Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Tujuh
Sore itu, suasana di depan kantor sangat riuh dengan kendaraan yang mengular. Felicia sengaja tidak langsung pulang karena ia lebih memilih menunggu agar jalanan sedikit lengang dari pada harus berdesakan.
Biasanya, Felicia akan naik ojek online atau transportasi umum lainnya agar lebih praktis. Tapi karena tadi pagi ia nyaris kesiangan, jadilah ia memutuskan untuk membawa kendaraan sendiri.
Felicia baru saja selesai membayar pesanannya di tenda penjual masakan serba sepuluh ribu, saat pandangannya tertuju pada sosok tinggi yang tampak gelisah di pinggir trotoar. Itu Pak Han. Jasnya sudah tersampir di lengan, dasinya sedikit longgar, dan matanya terus bolak-balik menatap layar ponsel dan jalanan dengan wajah frustrasi.
Felicia segera menghampirinya sambil menenteng bungkusan lauk. "Pak Han? Bapak kenapa masih di sini? Bukannya Bapak harus ada di kantor cabang Cipta sepuluh menit lagi buat meeting?"
Pak Han menoleh, wajahnya tampak lega sekaligus panik. "Nah, justru itu! Mobil saya dibawa Pak John tadi. Katanya mobil dia sedang diservis, jadi dia pinjam sebentar. Tapi jam segini dia belum balik juga! Taksi dan ojek online juga nggak ada yang mau ambil karena macet parah."
Feli melirik jam tangannya, lalu menunjuk ke arah motor matic-nya yang terparkir tak jauh dari sana. "Ya sudah, Pak. Daripada Bapak telat, saya anter aja. Lewat jalan tikus lebih cepet, kalau pakai mobil di jam segini sih, mustahil bisa sampai tepat waktu."
Pak Han melirik motor Feli dengan ragu. "Naik... motor?"
"Daripada Bapak telat, kan? Ingat lho Pak, Mr. Dominic datang di rapat ini. Dia kan paling gak suka sama orang yang nggak disiplin waktu," pancing Feli.
Pak Han menghela napas pasrah. "Ya sudah. Tapi pelan-pelan ya, Fel. Saya tidak mau nyawa saya melayang sebelum tanda tangan kontrak."
"Kalau pelan-pelan, ya lama sampenya, Pak!" seru Feli. Ia menyerahkan helm nya yang berwarna merah muda pada Pak Han. "Bapak pakai helm saya aja, nanti rambut Bapak berantakan kena angin. Nggak lucu kalau ketemu Mr. Dominic tapi rambut gaya singa."
Pak Han mencoba memakai helm itu, tapi wajahnya tampak terjepit. "Kekecilan, Fel. Ini helm kan ukuran kepala kamu, bukan saya."
"Paksa saja sedikit, Pak! Masuk kok itu, cuma agak ketat aja," ujar Feli menahan tawa melihat bosnya yang terlihat lucu dengan helm pink kekecilan.
Akhirnya, dengan posisi yang agak canggung, Pak Han naik ke jok belakang. Begitu mesin menyala, Feli langsung tancap gas. Ia mulai bermanuver di antara sela-sela mobil dan masuk ke gang-gang sempit yang hanya muat satu motor.
"Kamu yakin ini aman, Fel? Jalannya kecil banget ini! Ini gang atau lubang kelinci?" teriak Pak Han di balik helmnya yang sesak.
"Aman, Pak! Ini jalan pintas paling cepet kalau mau ke daerah Cipta!" sahut Feli sambil menambah kecepatan.
Awalnya, Pak Han menjaga gengsinya dengan berpegangan pada behel besi di belakang motor. Namun, saat mereka melewati sebuah polisi tidur yang cukup tinggi dan Feli malah menarik gas motornya agar bisa melompat sedikit, tubuh Pak Han terhentak hebat.
Secara refleks, kedua tangan Pak Han langsung melingkar erat di pinggang Feli. Ia memeluk asistennya itu dari belakang karena takut terjatuh.
"Feli! Hati-hati dong! Kamu mau buat jantung saya copot?!" seru Pak Han, tapi ia sama sekali tidak melepaskan pelukannya.
Feli yang merasakan tangan kekar Pak Han melingkar di pinggangnya mendadak merasa ada ribuan kembang api meledak di perutnya. "Makanya pegangan yang kencang, Pak! Kita hampir sampai!"
Pak Han, di balik helm pink-nya, diam-diam tersenyum sambil menyandarkan dagunya di bahu Feli, menikmati aroma sabun bayi yang masih menempel di rambut asistennya itu— ternyata dibonceng dengan motor matik berwarna pink itu tidak seburuk yang ia bayangkan.
Begitu motor Feli berhenti mendadak tepat di depan lobi kantor cabang, Pak Han masih belum melepaskan pelukannya. Ia sepertinya masih trauma dengan atraksi polisi tidur tadi.
"Pak... sudah sampai. Itu Mr. Dominic sudah berdiri di depan pintu kaca," bisik Feli sambil menahan tawa.
Pak Han tersentak, langsung menarik tangannya dari pinggang Feli dan turun dengan gerakan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Ah, iya. Cepat juga ya."
Masalah baru lagi, helm pink itu masih nyangkut dan sulit untuk dilepaskan. Pak Han mencoba menariknya, tapi karena tadi dipaksa masuk, helm itu sekarang menempel erat di pipinya yang memerah.
"Feli, ini... helm kamu nggak mau lepas," gerutu Pak Han sambil berjuang menarik helmnya, membuat wajahnya makin terlihat lucu.
Feli akhirnya turun dari motor dan membantu menarik helm itu. POP! Helm terlepas, menyisakan rambut Pak Han yang berantakan ke segala arah. Feli secara refleks menggunakan jemarinya untuk merapikan rambut bosnya itu agar tidak terlihat memprihatinkan di depan klien.
"Nah, sudah ganteng lagi, Pak. Sekarang masuk, buruan!"
Pak Han terdiam saat jemari lembut Feli menyisir rambutnya. Ia menatap Feli dalam-dalam, mengabaikan Pak Lee yang melambai dari kejauhan.
"Terima kasih, Fel. Nanti pulangnya tunggu saya, jangan berani-berani pulang duluan. Kamu harus tanggung jawab antar saya balik ke kantor buat ambil mobil."
"Lho, kok jadi saya yang sopir gini, Pak?"
"Bonusnya tiga kali lipat kalau kamu mau nunggu," bisik Pak Han sambil mengedipkan sebelah mata, lalu melangkah masuk ke kantor dengan penuh wibawa—seolah baru saja turun dari jet pribadi, bukan dari motor matic penuh drama.
...***...
"Ayo, Feli. Kita balik sekarang," ajak Pak Han sambil meraih helm Feli yang tadi nangkring di kaca spion.
Feli sudah siap menyalakan mesin. "Oke, Pak. Kita lewat jalan tikus yang tadi ya? Biar cepat sampai kantor, Bapak bisa ambil mobil, dan saya bisa pulang istirahat."
"Jangan," potong Pak Han cepat. "Lewat jalan utama saja. Saya masih pusing lewat gang-gang sempit tadi, rasanya seperti naik roller coaster."
Feli mengernyit. "Tapi Pak, jalan utama jam segini itu macetnya bisa bikin kita tua di jalan. Bisa satu jam lebih!"
"Tidak apa-apa. Saya pengen menikmati pemandangan kota," jawab Pak Han enteng, padahal yang ingin dia nikmati adalah durasi lebih lama berpegangan di pinggang Feli.
Benar saja, baru lima menit jalan, mereka sudah terjebak di antrean lampu merah yang panjang. Pak Han kembali melingkarkan tangannya di pinggang Feli—kali ini lebih rileks, tidak seerat tadi, tapi terasa lebih protektif.
"Pak, kalau pegel pegangan pinggang, pegangan behel motor aja nggak apa-apa kok," celetuk Feli, berusaha menutupi perasaan aneh yang sedari tadi membuatnya gelisah.
"Nggak. Saya trauma takut terbang lagi kaya tadi." Dusta Pak Han sambil menyandarkan dagunya di dekat bahu Feli.
"Ngomong-ngomong, saya lapar. Kita cari makan dulu ya sambil nunggu Pak John antar kunci mobil saya ke kantor."