Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keira sudah semakin berat dalam gendongan Hana. Bayi itu semakin hari semakin gembul beberapa hari meminum Asinya. Dan kini usia Keira sudah memasuki 4 bulan tepat diawal Febuari.
Selepas kepergian Bik Inem, Hana meninggalkan Keira di box terlebih dulu, sebab dirinya harus memompa Asi. Niatnya, pagi ini Hana ingin mengaja Keira ke taman. Sekedar melepas penat, menikmati segarnya udara pagi.
Dan kebetulan, taman komplek tidak begitu jauh dari kediaman keluarga Morez. Hana ingin menebus semua keterlambatannya, dengan menghadirkan kebahagiaan kecil pada Bayi Susunya.
Dot sudah berada di saku piyama Hana. Pagi ini, Ibu susu dan anak itu sudah siap menikmati indanya akhir pekan.
Tangan Hana masih menggantung, perasaanya dikejutkan sosok Lukman yang berdiri kaku didepan pintu.
"O-oh maaf, Mbak Hana...." ucapnya tertunduk.
Hana agak menyipit. "Mas Lukman... Ada apa, ya?"
Lukman dengan senyum kikuk, hanya mampu menggaruk tengkuk lehernya, lalu bergumam, "Nggak, itu... Saya cuma mau bertemu Keira aja. Pas lewat, nggak sengaja nyium bau wangi dari bedaknya. Hehe...." kekehnya tanpa suara.
Hana manggut-manggut. Namun ketika Lukman menelisik, sepertinya kedua orang didepanya itu akan bepergian. "Mbak Hana mau kemana?"
Bukan menjawab, wajah Hana lebih menegaskan. "Mas, jangan panggil Mbak. Usia saya jauh dibawah Mas Lukman. Saya nggak enak," ucapnya rendah.
"Saya panggil Hana saja-"
Srettt!
Lukman tersentak. Ujung kerahnya ditarik sang Kakak dari belakang. "Eh, eh... Apa-apaan iniiiii?"
Menyeret Lukman kebelakang, tanpa ekspresi apapun, Danish berkata, "Kerja!"
Lukman berdesis. Wajahnya menekuk kesal. "Ini sabtu, Mas! Mana ada kerja?!" sanggahnya.
"Kamu ini sudah besar! Mau jadi apa?" suara Danish dingin. Berat. Namun penuh rasa kepedulian.
Lukman kembali maju selangkah. Wajahnya penuh protes. "Mas, aku mau ajak Hana sama Keira ke taman. Besuk aja deh aku kerja!"
Ungkapan Lukman bagikan bara api yang terlempar tepat di dada Danish. Reflek tatapanya berubah tajam dengan alis mejuling. "Coba katakan sekali lagi? Coba?" telinga itu bahkan sampai mencondong kesamping, karena saking kesalnya.
Hana menahan tawa. Sementara Keira, bayi 4 bulan itu tertawa kecil menggemaskan mendengar pertikaian Om dan Ayahnya.
"Iya... Sudah lama juga aku nggak ke taman. Jadi ya, sekalian aja bareng sama Hana. Iya 'kan, Han?" kata Lukman menatap Hana sekilas. "Lagian, Mas Danish kalau mau kerja, ya kerja aja!" ejeknya.
Dada Danish terasa teremat. Rasanya panas, seakan oksigen dalam ruanganya terkuras habis. Namun semaksimal mungkin ia tahan rasa gengsinya.
"Hana, em... Kamu ingin ke taman?" tiba-tiba saja Danish bertanya.
Hana mengangguk ragu. Wajahnya penuh waspada. "I-iya Pak! Bapak mau kerya, ya?"
Dengab gamblangnya Danish berkata, "Kerja? Ng-nggak! Kata siapa? Kan akhir pekan, ngapain kerja," jawabnya penuh pecaya diri.
Lukman semakin mendekat, tanganya mengapai bahu sang Kakak, sekedar memastikan. "Katanya tadi kerja! Kerja ya kerja aja Mas. Mau gabung nih sama kita?!" cibir Lukman.
Danish mendelik. "Kita? Siapa bilang? Aku hanya mau ajak Hana sama Keira saja. Kamu nggak di ajak!" balasnya kesal.
Lukman masih tak mau kalah. "Masak ke taman pake jas kek gitu?! Anda waras? Itu taman, bukan kantor!"
Danish hanya mampu menarik napas dalam. Ia abaikan kalimat Lukman, lalu tanganya segera menarik Hana untuk keluar.
"Bilang aja suka sama Hana. Sok-sokan nggak mau ngaku," gerutu Lukman berlalu juga dari sana.
****
Sambil bercanda ria dengan Keira, sesekali Hana melirik Bosnya yang kini berjalan disebelahnya tanpa ekspresi, kaku, dan sama-tanpa senyum.
Danish bagaikan bodyguard yang menjaga kedua wnaita itu.
"Pak... Seharusnya tadi Anda ganti baju dulu deh," celetuk Hana.
Danish berdesis, dengan suara pelan terasa berat, ia berkata, "Kenapa? Kamu malu jalan sama saya?" cetusnya.
Hana menggeleng cepat. "Nggak, bukan begitu Pak. Maksud saya... Bapak sejak tadi di lihatin orang-orang deh," mata Hana bahkan sampai mengedar.
Danish tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia berputar kecil, menatap Hana begitu sadis. "Jadi, maksud kamu... Saya malu-maluin gitu?" telunjuknya menunjuk dirinya sendiri.
Hana mendesah lelah. Sementara Kiera tertawa tanpa suara menatapnya.
Melihat tawa sang putri, reflek bibirnya melekuk indah. Tanpa terasa langkahnya kian mendekat. Kedua tanganya sudah terulur.
Hana tersentak, mulut memekik, "Stopppp! Bapak mau apa?" ia lupa jika bayi dalam gendongannya itu anak Bosnya.
Danish mendelik, langkahnya menggantung ragu. "Apa maksud kamu?" bingungnya. Tanganya juga belum sepenuhnya turun-rendah.
"Itu, Bapak deket-deket, tanganya itu... Mau apa coba?" tuduh Hana tanpa dosa.
Danish membuang muka sekilas. Tanganya berubah menjadi kepalan yang tertahan. "Saya ya mau gantian gendong putri saya! Kamu kira, saya mau sentuh kamu gitu?"
Hana tersadar. Pandanganya jatuh pada Keira yang juga tersenyum memperlihatkan gusinya. Senyum kikuk itu seolah mengekspresikan bagaimana dirinya yang mudah lupa.
"Iya, Pak... Maaf! Nih, pelan-pelan ya!" Hana mulai membuka selendang Keira, lalu bayi kecil itu sudah berpindah tangan.
Sambil berlalu, Danish begumam, "Kamu itu jangan ke ge'eran ya. Selera saya itu bukan kamu!"
Di belakang, Hana begitu merasa kesal. Meskipun ia sadar diri, namun tak seharusnya Bosnya itu menjelaskan secara gamblang.
Barulah, setelah itu Hana yang bergantian mengambil alih handle kereta bayi milik Keira.
*
*
Sementara di lain tempat, Risma dan Johan baru saja tiba di rumahnya. Kedua pasangan baya itu menghempaskan tubuhnya diatas sofa, mencoba membuang sisa-sisa kemarahan yang masih melekat.
Tak lama, panggilan telfon masuk di ponsel Risma.
Drttt!!!!
Sambil menarik napas dalam, wanita tua itu langsung menerima panggilan dari putri tercintanya.
"Rani... Kamu ini sebenarnya dimana sih? Papah sama Mamah baru saja pulang dari rumah Danish!" ujarnya dengan nada rendah. Namun guratan kesal itu masih menyamai wajah keriput yang terpoles make up.
Sementara dibelahan dunia. Tepatnya kini di Bangkok, wanita cantik berusia 27 tahun itu baru saja berjalan ke arah balkon masih menggunakan handuk kimono putih, serta rambut yang masih tersanggul handuk kecil. Sepertinya, Rani habis selesai mandi.
Dengan wajah santai, Ibu Keira itu berkata, "Mah... Udahlah... Mamah itu mau ngapain pake datang ke rumah Danish?! Rani kan sudah bilang, kalau hidup Rani yang sekarang itu lebih bahagia tanpa tuntutan apapun! Lagian ya... Udah sejak dulu, Rani nggak pernah suka sama Danish! Papah aja yang ngotot terima perjodohan itu!"
Risma kembali menarik napas berat. Ia bahkan sampai tak percaya putrinya akan bersikap sesantai itu, sementara disana, cucunya sedang dalam dekapan wanita lain.
"Ran... Gimana Mamah nggak cemas, kamu pergi saja nggak bilang sama Mamah mau keman. Dan... Asal kamu tahu, Danish sudah mengajukan gugatan cerai untukmu, Rani! Mamah dan Papah jelas nggak terima dong!"
Rani bukanya sakit hati, wanita cantik itu tertawa pelan, namun tak lama tubuhnya meremang, sambil memejamkan mata kala ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Tangan itu bebas bermain pada tubuh sintal Rani, hingga mebuat napas wanita cantik itu berangsur cepat menjadi desahan yang tertahan.
"Baguslah, Mah! Jadi, aku nggak perlu sibuk ngurus gugatan itu. Udah ya, Rani masih sibuk. Bye, Mah....." putus Rani sepihak.
Setelah itu, ia membalikan badan sambil melepas handuk kecil yang menutupi rambutnya. Senyum tipis penuh gairah cinta terlukis jelas, ketika pria tadi mulai menatapnya bak manusia alpa yang kehausan darah.