Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Nama yang Tak Bisa Disembunyikan
Pelataran batu Perguruan Sungai Ular masih menyisakan pemandangan yang mengerikan. Retakan-retakan dalam yang menjalar seperti jaring laba-laba raksasa menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya benturan tenaga dalam yang baru saja terjadi.
Debu-debu halus perlahan turun, mengendap di atas genangan darah hitam yang keluar dari mulut seorang sesepuh sakti.
Tetua He masih mematung dalam posisi berlutut. Tubuhnya yang renta gemetar bukan karena hawa dingin, melainkan karena gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya.
Darah hitam yang menetes dari sudut bibirnya membasahi janggut putihnya yang panjang, namun ia seolah tak merasakannya.
Sepasang matanya yang tadinya tajam penuh keangkuhan, kini meredup, digantikan oleh sorot kesadaran yang sangat dalam.
Wang Long berdiri tegak beberapa langkah di hadapannya. Jubahnya yang biru tua berkibar tenang ditiup angin sore.
Aura keemasan agung yang tadi meledak dari tubuhnya telah sirna sepenuhnya, masuk kembali ke dalam pori-porinya, meninggalkan sosok pemuda yang tampak bersahaja namun menyimpan misteri sedalam samudra.
“Naga…” gumam Tetua He dengan suara parau yang hampir tak terdengar.
Murid-murid Sungai Ular terpaku di tempat. Luo Jian, sang tuan muda yang tadinya begitu pongah, kini berdiri kaku dengan wajah sepucat kertas. Keberaniannya luruh berkeping-keping melihat gurunya tak berdaya hanya dalam satu gebrakan.
Tetua He perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Wang Long dengan tatapan yang kini dipenuhi rasa hormat yang amat sangat.
“Sebutkan namamu… sekali lagi,” pinta Tetua He. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh wibawa, melainkan bergetar dengan nada hati-hati yang belum pernah didengar oleh murid-muridnya.
Wang Long menjawab dengan nada datar, seolah pertempuran tadi hanyalah hembusan angin lalu. “Wang Long.”
Nama itu menggema ringan, namun terasa memiliki bobot yang menekan sukma.
Tetua He menarik napas panjang, mencoba menekan rasa perih di dadanya. “Long… naga,” ulangnya lirih.
Tetua He terdiam sejenak, lalu dengan suara yang lebih jelas, ia berkata, “Tekanan itu… tenaga murni itu… bukan milik pengelana biasa. Aku pernah merasakannya puluhan tahun silam, saat dunia persilatan masih dipenuhi oleh cahaya para pendekar sejati.”
Sin Yin yang berdiri di sisi Wang Long menoleh cepat. Alisnya yang lentik bertaut. “Puluhan tahun silam?” batinnya bertanya-tanya.
Tetua He melanjutkan dengan nada takzim, “Sembilan Master Naga.”
Suasana mendadak hening seketika. Nama itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur; itu adalah sejarah emas dunia persilatan. Para pendekar agung yang kehadirannya mampu membawa kedamaian bagi rakyat jelata.
Wang Long tidak menunjukkan perubahan ekspresi, namun di balik ketenangannya, detak jantungnya melambat, menyatu dengan alam.
“Kau… bukan Naga Kesepuluh,” lanjut Tetua He sambil menatap Wang Long dalam-dalam, seolah mencoba membaca guratan takdir di wajah pemuda itu. “Kau adalah pewaris tunggal mereka.”
Getaran di Tepi Sungai
Matahari mulai condong ke barat, menyepuh langit dengan warna jingga keemasan yang memantul di permukaan Sungai Ular. Air sungai mengalir tenang, berkelok-kelok membelah lembah, sementara dua sosok manusia berjalan berdampingan di jalan setapak yang sunyi.
Sin Yin berjalan dengan langkah yang tak lagi seringan biasanya. Pikirannya berkecamuk. Sesekali ia melirik Wang Long dari sudut matanya. Pemuda itu masih sama; tenang, teguh, dan tidak menunjukkan sedikit pun kecongkakan meski baru saja merubuhkan seorang sesepuh perguruan besar.
Tiba-tiba, Sin Yin menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, menghadap Wang Long sepenuhnya. Jubah biru tuanya menari-nari ditiup angin sore, dan beberapa helai rambut hitamnya jatuh menutupi pipinya yang putih bersih.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Sin Yin. Suaranya lembut, namun mengandung ketegasan yang menuntut kejujuran. “Tadi… Tetua He tidak sedang membual. Aku bisa merasakannya sendiri.”
Wang Long ikut berhenti. Ia menatap ke arah aliran air sungai yang berkilauan. “Apa yang ingin kau dengar, Sin Yin?” tanyanya balik, suaranya terdengar sedikit lelah namun penuh ketulusan.
“Yang sebenarnya,” balas Sin Yin singkat. Ia melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak hingga aroma harum tubuhnya tercium oleh Wang Long. “Aura itu… bahkan pusaka di punggungmu membuat sepasang Pedang Ular Hitam gemetar ketakutan. Kau bukan pendekar biasa yang sekadar beruntung.”
Wang Long mengalihkan tatapannya dari sungai menuju mata Sin Yin yang jernih. Di sana, ia melihat rasa ingin tahu yang besar bercampur dengan kekhawatiran yang tulus.
“Aku memang bukan naga kesepuluh,” ucap Wang Long tenang.
“Lalu?” Sin Yin menahan napas, dadanya berdebar kencang.
“Aku adalah pewaris mereka. Darah dan janji para Master Naga itu mengalir dalam nadiku.”
Mendengar pengakuan itu, Sin Yin terdiam seribu bahasa. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya suara gemericik air sungai dan desau angin yang terdengar.
Tiba-tiba, sebuah senyum kecil yang manis terukir di bibir Sin Yin. “Jadi selama ini, aku—sang Bidadari Maut—berjalan bersama calon Raja para Naga?” godanya dengan nada setengah bercanda untuk mencairkan suasana.
Wang Long mengangkat alisnya tipis, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku belum pernah mengaku sebagai raja apa pun.”
Sin Yin menyilangkan tangan di dada, kepalanya sedikit miring ke samping. “Bagus. Karena jika kau mulai berlagak seperti raja dan menyebut dirimu ‘Yang Mulia’, aku akan menusukmu dengan pedangku lebih dulu sebelum musuh melakukannya.”
Wang Long tertawa. Bukan tawa yang keras, melainkan tawa ringan yang keluar dari lubuk hatinya. Tawa itu terdengar begitu merdu dan jarang sekali muncul. Sin Yin tertegun sesaat, melihat perubahan di wajah Wang Long yang biasanya kaku. Ia merasakan wajahnya menghangat secara tiba-tiba.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Sin Yin dengan suara yang sedikit canggung.
“Karena kau terlihat sangat serius saat mengancam, padahal tanganmu sedikit gemetar,” goda Wang Long balik.
“Kurang ajar!” Sin Yin memalingkan wajahnya dengan cepat, mencoba menyembunyikan rona merah yang kian nyata di pipinya. “Aku benar-benar akan menusukmu jika kau macam-macam!”
“Kalau begitu, tusuklah pelan-pelan agar aku tidak terlalu sakit,” sahut Wang Long pelan.
Sin Yin spontan menoleh kembali, matanya membelalak tak percaya mendengar Wang Long bisa bercanda seperti itu. “Kau… benar-benar pandai bicara ya!”
Ia mengangkat tangannya seolah ingin memukul dada Wang Long, namun ia menghentikannya di udara. Tatapan mereka bertemu kembali dalam keheningan yang berbeda—sebuah keheningan yang hangat dan penuh makna.
“Kotak itu…” Sin Yin mengalihkan pembicaraan sambil merapikan pakaiannya yang tidak berantakan. “Kalau kau pewaris mereka, kenapa tidak kau buka saja dan gunakan pedangnya untuk mempermudah jalanmu?”
Wang Long menatap kotak hitam di punggungnya. Tatapannya kembali berubah serius dan penuh tanggung jawab. “Belum waktunya, Sin Yin. Pusaka ini bukan sekadar senjata untuk membunuh.”
“Takut?” pancing Sin Yin.
Wang Long menatap langit yang kian jingga. “Bukan takut. Tapi ini adalah tanggung jawab. Sekali pedang ini terhunus, maka darah akan membanjiri bumi, dan takdir dunia ini akan berubah selamanya. Aku harus siap sebelum saat itu tiba.”
Sin Yin memandang profil wajah Wang Long dari samping. Ada rasa bangga yang tiba-tiba membuncah di hatinya. Ia tanpa sadar tersenyum tulus, sebuah senyum yang mampu meluluhkan gunung es sekalipun.
“Kau tersenyum,” goda Wang Long lagi, menyadari perubahan di wajah rekannya.
“Aku tidak tersenyum!” bantah Sin Yin cepat-cepat, meskipun ia tak bisa menyembunyikan binar di matanya.
“Kau memang lebih cantik saat tersenyum seperti itu.”
Kata-kata singkat dari Wang Long itu membuat Sin Yin benar-benar terpaku. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia segera memutar tubuhnya dan berjalan mendahului Wang Long dengan langkah yang tergesa.
“Banyak bicara! Ayo cepat, matahari hampir tenggelam!”
Wang Long mengikuti dari belakang. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Di bawah lindungan langit senja yang indah, jarak di antara sang pewaris naga dan sang bidadari maut itu kini terasa semakin dekat.
Mereka melangkah menuju masa depan yang penuh badai, namun untuk saat ini, kehangatan di hati mereka jauh lebih berarti daripada pusaka mana pun di dunia.
Bersambung....