup kami, Ayah," jawab Nino, suaranya tetap stabil meskipun aku tahu ia sedang memacu adrenalinnya hingga batas maksimal. "Pilihannya sederhana: akui bahwa apa yang kami lakukan adalah prestasi mandiri, atau lihat kami pergi dari sini dan membawa cerita ini ke publik."

Haruno Yukinoshita, yang sejak tadi menonton dari pojok, mendadak melompat turun dari meja. Ia berjalan ke tengah ruangan dengan senyum tipis yang tampak lebih tulus dari biasanya. "Sepertinya naskahmu benar-benar memiliki 'gigi', Ren-kun. Ayah-san, jika aku boleh memberikan saran sebagai alumni... menekan mereka sekarang hanya akan membuat mereka semakin membencimu. Dan dewan sekolah tidak akan sanggup menanggung beban berita utama jika mereka mengundurkan diri."

Maruo memejamkan matanya rapat-rapat. Ruangan itu kembali hening selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, ia mengembuskan napas panjang dan kembali duduk.

"Baiklah," ucap Maruo dingin. "Dewan akan menarik laporan mengenai pelanggaran kode etik. Saiba Ren akan tetap di sekolah ini, dan prestasi naskah itu akan diakui secara resmi."

Kepala Sekolah tampak sangat lega hingga hampir terjatuh kembali ke kursinya. "Terima kasih atas kebijaksanaan Anda, Nakano-san. Kalau begitu, rapat ini—"

"Tunggu," potong Maruo, matanya kini kembali tertuju padaku dengan intensitas yang lebih tinggi. "Aku punya satu syarat. Syarat pribadi yang tidak berhubungan dengan dewan sekolah, tapi berhubungan dengan posisimu terhadap putri-putriku."

Aku menyilangkan tangan di dada, mempertahankan ketenangan dewasaku. "Saya mendengarkan."

Maruo berdiri dan melangkah mendekat hingga kami hanya terpisahkan oleh sudut meja oval. "Jika kau ingin terus menjadi penasihat literasi atau apa pun sebutanmu bagi mereka, kau harus membuktikan bahwa pengaruhmu bukan hanya sekadar 'keajaiban sastra' sesaat. Ujian tengah semester akan tiba dalam satu bulan. Jika salah satu dari mereka gagal atau mendapatkan nilai di bawah rata-rata nasional, kau akan mengundurkan diri secara sukarela dan tidak akan pernah menghubungi mereka lagi."

Itu adalah sebuah jebakan klasik. Maruo tahu benar kelemahan akademis kembar lima. Dia mencoba memindahkan medan pertempuran dari sastra yang emosional ke angka-angka objektif yang kaku.

[Misi Baru Terdeteksi: Akademik Total]

[Target: Memastikan Kelulusan Lima Subjek dengan Nilai Optimal]

[Bahasa Sistem: Kesulitan Tingkat Tinggi - Variabel Akademik Subjek Tidak Stabil]

"Saiba-san, jangan!" Yotsuba berteriak kecil, tahu betapa sulitnya bagi mereka untuk belajar.

Namun, aku hanya menatap Maruo dengan pandangan yang tak tergoyahkan. "Hanya itu? Satu bulan untuk mengubah lima orang yang Anda anggap gagal menjadi bukti bahwa bimbingan saya bekerja secara universal?"

"Ya," jawab Maruo pendek.

"Saya terima syarat itu," ujarku tegas. Suara kembar lima yang terkesiap di belakangku tidak membuatku goyah. Aku tahu apa yang kulakukan. "Tapi saya juga punya satu permintaan tambahan. Jika saya berhasil, Anda harus berhenti mencampuri metode belajar atau pilihan karier mereka di masa depan secara permanen."

Maruo menyeringai tipis—sebuah seringai dingin dari seorang pria yang yakin akan kemenangannya. "Sepakat."

Ia kemudian mengambil tas tas kerjanya dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Haruno mengikutinya, namun saat melewati aku, ia berbisik, "Selamat berjuang dengan monster yang sesungguhnya, Ren-kun. Mengajari mereka menulis perasaan itu mudah, tapi mengajari mereka kalkulus? Itu adalah keajaiban yang ingin kulihat."

Setelah ruang rapat kosong dan hanya menyisakan kami dan Shizuka-sensei, suasana mendadak pecah. Nino segera menarik kemejaku dengan wajah panik.

"Kau gila?! Apa kau tahu betapa bodohnya kami dalam pelajaran?!" Nino berteriak, meskipun suaranya lebih terdengar seperti kekhawatiran daripada amarah.

"Aku tahu variabel akademik kalian, Nino," jawabku sembari melepaskan tangannya dengan lembut namun mantap. Aku menatap mereka satu per satu—Miku yang tampak pucat, Itsuki yang menggigit bibir, dan Yotsuba yang lemas. "Tapi kalian sudah membuktikan di atas panggung bahwa kalian bisa melakukan hal yang mustahil. Sekarang, kita hanya perlu menerapkan dedikasi yang sama pada buku pelajaran."

Shizuka melangkah mendekat, menghela napas sembari menyalakan sebatang rokok—sesuatu yang dilarang di ruang rapat, tapi ia sepertinya membutuhkannya sekarang. "Kau benar-benar suka hidup di tepi jurang, Saiba. Tapi aku akan membantumu. Aku akan memberikan akses ke ruang belajar khusus setelah jam sekolah."

Aku mengangguk. "Terima kasih, Sensei."

Aku berjalan menuju jendela, melihat mobil Maruo yang meninggalkan gerbang sekolah. Sifat analitisku sudah mulai memetakan jadwal belajar, metode mnemonik, dan strategi pengajaran yang paling efektif bagi masing-masing dari mereka.

"Ayo pulang," ujarku pada kembar lima. "Nikmati malam ini, karena mulai besok, 'Editor' kalian akan berubah menjadi 'Tutor' paling keras yang pernah kalian temui."

Miku melangkah ke sampingku, menyentuh lenganku pelan. "Kami akan berusaha, Ren. Kami tidak akan membiarkanmu kalah."

Aku menatap langit yang kini sudah sepenuhnya gelap. Bintang-bintang mulai muncul, dan aku tahu, babak baru dalam hidupku di Akademi Sakura ini akan jauh lebih menantang daripada sekadar menyusun kata-kata indah. Ini adalah perang melawan batas kemampuan intelektual, dan aku tidak berencana untuk memberikan kemenangan pada Maruo Nakano.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!