Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Sah secara negara
"Gimana, Za?" tanya Revan begitu Eza menjumpai dirinya di kampus.
"Astaga, kasih gue nafas dulu kek, langsung to the point banget!" Eza mendengus pelan.
Revan santai dan tak terpengaruh dengan gerutuan itu. Revan malah menatap Eza dengan tajam.
"Iye, iye gue jawab! Semuanya beres!" ucap Eza judes.
"Goodlah, habis ini gue mau daftarin pernikahan gue ama Amel ini!" celetuk Revan santai.
"Udah nggak sabar mau unboxing?" goda Abel dengan senyum mengembang.
Plak! Revan geregetan. Ada ya sepupu seabsurd Abel yang demen sepupunya dirusak sama orang.
"Makanya cari cewek, biar lo bisa unboxing sendiri!" ucap Eza sambil cekikikan.
"Ngaca noh ke cermin biar nggak asbun, situ sendiri punya pacar nggak?" ledek Abel tak mau kalah.
Revan menyandarkan punggungnya ke kursi itu dan menatap kedua sahabatnya itu dengan malas.
Sudah biasa saling adu argumentasi dan pasti tak akan ada yang mau mengalah.
"Hebat sih Revan habis ngelepeh Lula dapet sepupu gue yang speknya ajib banget!" puji Abel merasa bersyukur banget atas pernikahan Revan dan Amel.
"Lo selingkuh makanya lo mutusin gue?!" Lula menghampiri meja Revan dan mulai menatap Revan dengan marah.
Selama ini Lula merasa Revan dalam kendalinya. Laki-laki itu ibarat kerbau yang dicucuk hidungnya kalau berurusan dengan Lula.
Lalu kalau sampai Revan secepat itu memalingkan wajahnya dari dirinya, pasti karena perempuan selingkuhannya itu.
Revan memilih tak menanggapi. Dia berdiri dan hendak meninggalkan kantin itu. Tapi Lula tak membiarkan Revan pergi dari hadapannya sebelum Revan memberikan penjelasan kepadanya.
"Revan!" Lula menarik tangan Revan kasar.
Dengan kasar Revan menepiskan tangan Lula yang menggenggam pergelangan tangannya itu.
"Gue nggak selingkuh! Sebelum gue jalan sama cewek lain, gue udah putusin lo! Lo lupa atau lo budek waktu itu?" ucap Revan ketus.
"Gue nggak ngerasa lo putusin!" Lula masih keras kepala.
"Bel, kasih lihat dia pas dia kuda-kudaan sama Soni dan Sandi waktu itu!" perintah Revan kepada Abel.
"Bagian penting lo udah gue sensor! Gue aja jijik apalagi Revan!" Abel berlagak muntah di depan Lula.
Suara orang bercinta terdengar cukup jelas di telinga orang-orang yang ada di kantin tersebut.
Bisik-bisik manja pun kembali terdengar dari orang-orang di tempat itu khususnya yang perempuan.
Sedang para lelaki yang menganut paham kebebasan langsung saling menatap seakan memberi kode bahwa ada barang baru sebagus Lula yang harus mereka cicipi.
Revan pergi dari tempat itu disusul oleh Eza. Mereka muak dengan tingkah laku Lula yang memalukan itu.
"Harga diri lo nggak jatuh kan, Van?" tanya Eza sambil merangkul pundak Revan.
Revan menatap Eza dengan keningnya berkerut. "Maksud gue lo diselingkuhi Lula sampai dia main kuda-kudaan sama cowok lain kayak gitu!"
"Itu sih urusan dia, gue nggak peduli!" sahut Revan santai.
"Btw dokumen yang gue minta gimana?" tanya Revan.
"Aman, semua clear! Lo tinggal mengesahkan pernikahan lo ke pengadilan agama baru setelahnya lo bisa ngedaftarin pernikahan lo ke KUA!" jawab Eza.
Revan mengeryit pelan, binggung dengqn penjelasan Eza itu. "Tenang, gue udah nyuruh orang buat urusin itu! Lo tinggal duduk manis dan semuanya beres!"
"Lo tahu kan gue nggak sabaran kalau berurusan sama yang begituan?"
"Iye, gue tahu! Tapi, Van...itu nama di kartu keluarga lo yang baru nama bokap lo masih tercantum sebagai bapak kandung lo!" ucap Eza.
"Lhah emang benihnya si setan itu kan yang bikin gue ada, emang bisa di gati sama kedondong?'
"Aelah gue cuman nanya, Van! Takut lo alergi aja!"
"Mau dihapus kayak apa juga gue lahir di dunia ini gara-gara dia bercocok tanam ke rahim mama gue!" sahut Revan mencoba menahan diri saat dia mengingat mamanya.
***
"Nih..." Revan menyodorkan dua buku nikah itu ke depan Amel.
Amel mendongak menatap Revan yang berdiri di depannya lalu menerima buku itu dan membuka isinya.
Ada namanya dan nama Revan di buku itu disertai dengan foto yang tercetak manis di sana.
"Makasih!" Wajah Amel bersemu merah karena bahagia dan tersanjung, Revan memenuhi keinginannya.
"Jadi mulai nanti malem aku boleh tidur di kamar kan?" tanya Revan sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Amel.
Amel ketap-ketip sambil menyembunyikan wajah malunya.
"Panas, Ney! Udah gitu banyak nyamuk lagi di.luar sini!" lanjut Revan.
Amel akhirnya mengangguk setuju. Tak tahu diri namanya kalau Amel menolak. Minta disahkan pernikahan mereka sudah Revan lakukan, bahkan Revan sudah memberikan nafkah kepada Amel tanpa Amel memintanya.
Revan mencuri sebuah kecupan di pipi itu lalu Revan bangkit dan mengambil baju ganti untuk dibawanya ke kamar mandi.
Amel mengangkut bantal, guling dan selimut yang dipakai oleh Revan ke kamar mereka.
Rona merah kembali tergambar di wajah itu. Amel membayangkan dirinya dan Revan tidur di ranjang itu.
"Ngapain kamu senyam senyum sendiri di situ!" Revan muncul di pintu kamar itu dan menatap Amel yang tersipu malu-malu di sana.
"Nggak, siapa yang senyam senyum!" Amel pura-pura merapikan ranjang.
"Aku laper, kamu mau makan apa biar aku pesenin!"
"Aku masakin aja! Tumis kangkung ama telor dadar nggak papa kan?" Amel bangkit berdiri dan mencepol rambutnya tinggi-tinggi.
"Aku makan apa aja oke!" jawab Revan sambil menelan air liurnya dengan kesusahan melihat leher Amel yang jenjang dan putih itu.
Amel langsung membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan dari dalam sana.
Udang, telur, kangkung, bawang merah, bawang putih dan cabe siap diracik. Amel dengan cekatan mengolah semua bahan itu menjadi makanan yang lezat.
Revan ikut masuk ke dalam dapur sempit itu untuk membantu Amel menyiapkan bahan yang dibutuhkan oleh Amel.
Amel salah tingkah, melihat Revan sedekat itu dan seringkali lengan mereka bersentuhan. Amel grogi hingga pinggangnya tanpa sengaja menyenggol sisi kulkas.
"Aduh!" teriak Amel kesakitan.
"Kamu kenapa, Ney?" Revan menangkap tubuh Amel yang sempoyongan.
Posisi intim itu membuat keduanya terpaku dan terhipnotis. Revan tak tahan lagi, dia mengakuisisi bibir tipis itu.
Amel.memilih memejamkan matanya saat bibir Revan menyentuh bibirnya. Revan mematikan kompor itu lalu menyeret Amel masuk ke dalam kamar mereka tanpa melepaskan ciumannya.