Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Pertarungan
Disclaimer!
Bab ini mengandung kekerasan dan penggunaan senjata tajam. Harap bijak dalam membaca. Jangan sampai keputusan ini membuat kalian merasa tidak nyaman! Stay safe, readers!
...*•*•*...
Dalam sekejap yang penuh keputusan, Gerard mengabaikan wanita itu yang masih membeku, dan menatap tajam ke arah pria yang baru saja keluar dari van. Tubuhnya bersiap, persis saat pria itu melompat keluar dan langsung menyerang dengan sikap arogan.
"Dasar sok pahlawan!" teriak si penyerang, tangannya mengayunkan tongkat ke arah kepala Gerard.
Gerakan itu datang terlalu cepat. Gerard nyaris tak sempat menghindar—dengan reflek, ia mengangkat tangan. Brak! Tongkat itu menghantam lengannya dengan keras. Sakit yang tajam langsung menyebar, tapi justru memantik amarah yang lebih besar dalam dirinya.
Ia berusaha merebut tongkat itu, namun pegangan pria itu kuat dan licin. Tongkat terlepas, membuka pertahanan Gerard. "Hah! Sok jago lo!" ejek pria itu, lalu mengayunkan lagi—kali ini mendarat tepat di telinga Gerard.
Deng!
Suara itu terdengar jelas dan mengiris. Kepala Gerard terasa berputar, dengungan memenuhi telinganya. Belum sempa pulih, serangan berikutnya menghantam tulang rusuknya. Krek!—suara yang mengisyaratkan sesuatu yang patah.
Dua serangan berturut-turut itu membuat Gerard terhuyung, nyaris terjatuh. Dunia di sekelilingnya mulai mengabur, tapi dari kejauhan, ia masih bisa melihat pria itu berbalik—kini mendekati wanita yang masih terjatuh dan gemetar.
"Haha! Itu akibatnya kalau melawan!" kata pria itu dengan suara penuh kemenangan.
Wanita itu merangkak mundur, wajahnya pucat, matanya penuh kepanikan. "Tidak… tidak… Maafkan aku! Aku tidak akan melawan lagi!" ratapnya, tapi tangisannya hanya ditertawakan oleh kedua pria itu.
"Lihat nih, dia udah mau pipis ketakutan!" ledek salah satunya.
Tapi tawa mereka tiba-tiba terhenti saat pria yang tadi digigit meraih leher wanita itu dengan kasar. "Kamu berani gigit aku ya," desisnya dingin. "Sekarang aku yang bakal kasih bekas buat kamu."
Cengkeramannya mengencang. Wanita itu terengah-engah, kakinya mengais-ais udara. Sementara wajahnya memerah.
Tidak… jangan… pikir Gerard, pandangannya mulai buram. Tapi justru di saat itu, sebuah energi mendadak mengalir deras dalam tubuhnya—seperti sesuatu yang tertidur lama tiba-tiba terbangun. Fokusnya kembali tajam, rasa sakitnya terasa mereda, digantikan oleh tekad yang membara.
Tanpa sadar, tubuh Gerard sudah bergerak maju—rasa sakit seolah tersapu oleh gelombang adrenalin yang meluap. Langkahnya cepat dan mantap. Saat mereka masih tak menyadari kehadirannya, ia memutar bahu dan menghantamkan tinju kosongnya langsung ke telinga pria yang memegang tongkat.
Pukulannya padat dan keras, mengimbangi serangan yang sebelumnya ia terima. Kepala pria itu terguncang, dengungan memenuhi telinganya. Tanpa pikir panjang, Gerard meraih tongkat yang terlepas dari genggamannya, lalu mengayunkannya dengan tenaga penuh—tepat ke hidung pria itu.
Kraak!
Suara tulang retak terdengar jelas. Darah memercik dari hidung dan mulutnya sebelum ia ambruk tak sadarkan diri di aspal.
Melihat kekacauan itu, pria yang mencekik wanita itu melonggarkan cengkeramannya dan menoleh. Saat ia melihat Gerard berdiri tegak dengan tongkat berdarah di tangan, wajahnya berkerut marah. Ia mendorong wanita itu hingga jatuh ke pembatas jalan, lalu menatap Gerard dengan mata penuh ancaman.
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa…" gumamnya pelan. Tanpa rasa takut, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah karambit—pisau melengkung yang mematikan. "Kukira kau polisi. Ternyata cuma orang sok pahlawan."
Pria itu memasang kuda-kuda, karambitnya berkilat di cahaya sore. Pandangannya tajam dan dingin, seperti predator yang siap menyergap.
Gerard meludah ke aspal, ludahnya bercampur darah. Tapi di wajahnya muncul senyum tipis yang mengejek. "Payah."
Kata itu seperti menyulut sumbu amarah pria itu. Dengan gerakan gesit seperti kucing, ia menerjang maju, tubuhnya condong untuk menyerang jarak dekat.
Begitu jarak mereka tinggal setengah meter, Gerard mengangkat tongkat untuk bertahan—trang!—pisau karambit beradu dengan logam tongkat. Tapi serangan itu tak berhenti. Tangan pria itu bergerak lagi, berputar dengan pola yang tak terduga, mencari celah untuk menyayat, secara terus-menerus menjaga jarak tetap dekat untuk menguntungkannya.
Serangan itu semakin cepat dan ganas, mengincar titik-titik vital dengan presisi berbahaya. Gerard berusaha memanfaatkan panjang tongkat untuk bertahan—tak mengayun—namun beberapa kali ujung karambit berhasil menyelinap, melukai jari-jarinya hingga berdarah.
Dia terlalu cepat... Aku harus jaga jarak...
Trang! Trang!
Bunyi benturan logam terus bergema. Tiba-tiba, lawannya berhenti sejenak, lalu dengan cepat memutar tubuh dan melancarkan tendangan keras ke arah dada Gerard.
Tendangan itu datang dengan tenaga penuh. Gerard yang fokus menghindari serangan tajam tak sempat mengantisipasinya. Tubuhnya terhuyung ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan. Pria itu langsung mengambil kesempatan, mengayunkan karambit ke arah leher Gerard.
Swiish—
Untungnya, Gerard berhasil menarik tubuhnya tepat waktu. Pisau itu hanya menyayat kulit, meninggalkan goresan tipis yang langsung terasa perih.
Sebaliknya, serangan ceroboh itu justru membuat keseimbangan si pemegang karambit goyah. Hanya sesaat, tapi cukup bagi Gerard. Dengan refleks yang tajam, ia menjejakkan kaki kirinya ke tanah untuk menstabilkan tubuh, lalu mengayunkan tongkat secara melintang ke arah lawan yang masih berusaha menemukan pijakan.
Trang!
Karambit yang pendek tak mampu menahan hentakan tongkat yang penuh tenaga. Pisau itu terlempar dari genggaman pria itu, dan sebelum ia sempat bereaksi, serangan berikutnya sudah datang—bukan ke wajah, tapi ke leher.
Duk!
Tongkat menghantam sisi lehernya dengan keras. Kepalanya terpelanting, mata melotot sesaat sebelum kesadarannya padam. Tubuhnya terjungkal ke aspal, tak bergerak lagi, bersebelahan dengan temannya yang sudah lebih dulu tak sadarkan diri.
Pertarungan singkat namun intens itu berakhir dengan kemenangan di pihak Gerard—menggunakan senjata yang justru direbut dari lawannya. Melihat kedua pria itu terbaring tak sadarkan diri di aspal, gelombang adrenalin yang memuncak perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran normal yang kembali menyelimutinya.
Tubuh Gerard tiba-tiba terasa lemas, nyaris terjatuh. Tapi telinganya menangkap suara pintu van yang ditutup kasar. Saat ia bersiap menghadapi ancaman berikutnya, yang ia lihat justru pengemudi van memutar kendaraannya dengan kasar dan melarikan diri—meninggalkan kedua rekannya yang tergeletak tak berdaya.
“Dasar pengecut…” gumam Gerard lemas, sebelum akhirnya terjatuh lututnya menyentuh aspal. Pandangannya berkunang-kunang, namun ia segera teringat wanita yang tadi berusaha diselamatkannya. Ia menoleh—wanita itu sudah pingsan di tepi jalan, mungkin akibat ketakutan yang memuncak.
Melihatnya masih bernapas, rasa syukur mendalam mengalir dalam diri Gerard. Ia tersenyum tipis, lalu dengan sisa tenaga, mengangkat wanita itu dengan hati-hati dan membawanya ke dalam mobilnya, menidurkannya di kursi penumpang.
Di tengah rasa lelah dan luka yang mulai terasa nyeri, ada kepuasan yang hangat di dadanya. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa—meski motif penculikan itu masih menjadi misteri, dan konsekuensi dari aksinya masih belum jelas. Tapi untuk saat ini, yang penting dia dan wanita ini selamat.
Sebelum meninggalkan tempat kejadian, Gerard mengeluarkan ponselnya dan menelepon polisi. Respon di seberang garis terasa sigap dan profesional. Dengan suara yang masih terdengar lelah, ia menyampaikan informasi penting:
“Van hitam, plat B 4512 ENG. Melarikan diri dari lokasi saya sekarang—arahnya kemungkinan menuju jalan utama.”
Ia tak menyebut detail pertarungan atau kondisinya sendiri. Cukup informasi itu—singkat, jelas, dan bisa dilacak. Setelah memastikan pihak berwenang telah mencatat laporannya, ia menutup telepon.
Dengan napas berat, ia memasukkan ponsel kembali ke saku, lalu menyalakan mobil. Wanita yang masih pingsan di kursi penumpang tampak tenang, meski napasnya masih tersengal-sengal. Gerard meliriknya sekilas sebelum mengemudi pelan meninggalkan tempat itu—meninggalkan dua tubuh tak sadarkan diri di aspal, dan sebuah misteri yang masih menggantung di udara sore yang mulai senja.