Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25 Nama yang Dihapus
Pagi itu hujan turun deras.
Bukan hujan yang menenangkan.
Hujan yang seperti menampar atap kontrakan dengan kasar.
Bagas sedang menghitung sisa uang di dompetnya.
Tiga lembar lima puluh ribu.
Itu saja.
Pipit menyeduh kopi sachet terakhir.
“Mas, nanti aku coba titip kue lagi ya.”
Bagas mengangguk, tapi pikirannya kosong.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Pesan dari nomor tak dikenal.
“Datang ke kantor notaris sekarang. Ada yang harus kamu tanda tangani.”
Bagas mengernyit.
Belum sempat bertanya, pesan kedua masuk.
“Soal warisan.”
Jantungnya langsung turun.
Satu jam kemudian.
Bagas berdiri di depan kantor notaris.
Gedung kecil tapi rapi.
Di dalam, Bu Rahayu sudah duduk bersama Bu Marni.
Dan seorang pria tua berkacamata—Notaris Harun.
“Duduk,” kata Bu Rahayu tanpa menatapnya.
Bagas duduk perlahan.
Pipit tidak ikut.
Ia bilang, “Mas, apa pun yang terjadi, kamu jangan sendiri.”
Tapi Bagas memilih datang sendiri.
Dan sekarang… ia merasa salah.
Notaris membuka map.
“Kita langsung saja ya, Pak Bagas.”
Bu Marni menyilangkan tangan.
Wajahnya puas.
Notaris membaca dengan suara formal.
“Berdasarkan kesepakatan keluarga dan keputusan ahli waris, hak atas aset dan properti keluarga sepenuhnya dicabut dari Saudara Bagas Pratama.”
Setiap kata seperti paku.
Bagas menelan ludah.
“Dicabut… seluruhnya?”
“Seluruhnya.”
Bu Rahayu akhirnya bicara.
“Ibu sudah pikirkan matang-matang.”
Bagas menatap ibunya.
“Karena aku gagal?”
Sunyi.
Bu Marni yang menjawab.
“Karena kamu mempermalukan keluarga!”
Bagas menatap tajam.
“Apa yang aku lakukan sampai mempermalukan?”
“Bangkrut itu memalukan!” Bu Marni menyembur.
Notaris mencoba netral.
“Mohon tetap tenang.”
Bagas kembali menatap ibunya.
“Aku tidak mencuri. Aku tidak berjudi. Aku tidak selingkuh. Aku hanya gagal dalam bisnis.”
Bu Rahayu menatap meja.
“Tapi kegagalanmu menyeret nama keluarga.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari hujan di luar.
Bagas merasa ada sesuatu runtuh dalam dirinya.
“Dan ada satu hal lagi,” lanjut Notaris.
Bagas sudah mati rasa.
“Nama Saudara Bagas akan dihapus dari kartu keluarga. Administrasi kependudukan akan diperbarui.”
Sunyi.
Sunyi yang memekakkan.
Bagas mengangkat wajahnya perlahan.
“Maksudnya… aku bukan bagian keluarga lagi?”
Bu Marni menjawab cepat.
“Secara hukum? Tidak.”
Bagas tertawa kecil.
Tertawa yang nyaris seperti orang putus asa.
“Hebat.”
Ia menatap ibunya.
“Bu… segampang itu?”
Bu Rahayu menutup mata sesaat.
“Ibu lelah, Gas.”
“Lelah punya anak gagal?”
Air matanya hampir jatuh.
Tapi ia tahan.
“Ibu lelah membela kamu di depan keluarga besar.”
Dan di situlah semuanya hancur.
Bukan karena warisan.
Bukan karena rumah.
Tapi karena ibunya merasa lelah membelanya.
Notaris mendorong berkas ke arahnya.
“Tanda tangan di sini.”
Pulpen itu terasa berat.
Bagas menatap tanda tangan ibunya di bawah sana.
Sudah ada.
Sudah sah.
Ia tersenyum pahit.
“Jadi ini akhir hubungan kita?”
Bu Rahayu terdiam.
Tidak ada jawaban.
Dan itu lebih menyakitkan dari kata apa pun.
Bagas menandatangani.
Tinta hitam itu seperti menghapus masa kecilnya.
Keluar dari kantor notaris, hujan masih deras.
Bagas berdiri di trotoar.
Air hujan membasahi bajunya.
Ia tidak peduli.
Ia resmi tidak punya keluarga.
Tidak punya rumah.
Tidak punya warisan.
Dan sekarang… tidak punya nama di kartu keluarga.
Sementara itu…
Di kontrakan, Pipit sedang menyapu ketika dua perempuan datang.
Bu Siska dan Bu Tuti—tetangga yang hobi gosip.
“Eh, Pipit!” suara mereka manis tapi tajam.
Pipit tersenyum sopan.
“Iya, Bu?”
“Kami dengar suamimu dihapus dari kartu keluarga ya?”
Pipit membeku.
Dari mana mereka tahu secepat ini?
“Kasihan ya… berarti sekarang kamu nikah sama siapa dong?”
Tawa kecil.
Menusuk.
Pipit tetap berdiri.
“Suami saya tetap suami saya, Bu.”
Bu Siska mendekat.
“Lho tapi secara hukum? Kan sudah bukan anaknya Bu Rahayu.”
Pipit menahan napas.
“Hubungan darah tidak dihapus oleh tinta.”
Bu Tuti mencibir.
“Ya tapi orang gagal biasanya memang dibuang. Takut ketularan sial.”
Kalimat itu jahat.
Benar-benar jahat.
Pipit menatap mereka satu per satu.
“Kalau gagal itu menular, mungkin dunia ini sudah kosong.”
Sunyi.
Mereka tidak menyangka Pipit menjawab.
“Permisi, Bu. Saya masih harus kerja.”
Ia masuk.
Tutup pintu.
Dan baru saat itu air matanya jatuh.
Bagas pulang sore hari.
Wajahnya kosong.
Pipit tahu.
Tanpa perlu bertanya.
“Sudah dicabut ya?”
Bagas mengangguk.
“Namaku juga.”
Pipit menahan napas.
Bagas duduk pelan.
“Aku sekarang resmi bukan siapa-siapa.”
Pipit duduk di depannya.
“Kamu suamiku.”
Bagas menatapnya.
“Mereka bahkan hapus aku dari kartu keluarga.”
Pipit menggenggam tangannya.
“Biar. Aku bikin kartu keluarga baru sama kamu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Bagas… itu seperti satu-satunya cahaya.
Namun belum selesai.
Malamnya, pesan masuk ke grup keluarga besar.
Foto surat pencabutan warisan.
Disertai caption Bu Marni:
“Semoga jadi pelajaran. Jangan sombong kalau belum mapan.”
Satu per satu komentar masuk.
Sepupu-sepupu.
Om-om.
Tante-tante.
“Memalukan.”
“Sudah dari dulu kelihatan.”
“Istrinya juga nggak jelas.”
Bagas membaca semuanya.
Darahnya mendidih.
Pipit melihat wajahnya berubah.
“Mas, jangan dibalas.”
Bagas berdiri.
“Aku tidak salah!”
“Mas…”
“Aku cuma gagal!”
Ia memukul dinding.
Tangannya berdarah sedikit.
Pipit memeluknya.
“Kita tidak perlu pengakuan mereka.”
Tapi dalam hati Pipit… ia tahu.
Yang paling menyakitkan bukan komentar itu.
Melainkan fakta bahwa tidak satu pun membela Bagas.
Tidak satu pun.
Larut malam.
Bagas duduk sendirian.
Mengingat masa kecilnya.
Dulu ia yang paling dibanggakan.
Anak sukses.
Anak yang diandalkan.
Sekarang?
Dihapus.
Seperti noda.
Ia berbisik pelan.
“Apa aku memang seburuk itu?”
Dari balik pintu, Pipit mendengar.
Dan hatinya hancur.
Karena yang dihancurkan hari ini bukan cuma status hukum.
Tapi rasa percaya diri seorang anak pada ibunya sendiri.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid