NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: RETROGRESI TAKDIR

Dunia tidak hancur dengan ledakan, melainkan dengan tarikan napas yang terhisap kembali ke dalam paru-paru semesta.

Tian Feng merasakan gravitasi mendadak hilang, digantikan oleh sensasi mengerikan seolah-olah jiwanya sedang dipaksa melewati lubang jarum yang sempit. Di sekelilingnya, realitas Puncak Awan Putih mulai mencair. Reruntuhan stadion yang hangus terbang ke atas, menyatu kembali menjadi pilar-pilar megah yang utuh. Darah yang membasahi taman bunga tersedot masuk kembali ke dalam tubuh-tubuh murid yang tadi terkapar. Teriakan ketakutan berubah menjadi gumaman yang ditelan balik ke kerongkongan.

Tetua Lu berdiri di tengah badai waktu itu, wajahnya distorsi oleh cahaya biru dari Jam Pasir Pembalik Takdir. Ia tertawa, namun suaranya terdengar seperti kaset yang diputar mundur—parau, melengking, dan tidak manusiawi.

"Kembalilah ke tempat sampahmu, Feng!" raung Tetua Lu.

Feng mencoba menggerakkan tangannya, ingin meraih Kitab Hukum Karma yang mulai memudar menjadi partikel cahaya. Namun, kekuatannya sebagai Penguasa Karma justru menjadi beban. Ia terlalu "berat" bagi garis waktu yang sedang bergerak mundur. Tubuhnya yang bercahaya keemasan mulai retak, dan sayap takdir di punggungnya rontok satu per satu seperti bulu unggas yang terbakar.

“TIDAK!” Yue Er berteriak, suaranya bergema dari dalam dada Feng. “Jangan biarkan dia menutup lingkaran ini, Feng! Jika jam itu berhenti di titik nol, ingatanmu akan terhapus bersama takdirmu!”

Feng menggertakkan gigi hingga gusi-gusinya berdarah. Ia melihat Lin Xuelan yang perlahan menghilang ke dalam kabut waktu, matanya yang penuh air mata adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum kegelapan total menelan kesadarannya.

Tetes... tetes...

Bau apak kayu basah dan aroma tajam tanaman herbal yang membusuk menusuk hidung Feng. Ia merasa dadanya sangat sesak, seolah-olah ada sebongkah batu besar yang menindih paru-parunya. Rasa panas yang membakar dari energi matahari dan dinginnya es abadi telah hilang, digantikan oleh rasa ngilu yang tumpul di setiap persendiannya.

Feng membuka matanya.

Ia menatap langit-langit kayu yang penuh sarang laba-laba. Cahaya matahari pagi yang pucat masuk melalui celah jendela yang miring. Ini bukan puncak gunung yang megah. Ini adalah kamar sempitnya di lantai bawah Paviliun Pengobatan.

"Uhuk! Uhuk!"

Feng terbatuk hebat, mengeluarkan dahak berwarna hitam kehitaman—sisa racun dari eksperimen alkimia Guru Lin yang gagal. Ia mencoba bangkit, namun lengannya terasa seperti lidi yang rapuh. Ia menatap tangannya; kurus, pucat, dan penuh bekas luka bakar kecil.

"Aku... kembali?" bisik Feng. Suaranya serak dan lemah.

Ia segera meraba dadanya. Di sana, di balik kain rami kasarnya yang kusam, ia merasakan sebuah benda keras berbentuk bulat. Ia menariknya keluar. Liontin Giok. Benda itu masih utuh, permukaannya dingin dan tidak memancarkan cahaya hijau sedikit pun. Belum ada retakan, belum ada penggabungan dengan Perkamen Karma.

Feng terduduk di pinggir ranjang kayu kerasnya. Kepalanya berdenyut hebat. Ingatan tentang turnamen, pertarungan melawan Han Shuo, perjalanannya ke Makam Dewa, hingga pertemuannya dengan Yue Er mengalir deras seperti air bah di dalam benaknya.

“Tuan Muda... kau masih hidup?”

Suara itu muncul tiba-tiba di dalam kepalanya. Dingin, angkuh, namun mengandung nada lega yang tak bisa disembunyikan.

"Yue Er?" Feng membatin. "Kau ikut kembali?"

“Aku terjebak di dalam liontin sialan ini,” Yue Er mendengus, suaranya terdengar jauh lebih lemah dari sebelumnya. “Hukum waktu Tetua Lu sangat kuat. Jiwaku ditarik kembali ke dalam segel giok ini karena di garis waktu ini, aku belum dibebaskan. Kita berada di tiga hari sebelum turnamen penyisihan dimulai, Feng. Tubuhmu... menyedihkan sekali. Bagaimana kau bisa hidup dengan meridian sekacau ini?”

Feng tersenyum tipis, sebuah senyum yang jauh lebih tua dari wajah remajanya saat ini. "Ini bukan hidup, Yue Er. Ini hanya 'bertahan'. Tapi kali ini, aku punya buku panduannya."

Feng mencoba memejamkan mata, memanggil Kitab Hukum Karma. Namun, kitab itu tidak muncul. Otoritas Penguasa Karma-nya terkunci di balik segel waktu. Ia memiliki pengetahuannya, ia memiliki tekniknya, tapi ia tidak memiliki "modal" energi untuk menjalankannya. Tubuhnya yang sekarang adalah botol retak yang tidak bisa menampung samudera kekuatan masa depan.

"Tiga hari," gumam Feng. "Aku harus memecahkan liontin ini lagi, tapi dengan cara yang lebih terkendali. Dan Tetua Lu... dia mungkin berpikir dia menang, tapi dia baru saja memberiku kesempatan untuk menghancurkan klannya dari akar yang paling bawah."

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamarnya digedor dengan kasar.

"Heh, sampah! Bangun!" suara parau itu sangat familiar. Itu adalah Zhao, asisten senior di Paviliun Pengobatan yang selalu menindas Feng. "Guru Lin memintamu membersihkan kuali alkimia di aula utama. Jika belum selesai sebelum tengah hari, jatah makanmu akan dipotong!"

Feng menatap pintu kayu itu. Di masa lalu—garis waktu yang sudah dihapus—ia akan bangkit dengan gemetar, meminta maaf, dan mengerjakan tugas itu sambil menahan sakit di dadanya.

Tapi hari ini, Tian Feng berdiri dengan tenang. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.

Zhao, seorang pria bertubuh gempal dengan wajah penuh jerawat, sudah siap untuk melontarkan makian lagi. Namun, kalimatnya tertahan di tenggorokan saat ia menatap mata Feng. Mata itu... tidak menunjukkan ketakutan. Mata itu sedalam sumur tua yang tak berdasar, memancarkan otoritas yang membuat bulu kuduk Zhao berdiri.

"Bersihkan sendiri, Zhao," ucap Feng datar. "Aku punya urusan yang lebih penting."

"Apa?! Kau berani—" Zhao mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Feng.

Di masa depan, Feng telah menguasai ribuan teknik bela diri tingkat tinggi. Meski tubuhnya sekarang lemah, insting dan pengetahuan tentang titik saraf tidak hilang. Sebelum tangan Zhao mendarat, Feng melangkah sedikit ke samping—gerakan minimalis yang sangat efisien—dan menusukkan dua jarinya ke ketiak Zhao.

"AGH!" Zhao memekik. Tangannya mendadak lumpuh, tergantung lemas di samping tubuhnya. "Apa yang kau lakukan pada tanganku?!"

"Hanya sedikit pengingat tentang 'hutang' rasa sakit yang kau berikan padaku selama dua tahun terakhir," Feng berjalan melewati Zhao tanpa menoleh lagi. "Pijat bagian sikumu dalam sepuluh menit, atau tangan itu akan membusuk. Pilihan ada di tanganmu."

Feng berjalan menyusuri lorong Paviliun Pengobatan yang lembap. Ia tahu ke mana ia harus pergi. Di gudang belakang, terdapat sisa-sisa akar Teratai Merah yang dianggap sampah oleh murid lain, namun di tangan seorang ahli medis yang membawa ingatan Penguasa Karma, itu adalah bahan dasar untuk ramuan Pembersih Meridian Sumsum.

Namun, saat ia berbelok di persimpangan jalan menuju gudang, langkahnya terhenti.

Seorang gadis berdiri di sana, mengenakan jubah putih sederhana. Ia sedang membawa keranjang penuh tanaman obat. Rambutnya diikat rapi dengan pita biru. Itu adalah Lin Xuelan.

Dalam garis waktu asli, Feng baru akan berinteraksi secara mendalam dengan Xuelan saat turnamen dimulai. Seharusnya, saat ini Xuelan bahkan tidak tahu siapa nama pelayan medis yang sering lewat di depannya.

Xuelan menatap Feng. Keranjang di tangannya perlahan merosot, jatuh ke lantai kayu hingga tanaman obatnya berhamburan. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat.

"Feng...?" bisik Xuelan.

Feng tertegun. Jantungnya berdegup kencang. "Nona Lin, Anda menjatuhkan tanaman Anda."

Xuelan tidak memedulikan tanaman itu. Ia melangkah maju, tangannya yang gemetar menyentuh pipi Feng yang kurus. "Dingin... pipimu tetap dingin seperti saat kau melindungiku di taman bunga itu."

Feng membelalakkan mata. "Kau... kau ingat?"

Xuelan mengangguk pelan, air mata mulai mengalir di pipinya. "Saat jam pasir itu berputar, aku memegang benang takdir yang kau berikan padaku. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku membawa jiwaku bersamamu melintasi waktu. Feng, kita kembali... tapi Tetua Lu juga membawa ingatannya."

Feng mengepalkan tinjunya. "Jika dia ingat, maka dia akan mengirim pembunuh ke sini sekarang juga. Dia tidak akan menunggu turnamen."

“Feng! Di belakangmu!” suara Yue Er meledak di dalam kepalanya.

SREKK!

Sebuah anak panah hitam berujung racun melesat dari kegelapan atap paviliun, mengarah tepat ke punggung Feng.

Feng menarik Xuelan ke dalam pelukannya dan berputar di udara. Anak panah itu menyerempet bahu Feng, merobek kain raminya dan meninggalkan goresan tipis yang langsung berubah menjadi ungu.

"Pembunuh bayaran Klan Lu," desis Feng sambil menatap ke arah atap. "Mereka benar-benar tidak sabar."

Dari balik bayangan pilar, muncul tiga sosok pria bertopeng hitam. Mereka memegang belati pendek yang dilapisi aura Chi tingkat rendah. Bagi Feng di masa depan, mereka hanyalah semut. Tapi bagi tubuh Feng yang sekarang—yang belum berkultivasi kembali—ini adalah ancaman maut.

"Tian Feng," salah satu pembunuh berbisik. "Tetua Lu menitipkan salam. Kali ini, tidak akan ada mukjizat petir yang menyelamatkanmu."

Xuelan berdiri di depan Feng, tangannya mulai membentuk segel energi. Meski ia juga kembali ke masa lalu, kultivasinya di titik waktu ini masih berada di tingkat menengah. "Jangan sentuh dia!"

Feng memegang bahu Xuelan, menariknya kembali. "Jangan gunakan energimu di sini, Xuelan. Formasi pelindung Paviliun akan mendeteksi fluktuasi Chi yang besar dan memanggil penjaga. Biarkan aku yang menyelesaikannya... dengan cara lama."

Feng merogoh saku jubahnya, mengeluarkan segenggam bubuk belerang dan lada yang ia ambil dari dapur tadi pagi. Ia menatap ketiga pembunuh itu dengan senyum malas yang mematikan.

"Kalian tahu apa masalah dengan memutar balik waktu?" tanya Feng sambil menaburkan bubuk itu ke telapak tangannya. "Kalian membawa rasa takut dari masa depan, tapi tetap memakai tubuh yang lemah dari masa lalu. Aku? Aku membawa otoritas yang tidak bisa dihapus oleh jam pasir mana pun."

Feng menghentakkan kakinya ke lantai kayu, menciptakan getaran yang menjatuhkan lampu minyak di dinding. Saat api menyambar lantai, Feng melempar bubuk di tangannya ke arah api tersebut.

BLUARRR!

Ledakan cahaya dan asap kimia memenuhi koridor sempit itu. Memanfaatkan kebutaan sesaat para pembunuh, Feng bergerak seperti hantu. Ia tidak menggunakan kekuatan Chi; ia menggunakan pengetahuan anatomi.

TAK! TAK! TAK!

Tiga serangan cepat ke jakun dan ulu hati. Ketiga pembunuh itu jatuh tersungkur, tidak mampu bernapas, apalagi berteriak. Feng berdiri di atas mereka, menatap belati beracun yang mereka jatuhkan.

"Xuelan, ambil tanaman obatmu," ucap Feng tenang seolah-olah baru saja mengusir lalat. "Kita harus menemui Guru Lin sekarang. Sebelum Tetua Lu menyadari bahwa pembunuhnya telah gagal, kita harus memicu 'kecelakaan' di laboratorium alkimia lebih awal dari jadwal seharusnya."

Xuelan menatap Feng dengan rasa kagum dan ngeri yang bercampur. "Kau ingin menghancurkan liontin itu sekarang?"

"Bukan hanya menghancurkannya," Feng menatap Liontin Giok di tangannya yang kini mulai berpendar hijau redup karena bereaksi terhadap niat membunuhnya. "Aku akan menjadikannya kunci untuk menyita seluruh kekayaan energi Klan Lu sebelum matahari terbenam."

Di dalam liontin, Yue Er tertawa kecil. “Itulah suamiku. Mari kita buat mereka menyesal karena telah memutar balik waktu.”

Feng dan Xuelan menyadari bahwa mereka berdua membawa ingatan dari masa depan, namun begitu juga dengan Tetua Lu. Dengan tubuh yang masih lemah, Feng harus melakukan langkah nekat untuk memicu kebangkitan kekuatannya lebih awal. Sementara itu, Tetua Lu yang murka mulai menggerakkan seluruh faksi bayangan sekte untuk mengepung Paviliun Pengobatan. Akankah Feng berhasil melakukan "akuisisi paksa" energi sebelum ia terbunuh untuk kedua kalinya?

Langkah Selanjutnya: Lanjut ke Bab 20: Sabotase Alkimia, di mana Feng harus menghadapi Guru Lin yang belum tahu apa-apa dan menyusup ke ruang penyimpanan rahasia sekte?

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!