Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekaisaran Atheria
Seluruh aula Asosiasi Petualang langsung sunyi. Seperti tidak ada satu pun suara yang berani keluar.
"kamu ...."
Pria pirang itu berdiri, lalu menerjang dengan pedang yang diarahkan ke perut Noah.
Noah dengan cepat menyingkir ke samping dan langsung melayangkan pukulan ke perut pria itu. Reaksinya dan serangannya begitu cepat sampai banyak orang bahkan tidak sempat melihatnya dengan jelas.
Bang!
Suara logam menghantam lantai menggema di dalam aula.
Pria pirang itu terlempar dan jatuh sekitar lima meter dari tempat Noah berdiri. Satu pukulan saja sudah cukup untuk membuatnya terpental sejauh itu.
Pria itu bangkit dengan tubuh gemetar dan nyaris tak mampu berdiri. Ia menatap ke arah zirahnya dan melihat cekungan besar berbentuk kepalan tangan yang penyok ke dalam.
Kalau bukan karena zirah logam itu, pukulan tadi sudah cukup untuk membuatnya hampir mati.
"kamu tunggu di sini! Begitu aku balik, aku gak yakin kamu masih bisa hidup!"
Pria pirang itu berteriak lalu berlari keluar dengan wajah penuh rasa malu.
Aula kembali sunyi.
"Itu bukan keputusan yang bijak, anak muda," kata resepsionis tua dengan wajah khawatir. "Dia adik dari pemimpin tim petualang Glorious. Tim mereka sangat kuat. Cuma ada dua tim lain yang bisa menyaingi mereka. Orang itu pasti gak akan membiarkan kejadian ini lewat begitu saja. Lebih baik kamu pergi sekarang."
"Kalau pendaftarannya gimana?" tanya Noah, seakan kejadian barusan tidak berarti apa-apa baginya.
"Datang lagi lain hari. Sekarang gak aman buat kamu berada di sini. Begitu kamu masih orang luar dari asosiasi, kami tidak bisa melindungimu. Lebih baik kamu pergi dulu dan bersembunyi," jawab resepsionis tua itu.
"Tolong bantu aku satu hal. Tukerin ini jadi uang. aku bahkan gak punya satu koin pun."
Noah menyerahkan setengah lusin monster core berwarna merah kepada pria tua itu.
Memahami situasinya, resepsionis tua itu tidak mengungkit aturan apa pun. Ia juga menyukai Noah karena berani melawan pria pirang yang sejak tadi merendahkan mereka berdua.
Ia segera mengeluarkan sebuah kantong berisi puluhan koin dan menyerahkannya kepada Noah.
"Cari penginapan atau rumah tamu buat menghindari masalah. Mereka tidak akan menyisir seluruh kota hanya untuk mencari satu orang," katanya.
"Makasih."
Noah mengambil kantong uang itu lalu meninggalkan gedung asosiasi.
Ia bahkan tidak berpikir untuk menunggu Luigi dan Saurril. Insiden ini tidak akan membawa hal baik bagi ayah dan anak itu. Bagaimanapun juga mereka hanyalah pedagang jujur.
Melihat ekspresi resepsionis tua dan orang-orang di aula, Noah bisa menangkap satu hal. Ia baru saja memulai masalah dengan orang yang seharusnya tidak ia usik.
Namun Noah bukan orang bodoh yang akan menyeret orang tak bersalah ke dalam masalahnya.
Ia pergi ke toko pakaian terdekat dan membeli beberapa pakaian. Kemeja cokelat dipadukan dengan celana hitam. Ditambah sepatu bot yang pas di kakinya. Kini ia tidak lagi setengah telanjang.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Noah akhirnya merasa seperti manusia normal lagi.
Tujuan berikutnya adalah perpustakaan kota.
Hal pertama yang ia butuhkan adalah informasi tentang dunia Solmara.
Tanpa itu, ia akan terus tertinggal dalam banyak hal. Ia juga tidak akan mampu menjawab pertanyaan tentang asal-usulnya atau pengetahuan dasar yang sudah diketahui masyarakat. Hal itu pasti akan menimbulkan banyak kecurigaan.
Setelah bertanya pada beberapa warga, Noah akhirnya menemukan perpustakaan kota.
Bangunannya sekitar setengah ukuran Asosiasi Petualang, tetapi tetap terasa sangat besar untuk ukuran sebuah perpustakaan.
Setelah membayar biaya kecil, Noah masuk ke dalam dan meminta buku tentang sejarah negara-negara serta informasi demografi wilayah tempat ia berada.
Kemampuan ingatan Eidetic dari kehidupan lamanya kembali aktif. Noah merasa lega menyadarinya dan segera mempercepat pencarian informasi yang ia butuhkan. Ia menghabiskan empat jam berikutnya membaca buku-buku tentang negara dan berbagai catatan pengetahuan umum.
Noah bahkan tidak tahu harus menggambarkan bagaimana besarnya informasi yang ia dapatkan. Ini bukan sekadar dunia isekai biasa. Dunia ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia dengar atau baca di kehidupan sebelumnya.
Solmara memiliki total lima belas Kekaisaran. Masing-masing memiliki wilayah sebesar satu benua di Bumi.
Sebelas dari kekaisaran itu menyembah dewa yang berbeda-beda. Tidak ada satu pun yang menyembah Dewa Kegelapan.
Setiap kekaisaran dipimpin oleh spesies yang berbeda dan ajaran para dewa itu menjadi bagian dari sejarah serta budaya mereka.
Kekaisaran Elf menyembah Dewa Kehidupan. Kekaisaran Dwarf menyembah Dewa Api. Kekaisaran Beast melayani Dewa Bumi.
Dan seterusnya.
Empat kekaisaran sisanya, setidaknya secara resmi, tidak menyembah atau melayani dewa mana pun. Salah satunya diperintah oleh para Naga legendaris berukuran sebesar gunung, makhluk terkuat di seluruh dunia.
Para naga itu hampir tidak pernah mencampuri urusan dunia kekaisaran lain dan mereka juga tidak mengizinkan adanya kontak apa pun dengan spesies dari luar.
Satu kekaisaran lainnya benar-benar berada di bawah laut. Seluruh wilayahnya adalah lautan itu sendiri. Tidak jauh berbeda dengan Atlantis dalam film Aquaman.
Kekaisaran yang paling baru terbentuk adalah Kekaisaran Iblis yang melayani dan menyembah Dewa Iblis. Kekaisaran ini berdiri sekitar lima ratus tahun yang lalu. Namun Noah tidak menemukan banyak informasi rinci tentangnya. Saat ini kekaisaran itu sedang berperang melawan empat kekaisaran tetangganya.
Dan yang terakhir adalah kekaisaran tempat Noah dikirim oleh Dewa Kegelapan.
Kekaisaran Atheria.
Bahkan di dalam Kekaisaran Atheria pun, Noah saat ini berada di wilayah paling pinggir. Dan sejarah tempat ia berada sekarang justru membuatnya semakin terkejut.
Hutan tempat ia dikirim adalah hutan terbesar di seluruh dunia. Panjangnya membentang lebih dari delapan puluh ribu kilometer. Namun tidak ada satu pun kekaisaran yang berani menguasainya. Terlalu banyak monster yang hidup di dalamnya, dan menurut beberapa rumor bahkan ada beberapa Dewa Alam yang tinggal di sana.
Kekaisaran Atheria tidak diperintah oleh ras tertentu dan tidak memiliki keluarga kerajaan. Sistem pemerintahannya bersifat demokratis, mirip dengan banyak negara di Bumi. Karena itu tidak ada pembatasan bagi ras, spesies, atau etnis mana pun.
Dewa Kegelapan benar-benar mengirimnya ke tempat di mana ia bisa perlahan berbaur dan menjadi lebih kuat.
Di Atheria, menyebarkan ajaran agama atau mendirikan organisasi keagamaan seperti gereja dan kuil dilarang keras dan dapat dihukum mati. Tidak ada pengecualian. Kekaisaran ini menjunjung kesetaraan tanpa memandang asal-usul.
Mereka percaya bahwa membawa ajaran agama, kepercayaan tentang supremasi ras, atau kelas tertentu hanya akan menimbulkan kekacauan.
Kekaisaran ini telah melalui banyak perang dan kudeta sebelum mencapai kondisi seperti sekarang.
Bagi Noah, situasi ini sangat menguntungkan. Ia membutuhkan tempat untuk bersembunyi dan membangun kekuatannya secara perlahan sampai suatu hari nanti ia mampu melindungi dirinya sendiri bahkan dari seluruh dunia.
Bahasa yang digunakan di Kekaisaran Atheria adalah Sogis, bahasa yang berasal dari kekaisaran pertama yang pernah ada di dunia Solmara, namun kini telah dilupakan oleh sejarah. Mata uang yang digunakan disebut Goldo.
Saat matahari mulai tenggelam, Noah akhirnya keluar dari perpustakaan. Ia memutuskan mencari perusahaan dagang The Emerald milik Luigi. Bagaimanapun juga ia membutuhkan tempat untuk menginap.
Namun setelah berjalan beberapa kilometer, ia tiba-tiba berhenti. Ekspresinya langsung berubah suram dan matanya menjadi waspada. Wajahnya mengeras oleh amarah.
Saat itu, kemampuan Insting Bertahan Hidup miliknya memberi peringatan.
Ada beberapa pasang mata yang mengawasinya dari balik bayangan, dipenuhi niat membunuh.
Noah tidak bisa melihat siapa pun di sekitarnya yang menunjukkan niat jahat secara terang-terangan. Namun ia juga tidak bisa bersikap ceroboh.
Ia mengubah arah langkahnya dan berjalan menuju bagian luar kota.
Setelah keluar dari gerbang kota, Noah mulai berlari menuju area pepohonan lebat dan tanah kosong yang jauh dari jangkauan penjagaan kota.
Ia akhirnya berhenti di tengah pepohonan tinggi ketika menemukan tempat yang cukup luas untuk sebuah pertarungan. Begitu ia berhenti, suara beberapa langkah kaki terdengar dari belakangnya.
Beberapa orang tiba-tiba muncul. Para pembunuh bayaran. Mereka mengeluarkan belati dan mengepung Noah, menutup semua jalan pelarian.
Namun Noah hanya berdiri diam, seakan memang sedang menunggu seseorang. Beberapa menit kemudian, lebih dari sepuluh orang lainnya datang bergabung dengan para pembunuh bayaran itu. Penampilan mereka tidak berbeda dengan para petualang yang ia lihat sebelumnya.
"Tuan Rollac. Bawa orang sebanyak ini cuma buat satu orang ... gak berlebihan tuh?" kata seorang pria yang mengenakan jubah penyihir.
Dari belakangnya, sosok yang sangat familiar berjalan maju. Tubuhnya tertutup zirah logam lengkap dan sebuah pedang berkualitas tinggi tergenggam di tangannya.
"Kamu kira kamu bisa hidup lama setelah berani menantang aku, bangsat?" kata sosok itu.
Dia tidak lain adalah pria pirang yang sebelumnya dipukul Noah di aula Asosiasi Petualang.
"aku kasih kamu kesempatan terakhir. Jilat sepatu aku dan potong sendiri dua kaki kamu. Mungkin aku bakal biarin kamu hidup."
Pria pirang itu berbicara dengan tatapan merendahkan.
Noah sama sekali tidak goyah atau menunjukkan rasa takut.
"Dengan orang segini aja? Kalian gak punya kemampuan buat bikin aku memohon di depan kalian."
"Hahaha. Orang ini pasti saking takutnya sampai otaknya gak jalan lagi," kata salah satu petualang.
Para pria bersenjata itu mulai mengitari Noah sambil mengeluarkan senjata mereka.
Namun Noah tetap berdiri tegap tanpa sedikit pun keraguan di matanya. Bahunya yang lebar dan tubuhnya yang seperti prajurit membuatnya tampak seperti gunung yang tak bisa digoyahkan.
"kamu gak sadar kalau sekarang kamu udah dikepung?" kata pria pirang itu sambil menghunus pedangnya dan mengarahkannya ke Noah.
Noah hanya tersenyum tipis.
Matanya dipenuhi niat membunuh, seakan ia sudah menganggap semua orang yang mengepungnya sebagai orang mati.
Bagaimanapun juga, sekarang mereka sudah berada di luar kota.
Karena mereka sudah berada jauh dari pandangan publik, Noah tidak punya alasan lagi untuk menahan diri.
"Dominasi Perang!"
Noah melepaskan aura Dominasi Perang miliknya dan menyelimuti semua orang dalam radius dua puluh meter.
Tekanan besar yang cukup untuk membuat pria dewasa berlutut terpancar dari tubuhnya.
Semua pria itu langsung gemetar ketakutan. Tubuh mereka hampir tidak mampu berdiri. Beberapa bahkan sudah jatuh berlutut dan menatap Noah seakan sedang melihat monster.
"Kalian salah paham, nak. Aku bukan dikepung sama kalian ...."
Noah berkata sambil berjalan perlahan ke arah kelompok itu. Aura padat penuh energi dan niat membunuh memancar dari tubuhnya, seakan dewa perang sedang memandang rendah semua makhluk di hadapannya.
"Justru kalian semua yang dikepung sama aku."