Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Pagi itu, Desa Asih diselimuti kabut tipis yang membuat suasana terasa semakin melankolis. Di depan Balai Desa, sebuah mini bus putih sudah terparkir dengan mesin yang menderu halus, siap membawa kembali empat mahasiswa KKN itu ke hiruk-pikuk Jakarta. Bagasi bus sudah penuh dengan tas-tas besar, kardus berisi oleh-oleh dari warga, dan peralatan teknis yang sudah tidak digunakan lagi.
Namun, yang membuat suasana terasa sesak bukanlah mesin bus yang bising, melainkan kerumunan warga yang seolah "mengepung" mereka. Mulai dari anak-anak kecil yang biasa diajak main oleh Asia, hingga ibu-ibu pengajian yang sering berbagi resep dengan Siti. Mbah Darmo berdiri di barisan depan dengan mata berkaca-kaca, memegang capingnya dengan erat.
"Neng Mika, jangan lupain kami ya," ucap seorang ibu sambil menyodorkan sebungkus besar kerupuk hasil olahan warga.
Mika tersenyum, meski tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. "Pasti, Bu. Saya nggak bakal lupa sama kebaikan warga di sini. Jaga filter airnya ya, Bu, biar ikannya tetep gemuk-gemuk."
Satu per satu, warga mereka salami. Siti sudah menangis sesenggukan saat dipeluk oleh Bu RT, sementara Asia sibuk membagikan sisa alat tulis kepada anak-anak desa. Arga, si kaku yang biasanya dingin, tampak berkali-kali berdehem dan menjabat tangan bapak-bapak desa dengan genggaman yang sangat erat, tanda bahwa hatinya pun ikut terenyuh.
Hingga akhirnya, langkah kaki Mika sampai pada titik terakhir barisan. Tepat di depan pintu masuk Balai Desa, berdiri sang Kepala Desa.
Alvaro berdiri dengan sikap sempurna. Seragam dinasnya sangat rapi, wajahnya sedatar permukaan telaga, seolah ia adalah pemimpin yang paling tegar di dunia. Namun, bagi Mika yang sudah hafal setiap lekuk ekspresinya, ia bisa melihat ada binar duka yang coba disembunyikan di balik tatapan tajam itu.
Mika melangkah maju. Ia merasakan cincin perak pemberian Alvaro semalam yang ia sembunyikan di balik telapak tangannya sendiri, terasa dingin namun menguatkan.
"Terima kasih atas bimbingannya selama ini, Pak Kades," ucap Mika dengan suara formal yang dibuat-buat, meski matanya mulai memanas.
Alvaro mengulurkan tangannya. Saat tangan mereka bersentuhan untuk jabat tangan perpisahan yang resmi di depan seluruh warga, waktu seolah melambat. Genggaman Alvaro sangat kuat, seolah ia sedang menyalurkan seluruh kekuatannya agar Mika tidak runtuh di sana.
"Sama-sama, Mbak Mikayla. Kerja keras kamu dan tim akan selalu dikenang di Desa Asih," jawab Alvaro dengan suara baritonnya yang mantap.
Namun, saat Mika hendak menarik tangannya, Alvaro sedikit menariknya mendekat—hanya beberapa senti—hingga hanya Mika yang bisa mendengar bisikan rendahnya yang sangat cepat.
"Jangan dilepas cincinnya. Aku jemput kamu di Jakarta bulan depan. Tunggu aku, Neng."
Mika menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang hampir pecah. Ia hanya mampu mengangguk kecil, menatap mata Alvaro yang kini berkilat penuh janji. Tak ada kecupan, tak ada pelukan intim seperti di hutan atau di rumah dinas. Hanya sebuah jabat tangan formal yang di dalamnya terkunci sebuah komitmen seumur hidup.
"Ayo, Mik! Masuk!" teriak Arga dari dalam bus. Arga sudah duduk di samping Asia, tangannya masih saling menggenggam meski mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Mika menaiki anak tangga bus dengan kaki yang terasa berat. Ia duduk di kursi paling belakang, tepat di samping jendela. Saat mini bus mulai bergerak perlahan meninggalkan pelataran Balai Desa, warga serentak melambaikan tangan.
"Dadah, Mbak Mika! Dadah, Mbak Siti!" teriak anak-anak desa sambil berlari mengejar bus sejauh beberapa meter.
Mika menempelkan telapak tangannya di kaca bus. Matanya terus tertuju pada satu titik: sosok Alvaro yang masih berdiri tegak di tangga Balai Desa, tidak bergerak sedikit pun, menatap bus itu sampai menjadi titik kecil di kejauhan.
Siti, yang duduk di depan Mika, menoleh ke belakang. Ia melihat Mika yang sedang mengusap air matanya. "Udah, Mik. Jangan nangis terus. Kan lo punya nomor 'King' lo. Tinggal VC tiap malem, kan?"
Mika tertawa kecil di tengah tangisnya. "Berisik lo, Sit. Gue cuma... cuma kelilipan debu desa aja."
Satu jam perjalanan berlalu, suasana di dalam bus mulai sepi karena teman-temannya mulai tertidur karena kelelahan. Mika menatap cincin perak di jari manisnya. Ia memutar-mutar ukiran kuno itu, lalu membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang ia namai King 💖💖.
King 💖💖: "Rumah joglo terasa sangat sepi sekarang. Tapi aku tahu, aku cuma perlu menunggu sebentar lagi untuk melihat ratuku kembali, meski bukan di desa ini. Hati-hati di jalan, Sayang. I love you."
Mika memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia teringat semua kejadian gila selama di Desa Asih—dimulai dari membenci Alvaro yang dianggapnya sebagai "Fir'aun", tersesat di hutan, hingga malam-malam penuh gairah yang mereka lalui secara rahasia.
Ia menyadari bahwa KKN ini bukan hanya tentang nilai A+, bukan hanya tentang memasang filter air, tapi tentang menemukan rumah di tempat yang paling tidak terduga.
"Gue tunggu lo di Jakarta, Al," bisik Mika pelan pada kaca bus yang berembun.
Bus terus melaju, membelah jalanan aspal menuju peradaban kota. Desa Asih perlahan menghilang di balik bukit, namun kenangan tentang sang Kepala Desa yang kaku namun penuh cinta itu telah terpatri abadi di dalam hati Mikayla. Perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan hanya jeda sebelum babak baru dalam hidup mereka dimulai di bawah langit Jakarta yang berbeda.