Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara Dan Harga diri
Suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen di aula hotel bintang lima itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Laras. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai merayap di balik kebaya brokat merah marunnya yang dijahit terlalu pas di badan seolah-olah penjahitnya memang sengaja ingin mengunci napasnya agar ia tidak bisa banyak bicara.
"Berdiri yang tegak, Laras. Jangan membungkuk seperti itu," bisik ibunya, suaranya halus seperti sutra tapi tajam seperti silet. "Perempuan itu dilihat dari cara duduk dan berdirinya. Kamu mau dianggap perempuan serampangan hanya karena caramu berdiri?"
Laras tidak menjawab. Ia hanya mempererat genggaman pada tas kecilnya hingga kuku-kukunya yang baru saja di manicure terasa perih. Perempuan serampangan. Kata-kata itu meluncur begitu mudah dari mulut ibunya sendiri, hanya karena Laras sedikit merenggangkan bahunya yang pegal.
Di ruangan ini, Laras merasa dirinya bukan lagi seorang manajer proyek yang memimpin puluhan orang di Jakarta. Di sini, di depan keluarga besar dan kolega ayahnya, ia hanyalah selembar kain pajangan. Ia tahu, orang-orang di meja seberang sedang membicarakan lipstiknya yang dianggap terlalu mencolok untuk ukuran "gadis baik-baik". Ia juga tahu, jika ia memakai baju yang lebih longgar, mereka akan menyebutnya tidak terawat. Jika ia memakai yang sedikit terbuka, label 'lonte' sudah siap ditempelkan di punggungnya. Tidak ada ruang untuk menang.
Laras menoleh ke arah barisan pria-pria sukses di tengah aula. Di sana, ia melihat sosok itu. Arka, Laki-laki itu tampak seperti patung yang dipahat sempurna. Berdiri tegap dengan setelan jas hitam yang seolah tidak punya cela. Arka adalah "produk unggulan" di acara ini.
Semua mata memandangnya dengan rasa hormat, seolah-olah dia adalah jawaban dari segala doa tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki dibentuk. Namun, Laras menangkap sesuatu yang dilewatkan orang lain. Ia melihat bagaimana Arka mencengkeram gelasnya begitu kuat, seolah gelas itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh pingsan di tengah keramaian.
Aula hotel bintang lima itu berbau seperti campuran antara bunga lili yang mulai layu, parfum oud yang menyengat, dan kemunafikan yang disamarkan dengan tawa basa-basi. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya yang terlalu terang, seolah-olah memang dipasang untuk memastikan tidak ada satu pun cela di wajah para tamu yang bisa bersembunyi.
Laras menyesap air mineralnya, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa kering seperti padang pasir. Kebaya merah marun ini adalah sebuah kesalahan. Bukan karena warnanya jelek warna itu justru membuat kulitnya tampak bercahaya tapi karena kain itu adalah simbol penyerahan diri. Ibunya yang memilihkan. Ibunya yang memesan. Dan ibunya jugalah yang memaksanya masuk ke dalam korset yang begitu ketat sampai-sampai Laras merasa paru-parunya mengecil seukuran kotak korek api.
"Lihat itu, Laras," bisik ibunya lagi, matanya melirik ke arah pintu masuk. "Itu keluarga Pak Baskoro. Anaknya yang kedua baru pulang dari London. Penampilan itu investasi, Laras. Kalau kamu tampil 'berantakan' seperti biasanya di kantor, siapa yang mau serius sama kamu? Laki-laki itu mencari istri, bukan mencari mandor bangunan."
Laras memejamkan mata sejenak. Mandor bangunan. Itu adalah cara ibunya meremehkan karier Laras sebagai manajer konstruksi. Bagi ibunya, gelar sarjana teknik sipil Laras hanya berguna untuk satu hal: mempercantik riwayat hidup saat melamar menjadi menantu keluarga terhormat.
"Aku bukan investasi, Bu," jawab Laras rendah, suaranya hampir hilang di telan riuh musik kamar yang membosankan.
"Jangan mulai, Laras. Kamu tahu aturannya. Di luar sana, kamu boleh jadi apa saja. Tapi di sini, kamu adalah wajah keluarga kita. Jangan bikin malu dengan muka masam itu. Pakai makeup mahal-mahal bukan untuk cemberut."
Laras ingin sekali menyeka foundation tebal yang terasa seperti semen di wajahnya. Ia merasa seperti badut. Ia tahu, di belakangnya, beberapa sepupu perempuannya sedang berbisik-bisik, mengomentari potongan kebaya bagian belakangnya yang dianggap "terlalu berani" karena memperlihatkan sedikit kulit punggungnya. Ia bisa membayangkan
Kata-kata mereka: “Cantik sih, tapi sayang, gayanya kayak perempuan nggak bener. Terlalu mengundang.”
Kata 'mengundang' selalu jadi senjata pamungkas. Seolah-olah perempuan adalah hidangan di meja prasmanan dan laki-laki adalah makhluk kelaparan yang tidak punya kendali diri. Jika ia tertutup, ia dibilang kuno. Jika ia sedikit terbuka, ia dibilang 'lonte'. Jika ia berdandan, ia dibilang mencari mangsa seperti 'ani-ani'. Tidak pernah ada titik tengah. Tubuh Laras bukan miliknya malam ini , tubuhnya adalah milik opini orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa nama tengahnya.
Di sisi lain aula, Arka merasa sedang berdiri di atas panggung eksekusi. Bedanya, eksekutornya adalah ayahnya sendiri yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kemenangan.
"Perkenalkan, ini Arka. Anak saya yang paling bisa diandalkan," suara ayahnya bergelegar, penuh dengan otoritas yang tidak terbantahkan. "Dia baru saja menyelesaikan proyek akuisisi di Singapura. Tidak pernah mengecewakan. Laki-laki itu harus seperti baja, Pak. Harus keras, harus kuat, dan yang paling penting harus bisa memimpin."
Arka menyalami kolega ayahnya dengan genggaman yang mantap, persis seperti yang diajarkan ayahnya sejak ia berusia lima tahun. Genggam tangan orang seperti kamu ingin mematahkan tulangnya, Arka. Tunjukkan siapa yang berkuasa.
"Hebat ya, Pak. Muda, sukses, dan kelihatannya sangat tenang. Tidak seperti anak muda sekarang yang gampang mengeluh," puji kolega itu.
Arka tersenyum. Senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. Senyum yang tidak sampai ke mata. Di balik jas Hugo Boss yang membungkus tubuh atletisnya, Arka merasa ia sedang hancur berkeping-keping. Semalam, ia tidak tidur. Jantungnya berdegup tidak keruan, sebuah serangan panik yang datang tanpa diundang. Ia ingin sekali bilang pada ayahnya bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, bahwa tekanan untuk selalu jadi "pemenang" membuatnya ingin muntah.
Tapi dia adalah seorang pria. Dan di kamus keluarganya, kata 'sakit' atau 'lelah' adalah kosakata yang hanya milik perempuan. Laki-laki yang mengeluh adalah laki-laki yang cacat. Laki-laki yang menangis adalah penghinaan bagi garis keturunan mereka.
"Arka memang tidak pernah lelah, Pak," sahut ayahnya sambil tertawa, lalu menepuk punggung Arka dengan keras. Tepukan itu terasa seperti hantaman palu di atas luka yang memar. "Dia punya pundak yang lebar untuk menanggung beban keluarga. Benar, kan, Ka?"
Arka mengangguk kaku. "Tentu, Pa."
Suara Arka terdengar seperti mesin yang berkarat di telinganya sendiri. Ia merasa seperti robot yang diprogram untuk hanya mengatakan satu kata Iya. Ia melihat ke sekeliling aula, melihat pria-pria lain yang tertawa keras sambil memegang gelas wiski, membicarakan perempuan-perempuan di ruangan itu seolah-olah mereka sedang membicarakan spek mobil baru.
"Lihat anak itu," bisik salah satu teman ayahnya sambil melirik ke arah seorang wanita dengan kebaya merah marun di kejauhan. "Cantik, tapi tatapannya liar. Perempuan kayak gitu biasanya susah diatur. Harus dikasih pelajaran sedikit biar tahu siapa bosnya."
Arka melirik wanita itu Laras. Ia melihat wanita itu sedang berdiri kaku, tampak seperti orang yang ingin sekali menghilang dari bumi. Arka merasa jijik mendengar komentar itu, tapi dia hanya diam. Jika dia membela, dia akan dianggap "terlalu sensitif" atau "lemah terhadap perempuan". Dia harus ikut tertawa, atau setidaknya tetap diam agar maskulinitasnya tidak dipertanyakan.
Laras merasa sepatu hak tingginya bukan lagi sekadar alas kaki, melainkan instrumen penyiksaan abad pertengahan. Setiap kali ia bergeser untuk menyapa tamu yang datang, rasa sakit itu menjalar dari telapak kaki, naik ke betis, hingga mengunci pinggangnya. Namun, ia tetap harus berdiri tegak. Di ruangan ini, rasa sakit adalah sesuatu yang harus disembunyikan di balik polesan blush-on dan tawa yang dipaksakan.
"Laras, itu ada Jaka, anak pemilik bank swasta," bisik ibunya lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Dia dari tadi memperhatikanmu. Sana, sapa. Jangan jadi Patung. "
"Bu, kakiku lecet," Laras mencoba membela diri, suaranya sedikit bergetar.
Ibunya menatapnya seolah Laras baru saja melakukan dosa besar. "Lecet sedikit saja manja. Ibu dulu waktu hamil kamu tetap harus melayani tamu sampai jam dua pagi pakai sepatu begini. Jangan memalukan, Laras. Ingat, perempuan itu yang dinilai adalah ketahanannya. Kalau kamu nggak bisa tahan sakit buat hal sepele kayak gini, gimana mau jaga rumah tangga nanti?"
Rumah tangga. Selalu itu ujungnya. Seolah-olah seluruh eksistensi Laras sejak lahir hanya dipersiapkan untuk menjadi pelayan di rumah orang lain. Ia menoleh ke arah Jaka, pria yang dimaksud ibunya. Pria itu menatapnya dari atas ke bawah, seolah sedang menginspeksi barang dagangan. Tatapan yang tidak menghargai kecerdasan Laras, tidak peduli pada kerja kerasnya membangun karier, hanya peduli pada seberapa pas kebaya itu membungkus tubuhnya.
Laras merasa mual. Ia butuh oksigen yang tidak tercampur bau parfum orang-orang munafik ini. Tanpa pamit, ia membalikkan badan, mengabaikan panggilan ibunya yang mulai panik. Ia berjalan cepat sesuai kemampuan kakinya yang terluka melewati kerumunan, menuju lorong gelap di balik panggung utama. Ia tidak peduli jika besok ia akan dicap sebagai anak durhaka atau perempuan tidak sopan. Saat ini, ia hanya ingin lepas.
Di sisi lain, Arka merasa kepalanya seperti akan pecah. Ayahnya masih sibuk membual tentang "kekuatan pria" kepada sekelompok kolega militer. Mereka bicara tentang bagaimana dunia sekarang terlalu "lembek" karena terlalu banyak memberikan panggung pada perasaan.
"Laki-laki itu kalau sedih, ya minum. Kalau marah, ya kerja. Bukannya curhat di media sosial kayak anak-anak sekarang," ujar salah satu kolega ayahnya, disambut gelak tawa yang berat dan maskulin.
Arka merasakan keringat dingin membasahi kemejanya. Ia ingin berteriak bahwa ia benci wiski yang ada di tangannya. Ia ingin berteriak bahwa semalam ia menangis di dalam mobil karena merasa tidak sanggup lagi memikul beban perusahaan yang hampir bangkrut namun tetap dipaksa terlihat jaya oleh ayahnya.
"Arka, kamu kenapa diam saja? Ayo, ceritakan proyek barumu itu," perintah ayahnya, matanya memberi isyarat agar Arka kembali menunjukkan taringnya.
"Maaf, Pa. Saya permisi sebentar ke toilet," jawab Arka singkat.
"Toilet? Kita lagi bicara penting, Arka. Jangan jadi seperti perempuan yang harus ke toilet setiap lima menit," ayahnya menyindir, memicu tawa kecil dari kolega lainnya.
Arka tidak peduli. Ia berbalik, langkahnya lebar dan berat. Ia harus pergi sebelum ia benar-benar memukul salah satu dari wajah-wajah puas itu. Ia berjalan menembus pintu keluar darurat di dekat dapur, mencari tempat di mana tidak ada lampu kristal, tidak ada mata yang menilai, dan tidak ada tuntutan untuk menjadi "baja".
Gudang itu berbau debu dan kayu tua. Ruangan itu penuh dengan tumpukan kursi lipat dan meja-meja yang rusak. Jauh dari keramaian aula, tempat ini adalah surga kecil bagi mereka yang ingin hancur tanpa terlihat.
Laras masuk ke sana lebih dulu. Begitu pintu tertutup, ia langsung menyandar di tembok, napasnya memburu. Dengan tangan yang gemetar karena amarah, ia merobek anting-anting berat yang sedari tadi menarik cuping telinganya hingga memerah. Ia melempar anting itu ke lantai. Lalu, dengan satu gerakan kasar, ia melepas sepatu hak tingginya dan melemparkannya ke sudut ruangan. Satu sepatu itu menabrak tumpukan kayu dan haknya patah.
"Berengsek! Berengsek semua!" maki Laras, suaranya pecah di antara isak tangis yang ia tahan sejak tadi pagi.
Ia mencoba membuka kancing belakang kebayanya. Ia merasa tercekik. Kain brokat itu terasa seperti kawat berduri yang melilit dadanya. Tapi tangannya yang gemetar tidak bisa menjangkau kancing di punggungnya. Ia meronta, menarik-narik kain itu sampai terdengar suara jahitan yang robek.
Di sudut gelap ruangan, Arka tersentak. Ia yang sedari tadi duduk di lantai sambil memegang kepalanya, kini mendongak. Ia melihat seorang wanita yang tadi ia lihat di aula wanita dengan kebaya merah marun kini tampak seperti orang gila di tengah gudang.
"Bisa tidak kamu tidak berteriak?" suara Arka rendah, parau, dan penuh kelelahan.
Laras terlonjak. Ia baru menyadari kehadiran Arka. Ia menatap Arka dengan tatapan liar, penuh kebencian yang tidak terarah. "Ngapain kamu di sini? Mau nonton pertunjukan? Mau bilang aku nggak sopan karena berteriak di gudang?"
Arka berdiri perlahan, menyingkirkan debu di celana jas mahalnya yang kini sudah tidak berarti lagi. "Aku cuma mau tenang sebentar tanpa harus mendengar suara perempuan mengeluh."
Laras tertawa, tawa yang sinis dan menyakitkan. "Oh, maaf ya, Tuan Sempurna. Aku lupa kalau laki-laki hebat sepertimu nggak suka dengar keluhan. Kamu pasti mau bilang kalau aku harusnya bersyukur, pakai baju mahal, dandan cantik, sementara kamu dan teman-temanmu di luar sana sibuk menghitung berapa harga tubuhku, kan?"
Arka mendekat, wajahnya mengeras. "Kamu pikir aku peduli pada bajumu? Aku bahkan nggak bisa peduli pada diriku sendiri sekarang! Kamu pikir jadi aku enak? Berdiri di sana, disembah-sembah seolah aku tuhan yang nggak punya rasa sakit, padahal aku cuma pengen berhenti bernapas sebentar biar nggak perlu mikirin cara buat nyenengin orang tua!"
"Setidaknya kamu punya suara!" teriak Laras, air matanya kini benar-benar jatuh, merusak makeup mahal yang diagung-agungkan ibunya. "Kamu laki-laki! Kamu bebas bicara apa saja! Aku? Aku bahkan nggak punya hak buat bilang kalau bajuku kesempitan! Aku cuma pajangan, Arka! Aku ini pajangan yang nggak boleh punya otak!"
Arka tiba-tiba menyambar sebuah guci tua yang tergeletak di meja sampingnya dan menghantamkannya ke lantai. Praaak.. Pecahan keramik itu berserakan di antara mereka.
"Lihat itu!" bentak Arka, napasnya tersengal. "Itu aku! Itu yang terjadi kalau baja yang kamu bangga-banggakan itu dipaksa memikul beban yang nggak masuk akal! Kamu dipaksa jadi pajangan, aku dipaksa jadi mesin! Kamu boleh nangis, Laras! Orang bakal maklum! Tapi aku? Kalau aku nangis, aku kehilangan harga diriku sebagai manusia! Aku dianggap cacat!"
Suasana seketika hening. Hanya ada suara detak jam dinding tua yang berdebu dan deru napas mereka yang saling beradu. Laras tertegun melihat pecahan guci itu, lalu melihat tangan Arka yang sedikit berdarah karena terkena serpihan.
Kemarahan yang tadi menyala-nyala, tiba-tiba berubah menjadi rasa lelah yang luar biasa. Laras perlahan terduduk di atas salah satu kursi lipat yang berdebu, kakinya yang lecet terlihat merah dan kotor. Ia melempar pandangannya ke sepatu hak tingginya yang patah di sudut ruangan.
"Dunia ini berengsek, ya?" gumam Laras pelan, suaranya kini tenang namun penuh keputusasaan.
Arka kembali terduduk di lantai, tidak peduli lagi pada jas mahalnya yang kini terkena debu gudang. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok, memejamkan mata. "Bukan dunianya. Tapi orang-orang di dalamnya yang bikin aturan gila seolah kita ini bukan manusia."
Di gudang pengap itu, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, si "Pria Baja" dan si "Wanita Porselen" berhenti berpura-pura. Mereka berdua hancur, dan entah kenapa, hancur bersama-sama terasa sedikit lebih ringan daripada harus terlihat sempurna sendirian.