NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran

"Kak, sepertinya aku sudah cukup berendamnya aku mau mandi dulu ya kak."

"Ok Jen."

Ada apa denganku, serba salah begini, apa aku sebenarnya menyukai kak Erick? Apa aku sungguh menyukainya?.

Saat aku keluar kamar mandi, kak Erick sedang duduk di kursi santai pinggir kolam.

"Jen aku numpang kamar mandi ya, handuk Belva yang mana?."

"Ooo... yang digantung di pintu kak, apa mau aku mintakan handuk bersih kak?."

"Ga usah Jen, Belva pasti bareng Arnold malam ini, pasti dia mandi disana."

Aku menganggukkan kepalaku, mereka sungguh berbeda denganku yang dibesarkan oleh papa secara konservatif.

"Jen aku lapar, kita pesan makanan ya."

Padahal baru saja aku mau mengajaknya makan diluar. Ooo baiklah... mari atasi ini dengan sedikit alkohol Jen, ucapku dalam hati.

"Ok kak, Belva juga kemarin bawa ini", aku menyodorkannya botol soju dan wine kemarin.

"Wow, sempurna".

Tunggu, sempurna, apa aku salah lagi? Kenapa kak Erick bilang sempurna?.

Dengan keadaan yang serba salah begini, rasanya perutku tidak bisa makan seperti biasanya.

"Tumben kami makannya sedikit? Diet Jen? Gara-gara aku kirim makanan manis terus ya?"

"Ga kak, lagi ga terlalu lapar aja."

"Kamu ga perlu diet Jen, bentuk badan kamu udah ideal kok. Daripada diet, lebih baik kakak akan mengurangi mengirim makanan manis mulai sekarang."

"Hmmm...", ucapku tidak tahu harus berkata apa.

"Belva sepertinya menemukan jodohnya kak, kalau Belva menikah duluan bagaimana kak?", ucapku berusaha membuka topik lain.

"Ga masalah. Tapi belum tentu kan dia nikah duluan, kalau kamu bilang iya sekarang juga, aku bisa nikahin kamu besok."

Astaga... aku salah lagi, aku menetralkan jantungku dengan menegak sedikit soju buah.

"Jen sebenarnya apa kekuranganku? Sepertinya kamu ga menolak kehadiranku, obrolan kita juga nyambung, kamu udah tau semua tentang aku, aku juga jelas lebih ganteng dan keren dari kakak kelasmu itu, jadi apa masalahnya?"

"Ya kak Erick memang ganteng", ucapku bercanda, namun ada kejujuran disana.

"Maaf kalau kakak merasa dipermainkan olehku, disatu sisi aku memang ga menolak kehadiran kakak, tapi disaat yang sama juga aku menolak perasaan kakak, aku juga bingung sendiri."

Entah karena perasaan bersalah atau pengaruh alkohol, tapi aku lancar berkata jujur mengungkapkan perasaanku.

"Apa kamu juga menerima hadiah darinya?"

Aku menggelengkan kepalaku.

"Apa kamu juga bersikap sama terhadapnya, seperti sekarang kamu menerima kehadiranku saat ini?"

Aku menjawabnya dengan gerakan kepala lagi sambil menunduk.

"Jadi kamu masih menghindarinya, kenapa? Apa karena sangat menyukainya sampai kamu menghindarinya begitu?"

"Aku ga benar-benar menghindarinya, aku cuma menolak perasaannya saja. Tapi kadang jantungku masih berdebar untuknya"

"Oh wow, ternyata aku masih kalah ya. Padahal jantungku selalu berdebar untukmu Jen. Aku kira kamu mulai melihatku, kamu membiarkan aku memegang tanganmu. Saat di kolam tadi, yang kupikirkan adalah betapa cantik dan seksinya kamu, aku berharap malam ini setidaknya aku bisa menciummu. Ternyata aku masih harus lebih berjuang lagi, meski kamu ga berdebar untukku, yah setidaknya kamu ga menolak kehadiranku.", sepertinya kak Erick agak kesal saat mengatakan itu.

"Ga begitu, seharian ini sebenarnya aku gugup, aku juga salah tingkah sampai ga berselera makan."

"Oh ya?"

Aku melihatnya tersenyum, kemudian aku minum lagi menutupi kegugupanku dan menunduk lagi.

"Jadi bisa dibilang posisiku imbang saat ini? Jantungmu juga berdebar untukku kan Jen?"

Aku mengangguk sambil menunduk.

"Aku tau cara cepat mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Tatap aku Jen, jika kamu harus memilih lebih baik kamu mencium seniormu atau aku?"

Aku menatapnya bingung, pertanyaan macam apa itu.

"Pilih Jen... kamu harus memilih."

"Mana bisa aku milih hal seperti itu", protesku.

"Mau mencobanya?"

"Apa?"

"Boleh aku menciummu sekarang?"

Aku hanya menatapnya, pikiranku seakan kosong dan membeku.

"Aku akan bergerak mendekat, kamu bisa menolakku kapan saja Jen."

Aku melihatnya bergerak mendekat, saat ia benar-benar sudah mendekat aku menutup mataku. Aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku, selama beberapa detik ia hanya menyentuh bibirku, lalu ia melumatnya pelan, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat, lalu perlahan menghilang. Aku membuka mataku, melihatnya tersenyum memandangku. Kali ini satu tangannya membelai rambutku, satu tangannya menyentuh pipiku, dan ia bergerak mendekat lagi kearahku, ia menciumku lagi. Awalnya bibirnya bergerak pelan, lalu menggigitku pelan memaksaku untuk membuka mulutku agak ia bisa menciumku lebih dalam dan tanpa sadar aku membalas ciumannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!