NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suara mekanisme borgol yang terbuka membuat jantung Alya melonjak. Gunting kecil itu berhasil mematahkan pin di dalam kunci murah yang Rangga gunakan karena terburu-buru. Alya bebas, tapi ia tidak bisa meninggalkan Rendi.

​"Aku harus membawamu keluar," kata Alya tegas.

​"Tidak bisa... kakiku... Rangga sudah... mematahkan sarafnya," Rendi menatap Alya dengan mata yang mulai layu. "Lari, Alya. Ambil kotak itu. Itu satu-satunya cara... menghancurkan 'topeng' Rangga di depan dunia."

​Tiba-tiba, terdengar langkah kaki di tangga. Langkah itu tidak santai seperti biasanya. Langkah itu cepat dan berat. Rangga kembali.

​Alya panik. Ia tidak punya waktu untuk lari ke pintu keluar. Ia melihat sebuah lemari besi tempat menyimpan peralatan medis di sudut sel yang gelap. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalamnya dan menutup pintunya sedikit rapat, menyisakan celah kecil untuk melihat.

​Pintu besi sel terbuka. Rangga masuk, tapi kali ini ia tidak membawa sarapan. Ia membawa sebuah kapak pemotong kayu yang berkilau tajam di bawah lampu lorong.

​"Sayang? Aku baru ingat, aku belum memeriksa sakumu tadi," suara Rangga kembali lembut, namun kali ini nada bicaranya bergetar karena amarah yang tertahan.

​Rangga menatap ke arah ranjang. Matanya membelalak melihat borgol yang sudah kosong dan menjuntai. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang sempit itu.

​"Alya? Kau di mana?" Rangga tertawa kecil, suara tawa yang paling mengerikan yang pernah didengar manusia. "Ayo main petak umpet. Tapi kau tahu kan, jika aku yang menemukanmu lebih dulu... hukumannya akan sangat, sangat berat."

​Rangga berjalan mendekati lemari medis tempat Alya bersembunyi. Kapak di tangannya diseret di atas lantai semen, menimbulkan suara sreeet... sreeet... yang mematukan saraf.

​Tepat di depan pintu lemari, Rangga berhenti. Alya menahan napasnya sampai paru-parunya terasa mau pecah. Lewat celah lemari, ia bisa melihat mata Arka yang merah, mencari-cari keberadaannya.

​"Ketemu," bisik Rangga sambil mengangkat kapaknya tinggi-tinggi ke arah pintu lemari.

​Alya terjepit di dalam lemari. Jika Rangga mengayunkan kapak itu, habislah sudah. Namun, ponsel di saku Alya tiba-tiba bergetar—sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Ponsel di saku Alya bergetar hebat. Di kesunyian sel yang mencekam, suara getaran itu terdengar seperti ledakan bom.

​Rangga menyeringai. Ia menurunkan kapaknya perlahan, ujung logamnya yang tajam kini tepat berada di depan celah pintu lemari. "Telepon dari siapa, Sayang? Apa itu malaikat mautmu?"

​Tepat saat tangan Arka meraih gagang pintu lemari, sebuah suara benturan keras terdengar dari arah ranjang.

​BRAKK!

​Rendi, dengan sisa tenaga terakhirnya, menjatuhkan dirinya dari ranjang besi. Tubuhnya menghantam lantai semen dengan keras, menyeret tiang infus hingga jatuh menimpa botol-botol kaca di dekatnya. Suara pecahan kaca bergema di seluruh ruangan.

​Refleks Rangga bekerja. Ia berbalik dengan cepat, amarahnya teralihkan pada Rendi. "Sialan! Kau benar-benar ingin mati lebih cepat, hah?!" teriak Rangga sambil mengayunkan kapaknya ke arah ranjang yang kosong.

​Alya menendang pintu lemari sekuat tenaga. BUKK! Pintu besi tipis itu menghantam punggung Rangga yang sedang lengah, membuatnya terhuyung ke depan dan menabrak tembok sel. Kapak di tangannya terlepas, terlempar ke sudut ruangan.

​Alya tidak lari ke arah pintu keluar. Ia tahu Rangga akan mengejarnya dalam hitungan detik. Ia justru menerjang ke arah Rangga, mengeluarkan gunting kecil dari sakunya, dan tanpa ragu menusukkannya ke paha Rangga

​"AAARGH!" Rangga mengerang kesakitan. Darah segar merembes di piyama sutra mahalnya.

​Alya segera bangkit, menyambar ponselnya yang masih menyala. Ia melihat layar: Panggilan dari Nomor Tak Dikenal. Ia menekan tombol jawab sambil berlari menuju tangga.

​"TOLONG! MANSION DIRGANTARA! RUANG BAWAH TANAH! DIA AKAN MEMBUNUHKU!" teriak Alya histeris.

​"Alya?! Ini Inspektur Wijaya! Kami sudah di gerbang depan! Bertahanlah!" suara di seberang sana terdengar tegas. Ternyata Rendi telah mengatur pengiriman pesan otomatis ke pihak kepolisian jika ia tidak menginput kode keamanan di ponsel rahasianya setiap 24 jam.

​Alya baru sampai di tengah tangga ketika sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan kakinya.

​"Mau ke mana, Istriku?" suara Rangga kini berubah menjadi geraman binatang buas. Ia merangkak di tangga, menyeret kakinya yang terluka. Wajahnya yang tampan kini kotor oleh debu dan darah, matanya melotot gila. "Kita belum selesai berdansa."

​Rangga menarik kaki Alya dengan kekuatan yang tidak masuk akal, membuat Alya terjatuh dan kepalanya membentur anak tangga. Pandangan Alya kabur. Di tengah rasa pening yang hebat, ia melihat Rangga merangkak di atas tubuhnya, mencekik lehernya dengan kedua tangan.

​"Jika aku tidak bisa memilikimu di dunia ini, maka tidak ada yang boleh," bisik Rangga sambil mempererat cengkeramannya.

​Oksigen di paru-paru Alya menipis. Wajah Rangga yang tadinya sangat ia cintai kini berubah menjadi bayangan maut yang menjijikkan. Tepat saat kesadaran Alya mulai menghilang, terdengar suara dentuman keras dari atas.

​BRAAAKKK!

​"POLISI! JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN!"

​Lampu sorot dari senter taktis menyinari tangga ruang bawah tanah. Rangga terpaku, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru tertawa terbahak-bahak di bawah siraman cahaya senter, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat lucu.

​"Kalian terlambat," tawa Rangga pecah. "Dia sudah menjadi bagian dariku selamanya."

​DOR!

​Sebuah tembakan peringatan dilepaskan. Tim taktis merangsek turun, menarik paksa Rangga dari tubuh Alya. Rangga melawan seperti orang kesurupan, berteriak-teriak memanggil nama Alya dengan nada yang mengerikan, hingga akhirnya ia dilumpuhkan dengan taser.

...****************...

​Tiga bulan kemudian.

​Alya berdiri di depan sebuah gerbang besar yang kini dipasangi garis polisi. Mansion Dirgantara yang dulu megah kini tampak seperti rumah hantu yang menyimpan ribuan rahasia kelam.

​Rangga dinyatakan gila secara kriminal dan ditempatkan di bangsal isolasi rumah sakit jiwa dengan pengawalan super ketat. Rendi selamat, meski ia harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda.

​Alya meraba bekas luka di lehernya yang kini mulai memudar, namun luka di jiwanya mungkin takkan pernah sembuh. ​Ponsel Alya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor baru yang tidak ia kenal.

​"Kamu terlihat cantik hari ini dengan baju biru itu, Alya. Aku akan segera pulang untuk makan malam."

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!