NovelToon NovelToon
Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
​Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
​Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
​Ketika Reina akhirnya mengu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Intimidasi Lembut dan Tamu Tak Diundang

Pagi di Dharmawangsa biasanya diawali dengan aroma kopi dan suara kicau burung yang menenangkan. Namun, pagi ini suasana di kediaman Danola terasa sedikit kacau. Paul sudah mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, tangannya sibuk membetulkan dasi di depan cermin besar ruang tengah. Namun, gerakannya terhenti setiap beberapa detik karena ia bersin terus-menerus.

​Kathryn, yang sedang menyiapkan tas kuliahnya di meja makan, segera menghampiri. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Paul. "Kakak demam," ucap Kathryn dengan nada cemas yang kental. "Kening Kakak panas sekali."

​Paul mencoba mengelak, suaranya sengaja dibuat tegar meski terdengar sengau. "Hanya bersin biasa, Kath. Mungkin debu. Kakak harus berangkat sekarang, ada kontrak yang harus ditandatangani."

​"Tidak ada kontrak yang lebih penting dari kesehatan kamu, Kak Paul," balas Kathryn tegas. Ia tahu betul, demam ini bukan karena debu, melainkan reaksi tubuh kakaknya yang kelelahan dan stres setelah kemunculan Becca kemarin. Trauma masa lalu itu rupanya menyerang sistem imun Paul.

​Di sudut ruangan, Sean yang melihat papanya terus bersin mulai terisak pelan. Balita itu sangat sensitif jika melihat orang-orang kesayangannya sakit. Kathryn pun harus membagi fokus, satu tangan memegang termometer, tangan lainnya menggendong Sean untuk menenangkannya. Kathryn mulai merasa linglung. Di satu sisi, ada ujian penting di kampusnya pagi ini, namun di sisi lain, ia tidak bisa meninggalkan kakaknya yang sakit dan keponakannya yang sedang rewel.

​Tepat pada saat kekacauan kecil itu terjadi, bel rumah berbunyi. Kathryn membuka pintu dan mendapati Dimas sudah berdiri di sana. Namun, kali ini Dimas tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang pria dengan gaya yang sedikit lebih santai namun tetap terlihat cerdas Adrian.

​"Dokter Dimas?" Kathryn tertegun sejenak.

​"Maaf aku datang pagi-pagi sekali, Kathryn. Aku hanya ingin memastikan kondisi Paul dan Sean sebelum aku ke rumah sakit," ujar Dimas dengan nada lembut. Ia kemudian melirik ke sampingnya dengan tatapan sedikit sebal. "Dan maaf, aku membawa teman yang sangat keras kepala ini. Dia mengikutiku sejak dari lobi rumah sakit karena ingin tahu siapa 'keluarga baru' yang sering aku ceritakan."

​Adrian tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Halo, aku Adrian. Sahabat sekaligus rekan kerja Dimas yang paling tampan dan paling banyak tahu rahasianya. Senang bertemu kamu, Kathryn."

​Kathryn tersenyum tipis, meski wajahnya masih menunjukkan guratan cemas. "Silakan masuk, Dokter Dimas, Dokter Adrian. Maaf rumah sedang sedikit berantakan."

​Mereka masuk dan mendapati Paul yang masih bersikeras mengambil tas kerjanya. "Dimas! Bagus kamu datang. Tolong beri aku vitamin atau apa saja agar aku bisa ke kantor sekarang," seru Paul.

​"Kakak tidak akan ke mana-mana!" potong Kathryn. Dengan gerakan yang sangat cepat dan sigap, ia menyambar kunci mobil Paul yang tergeletak di meja kayu. "Kunci ini aku sita."

​Paul ternganga, lalu mulai merengek seperti anak kecil. "Kath! Ayolah, kembalikan kuncinya. Aku ada janji dengan klien besar. Jangan seperti ini, Kathryn."

​Sean yang tadinya menangis, tiba-tiba berhenti. Ia menunjuk ke arah papanya sambil tertawa geli. "Papa lucu! Papa kayak anak kecil minta pelmen!" tawa Sean pecah, membuat suasana yang tegang menjadi sedikit cair.

​"Dengar itu, Kak. Anak kamu saja menertawakan kamu," ujar Kathryn sambil berkacak pinggang, menatap Paul dengan intimidasi lembut namun tak terbantahkan. "Masuk ke kamar, ganti pakaian kamu dengan piyama yang nyaman, atau aku akan menyuruh Dokter Dimas merawat kamu dengan cara yang paling tidak enak."

​Paul menatap Dimas dan Adrian, seolah mencari pembelaan. Namun Adrian justru tertawa dan memberikan jempol pada Kathryn. "Saya setuju dengan adik kamu, Paul. Pasien yang keras kepala adalah pasien yang paling sulit sembuh."

​Dengan bahu merosot dan langkah gontai, Paul akhirnya menyerah. "Baiklah, baiklah. Aku ganti baju. Tapi jangan kunci aku dari luar, ya?" gumamnya pasrah yang memicu tawa kecil dari Dimas.

​Setelah Paul masuk ke kamar untuk berganti pakaian, Dimas dan Adrian segera mengambil alih peran sebagai tenaga medis. Adrian, meskipun gaya bicaranya santai, langsung berubah profesional saat ia mendekati Paul yang sudah berbaring di tempat tidur.

​"Oke, Paul Danola. Saya Adrian. Selain jadi sahabat Dimas, saya juga dokter spesialis di rumah sakit yang sama," ujar Adrian sambil mengeluarkan stetoskop dari tasnya. "Dimas bilang kamu itu pria tangguh, tapi sepertinya kamu baru saja kalah telak oleh virus stres, ya?"

​Paul tersenyum pahit. "Begitulah. Kejadian kemarin benar-benar di luar kendaliku."

​Dimas memeriksa tekanan darah Paul sementara Adrian mengecek paru-parunya. Kathryn berdiri di ambang pintu, memperhatikan kedua dokter itu bekerja dengan rasa syukur.

​"Kondisi kamu hanya butuh istirahat total, Paul. Jangan pikirkan pekerjaan dulu," ujar Dimas sembari menuliskan resep di selembar kertas. "Aku akan meminta asistenku mengantarkan obat-obatan ini ke sini segera."

​Adrian kemudian menoleh ke arah Kathryn yang masih tampak ragu untuk berangkat kuliah. "Kamu ada kelas pagi ini, Kathryn? Pergilah. Biar kami berdua yang mengurus 'bayi besar' ini di sini sebentar sebelum kami ada jadwal operasi nanti siang. Lagi pula, Dimas sangat ahli dalam menjaga ketenangan di rumah ini."

​Adrian mengerlingkan mata ke arah Dimas, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala. "Pergilah, Kathryn. Aku akan di sini sampai Paul benar-benar tenang dan Sean berhenti rewel. Jangan sampai ujian kamu terganggu."

​"Tapi... apa tidak merepotkan?" tanya Kathryn pelan.

​"Sama sekali tidak," sahut Adrian cepat. "Malah aku senang bisa mengenal keluarga ini. Ternyata Dimas tidak berlebihan saat bilang kamu itu sangat perhatian, Kathryn. Kamu mengingatkan saya pada sosok ibu muda yang sangat berdedikasi."

​Wajah Kathryn merona merah mendengar pujian Adrian. Ia menatap kakaknya yang sudah mulai tenang di bawah perawatan Dimas, lalu menatap Sean yang kini asyik duduk di samping kaki Dimas.

​"Terima kasih banyak, Dokter Dimas, Dokter Adrian. Saya akan segera kembali setelah urusan di kampus selesai," ucap Kathryn dengan nada yang jauh lebih lega.

​Dimas mengantar Kathryn sampai ke pintu depan. Sebelum Kathryn melangkah keluar, Dimas memegang pundaknya sebentar. "Jangan khawatirkan apa pun. Fokus pada ujian kamu. Aku ada di sini untuk menjaga mereka."

​Kathryn menatap mata Dimas, mencari kekuatan di sana, dan ia menemukannya. "Terima kasih, Dokter, aku berangkat dulu."

​Sesaat setelah Kathryn pergi, Adrian yang rupanya sudah berada di belakang Dimas berbisik pelan, "Wah, Dimas... dia benar-benar tulus. Dan melihat cara dia merawat kakaknya tadi? Kamu benar-benar menemukan permata di tengah lumpur skandal istrimu."

​Dimas hanya tersenyum tipis. "Sudah, diamlah. Ayo kita buatkan bubur untuk Paul sebelum kita pergi."

​Di dalam kamar, Paul yang mulai mengantuk karena efek demam hanya bisa tersenyum lemah. Ia merasa tenang, bukan hanya karena obatnya, tapi karena ia tahu ada pria seperti Dimas yang siap menjaga adiknya dan anaknya di saat ia sedang tidak berdaya. Sementara itu, di suatu tempat di kota, rencana jahat Reina dan Becca sedang disusun, namun mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan "benteng" yang jauh lebih kuat dari yang mereka duga.

1
Anonymous
ayo up terus thor makin seru niii
Yensi Juniarti
lama2 saya GK suka sifat ketryin ini ...
terlalu berlebihan
Yensi Juniarti
maaf ya tor.. itu terlalu childrens..
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Dwi Winarni Wina
kayaknya dokter dimas sangat cocok sama khatrin, daripada istrinya itu selalu menghina dan rendahkan...
Dwi Winarni Wina
istri durhaka berani melawan suami, dosanya besar Sekali itu...
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ira Janah Zaenal
ayo Dimas tinggalkan berkasmu segera ke rumah kediaman Dharmawangsa ... kath sedang membutuhkanmu😍😍
Sri Khayatun
ceritanya bagus ..suami yg sabar dan istrinya durhaka..saya suka
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 🙏🏻
total 1 replies
Sri Khayatun
semoga dia jadikan kahtrin sebagai istrinya kelak...
Sri Khayatun
aku mampir thorr
Ira Janah Zaenal
up up up💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Ira Janah Zaenal
semangat dokter Dimas meraih hati ount kathryn😍😍💪💪
jajangmyeon
up
brawijaya Viloid
😎😎
brawijaya Viloid
keren nihh ceritanya
Anonymous
mulai tumbuh ni benih" cinta 🤭
Anonymous
krg ajar bgt, lgian dimas terlalu sabar
Anonymous
waw keren ada gambarnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!