Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Dinding Keabadian
Kabar tentang kegagalan tim sabotase arsenik membuat Kolonel Thorne kehilangan kesabaran. Baginya, Jatmika bukan lagi sekadar pemberontak; dia adalah sebuah anomali sejarah yang harus dihapuskan sebelum ilmunya menyebar ke seluruh pulau Jawa.
"Bawa 'Si Guntur Batavia' ke garis depan," perintah Thorne.
'Si Guntur' adalah meriam pengepung Paixhans kaliber 80 pon yang baru saja tiba dari Belanda. Meriam ini mampu menembakkan proyektil peledak yang bisa menghancurkan tembok benteng batu paling tebal sekalipun. Thorne yakin, tidak ada satu pun gua di Pegunungan Kendeng yang bisa menahan hantaman proyektil ini.
Di lembah batu kapur, Jatmika mendengar deru roda meriam berat yang mendekat dari kejauhan. Ia tahu bahwa dinding batu alami tidak akan cukup. Batu kapur itu rapuh; hantaman meriam akan menyebabkan reruntuhan yang justru mengubur rakyatnya sendiri.
"Kita akan membuat Bunker Beton Bertulang (Ferro-Concrete)," ucap Jatmika di depan para pekerja tambang.
Jatmika telah menyempurnakan campuran semen Portland primitifnya:
Kalsium Karbonatdari batu kapur yang dibakar.Silika dan Aluminadari tanah liat rawa yang dikeringkan.Gipsumsebagai pengatur waktu pengerasan.Namun rahasia utamanya terletak pada kerangka di dalamnya. Jatmika menggunakan batang-batang baja karbon rendah yang dijalin silang secara vertikal dan horizontal.
"Semen akan menahan tekanan beban (compression), dan baja di dalamnya akan menahan tarikan serta guncangan ledakan (tension)," Jatmika menjelaskan saat menuangkan adonan semen kental ke dalam cetakan kayu raksasa yang menutupi mulut gua utama.
Fajar hari berikutnya, Thorne memberikan komando tembak.
BOOOOOMMMM!
Proyektil seberat 40 kilogram meluncur membelah udara dan menghantam tepat di bagian tengah dinding beton yang baru saja mengeras selama tiga hari—berkat akselerator kimia yang ditambahkan Jatmika.
Asap tebal menutupi mulut gua. De Klerk bersorak, "Hancur! Mereka pasti terkubur!"
Namun, saat asap tertiup angin, mata Thorne membelalak. Tembok itu tidak runtuh. Hanya ada bekas kawah kecil di permukaannya, dan retakan rambut yang segera tertahan oleh jalinan baja di dalamnya. Struktur itu masih berdiri kokoh, menantang gravitasi dan ledakan.
"Tembak lagi! Fokuskan pada satu titik!" teriak Thorne panik.
Sepuluh tembakan menyusul. Namun, hukum fisika berpihak pada Jatmika. Struktur lengkung (arch design) yang diterapkan Jatmika pada bunker tersebut menyalurkan energi ledakan ke samping dan ke dasar bumi, bukannya menyerap hantaman secara frontal.
Di dalam bunker, Jatmika berdiri tenang sambil memegang segelas air. Air di gelas itu hanya bergetar sedikit saat meriam meledak di luar. Rakyat di belakangnya, yang tadinya ketakutan, mulai bersorak setiap kali mendengar dentuman meriam yang kini terdengar seperti ketukan pintu yang tidak berdaya.
"Suro, mereka sudah menghabiskan amunisi mahal mereka untuk tembok ini," bisik Jatmika. "Sekarang, berikan mereka balasan dari bawah tanah."
Jatmika tidak hanya membangun dinding. Di bawah lapisan beton itu, ia telah menanam pipa-pipa besi panjang yang diarahkan ke posisi artileri Belanda. Ini adalah Pneumatic Mortar (Mortir Udara). Dengan menggunakan tekanan uap dari mesin boiler kecil di dalam gua, Jatmika melontarkan tabung-tabung berisi Napalm Primitif (campuran bensin hasil distilasi minyak bumi mentah, getah pinus, dan sabun).
Fwoooosshh!
Tabung itu jatuh tepat di tengah barisan amunisi meriam 'Si Guntur'. Api yang tak bisa dipadamkan dengan air segera melalap habis posisi artileri Belanda. Para serdadu lari tunggang langgang saat meriam kebanggaan mereka mulai meleleh dalam api yang lengket dan panas.
Thorne terpaksa mundur ke garis belakang, menatap benteng abu-abu itu dengan perasaan ngeri. "Dia tidak membangun benteng... dia membangun sebuah era baru yang tidak bisa dihancurkan oleh bubuk mesiu."