Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar
Pagi harinya, kepala Ethan berdenyut pelan. Bukan rasa sakit yang tajam tapi seperti tekanan tumpul yang menempel sejak ia membuka mata. Netra cokelatnya mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Cahaya pagi mulai masuk dari celah tirai, terlalu terang untuk kondisi kepalanya yang masih berat.
"Ughh.."
Ia mengangkat tangan menutup wajah, aroma asam samar langsung menyergap hidungnya. Ethan langsung menoleh ke samping ranjang, di sana sudah ada pakaian dan celananya yang berserakan di lantai, bekas muntahan kering jelas terlihat di bagian depan pakaian yang ia kenakan semalam.
Sejenak ia menatap hal kotor itu dengan wajah datar. Potongan-potongan ingatan muncul perlahan, mulai dari Emma yang memberinya sekaleng bir, sampai ia memuntahkannya saat perjalanan pulang. Tchh.. memalukan, batinnya. Ia menganggap jika Emma lah yang mengantarnya sampai apartemen.
Ethan mulai bangkit dari ranjang dengan rambut yang berantakan dan hanya mengenakan boxer hitam. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menggulung semua pakaian yang kotor menjadi satu, seperti ingin menyingkirkan bukti kepayahannya secepat mungkin. Begitu pintu kamar mulai dibuka terdengar suara seseorang menyapanya duluan.
"Sudah sadar?."
"Ya," Ethan menjawab refleks dalam keadaan masih setengah sadar. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun.
Langkahnya begitu santai menyusuri area dapur, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia langsung menjatuhkan gulungan pakaian kotor tersebut ke dalam bak cuci, lalu membuka keran air. Tangannya mulai membersihkan noda bekas muntahannya sendiri dengan ekspresi kosong, seolah itu hal paling normal di dunia.
Beberapa menit pun berlalu, setelah selesai mencuci pakaian, ia memasukkannya ke dalam pengering. Sembari menunggu, pria itu mulai menyalakan shower. Air dingin mengalir, melewati setiap lekukan tubuh pria berambut sebahu itu. Kepalanya yang semula berdenyut, kini terasa sedikit lebih ringan.
"Sudah sadar?," suara seseorang dalam pikirannya membuat pria itu berhenti bergerak. Aliran air dan busa sabun masih terus jatuh membasahi punggungnya. Ia menutup mata sejenak, mencoba berpikir logis, hingga berspekulasi jika suara tersebut terdengar karena ia belum sepenuhnya sadar dari mabuk. Ia membilas dengan cepat, menolak memikirkannya lebih jauh.
Beberapa menit kemudian, Ethan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang. Rambutnya masih basah, tampak jelas tetesan air turun melewati leher dan bahunya.
Ia berjalan santai hendak menuju kamar, namun langkahnya terhenti secara mendadak tepat di area ruang tamu. Karena merasakan hal aneh, ia mulai menoleh perlahan. Di sofa tampak seorang gadis mungil berkacamata sedang mengetik serius di depan laptopnya.
Klik! Klik! Klik!
Suara ketikan keyboard berhenti, gadis itu pun menoleh. Sejenak tatapan mereka saling bertemu.
Beberapa detik berlalu dengan hening, lalu..
"KAU SIAPA?!," seru Ethan.
Gadis itu tersentak kaget, hampir menjatuhkan laptopnya.
"ASTAGA! PAKAI BAJUMU!"
Ethan refleks melihat ke bawah, lilitan handuk masih setia menutup miliknya, namun tetap saja ia merasa malu. Tanpa berkata apa-apa, pria itu berbalik lalu menutup pintu kamar. Astaga Serra!, kau serius menyukai pria mesum sepertinya?!, batin si gadis berkacamata menutup wajahnya yang memerah.
Beberapa menit kemudian pintu kamar kembali terbuka. Kali ini Ethan sudah memakai kaos hitam dan celana panjang santai. Rambutnya masih sedikit lembap, ekspresinya terlihat datar namun penuh kewaspadaan. Pria itu berdiri sambil melipat kedua tangan.
"Katakan siapa kau sebenarnya?," ujarnya dingin.
Gadis itu menutup laptopnya perlahan, lalu menarik napas, "Hufttt.. kau tidak ingat? padahal semalam kau membuatku kesulitan," kesal si gadis mengingat kejadian semalam, saat mobil yang di tumpangi nya terus berhenti karena ulah Ethan yang seperti wanita hamil trimester pertama. Ethan mengernyit, ia merasa bingung, tapi logika dalam pikirannya mulai berjalan.
"Ah sudahlah, aku Vivian Glory. Tujuanku kemari untuk menemui Serra."
Mendengar nama itu, membuat otot rahang Ethan menegang, "Pergilah, dia tidak disini," usir nya.
Vivian menghela napas pelan, "kau bahkan belum mendengar penjelasan ku."
"Aku tidak tertarik" ketus Ethan.
"Semua ini masih ada hubungannya denganmu Ethan Hale," sanggah Vivian.
Ethan tertawa sinis, "Haha, orang asing sepertimu tiba-tiba muncul menyebut namanya, lalu mengatakan jika semua berhubungan denganku. Dan apa itu? kau mengenaliku? sungguh konyol."
Vivian menatapnya lurus, mencoba bersabar. Mengingat kejadian semalam, ia paham betul akan kondisi Ethan saat ini. Terlebih ia tak menemukan jejak apapun dari Serra. Tanpa banyak bicara, ia mulai memutar laptopnya dan mendorongnya ke arah Ethan, "tolong lihat dulu," ujarnya.
Ethan tidak langsung mendekat, namun dengan jelas ia melihat tampilan layar yang menunjukkan rekam medis seseorang. Bukan tentang penyakit, melainkan seperti uji tes kecocokan. Salah satu tulisan cetak tebal mulai menarik perhatiannya.
DNA compatibility test.
Namanya tertera jelas di sana, namun yang membuatnya bingung, ada nama lain yang cukup familiar, yaitu Adrian Vale. Orang yang pernah Serra bahas sebelumnya. Alis Ethan sedikit berkerut, "apa ini?."
Vivian menunjuk bagian kesimpulan, "ini adalah tes DNA, disini tertulis jelas jika 99.98% — hubungan biologis langsung. Yang artinya, kau bersaudara dengan target - Adrian Vale, orang yang saat ini sedang dicari oleh banyak organisasi," jelas Vivian.
Ethan mendengus pelan, ia tak sepenuhnya percaya, tapi mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya. Vivian kembali membuka file lain, sebuah scan dokumen lama muncul, tampilan kertas di dalamnya tampak usang. Cap rumah sakit desa dan tulisan tangan yang mulai pudar memenuhi setiap garis kertas tersebut.
"Ini surat kelahiran," ujar Vivian pelan, "di bagian atas tertulis ada dua bayi laki-laki yang lahir pada tanggal yang sama. Disini juga ada nama orang tua mereka," Ethan mulai mendekat, membaca dua nama yang sangat familiar. Benar, itu adalah nama orang tuanya.
Vivian melanjutkan dengan suara lebih tenang,
"Desa tempat kalian lahir pernah mengalami wabah besar yang mematikan, banyak keluarga yang tidak mampu bertahan," ia mulai menggeser mouse, membuka dokumen catatan tambahan.
"Dalam kasus orang tuamu, mereka menjual salah satu anak. Tertulis disini jika bayi kedua diserahkan pada pihak luar untuk melunasi hutang."
Ethan menatap layar tanpa berkedip, perlahan tangannya mengepal. Vivian menatapnya sejenak lalu kembali fokus memberi informasi lain, "Terakhir kali aku terhubung dengan Serra, saat dia pergi ke lokasi keberadaan Adrian. Aku yang mengirim surat, itupun atas rencana Serra. Tapi.. sejak itu, koneksi kami terputus," jelas Vivian seraya menunjukkan rekaman lokasi.
Penjelasan itu membuat Ethan mengangkat wajah, ingatannya langsung tersambar. Ia mengingat hari dimana Serra berbohong padanya, sampai saat ia mengurus luka tembak di lengan kiri Serra. Kedua netra cokelat itu mulai melebar .
"Aku mengerti jika kau marah padanya, tapi itulah Serra yang kukenal. Dia mahir melakukan banyak hal, dan tentu hanya untuk satu tujuan. Aku memahaminya karena kami sudah lama dekat."
Ethan tidak menjawab, kali ini ia mendengarkan dengan perasaan campur aduk.
"Dahulu dia masuk organisasi itu karena ingin melindungi ku dari orang-orang yang gila eksperimen. Aku ingat sekali saat itu Serra merawat ku dengan baik dan juga selalu mendukung keinginanku. Begitupun denganmu, dia sampai menyembunyikan hal ini rapat-rapat agar posisimu aman," Vivian mulai menatap Ethan, kali ini dengan kedua mata tergenang, "menurutmu bagaimana seseorang melakukan hal itu kalau bukan karena benar-benar peduli."
Kalimat Vivian menghantam lebih keras dari yang Ethan duga. Ia memalingkan wajah, napasnya terasa lebih berat, rasa sesal mulai menyelimutinya. Jika saja saat itu ia lebih banyak bertanya atau lebih mengerti, pasti Serra tidak akan melakukannya seorang diri. Namun tetap saja ia masih merasa kecewa atas keputusan impulsif wanita itu.
"Lalu bagaimana?," tanya Ethan setelah beberapa saat terdiam cukup lama.
Vivian terdiam sejenak, seraya mengusap sudut matanya. Gadis mungil itu mulai kembali mencari sesuatu dalam laptop, hingga menemukan satu lokasi penting, "aku yakin jika saat ini Serra sedang berada disini," ia menunjuk pada satu titik dalam peta kota Ironfall.
"Tempat apa itu?," bingung Ethan
"Ini adalah organisasi gelap tempatnya bekerja, kemungkinan besar dia kembali ke sana," Vivian mulai melirik, "dan sepertinya kita harus mulai menyusun rencana," pungkasnya.
Ethan hanya mengangguk, kini ia tak lagi hanyut dalam perasaan kalut. Pria tampan berambut sebahu itu sadar jika saat ini ia harus segera cepat bergerak. Sebelum merasakan kehilangan yang kesekian kalinya.