NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUJAN DAN KEPUTUSAN

Langit Le Mans runtuh pelan-pelan pagi itu.

Bukan badai besar. Bukan hujan deras yang menampar aspal.

Hanya gerimis tipis yang turun seperti rahasia yang tak ingin diucapkan keras-keras.

Julian berdiri di depan pit box, helm masih tergantung di tangannya. Hujan kecil menyentuh rambutnya, dingin, ringan — tapi cukup untuk membuat dunia berubah.

Ia selalu menyukai hujan.

Hujan membuat semua orang jujur.

Lintasan tidak bisa lagi menyembunyikan kesalahan. Mesin tidak bisa menolong keberanian yang palsu. Dan pembalap tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri.

Di kejauhan, mesin-mesin mulai dipanaskan. Suara mereka terdengar lebih berat di udara basah.

Marco berdiri di sampingnya. “Hari seperti ini,” katanya pelan, “bukan soal siapa paling cepat.”

Julian tersenyum tipis. “Tapi siapa yang paling sabar.”

Marco tidak menjawab. Hanya menepuk pundaknya sekali.

Di grid, hujan semakin rapat.

Payung-payung terbuka. Kru berlarian. Kamera bergerak cepat mencari wajah-wajah tegang.

Julian duduk di atas motornya.

Air mulai menetes di visor helmnya. Pandangannya sedikit kabur, tapi justru itu membuat pikirannya terasa lebih fokus.

Ia tidak ingin menang hari ini.

Ia ingin memahami.

Lampu merah menyala.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ia menarik napas panjang.

Lampu padam.

Ban belakang berputar sedikit sebelum mencengkeram. Motor bergoyang kecil, tapi tetap lurus.

Masuk tikungan pertama, semua orang menahan diri.

Tidak ada dive bomb nekat.

Tidak ada manuver putus asa.

Hanya barisan motor yang bergerak seperti bayangan di atas kaca.

Julian tidak menyerang.

Ia membiarkan dua pembalap di depannya saling mengukur. Hujan tipis membuat garis aspal berkilau seperti cermin. Ia tahu, satu sentuhan terlalu kasar pada rem depan bisa mengakhiri segalanya.

Di tikungan panjang sebelum sektor belakang, salah satu pembalap di depan membuka gas sedikit terlalu cepat.

Ekor motornya menyentak.

Julian melihatnya seperti gerakan lambat.

Ia tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya memilih garis sedikit lebih luar, menjaga motornya tetap tegak.

Pembalap itu kehilangan momentum.

Julian melewatinya tanpa drama.

Tanpa sentuhan.

Tanpa sorakan yang ia dengar di dalam helmnya.

Hujan bertambah.

Air mulai mengalir tipis di sisi tikungan.

Julian merasakan motor seperti berdiri di atas sesuatu yang hidup — licin, tak bisa ditebak.

Setiap kali ia mengerem, ia merasakannya lebih dalam dari biasanya. Bukan hanya tekanan di tuas rem, tapi perpindahan bobot, getaran halus di setang, suara ban memotong air.

Ia tidak melawan lintasan.

Ia berdamai dengannya.

Lap demi lap, satu per satu pembalap mulai kehilangan ketenangan.

Ada yang melebar. Ada yang hampir jatuh. Ada yang terlalu berhati-hati.

Julian tetap di sana.

Dekat.

Menunggu.

Di pertengahan balapan, hujan tiba-tiba berhenti.

Langit masih kelabu, tapi tetesan tidak lagi turun.

Dan justru di situlah kekacauan dimulai.

Lintasan tidak sepenuhnya basah.

Tidak sepenuhnya kering.

Ban mulai terasa aneh.

Di satu tikungan grip terasa kuat, di tikungan berikutnya seperti menghilang.

Julian hampir kehilangan depan di sektor cepat. Motornya tergelincir setengah langkah ke samping. Dadanya mengeras.

Dulu, ia mungkin akan memaksa.

Membalas dengan agresi.

Hari ini, ia memilih mengendur.

“Tenang,” bisiknya dalam helm.

Ia masih punya banyak lap.

Ia masih punya hidup di luar sirkuit ini.

Dan entah kenapa, wajah Clara melintas cepat di pikirannya.

Beberapa pembalap mulai masuk pit.

Keputusan sulit.

Masuk sekarang? Terlalu cepat.

Tunggu? Terlalu lama.

Julian melewati pit entry sekali. Ia bisa melihat mekaniknya bersiap, menunggu isyarat.

Ia tetap di lintasan.

Satu lap lagi.

Ia ingin merasakan sendiri perubahan aspal.

Di tikungan panjang terakhir, ia merasakan sesuatu berbeda. Ban belakang mulai menggigit lebih bersih di garis kering yang mulai muncul.

Itu tandanya.

Lap berikutnya ia masuk pit.

Pergantian motor berlangsung cepat, tapi jantungnya tetap berdetak keras saat ia kembali ke lintasan dengan ban slick di atas aspal yang belum sepenuhnya siap.

Motor terasa seperti berjalan di atas kaca.

Ia hampir tidak memiringkannya.

Ia menjaga tubuhnya tegak, lembut, penuh kesadaran.

Beberapa pembalap dengan ban basah mulai melambat drastis di bagian yang mulai kering.

Julian melewati satu.

Lalu dua.

Lalu tiga.

Tanpa drama.

Tanpa kontak.

Hanya momentum yang ia bangun pelan-pelan.

Ketika ia sadar, ia sudah di posisi dua.

Rival Italia berada beberapa detik di depan.

Hujan telah berhenti total. Garis kering semakin jelas.

Empat lap tersisa.

Julian mulai menekan.

Bukan dengan kemarahan.

Tapi dengan keyakinan.

Setiap tikungan ia masuki seperti percakapan. Ia tahu kapan harus menahan, kapan harus membuka. Ia tidak lagi melawan motor. Ia menyatu dengannya.

Selisih waktu mengecil.

Tiga detik.

Dua.

Satu setengah.

Di lap terakhir, ia sudah cukup dekat untuk melihat gerakan tubuh rivalnya di setiap pengereman.

Cukup dekat untuk mencoba.

Cukup dekat untuk gagal.

Di tikungan terakhir sebelum straight utama, ada celah kecil.

Terlalu kecil.

Ia tahu itu.

Dulu, ia mungkin akan masuk tanpa pikir panjang.

Hari ini, ia mengangkat sedikit gas.

Ia keluar tikungan bersih. Stabil.

Mereka melewati garis finish dengan jarak kurang dari satu detik.

P2.

Lagi.

Di parc fermé, hujan yang tersisa di udara terasa lebih ringan.

Julian membuka helmnya. Rambutnya basah. Wajahnya lelah.

Tapi tidak frustrasi.

Rival Italia mendekat. Mereka saling menatap sepersekian detik.

Tidak ada ejekan.

Tidak ada provokasi.

Hanya pengakuan diam-diam.

Julian turun dari motor, dan di balik pagar pit wall ia melihat Clara.

Tidak melompat. Tidak berteriak.

Hanya tersenyum.

Dan itu cukup.

Malamnya, di motorhome, Clara duduk di hadapannya dengan secangkir teh hangat di tangan.

“Kau bisa memaksakan tadi,” katanya pelan.

Julian menyandarkan kepala ke kursi. “Iya.”

“Kenapa tidak?”

Ia menatapnya.

Karena aku ingin pulang.

Karena aku tidak ingin kau melihatku dibawa ambulans.

Karena aku tidak lagi membuktikan apa-apa pada siapa pun.

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya satu kalimat sederhana.

“Aku tidak mau kehilangan musim ini hanya untuk satu tikungan.”

Clara tersenyum.

Dan Julian sadar — untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menang meski berdiri di podium kedua.

.

.

Langit Bologna cerah ketika Julian kembali ke markas tim.

Gedung itu selalu terasa seperti rumah kedua. Bau oli, kopi pagi, dan suara mekanik yang bercampur tawa membuatnya merasa berada di tempat yang ia pilih sendiri.

Tapi pagi itu ada sesuatu yang berbeda.

Orang-orang menyapanya seperti biasa. Menepuk bahunya. Memberi selamat atas podium.

Namun di ujung koridor kaca menuju ruang meeting, dua orang berdiri menunggunya.

Manajer tim.

Dan seseorang dari manajemen pusat.

Julian langsung tahu ini bukan pertemuan biasa.

Ruang rapat itu terlalu rapi.

Terlalu sunyi.

Grafik klasemen terpampang di layar besar. Namanya berada di posisi tiga, hanya terpaut belasan poin dari puncak.

“Kau berkembang sangat cepat,” kata manajer tim sambil menyilangkan tangan. “Lebih cepat dari yang kami proyeksikan.”

Julian duduk tenang. Ia tahu kalimat seperti itu biasanya punya kelanjutan.

“Kami ingin membicarakan arah musim ini.”

Kata “arah” selalu terdengar netral. Tapi artinya bisa apa saja.

Pria dari manajemen pusat berbicara sekarang.

“Tim memiliki dua pembalap utama. Kau dan Lorenzo.”

(ya, rival satu timnya akhirnya disebut nama jelas.)

Julian mengangguk pelan.

“Lorenzo sudah lama bersama kami. Sponsor besar juga terikat dengannya. Target awal musim adalah membangunmu perlahan.”

Julian menatap grafik lagi.

“Dan sekarang?”

Manajer tim tersenyum tipis. “Sekarang kau terlalu cepat untuk sekadar dibangun perlahan.”

Hening sejenak.

“Kami ingin memastikan satu hal,” lanjutnya. “Jika pada pertengahan musim nanti salah satu dari kalian memiliki peluang gelar lebih besar… pembalap yang lain harus mendukung.”

Julian tidak langsung menjawab.

Ia tahu itu akan datang suatu hari nanti.

Team order.

Kata yang terdengar profesional. Rasional.

Tapi bagi pembalap… itu seperti meminta seseorang memperlambat mimpinya sendiri.

“Dan jika aku yang memimpin?” Julian bertanya tenang.

Pria itu tersenyum. “Maka kami akan mendukungmu sepenuhnya.”

Kalimat itu terdengar indah.

Tapi Julian cukup dewasa untuk tahu — dukungan selalu mengikuti angka.

Setelah meeting, ia berjalan sendirian ke garasi.

Marco sudah menunggunya.

“Mereka mulai, ya?”

Julian hanya mengangguk.

Marco bersandar di meja kerja. “Kau tahu ini akan terjadi.”

“Iya.”

“Dan?”

Julian menatap motornya yang berdiri diam di tengah ruangan. Mesin itu tidak peduli politik. Tidak peduli sponsor. Ia hanya bereaksi pada tangan dan keberanian.

“Aku tidak ingin jadi bayangan siapa pun,” katanya pelan.

Marco tersenyum kecil. “Kalau terus seperti ini, kau bukan bayangan. Kau ancaman.”

Malam itu di rumah keluarganya, Julian duduk di ruang kerja ayahnya.

Alejandro Ortega mendengarkan tanpa menyela.

“Kau marah?” tanya ayahnya.

Julian berpikir.

“Tidak. Hanya… aku tidak ingin menang karena seseorang diminta menyingkir.”

Alejandro menatap putranya dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan — bangga.

“Dulu aku akan bilang, ambil semua yang bisa kau ambil,” katanya pelan. “Tapi kau bukan aku.”

Julian tersenyum tipis.

“Kau ingin menang dengan caramu sendiri.”

“Iya.”

Alejandro mengangguk. “Kalau begitu pastikan kau cukup cepat sehingga mereka tak punya pilihan selain mendukungmu.”

Itu bukan nasihat manipulatif.

Itu kenyataan.

Di sisi lain paddock, Lorenzo juga membaca klasemen.

Dan ia tidak menyukainya.

Ia sudah bertahun-tahun di tim itu. Sudah menjadi wajah sponsor. Sudah dianggap masa depan.

Sekarang, nama baru mulai mencuri perhatian.

Ia tidak membenci Julian.

Tapi ia juga tidak akan membiarkan kursinya direbut begitu saja.

Beberapa hari kemudian, latihan privat di Misano.

Julian dan Lorenzo berada di lintasan bersamaan.

Tidak ada poin. Tidak ada podium.

Tapi ada sesuatu yang lebih halus.

Pengukuran.

Di tikungan cepat, Lorenzo tidak memberi ruang ekstra.

Di braking zone, Julian merasakan tekanan dari belakang lebih dekat dari biasanya.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada kesalahan.

Hanya pesan yang jelas.

Musim ini bukan hanya tentang rival dari luar.

Saat mereka kembali ke pit, Lorenzo melepas helmnya dan menatap Julian.

“Kau berkembang cepat,” katanya.

Julian menatap balik. “Kita semua harus.”

Lorenzo tersenyum tipis. “Hanya satu yang bisa jadi nomor satu.”

Julian tidak membalas senyum itu.

Ia hanya berkata pelan,

“Kalau begitu, kita lihat saja.”

Malamnya, Julian duduk di balkon rumahnya. Clara berdiri di belakangnya, menyandarkan dagu di bahunya.

“Kau tegang,” katanya lembut.

“Tim mulai bicara soal arah musim.”

“Artinya?”

“Artinya aku harus cukup cepat supaya tidak ada yang berani menyuruhku melambat.”

Clara terdiam sejenak.

“Kau masih mau menang dengan caramu?”

Julian menoleh sedikit, cukup untuk melihat mata Clara di sampingnya.

“Iya.”

“Kalau begitu lakukan itu. Tapi jangan biarkan politik mengubahmu.”

Julian menggenggam tangannya.

“Aku tidak akan.”

Tapi di dalam hatinya, ia tahu.

Musim ini baru saja berubah bentuk.

Sekarang bukan hanya soal hujan, teknik, atau keberanian di tikungan terakhir.

Sekarang ada sesuatu yang lebih licin dari aspal basah.

Kekuasaan.

Dan di dunia balap, kekuasaan sering kali lebih berbahaya daripada kecepatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!