NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

BAB 34

SAJADAH DI SUDUT SEPI

​Malam di pemukiman padat itu tidak pernah benar-benar sunyi. Ada suara kipas angin tua yang berderit dari balik dinding triplek, suara tawa para pemuda di warung kopi, dan deru motor yang membelah gang sempit. Namun, bagi Adrian, semua kebisingan itu hanyalah latar belakang bagi sebuah perjalanan sunyi yang sedang ia tempuh.

​Tubuhnya terasa remuk. Pundaknya memar kebiruan akibat gesekan sak semen yang ia panggul sepanjang hari, dan telapak tangannya kini dipenuhi kapalan yang mulai mengeras. Namun, ada satu kekuatan magnetis yang membuatnya tidak langsung merebahkan diri di kasur tipis kontrakannya setiap kali senja berakhir.

​Masjid Jami' Al-Ihsan. Sebuah bangunan sederhana dengan cat hijau yang mulai memudar dan kubah perak kecil yang berkilau di bawah lampu jalan. Di sanalah, Adrian menemukan oase yang tidak pernah bisa diberikan oleh bar-bar eksklusif atau ruang rapat berlapis emas.

​Adrian masuk melalui pintu samping masjid saat jamaah sholat Isya sudah membubarkan diri. Ia sengaja memilih waktu-waktu sepi, saat hanya tersisa satu atau dua orang tua yang tadarus di pojokan. Ia tidak ingin dikenali, bukan karena malu, tapi karena ia takut egonya akan kembali bangkit jika ada yang memujinya sebagai "mantan CEO yang bertaubat".

​Ia berwudhu dengan gerakan yang kini jauh lebih tenang. Dinginnya air yang menyentuh kulitnya terasa seperti membasuh noda-noda kesombongan yang bertahun-tahun mengerak. Ia lalu melangkah masuk, mencari sudut paling gelap dan paling jauh dari jangkauan lampu utama.

​Di sana, di atas sajadah kain yang sudah menipis, Adrian bersujud.

​Sujudnya kali ini bukan lagi sebuah transaksi. Ia tidak sedang meminta agar proyeknya lancar, tidak sedang meminta agar sahamnya naik, bahkan ia menahan diri untuk tidak meminta agar hati Zulkifli melunak.

​"Aku hanya ingin tenang," bisiknya dalam hati, keningnya menempel erat pada lantai masjid yang dingin. "Aku hanya ingin merasa bahwa hidupku tidak sia-sia."

​Air matanya jatuh tanpa suara. Selama tiga puluh dua tahun, ia adalah pusat dari dunianya sendiri. Ia adalah penguasa, pengambil keputusan, dan penentu takdir ribuan karyawan. Namun di sini, di depan Keagungan yang tak terlihat, ia hanyalah sebuah titik kecil yang rapuh. Kehancuran kekuasaannya ternyata adalah cara Tuhan untuk meruntuhkan dinding-dinding yang menghalangi hatinya untuk mendengar suara nuraninya sendiri.

​Tanpa sepengetahuan Adrian, di balik pilar besar dekat mimbar, Fikri sedang duduk memerhatikan. Fikri sudah mencurigai keberadaan "pria misterius" yang sering datang ke masjid ini sejak beberapa hari lalu. Ia mengenali postur tubuh itu, meski kini tampak lebih kurus dan terbalut kemeja murah yang sudah kusam.

​Fikri tidak mendekat. Ia hanya terpaku melihat bagaimana pria yang dulu begitu angkuh, kini tampak begitu kecil di hadapan Tuhannya. Fikri melihat pundak Adrian yang bergetar hebat saat bersujud, menunjukkan sebuah keruntuhan ego yang total.

​Fikri segera pulang dan mendapati Aisha sedang membaca buku di meja makan.

​"Kak," panggil Fikri pelan. "Aku melihatnya."

​Aisha mendongak, hatinya langsung berdesir. Ia tahu siapa yang dimaksud Fikri, meski mereka tidak menyebut nama itu sejak penolakan keras ayah mereka minggu lalu. "Melihat siapa?"

​"Pak Adrian. Dia di Masjid Al-Ihsan. Dia... dia tidak seperti orang yang sedang berakting, Kak. Dia sholat di pojokan, sendirian, saat semua orang sudah pulang. Dia menangis."

​Aisha menutup bukunya perlahan. Dadanya terasa sesak. "Dia masih di sana?"

​"Mungkin masih. Dia seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang hilang, Kak. Bukan harta, tapi sesuatu di dalam dirinya sendiri."

​Aisha bangkit dan berjalan ke jendela, menatap ke arah masjid yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Ada dorongan kuat untuk berlari ke sana, untuk memeluk pria itu dan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun, ia teringat wajah ayahnya. Ia teringat sumpah ayahnya yang tidak ingin melihat nama Aratama lagi.

​"Biarkan dia, Fikri," bisik Aisha, meski suaranya bergetar. "Jangan diganggu. Jika dia mencari Tuhan, biarkan dia menemukannya tanpa campur tangan kita. Kita tidak boleh menjadi alasan dia berubah. Dia harus berubah karena dia memang butuh Tuhan, bukan karena dia butuh aku."

​Malam-malam berikutnya menjadi rutinitas rahasia bagi Adrian. Ia mulai berani duduk lebih lama di masjid. Ia mulai memberanikan diri mendekati lemari kitab dan mengambil salah satu Al-Qur'an terjemahan.

​Ia membaca ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, tentang bagaimana gunung-gunung ditegakkan, dan tentang bagaimana hati manusia bisa menjadi lebih keras daripada batu jika tidak tersentuh cahaya.

​Setiap kata terasa seperti palu yang menghancurkan logika ateisnya yang dulu ia banggakan. Ia yang dulu percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah probabilitas atomik, kini mulai melihat desain yang luar biasa rapi. Ia yang dulu menganggap doa sebagai kelemahan mental, kini merasakan doa sebagai kekuatan yang paling masuk akal.

​Suatu malam, saat ia hendak keluar dari masjid, ia berpapasan dengan seorang marbot tua bernama Pak Hamzah.

​"Nak, setiap malam saya lihat kamu di sini," ujar Pak Hamzah sambil memegang sapu lidi. "Wajahmu tidak asing, tapi matamu terlihat sangat berbeda dari orang-orang yang biasanya datang ke sini."

​Adrian tersenyum tipis. "Berbeda bagaimana, Pak?"

​"Kebanyakan orang datang membawa daftar keinginan. Kamu datang seperti membawa beban berat yang ingin kamu letakkan," Pak Hamzah menepuk pundak Adrian yang keras karena otot kuli. "Teruslah datang. Masjid ini rumah Allah, dan Dia tidak pernah menanyakan jabatanmu sebelum mengizinkanmu masuk."

​Adrian mengangguk, merasa sebuah kedamaian yang asing menyusup ke dadanya. "Terima kasih, Pak."

​Perubahan Adrian mulai berdampak pada cara kerjanya di lokasi bangunan. Ia bukan lagi pekerja yang mengeluh. Saat rekan-rekan kulinya beristirahat sambil merokok dan bergosip, Adrian memilih duduk di pojok, meminum air putihnya sambil merenung. Ia menjadi pendengar yang baik bagi keluh kesah para pekerja yang kesulitan membayar biaya sekolah anak mereka atau cicilan motor.

​Ia menyadari bahwa penderitaan mereka nyata, dan selama ini ia hanya melihat mereka sebagai "angka produktivitas" dalam laporan bulanannya.

​"Mas Adrian ini orang berpendidikan ya?" tanya salah satu kuli bernama Jaka suatu siang. "Cara bicara Mas beda. Tenang sekali."

​"Saya cuma orang yang baru belajar hidup, Jaka," jawab Adrian pendek.

​"Belajar apa, Mas? Kita mah cuma belajar cari makan," seloroh Jaka tertawa.

​"Belajar bahwa makan dengan tenang itu lebih penting daripada makan dengan banyak," sahut Adrian, membuat Jaka terdiam sejenak memikirkan kalimat itu.

​Sementara itu, di rumah Humaira, suasana tetap tegang. Zulkifli mulai menyadari bahwa Aisha sering melamun. Ia juga menyadari bahwa Fikri sering pulang terlambat dari masjid dengan wajah yang penuh pikiran.

​"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Zulkifli saat makan malam.

​"Tidak, Yah," jawab Aisha cepat.

​"Pria itu... Adrian. Di mana dia sekarang? Aku dengar dia sudah meninggalkan apartemennya. Media bilang dia menghilang. Apa dia sedang menyusun rencana untuk menyerang kita lagi?"

​Aisha menatap ayahnya dengan keberanian yang muncul dari rasa hormat yang terluka. "Dia tidak sedang menyerang siapa pun, Yah. Dia sedang menyerang egonya sendiri. Fikri melihatnya di masjid. Dia bekerja sebagai kuli bangunan di blok sebelah."

​Zulkifli tertegun. Sendoknya berdenting saat jatuh ke piring. "Kuli bangunan? Putra Bramantyo menjadi kuli? Jangan bercanda, Aisha. Itu pasti sandiwara untuk menarik simpatimu."

​"Sandiwara tidak berlangsung di tengah malam saat tidak ada kamera, Yah," sahut Fikri membela. "Sandiwara tidak membuat tangan seseorang berdarah karena semen setiap hari. Dia tinggal di kontrakan sempit. Dia mencari ketenangan yang tidak pernah dia dapatkan dari uangnya."

​Zulkifli terdiam. Wajahnya yang kaku menunjukkan pergulatan batin yang hebat. Selama dua puluh tahun, ia memelihara kebenciannya dengan keyakinan bahwa keluarga Aratama adalah iblis yang tak punya nurani. Namun, mendengar berita ini, pondasi kebenciannya mulai retak.

​Malam itu, Adrian kembali ke sudut sepinya di masjid. Ia bersujud sangat lama. Dalam sujud itu, ia tidak lagi merasa sebagai CEO, tidak lagi merasa sebagai kuli, bahkan tidak lagi merasa sebagai pria yang sedang mengejar Aisha.

​Ia hanya merasa sebagai hamba.

​"Jika jalanku bukan menuju dia," bisik Adrian dalam hatinya, "maka biarlah jalanku tetap menuju-Mu. Karena hanya di sini, hatiku tidak lagi merasa kosong."

​Saat ia bangun dari sujudnya, ia melihat bayangan seseorang di depannya. Ia mendongak dan terkejut.

​Zulkifli berada di sana, di kursi rodanya, didorong oleh Fikri. Di belakang mereka, Aisha berdiri dengan mata sembab, menatap Adrian dari kejauhan.

​Zulkifli menatap Adrian yang masih bersimpuh di atas sajadah kusam. Keheningan masjid menjadi saksi pertemuan itu. Tidak ada amarah di wajah Zulkifli, hanya sebuah tatapan mencari yang mendalam.

​"Aku datang bukan untuk memaafkanmu lagi," suara Zulkifli menggema rendah di ruangan masjid yang kosong. "Aku datang untuk melihat sendiri, apakah benar menara kesombonganmu sudah runtuh."

​Adrian menundukkan kepalanya. "Menara itu sudah lama runtuh, Pak. Dan di atas reruntuhannya, saya sedang mencoba menanam bibit yang baru. Meskipun saya tahu, saya mungkin tidak akan pernah melihatnya tumbuh."

​Zulkifli terdiam lama, lalu ia memberikan isyarat pada Fikri untuk mendekat. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh tangan Adrian yang kasar dan penuh luka karena kerja paksa. Zulkifli meraba kapalan di telapak tangan Adrian, sebuah bukti fisik dari perjuangan yang tak terlihat.

​"Tangan ini..." bisik Zulkifli. "Tangan ini adalah tangan seorang pekerja. Bukan tangan seorang pencuri."

​Aisha menutup mulutnya, air mata kebahagiaan tumpah tak terbendung. Di sudut masjid yang sepi itu, di bawah remang lampu kuning, dinding dua puluh tahun itu akhirnya benar-benar rubuh. Bukan oleh uang, bukan oleh paksaan, tapi oleh ketulusan seorang pria yang menemukan dirinya sendiri di atas selembar sajadah.

1
Fittar
mantap...
victoria harus diberi pelajaran
Fittar
bersatu pasti kalian kuat adrian aisha
Fittar
good job adrian
Fittar
semangat adrian dan aisha
Fittar
semangat adrian
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!