NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Jadi Lebih Besar

Keputusan itu nggak datang dalam semalam.

Malam itu Kevin duduk di pinggir kasur tipis kosnya.

Lampu redup. Dinding lembap. Suara kipas angin berisik.

Di depannya, Cantika tidur pulas.

Napas kecilnya teratur.

Wajahnya tenang banget.

Terlalu tenang… buat hidup yang selama ini mereka jalanin.

Kevin keinget kata-kata pria tua di rumah sakit itu.

“Pulanglah.”

Satu kata sederhana.

Tapi beratnya kayak dunia.

Kevin nggak pernah tahu rasanya punya “rumah” yang beneran.

Kos ini cuma tempat berteduh. Bukan tempat pulang.

Dan untuk pertama kalinya, dia sadar satu hal:

Masa depan Cantika nggak boleh cuma bergantung sama keras kepalanya.

Pagi itu, Kevin mulai beres-beres.

Bajunya nggak banyak.

Mainan kecil Cantika masuk tas.

Botol susu. Selimut tipis.

Dia buka dompetnya.

Foto lama yang selalu dia simpan—foto dirinya dan Cantika waktu masih di kos—dia tatap lama.

“Maaf ya, Nak,” bisiknya pelan.

“Selama ini Ayah cuma bisa kasih kamu hidup kayak gini.”

Cantika cuma senyum polos, nggak ngerti apa-apa.

Mobil hitam datang menjemput.

Kevin berdiri di depan rumah besar dengan pagar besi tinggi yang kebuka pelan.

Dia nelen ludah.

Ini dunia yang beda banget.

Lantai marmer mengilap.

Lampu gantung kristal berkilau.

Pelayan berdiri rapi menyambut.

Ayahnya duduk di kursi roda di ruang tengah.

Wajahnya masih pucat, tapi matanya langsung hidup waktu lihat Kevin dan Cantika.

“Kalian datang,” katanya pelan.

Kevin angguk.

“Kami tinggal di sini.”

Senyum pria tua itu lebar banget. Hampir gemetar.

“Terima kasih.”

Hari-hari pertama?

Canggung parah.

Kevin biasa ngapa-ngapain sendiri.

Sekarang mau ambil air aja—

“Pak Kevin, biar saya saja.”

Kevin kikuk.

“Nggak usah, saya bisa sendiri.”

Cantika?

Langsung jadi pusat perhatian.

Pembantu gantian gendong.

Mainan berdatangan.

Baju lucu-lucu memenuhi lemari.

Cantika ketawa lebih sering.

Setiap tawa itu bikin hati Kevin campur aduk.

Sakit…

karena dia sadar dulu nggak bisa kasih semua ini.

Tapi juga lega.

Suatu sore, ayahnya manggil ke ruang kerja.

Ruangan itu penuh buku, lukisan tua, dan foto-foto lama.

Ada satu foto pria muda berdiri di samping wanita cantik yang tersenyum lembut.

“Itu ibu kamu,” kata ayahnya pelan.

Kevin diam lama.

“Aku ingin kamu ambil alih perusahaan ini suatu hari nanti.”

Kevin langsung kaku.

“Aku nggak punya pendidikan.”

“Itu bisa dikejar,” jawab ayahnya tegas.

“Uang, waktu, dan orang terbaik ada di sini.”

Kevin tarik napas panjang.

Dia buka HP. Lihat foto Cantika.

Kalau ini buat masa depan anakku…

“Aku bakal coba.”

Dan hidupnya berubah total.

Kevin mulai belajar dari nol.

Bahasa Inggris.

Etika bisnis.

Public speaking.

Cara baca laporan keuangan.

Dia duduk di kelas privat kayak anak sekolah lagi.

Sering bengong.

Sering ketinggalan.

Kadang frustrasi.

“Kenapa susah banget sih?” gumamnya waktu latihan presentasi.

Tapi dia nggak nyerah.

Karena setiap malam, setelah belajar, dia masuk kamar Cantika.

Anak itu mulai berdiri sendiri.

Lalu jalan goyang-goyang.

“Ayah!” panggil Cantika suatu malam.

Kevin langsung angkat dia tinggi-tinggi.

“Pinter banget sih kamu.”

Semua orang di rumah itu suka Cantika.

“Cantika makin cantik,” kata salah satu pembantu.

Kevin cuma senyum kecil.

Nama itu bukan cuma nama.

Itu doa.

Beberapa bulan kemudian, ayahnya bikin kejutan lagi.

“Kamu akan kuliah di Eropa.”

Kevin bengong.

“Aku? Kuliah?”

“Jurusan bisnis. Kampus terbaik.”

“Aku nggak pernah kuliah sebelumnya…”

“Aku juga nggak pernah berhenti nyari kamu,” jawab ayahnya pelan.

“Sekarang giliranku siapin kamu.”

Kevin nggak bisa nolak.

Hari keberangkatan berat banget.

Kevin peluk Cantika lama.

Anak itu nangis, pegang bajunya erat.

“Ayah pergi belajar ya,” bisik Kevin sambil nahan air mata.

“Tunggu Ayah pulang.”

Pesawat lepas landas.

Dan Kevin merasa kecil lagi.

Eropa bikin dia sadar betapa jauhnya dia tertinggal.

Bahasa beda.

Orang-orang pintar semua.

Diskusi soal ekonomi global, strategi, investasi.

Kadang dia duduk di kelas sambil mikir,

Gue bisa nggak sih?

Tapi tiap malam, dia buka foto Cantika.

Itu bahan bakarnya.

Kalau dulu dia bertahan karena nggak punya siapa-siapa…

Sekarang dia bertahan karena punya seseorang yang menunggu.

Tahun demi tahun lewat.

Cantika tumbuh di rumah besar dengan taman luas.

Dia lari-lari. Ketawa. Ulang tahun. Masuk sekolah.

Kevin lihat semuanya lewat video call.

“Papa!” Cantika teriak di layar.

Rindu jadi teman tetapnya.

Tapi dia tahan.

Karena dia tahu—

ini bukan soal dirinya lagi.

Akhirnya hari kelulusan datang.

Kevin berdiri pakai toga.

Pegang ijazah bisnis yang dulu nggak pernah kebayang di otaknya.

Dia bukan yang paling jenius.

Tapi dia yang paling keras kepala buat bertahan.

Dia pulang.

Di bandara, Cantika lari kecil ke arahnya.

Kevin langsung berlutut dan meluk dia erat banget.

“Ayah pulang,” katanya dengan suara serak.

Dan untuk pertama kalinya, dia merasa…

dia benar-benar pulang.

Nggak lama setelah itu, Kevin mulai kerja di perusahaan ayahnya.

Tapi dia nolak duduk di kursi empuk.

“Aku mulai dari bawah.”

Ayahnya cuma senyum bangga.

Kevin belajar lagi.

Dari staf biasa.

Masuk rapat.

Dengerin. Nyatet. Analisa.

Ruang rapat sekarang jadi tempatnya.

Jas gantiin baju lusuh.

Tapi satu hal nggak berubah:

Caranya sayang sama Cantika.

Caranya tahan banting.

Pelan-pelan, nama Kevin mulai dikenal.

Bukan karena dia anak komisaris.

Tapi karena dia tenang.

Tegas.

Dan kalau dia diam…

orang-orang tahu—

dia lagi mikir langkah yang nggak semua orang bisa baca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!