Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Putih, Noda Merah, dan Topeng yang Runtuh
Montreal hari ini seharusnya jadi saksi bisu janji suci yang paling indah. Langit biru bersih tanpa awan, suhu udara yang sejuk pas di kulit, dan aroma ribuan bunga lily of the valley yang menghiasi sebuah villa tua di pinggiran kota. Sheilla berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya. Gaun pengantinnya simpel tapi elegan, sebuah mahakarya yang dia rancang bareng timnya sendiri.
"Mbak, jujur ya, aku deg-degan banget. Padahal bukan aku yang nikah," celetuk Maya sambil merapikan veil transparan di rambut Sheilla.
Sheilla tersenyum, tapi tangannya sedikit gemetar. "Sama, May. Rasanya kayak semua mimpi buruk aku akhirnya dibilas bersih sama hari ini. Aku nggak pernah nyangka bakal sampai di titik ini."
Di luar, musik string quartet mulai memainkan melodi lembut. Para tamu sahabat dari Indonesia, teman-teman florist Montreal, dan kolega Alex sudah duduk rapi di barisan kursi kayu putih. Suasananya intim, hangat, dan sangat "Sheilla".
--
Di ruangan lain, Alex sedang berdiri sendirian. Dia menatap kamera Leica kesayangannya yang tergeletak di meja. Wajahnya nggak seceria biasanya. Ada kegelapan yang mendalam di matanya, jenis kegelapan yang nggak pernah dia tunjukin ke Sheilla selama setahun ini.
Alex merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah foto usang. Di foto itu, ada seorang pria paruh baya yang wajahnya mirip dengan Alex, sedang bersalaman dengan ayah Ardhito. Di bawahnya tertulis sebuah tanggal: hari di mana keluarga Alex kehilangan segalanya di Jakarta karena sabotase bisnis yang dilakukan oleh keluarga Ardhito puluhan tahun lalu.
Alex sebenarnya bukan fotografer biasa yang kebetulan ketemu Sheilla. Dia adalah putra dari saingan bisnis keluarga Ardhito yang dulu dihancurkan sampai ayahnya memilih mengakhiri hidup. Alex sudah bertahun-tahun merencanakan balas dendam. Dia tahu Ardhito sangat mencintai atau tepatnya terobsesi pada Sheilla. Dan bagi Alex, cara paling efektif untuk menghancurkan monster adalah dengan menghancurkan satu-satunya hal yang paling dia inginkan di dunia ini.
"Maaf, Sheilla," bisiknya pelan. "Kamu terlalu baik untuk lahir dari dunia yang sama dengan dia. Tapi luka tetap harus dibayar."
--
Acara dimulai. Sheilla berjalan pelan menyusuri lorong berkarpet bunga. Di ujung sana, Alex berdiri dengan senyum yang terlihat sangat tulus bagi mata orang awam. Chemistry di antara mereka saat tangan Alex menyambut tangan Sheilla terasa begitu kuat, sampai-sampai beberapa tamu meneteskan air mata haru.
"Aku, Alex Laurent, mengambilmu, Sheilla, menjadi istriku..." suara Alex terdengar mantap.
Sheilla membalas janjinya dengan suara bergetar karena emosi yang tulus. Dia benar-benar merasa sudah menemukan pelabuhannya.
Tepat saat pendeta berkata, "I now pronounce you husband and wife," dan menyuruh mereka berciuman, Alex menarik Sheilla mendekat. Tapi bukan kecupan yang Sheilla dapatkan. Alex berbisik sangat lirih di telinga Sheilla.
"Kamu tahu, Sheil? Ardhito itu iblis. Dan satu-satunya cara bikin iblis menderita selamanya adalah dengan bikin dia ngelihat miliknya yang paling berharga... lenyap di depannya."
Sheilla tertegun. Matanya membelalak. "Lex... kamu ngomong apa?"
Tiba-tiba, dari arah belakang deretan kursi tamu, muncul sosok yang seharusnya ada di balik jeruji besi di Jakarta. Ardhito. Dia berdiri di sana dengan nafas tersenggal, baju yang kotor, dan muka yang berantakan. Rupanya, Ardhito berhasil menggunakan sisa-sisa koneksinya untuk kabur saat pemindahan tahanan dan terbang ke Canada secara ilegal hanya untuk melihat pernikahan ini.
"ALEX! JANGAN!" teriak Ardhito. Suaranya pecah, penuh ketakutan yang belum pernah Sheilla dengar sebelumnya.
Alex mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang sangat tajam dari balik lengan jasnya. "Lihat ini, Ardhito! Ini buat bokap gue yang lo hancurin!"
--
Semuanya terjadi begitu cepat, kayak gerakan slow-motion dalam film horor. Alex mengayunkan pisaunya ke arah perut Sheilla. Dia mau menusuk Sheilla tepat di depan mata Ardhito agar Ardhito hidup dalam penyesalan seumur hidup.
Sheilla mematung, kakinya lemas, matanya terpejam pasrah.
Jleb.
Suara itu terdengar nyata. Tapi Sheilla nggak merasa sakit. Dia membuka matanya dan melihat sosok besar sudah berdiri di depannya, membelakanginya.
Ardhito.
Ardhito entah gimana caranya berhasil lari secepat kilat dan menubruk Sheilla, memutar badan mereka sehingga punggungnya lah yang menerima tusukan Alex. Pisau itu tertanam cukup dalam di punggung Ardhito.
"A... Ardhito?" Sheilla berbisik ngeri.
Ardhito jatuh berlutut, darah merah segar mulai merembes dan mengotori gaun pengantin putih bersih milik Sheilla. Alex terpaku, tangannya gemetar melihat darah di tangannya. Dia nggak menyangka Ardhito pria yang dia anggap nggak punya hati bakal mengorbankan nyawanya sendiri.
"Sheilla..." Ardhito terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Dia menatap Sheilla dengan tatapan yang nggak lagi penuh obsesi, tapi penuh permohonan maaf. "Aku... aku emang brengsek. Tapi aku nggak bisa... aku nggak bisa lihat kamu sakit lagi. Maafin aku... buat semuanya."
--
Para tamu berhamburan panik. Maya berteriak memanggil ambulans. Alex mundur beberapa langkah, pisaunya jatuh ke lantai. Dia menatap tangannya, lalu menatap Sheilla yang sekarang sedang memangku kepala Ardhito yang lemas.
"Lex... kenapa?" Sheilla bertanya dengan suara yang sangat hancur. "Jadi selama ini... semua ini cuma sandiwara?"
Alex nggak bisa jawab. Dia baru sadar kalau di tengah rencana balas dendamnya, dia beneran jatuh cinta sama Sheilla. Tapi sekarang, semuanya sudah hancur. Dia sudah jadi monster yang sama dengan pria yang dia benci.
"Gue mau lo hancur, Dhito," Alex bicara parau, air mata mulai jatuh di pipinya. "Gue mau lo tahu rasanya kehilangan segalanya kayak bokap gue! Tapi kenapa lo malah nyelamatin dia?!"
Ardhito tersenyum tipis, matanya mulai sayu. "Karena... dia bukan barang, Lex. Dia... dia cahaya. Lo bener soal itu. Dan cahaya... nggak pantes padam gara-gara orang kayak kita."
Napas Ardhito mulai putus-putus. Sheilla menangis sejadi-jadinya, bukan karena dia mencintai Ardhito lagi, tapi karena dia nggak menyangka akhir ceritanya bakal sedramatis ini. Dia melihat dua pria di depannya: satu yang menyakitinya bertahun-tahun tapi akhirnya memberikan nyawanya, dan satu yang memberinya harapan tapi ternyata hanya memanfaatkan lukanya.
--
Ambulans dan polisi datang beberapa menit kemudian. Ardhito dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Alex langsung diborgol di tempat. Dia nggak melawan sedikit pun. Sebelum dibawa masuk ke mobil polisi, Alex sempat menatap Sheilla yang berdiri di tengah taman dengan gaun pengantin yang penuh noda darah.
"Sheilla, aku beneran sayang sama kamu," bisik Alex. "Tapi aku beneran nggak bisa lupain dendam itu. Maafin aku."
Sheilla cuma diam. Dia nggak sanggup ngomong. Dia melihat Alex pergi, pria yang dia pikir adalah masa depannya, ternyata cuma bagian dari masa lalu yang belum selesai.
Taman yang tadi indah sekarang berantakan. Kelopak bunga bercampur dengan garis polisi dan noda darah. Sheilla duduk sendirian di bangku kayu, Maya memeluknya erat dari samping.
Logika narasi hidupnya terasa sangat kejam. Dia lari dari satu monster, hanya untuk jatuh ke pelukan monster lain yang memakai topeng malaikat. Tapi di sisi lain, pria yang dia anggap monster selamanya, justru melakukan satu hal paling manusiawi di detik-detik terakhirnya.
--
Dua minggu kemudian. Montreal kembali dingin. Sheilla berdiri di depan jendela studionya. Pernikahannya dibatalkan secara hukum. Alex dipenjara atas percobaan pembunuhan. Ardhito? Dia selamat, tapi kondisinya lumpuh di bagian bawah tubuhnya akibat syaraf yang terkena tusukan. Dia dideportasi kembali ke Indonesia untuk menjalani sisa masa tahanannya di sana dalam kondisi cacat.
Sheilla mengambil gaun pengantinnya yang sudah dia cuci, tapi noda darah di bagian bawahnya nggak benar-benar hilang. Dia nggak membuangnya. Dia menyimpannya sebagai pengingat.
"Mbak, mau dibuka sekarang tokonya?" tanya Maya pelan.
Sheilla menarik napas panjang. Dia menatap tangannya yang nggak lagi memakai cincin dari Alex. Dia merasa kosong, tapi anehnya, dia merasa sangat bebas. Tidak ada lagi yang mengejarnya. Tidak ada lagi rahasia.
"Buka, May," jawab Sheilla tenang. "Kita punya banyak bunga yang harus dirangkai. Hidup nggak berhenti cuma karena laki-laki salah pilih jalan, kan?"
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --