Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan besar dengan Haesung Group, namun dampak dari hari itu masih terasa begitu kuat di kehidupan Kim Ae Ra.
Rutinitasnya di Aegis Corp kembali berjalan seperti biasa—telepon berdering, dokumen menumpuk, dan rapat-rapat singkat yang membutuhkan konsentrasi penuh—namun ada sesuatu yang berbeda dalam cara Ae Ra menjalani hari-harinya sekarang.
Ia merasa lebih dewasa, lebih waspada, dan jauh lebih menyadari bahwa dunia di sekitarnya menyimpan banyak lapisan yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Namun, satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah ketidakhadiran Lee Seo Jun dalam rutinitasnya.
Sejak hari pertemuan itu, Ae Ra belum pernah kembali ke toserba kecil itu. Setiap kali sore tiba dan jam kerjanya selesai, kakinya terasa berat untuk melangkah ke arah yang biasa ia tuju.
Ia tahu, jika ia pergi ke sana, ia akan harus berhadapan lagi dengan kenyataan bahwa pria yang ia kenal di sana bukanlah orang yang sama dengan yang ia temui di ruang pertemuan.
Atau mungkin, justru itulah dia yang sebenarnya, dan versi di toserba lah yang merupakan topengnya. Kebingungan itu membuatnya ragu untuk melangkah.
"Ae Ra, kau sudah selesai dengan laporan yang kuminta tadi pagi?" suara Hyun Jae Hyuk memecah lamunannya saat ia sedang duduk di mejanya sore itu.
Ae Ra segera berdiri, merapikan pakaiannya sedikit.
"Sudah, Tuan. Baru saja selesai saya rapikan."
"Bagus. Bawa masuk, ya. Ada beberapa hal yang ingin kubahas sebentar denganmu sebelum kita pulang."
"Baik, Tuan."
Ae Ra mengambil berkas tebal di mejanya, lalu berjalan menuju ruangan CEO dengan langkah tenang.
Sejak kejadian di mobil beberapa hari lalu, hubungan di antara mereka terasa semakin dekat namun juga tetap menjaga batasan profesional yang jelas.
Ada pemahaman tak terucapkan di antara mereka—bahwa mereka berbagi rahasia, bahwa mereka berbagi kekhawatiran, dan bahwa mereka saling mendukung satu sama lain.
Begitu masuk ke ruangan itu, Jae Hyuk menyuruhnya duduk.
Ia terlihat tidak sedang sibuk dengan pekerjaan seperti biasanya, melainkan duduk bersandar di kursinya dengan tatapan yang sedikit melamun ke arah jendela.
"Ae Ra," panggil Jae Hyuk pelan, menoleh ke arah gadis itu.
"Bagaimana perasaanmu beberapa hari ini? Apakah kau sudah mulai bisa menenangkan pikiranmu soal kejadian terakhir?"
Ae Ra terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati.
"Jujur, Tuan… saya masih bingung. Masih ada rasa kecewa yang tersisa, rasa seolah dipermainkan oleh keadaan. Tapi saya juga mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Tuan Lee memiliki alasan yang kuat kenapa dia menyembunyikan identitasnya selama ini. Mungkin dia tidak bermaksud jahat."
Jae Hyuk mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama.
"Itu pemikiran yang dewasa, Ae Ra. Dan mungkin kau benar. Setiap orang pasti memiliki alasan mereka sendiri untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Tapi kau juga harus ingat, dalam dunia bisnis dan kehidupan ini, kepercayaan itu adalah hal yang sangat mahal. Sekali retak, sulit untuk kembali utuh seperti semula. Jadi, wajar jika kau merasa sakit atau ragu."
"Saya tahu, Tuan. Itu yang membuat saya belum bisa kembali ke toserba sampai sekarang. Saya belum siap untuk bertemu dengannya lagi, belum siap untuk menghadapi situasi yang canggung itu," jawab Ae Ra jujur.
Jae Hyuk tersenyum tipis, senyum yang penuh pengertian.
"Tidak apa-apa. Jangan memaksakan dirimu. Lakukan semuanya dengan kecepatanmu sendiri. Kesehatan mental dan perasaanmu jauh lebih penting daripada sekadar rutinitas."
Hening sejenak terasa di antara mereka, namun keheningan itu terasa nyaman dan hangat.
Ae Ra merasa bersyukur memiliki bos sekaligus teman yang begitu pengertian seperti Jae Hyuk. Di tengah kekacauan perasaannya terhadap Seo Jun, Jae Hyuk selalu ada sebagai penyeimbang yang membuatnya merasa aman.
"Ngomong-ngomong," Jae Hyuk kembali bersuara, mengubah topik pembicaraan sedikit.
"Aku dapat kabar dari tim hukum kita. Mereka sedang mempelajari dokumen-dokumen yang kita terima dari Haesung saat pertemuan lalu. Dan ada beberapa poin yang menurut mereka agak mencurigakan, meskipun belum bisa dipastikan apa maksudnya."
Ae Ra sedikit terkejut. "Memangnya apa, Tuan?"
"Mereka menemukan beberapa klausul yang tersembunyi di dalam lampiran perjanjian kerjasama, yang jika disetujui nanti, bisa memberikan keuntungan yang sangat besar bagi Haesung dalam hal akses data pasar kita. Itu terlihat biasa saja di permukaan, tapi jika dibaca teliti, itu bisa menjadi celah bagi mereka untuk menguasai sebagian jaringan distribusi kita di masa depan," jelas Jae Hyuk dengan nada yang serius.
Wajah Ae Ra menjadi pucat mendengar penjelasan itu.
"Jadi… itu berarti Tuan Lee memang merencanakan sesuatu yang tidak baik? Tapi dia terlihat begitu tulus saat berbicara soal kerja sama."
"Itulah tantangannya, Ae Ra," jawab Jae Hyuk pelan.
"Orang yang pandai dalam bisnis biasanya juga pandai menyembunyikan niat aslinya di balik senyum dan kata-kata manis. Belum tentu itu semua ide Seo Jun sendiri, bisa jadi itu tekanan dari ayahnya atau dewan direksi Haesung. Tapi bagaimanapun juga, kita harus waspada. Kita tidak bisa mengambil risiko."
Ae Ra mengangguk pelan, hatinya terasa berat.
Ia tidak ingin percaya bahwa Seo Jun—atau setidaknya timnya—berniat kurang baik. Tapi logika dan apa yang dikatakan Jae Hyuk itu masuk akal.
Ia teringat kembali pada tatapan Seo Jun di ruang pertemuan, tatapan yang penuh rasa bersalah. Apakah rasa bersalah itu karena dia tahu ada jebakan dalam dokumen yang dia bawa?
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Ae Ra.
"Kita akan mempersiapkan bantahan dan revisi terhadap poin-poin itu. Di pertemuan berikutnya, kita akan menuntut klarifikasi yang jelas. Jika mereka benar-benar ingin bekerja sama dengan baik, mereka tidak akan keberatan mengubah klausul-klausul itu. Tapi jika mereka menolak atau berbelit-belit, maka kita tahu bahwa ada sesuatu yang salah," jawab Jae Hyuk tegas.
"Dan untuk itu, aku butuh bantuanmu. Aku ingin kau yang memeriksa ulang semua dokumen itu satu per satu, mencatat setiap detail yang mencurigakan, dan menyusun draf revisinya. Aku tahu kau teliti, dan aku percaya padamu."
Kepercayaan yang diberikan Jae Hyuk itu membuat Ae Ra merasa dihargai. Ia mengangguk dengan tegas.
"Siap, Tuan. Saya akan kerjakan sebaik mungkin. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
"Aku tahu kau tidak akan," jawab Jae Hyuk sambil tersenyum, senyum yang tulus dan hangat.
"Terima kasih, Ae Ra. Kau memang aset yang sangat berharga bagi Aegis, dan bagiku."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang sedikit lebih lembut, membuat wajah Ae Ra seketika memanas.
Ia buru-buru menunduk sedikit, menyembunyikan senyum malu yang muncul di bibirnya.
"Saya akan segera mengerjakannya, Tuan. Kalau begitu, saya izin keluar dulu."
"Silakan. Jangan terlalu banyak lembur ya, istirahat yang cukup."
Ae Ra keluar dari ruangan Jae Hyuk dengan perasaan yang campur aduk.
Ada rasa berat karena mengetahui adanya potensi masalah dalam kerja sama dengan Haesung, ada rasa sedih karena kemungkinan Seo Jun terlibat di dalamnya, tapi di sisi lain, ada rasa hangat dan semangat yang muncul karena kepercayaan dan perhatian yang diberikan oleh Jae Hyuk.
Saat ia duduk kembali di mejanya dan mulai membuka dokumen-dokumen itu di layar komputernya, Ae Ra menarik napas panjang.
Ia tahu, tugas yang diembankan kepadanya ini tidak mudah. Ia harus sangat teliti, harus berpikir seperti seorang pebisnis yang waspada, dan harus menyingkirkan perasaan pribadinya sebisa mungkin demi kepentingan perusahaan.
Namun, di tengah tumpukan kata-kata dan angka-angka di layar, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan ini dengan sebaik-baiknya.
Bukan hanya karena ini tugasnya, tapi juga karena ia ingin membuktikan pada Jae Hyuk bahwa kepercayaannya padanya tidak salah. Dan mungkin, sedikit banyak, ia juga ingin mencari kebenaran tentang apa yang sebenarnya direncanakan oleh Seo Jun dan perusahaan itu.
Malam mulai menjatuhkan kelabu di langit kota Seoul, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, menciptakan pemandangan yang indah namun juga mengingatkan pada betapa besar dan rumitnya dunia ini.
Di lantai eksekutif yang sunyi itu, Kim Ae Ra mulai mengetik, mencatat, dan menganalisis, siap untuk menghadapi tantangan baru yang ada di hadapannya,
siap untuk mengungkap apa pun yang tersembunyi di balik kertas-kertas perjanjian itu.