Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Para Penyihir (2)
[HARI KEDUA - TEROBOSAN]
Pagi datang terlalu cepat—atau mungkin aku memang tidak cukup tidur, kepala dipenuhi teori sihir dan kecemasan tentang ujian.
Aku terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama dari latihan bersama Kakek yang menolak untuk mati. Halaman masih gelap ketika aku turun, diterangi hanya oleh lentera magis yang redup di sepanjang dinding.
Sempurna untuk meditasi.
Aku duduk bersila di tengah halaman, pedang di pangkuan, Azure Codex bersandar di dadaku. Mata terpejam. Fokus pada pernapasan—masuk melalui hidung, keluar melalui mulut, ritme yang stabil secara bertahap memperlambat detak jantung.
Kakek dulu bilang, "Tempur bukan hanya fisik. Kejernihan mental sama pentingnya. Pejuang yang panik adalah pejuang yang sudah mati."
Meditasi adalah cara menjaga kejernihan itu. Cara mempertahankan pikiran yang tajam dan fokus bahkan di tengah kekacauan.
Tapi sejak aku terhubung dengan Azure Codex, meditasi telah menjadi sesuatu yang lebih—sebuah koneksi.
Aku bisa merasakan denyutan batu di dadaku—seperti ada kehadiran lain di sana. Sebuah kesadaran yang tidak sepenuhnya terpisah dari milikku, tapi juga tidak sepenuhnya menyatu.
Azure Codex, aku memanggil dalam pikiran, tidak benar-benar mengharapkan respons tapi tetap mencoba. Aku tahu kamu bukan sekadar benda. Kamu lebih dari itu. Bisakah kamu membantuku memahami?
Keheningan membentang. Hanya napas dan suara-suara kota yang jauh mulai terbangun.
Kemudian—
Kilatan.
Visi meledak melalui pikiranku—sebuah medan perang yang luas, langit berwarna darah, tanah bertabur mayat dari tak terhitung ras. Dentingan baja, ledakan sihir, pekikan prajurit yang gugur.
Perang Besar.
Aku tidak hanya melihatnya. Aku mengalaminya. Merasakan ketakutan, keputusasaan, dan tekad para prajurit yang bertempur. Merasakan energi-energi magis yang luar biasa saling bertabrakan, menciptakan kehancuran yang katastrofik.
Dan di pusat medan perang—titik konvergensi di mana semua sihir itu terkonsentrasi—
Sesuatu terbentuk. Kristalisasi dari energi-energi sisa, kenangan, emosi, kehendak jutaan orang yang berjuang dan gugur.
Philosopher Stones.
Azure Codex secara khusus—terbentuk dari kenangan kolektif. Ingatan sempurna dari setiap teknik, setiap strategi, setiap pelajaran yang dipelajari melalui darah dan penderitaan.
Inilah yang aku, datang kesannya—lebih jelas dari sebelumnya. Gudang pengetahuan. Guru bagi mereka yang layak. Pemandu melalui kebijaksanaan terakumulasi dari para pejuang masa lalu.
"Tapi mengapa aku?" tanyaku. Mengapa terhubung denganku secara khusus?
Karena kamu mencari kebenaran, bukan hanya kekuatan. Karena kamu menanggung bebanmu dengan kerendahan hati, bukan kesombongan. Karena...
Jeda. Keraguan? Bisakah sebuah artefak magis ragu?
Karena kamu mengingatkan Batu ini pada seseorang. Pemilik pertama. Seorang pelindung yang melindungi melalui pengorbanan. Kamu memiliki esensi yang sama.
Pemilik pertama. Seseorang dari era Perang Besar, kemungkinan besar. Seseorang yang pernah terhubung dengan Azure Codex sebelum berpindah tangan selama berabad-abad.
"Apa yang terjadi pada mereka?"
Mereka gugur melindungi apa yang mereka cintai. Batu tidak bisa menyelamatkan mereka. Tapi kenangannya tetap ada. Pelajarannya tetap ada. Kehendaknya tetap ada.
Kesedihan mengalir melalui kesan itu. Duka yang tulus atas kehilangan seseorang yang sudah mati berabad-abad lalu.
"Aku akan menghormati kenangan mereka," aku berjanji. Menggunakan pengetahuan yang kamu berikan dengan bijak, bukan hanya untuk kekerasan.
Visi memudar. Aku kembali di halaman, fajar mulai melukis langit dengan warna oranye dan emas.
Aku membuka mata. Sesuatu terasa berbeda. Lebih ringan. Seperti beban yang bahkan tidak kusadari kutanggung telah sedikit terangkat.
Azure Codex berdenyut di dadaku—tidak lagi sekadar detak yang stabil, melainkan ritme yang tersinkronisasi sempurna dengan detak jantungku sendiri.
Ikatan sejati. Penerimaan penuh dari kedua belah pihak.
Aku bangkit, mencabut pedang. Gerakannya terasa tanpa usaha. Seperti bilah itu adalah perpanjangan dari kehendakku, bukan benda yang terpisah.
Aku memulai bentuk-bentuk—tapi kali ini, aku tidak hanya mengikuti pola yang dihafal.
Mengalir, beradaptasi, menciptakan.
Lapisan-lapisan hantu muncul seketika, tapi kini aku bisa melihat lebih jelas—memahami bukan hanya apa gerakan-gerakannya, melainkan mengapa. Biomekanika, momentum, transfer energi, keuntungan taktis dari setiap posisi.
Integrasi pengetahuan bukan lagi sekadar menyalin. Ini pemahaman sejati.
Di tengah bentuk, aku bereksperimen—menggabungkan pergeseran berat prajurit berat dengan rotasi pergelangan petarung ringan, menambahkan putaran intuitifku sendiri.
Gerakan baru. Bukan tradisional, tapi efektif.
Aku tidak hanya belajar dari masa lalu, tapi membangun di atasnya. Menciptakan gaya sendiri.
Aku terus berlatih, tenggelam dalam kondisi aliran di mana pikiran dan tindakan menjadi satu. Waktu kehilangan maknanya—bisa jadi menit atau jam. Tidak tahu, tidak peduli.
Hanya ada dalam momen murni dari latihan.
"Astaga."
Suara itu memecah konsentrasiku. Aku berhenti di tengah serangan, berbalik melihat Finn berdiri di pintu masuk halaman, ekspresi mencampurkan keterkejutan dan kekaguman.
"Sudah berapa lama kamu berlatih?" tanyanya, berjalan mendekat. "Aku bangun untuk latihan pagi dan kamu... kamu basah kuyup."
Aku melihat ke bawah—baju zirahku basah oleh keringat, uap mengepul dari tubuh dalam udara pagi yang sejuk. Memeriksa rasa internal tentang waktu—
Dua jam. Aku sudah berlatih selama dua jam penuh tanpa istirahat, tanpa menyadarinya.
"Aku... kehilangan hitungan," aku mengakui, sedikit malu.
"Kehilangan hitungan?" Finn tertawa. "Kawan, aku menonton lima belas menit terakhir. Gerakanmu—itu bukan level amatir. Itu mendekati teknik pejuang profesional. Di mana kakekmu dilatih? Militer? Pengawal elite?"
Pertanyaan yang rumit. Kakek memang elite—Pendekar Pedang Garis Depan Utara, veteran Perang Besar. Tapi aku tidak bisa mengungkapkan itu.
"Instruksi pribadi," aku menjawab dengan samar. "Ia punya pengalaman."
"Jelas." Finn meletakkan tas perlengkapannya. "Karena kita sama-sama di sini lebih awal, mau sparring? Aku butuh latihan tempur tapi buku-buku teori sihir tidak benar-benar melawan balik."
Aku ragu. Sparring dengan bantuan Azure Codex mungkin mengungkapkan terlalu banyak—
"Oke," aku setuju. "Tapi sparring dasar saja—tidak ada kontak penuh, berhenti pada pukulan bersih pertama."
"Sepakat."
Finn mengambil kapak latihan kayu dari rak, mengangkatnya dengan kemudahan yang mencerminkan bertahun-tahun di tempat pandai besi. Senjata yang berat, tapi di tangannya terasa natural.
Kami mengambil posisi—berjarak tiga meter, senjata siap.
"Mulai pada tiga," Finn berseru. "Satu... dua... TIGA!"
Ia langsung menyerbu—strategi kurcaci, tutup jarak dengan cepat untuk memanfaatkan kekuatan yang lebih besar.
Azure Codex berdenyut peringatan halus, tapi aku sengaja tidak mengandalkan garis prediksi. Hanya mengamati dengan mataku sendiri, membaca bahasa tubuhnya, mengantisipasi berdasarkan latihan.
Finn mengayun dari atas—kuat, berkomitmen. Aku melangkah ke samping, membiarkan momentum membawanya melewatiku, menepuk punggungnya dengan sisi datar bilahku.
"Poin," aku berseru.
Ia menyeringai. "Cepat. Lagi!"
Kami mengatur ulang posisi dan sparring lagi. Kali ini Finn lebih berhati-hati, menguji dengan gertakan sebelum berkomitmen.
Pertukaran bolak-balik—kekuatannya melawan kecepatanku, keunggulan jangkauannya melawan mobilitasku. Azure Codex memberikan panduan minimal, hanya dorongan halus untuk timing, menyerahkan eksekusi sebenarnya kepadaku.
Terasa benar. Bukan kruk, tapi bantuan yang tulus. Seperti roda pelatih yang perlahan dilepas.
Setelah sepuluh ronde—terbagi hampir seimbang—kami berhenti, keduanya terengah-engah.
"Kamu bagus," Finn mengakui, mengusap keringat dari dahinya. "Maksudku, benar-benar bagus. Aku hampir tidak bisa menyamai, padahal sudah berlatih bersama ayahku selama satu dekade."
"Kamu meremehkan dirimu sendiri," aku membalas dengan jujur. "Kekuatan dan teknikmu solid. Hanya gaya bertarung yang berbeda. Kamu diciptakan untuk pertempuran yang panjang, menguras lawan. Aku diciptakan untuk keterlibatan cepat, mengeksploitasi celah."
"Hmm." Finn merenungkan itu. "Tidak pernah memikirkan tentang kompatibilitas gaya. Selalu mengira petarung yang lebih kuat yang menang."
"Tidak selalu. Strategi, adaptasi, mengenali keunggulanmu—semuanya sama pentingnya dengan kekuatan mentah."
Percakapan beralih ke teori tempur, analisis taktis, membandingkan catatan dari latar belakang pelatihan masing-masing.
Produktif. Mendidik bagi keduanya.
Ketika sesi kelompok belajar dimulai, aku merasa jauh lebih yakin dengan kemampuan tempur—dan lebih sadar akan keterbatasanku sendiri yang masih perlu ditingkatkan.
[HARI KETIGA - INTENSIF TEORI SIHIR]
Ruang belajar penuh dengan tujuh orang yang membungkuk di atas buku, catatan berserakan di mana-mana, papan tulis dipenuhi diagram dan rumus yang kompleks.
Elara berdiri di depan, mengajar dengan kesabaran yang tampak tidak ada habisnya meski jelas-jelas sudah menjelaskan konsep yang sama berkali-kali untuk orang yang berbeda.
"Sirkulasi mana," ia mengulang, menggambar diagram tubuh manusia dengan jalur-jalur yang disorot. "Berfungsi seperti sirkulasi darah tapi untuk energi magis. Semua orang punya vena mana—beberapa lebih berkembang dari yang lain. Vena yang tidak digunakan tetap dorman. Latihan membukanya secara bertahap."
Mira mengangkat tangan. "Berapa banyak vena mana yang bisa dibuka?"
"Tubuh manusia standar memiliki sekitar lima puluh vena utama dan ratusan kapiler minor. Penyihir terlatih rata-rata membuka mungkin lima belas sampai dua puluh vena utama dalam seumur hidup mereka. Individu yang luar biasa mungkin mencapai tiga puluh. Lebih dari itu..." Elara ragu. "Wilayah legendaris. Archimagus, pahlawan-pahlawan dari sejarah. Mungkin hanya lima orang hidup hari ini dengan lebih dari empat puluh vena yang terbuka."
Derek mendengus. "Legenda. Mungkin cerita yang dibesar-besarkan."
"Mungkin," Elara mengakui dengan diplomatis. "Tapi catatan Academy telah memverifikasi beberapa kasus. Bagaimanapun, untuk ujian masuk, kamu tidak perlu khawatir tentang pengembangan vena lanjutan. Cukup buktikan bahwa kamu punya kendali sirkulasi dasar."
Ia mendemonstrasikan dengan mantra sederhana—menciptakan bola cahaya kecil di telapak tangannya. "Perhatikan aliran mana."
Aku bisa melihat—benar-benar melihat—energi tak kasat mata yang mengalir melalui tubuh Elara. Aliran biru-putih bergerak dari intinya menuju tangannya, terkonsentrasi, termanifestasi sebagai cahaya yang terlihat.
Menakjubkan.
"Sekarang coba," Elara menginstruksikan. "Semua orang, coba buat cahaya dasar. Jangan dipaksa—dorongan lembut pada mana internalmu, arahkan ke telapak tangan, visualisasikan manifestasinya."
Di sekitar meja, berbagai percobaan muncul. Kira berhasil seketika—cahaya kecil yang stabil. Mira setelah beberapa kali mencoba—lebih terang, lebih intens. Cassia butuh lebih lama tapi akhirnya berhasil mendapat kilipan yang redup.
Finn kesulitan. "Aku tidak... merasakan apa-apa. Bagaimana cara menemukan mana internal?"
"Tutup matamu," Elara menyarankan. "Napas dalam-dalam. Rasakan kehangatan di area dada—itu inti manamu. Coba sentuh secara mental."
Aku memejamkan mata, mengikuti instruksi meski sudah familiar dengan meditasi serupa dari latihan Azure Codex.
Menemukan intiku seketika—kehadiran hangat di bawah tulang dadaku, berdenyut dengan energi. Menjangkau secara mental, mengarahkan aliran ke tanganku—
Cahaya meledak dari telapak tanganku. Bukan bola kecil. Cahaya terang, hampir menyilaukan yang membuat semua orang melindungi mata.
"WOAH!" Finn berseru. "Kebanyakan!"
Aku langsung memutus aliran. Cahaya menghilang. "Maaf. Aku... berlebihan."
Elara menatapku dengan campuran terkesan dan curiga. "Itu... output mana yang signifikan untuk percobaan pertama. Kamu yakin belum pernah berlatih sihir sebelumnya?"
Sial.
"Kakek mengajariku teknik meditasi," aku menjelaskan dengan cepat. "Mungkin itu membantu dalam merasakan mana?"
Bukan kebohongan lengkap—meditasi memang membantu.
"Hmm." Elara tidak terlihat sepenuhnya yakin tapi tidak mengejar. "Baik, kendali yang bagus karena langsung berhenti. Banyak pemula yang kesulitan memutus aliran begitu sudah dimulai."
Krisis teratasi. Hampir.
Derek, bagaimanapun, menatapku dengan mata menyipit. Ekspresi yang penuh perhitungan.
Dicatat sebagai potensi masalah. Lagi.
Sesi berlanjut dengan mempraktikkan manipulasi elemental dasar—Mira mengajarkan api, Kira mengajarkan air, Cassia mendemonstrasikan arus udara.
Aku berpartisipasi tapi dengan cermat memoderasi outputku, berusaha tampak kompeten tapi tidak luar biasa.
Keseimbangan yang sulit. Bantuan Azure Codex membuat sihir hampir intuitif, tapi mengungkapkan terlalu banyak kemampuan akan mengundang perhatian yang tidak diinginkan.
Di akhir sesi, semua orang setidaknya sudah berhasil mencapai kompetensi minimal dengan satu elemen.
Empat hari terselesaikan. Satu lagi tersisa.
[HARI KEEMPAT - SKENARIO TEMPUR]
"Oke, dengarkan!" Cassia berseru, berdiri di tengah halaman yang telah sementara diubah menjadi medan latihan. "Hari ini kita mempraktikkan skenario tempur—kondisi simulasi ujian masuk."
Ia menyiapkan rintangan—peti, barel, boneka latihan. "Skenario pertama, keterlibatan monster solo. Kamu melawan boneka berzirah. Tujuannya adalah melumpuhkan dengan kombinasi serangan fisik dan magis. Batas waktu dua menit."
Siapa yang mau sukarela?
Finn pergi pertama—menyerbu dengan kapak latihan, menggabungkan serangan dari atas dengan upaya peningkatan api yang sebagian besar gagal tapi menunjukkan usaha. Melumpuhkan boneka dalam sembilan puluh detik.
Performa yang solid.
Mira berikutnya—serangan magis murni. Proyektil api yang secara bertahap meningkat intensitasnya sampai "zirah" boneka—sebenarnya kain yang di-enchant—terbakar tembus. Tujuh puluh detik.
Mengesankan.
Kira mengambil pendekatan yang berbeda—manipulasi air untuk menciptakan lapisan es pada sendi-sendi boneka, mengimobilisasinya, kemudian satu serangan presisi ke "titik vital." Enam puluh lima detik.
Derek mengejutkan semua orang dengan performa yang kompeten—kombinasi sihir angin untuk disorientasi dan serangan cepat dengan pedang latihan yang di-enchant. Delapan puluh detik, tapi menunjukkan pemikiran taktis yang baik.
Cassia mendemonstrasikan teknik ranger—anak panah yang ditingkatkan dengan sihir minor, mengenai titik-titik lemah dengan presisi. Empat puluh lima detik.
Level profesional.
Kemudian giliranku.
Aku mendekati boneka dengan pedang terhunus.
Mulai dengan serangan uji—menjajaki pertahanan, mengidentifikasi kelemahan. "Zirah" boneka paling tebal di bagian badan, lebih tipis di sendi-sendi.
Incar sendi-sendinya.
Menggabungkan serangan fisik dengan peningkatan magis minimal—cukup untuk sedikit mempertajam tepi bilah, meningkatkan kekuatan memotong.
Pembongkaran yang sistematis. Lengan kiri. Lengan kanan. Kaki. Terakhir, serangan memenggal.
Lima puluh delapan detik.
Cukup baik, tapi tidak mencurigakan cepatnya.
"Pendekatan taktis yang bagus," Cassia berkomentar dengan setuju. "Metodis, efisien, energi yang terbuang minimal."
Elara mengangguk setuju. "Dan cerdas menggabungkan fisik dan magis alih-alih hanya mengandalkan satu. Ujian masuk menghargai fleksibilitas."
Derek, bagaimanapun, punya pendapat yang berbeda. "Lambat. Terlalu lurus. Tidak ada kreativitas."
"Efektif," Cassia membalas dengan datar. "Kreativitas tidak terlalu penting dibanding hasil dalam pertempuran nyata."
Ketegangan sebentar berkobar tapi Elara menengahi dengan skenario berikutnya.
Lebih banyak latihan tempur. Skenario tim di mana kami harus berkoordinasi. Jalur rintangan yang menggabungkan ketangkasan fisik dengan tantangan magis.
Melelahkan, menuntut, tapi sangat berharga.
Saat matahari terbenam, semua orang sudah tergeletak di halaman, terlalu lelah bahkan untuk bergerak.
"Satu hari lagi," Finn mengerang dari posisinya yang terkapar di tanah. "Satu hari lagi persiapan lalu kita hadapi yang sesungguhnya."
"Kita akan siap," Elara memastikan, meski suaranya menyimpan nada ketidakpastiannya sendiri.
"Kita harus siap," Mira menambahkan. "Kegagalan bukan pilihan."
Aku siap. Percayai latihanku. Percayai diriku. Percayai kemitraan kita.
Siap seperti yang pernah ada.
[HARI KELIMA - REVIEW AKHIR]
Hari terakhir di Ironspire sebelum keberangkatan.
Kelompok belajar berkumpul untuk sesi review terakhir—membahas titik-titik lemah, menjawab pertanyaan menit-menit terakhir, memberikan dukungan moral.
Atmosfernya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Lebih sunyi. Semua orang memproses kenyataan bahwa besok, tahap terakhir perjalanan akan dimulai, dan tiga hari setelahnya...
Ujian masuk.
"Oke," Elara memulai dengan keceriaan yang dipaksakan. "Review cepat, fundamental teori sihir?"
"Sirkulasi mana melalui vena yang terbuka," Kira menjawab. "Kendali melalui fokus mental, manifestasi melalui formula dan gestur yang tepat."
"Benar. Afinitas elemental?"
"Api, air, tanah, udara sebagai primer," Mira mendaftar. "Elemen yang diperluas mencakup petir, es, logam, dan lainnya. Afinitas menentukan bakat alami tapi latihan bisa mengembangkan elemen sekunder."
"Bagus. Prinsip-prinsip tempur?"
"Nilai situasinya, identifikasi keunggulanmu, eksekusi dengan efisien, adaptasi sesuai kebutuhan," aku mengutip dari ajaran Kakek.
"Sempurna." Elara tersenyum—kehangatan yang tulus. "Kalian semua sudah belajar begitu banyak hanya dalam lima hari. Aku bangga, sungguh."
Finn mengangkat mug bir encernya. "Minum untuk kelompok belajar—semoga kita semua lulus ujian masuk dan bertahan di Academy bersama-sama!"
Semua orang mengangkat minuman masing-masing. "SETUJU!"
Sejenak rasa kebersamaan. Persatuan meski ada persaingan yang mendasarinya.
Setelah sesi berakhir, Elara menarikku ke samping.
"Kael, bisakah kita bicara sebentar?"
Aku mengikutinya ke sudut yang sepi di ruang umum.
"Aku sudah memperhatikan," ia memulai dengan hati-hati, "selama latihan sihir... kamu menyerap hal-hal dengan cepat yang tidak biasa. Jauh lebih cepat dari yang seharusnya diizinkan kurva belajar normal."
Lonceng peringatan. Aku menjaga ekspresi tetap netral.
"Berbakat?" aku menyarankan dengan lemah.
"Melampaui bakat." Ia menatapku langsung dengan mata amber itu. "Kael, aku tidak menuduh atau menghakimi. Tapi Academy akan memperhatikan. Para penguji terlatih untuk mendeteksi anomali—artefak magis, kemampuan garis keturunan, apa pun yang tidak biasa."
Sial. Aku tidak memikirkan tentang scrutiny penguji.
"Apa yang kamu sarankan?"
"Bersiaplah untuk pertanyaan. Siapkan penjelasan yang bukan kebohongan lengkap tapi juga tidak mengungkapkan terlalu banyak." Ia berhenti sebentar. "Dan... jika kamu punya sesuatu yang istimewa—artefak magis, kemampuan tersembunyi, apa pun—pastikan kamu memahaminya cukup baik untuk mengendalikannya dengan sengaja. Kekuatan yang tidak terkendali selama ujian masuk bisa berbahaya."
Saran yang mengejutkan penuh pertimbangan.
"Terima kasih," aku berkata dengan tulus. "Aku akan berhati-hati."
Ia mengangguk. "Bagus. Karena sejujurnya? Aku menyukaimu, Kael. Kamu orang yang baik dengan potensi nyata. Aku ingin melihatmu berhasil, bukan tereliminasi karena hal teknis atau kecurigaan."
Kehangatan menyebar di dadaku—apresiasi yang tulus atas kepeduliannya.
"Sama untukmu," aku membalas. "Kamu sudah membantuku lebih dari yang kamu sadari. Apa pun yang terjadi dalam ujian, terima kasih untuk segalanya."
"Jangan berterima kasih dulu," ia tersenyum. "Berterima kasihlah ketika kita berdua sudah mengenakan jubah Academy."
"Sepakat."
Malam itu, aku membereskan barang-barangku dengan pertimbangan yang cermat. Pedang dibersihkan dan diasah. Baju zirah diperbaiki. Ramuan-ramuan Gareth diisi ulang. Guild card disimpan dengan aman. Surat rekomendasi dari Kakek dilipat dalam saku yang terlindungi.
Besok, aku berpikir. Besok kita memulai tahap terakhir.
Dengan itu, aku bisa menghadapi apa pun.
[PAGI KEBERANGKATAN]
Fajar menyingsing dengan langit yang cerah—pertanda baik, mungkin.
Konvoi kereta berkumpul di alun-alun—tiga kereta untuk para kandidat yang menuju Academy, masing-masing mampu membawa sekitar sepuluh orang. Total mungkin dua puluh lima kandidat dari wilayah Ironspire saja. Tambah kandidat dari kota-kota lain, total pelamar mungkin ratusan jumlahnya.
Bersaing melawan ratusan orang untuk mungkin seratus slot penerimaan.
Tingkat penerimaan sepuluh persen.
Peluang yang menakutkan.
Kelompok belajar berkumpul untuk perpisahan terakhir dengan Ironspire.
"Jaga dirimu," Finn berkata padaku, menggenggam lengan dengan kekuatan yang mengejutkan. "Dan kalau kita berakhir di asrama yang sama, putaran minuman pertama ditanggung aku."
"Kamu tidak minum," aku mengingatkan.
"Jus kalau begitu. Intinya tetap sama."
Kedua kembar itu memelukku secara bersamaan—pengalaman yang membingungkan. "Kita akan bertemu lagi," Mira memastikan. "Pikiran positif mewujudkan kenyataan."
"Mungkin bukan begitu cara sihir bekerja," Kira berkomentar kering, "tapi sentimentalnya bagus."
Cassia menawarkan anggukan sederhana. "Semoga beruntung. Bertarung dengan cerdas."
"Kamu juga."
Derek... Derek langsung naik ke kereta tanpa perpisahan. Khas.
Elara yang terakhir. Ia menyodorkan bungkusan kecil yang dibungkus kain. "Buka nanti. Hanya sesuatu sebagai pengingat tentang kelompok belajar."
"Elara—"
"Tidak ada argumen. Sekarang naik ke kereta sebelum kita berdua mulai menangis seperti orang-orang sentimental yang bodoh."
Aku tertawa, naik ke dalam dengan bungkusan itu tersimpan hati-hati di tasku.
Bagian dalamnya sama seperti perjalanan sebelumnya—bangku yang dilapisi bantalan, jendela dengan penutup, ruang yang cukup untuk perjalanan yang nyaman. Aku mengambil posisi dekat jendela, memastikan pandangan yang baik.
Ketika kereta mulai bergerak, aku memandangi Ironspire yang perlahan-lahan mengecil—tembok-tembok masif, jalan-jalan yang ramai, Silver Quill Inn di kejauhan.
Sebuah kota yang hanya dalam lima hari telah menjadi rumah sementara. Tempat di mana aku belajar, berlatih, membuat teman-teman.
Dan sekarang... pergi menuju tujuan berikutnya.
Arcanum Academy.
Perjalanan akan memakan waktu tiga hari melalui jalan utama. Tiga hari untuk mempersiapkan diri secara mental menghadapi tantangan terbesar sejauh ini.
Aku tidak melakukan ini untuk kemuliaan atau prestise. Aku melakukan ini untuk menemukan orang tuaku, untuk sepenuhnya memahami Batu-batu itu, untuk menjadi cukup kuat melindungi apa yang penting.
Ujian masuk hanyalah langkah pertama dalam perjalanan yang lebih panjang.
Aku membuka bungkusan Elara—di dalamnya ada sebuah buku kecil. Tulisan tangan, jelas catatan yang ia kumpulkan sendiri selama sesi-sesi belajar. Judul di halaman pertama:
"Panduan Bertahan Ujian Masuk Versi Elara - Untuk Kael"
Di bawahnya, sebuah catatan singkat:
"Kamu pasti bisa. Aku percaya padamu. Jangan lupa bernapas selama ujian. — El"
Aku tersenyum meski tidak kusengaja. Hadiah yang penuh perhatian.
Menghabiskan beberapa jam pertama perjalanan membaca catatan-catatan itu—kompilasi teori yang komprehensif, tips praktis, bahkan dorongan moral yang tersebar di sepanjang pinggiran halaman.
Para penumpang lain di kereta—campuran kandidat dan musafir biasa. Satu pasangan pedagang tua. Dua pejuang muda yang mungkin mendaftar untuk jalur Tempur. Satu sosok misterius berjubah yang sama sekali tidak bicara.
Perjalanan yang sunyi. Tanpa insiden.
Pemandangan berangsur-angsur berubah dari lingkungan perkotaan menjadi bukit-bukit bergelombang, akhirnya beralih ke medan yang lebih bergunung-gunung.
Academy terletak di wilayah pegunungan—terisolir, mudah dipertahankan, jenuh dengan mana ambien dari jalur-jalur ley alami.
Lingkungan yang sempurna untuk institusi sihir.
Ketika matahari terbenam di hari kedua, aku menangkap sekilas pemandangan pertamaku.
Di kejauhan, tersihilukan terhadap langit oranye-emas—
Menara-menara. Menara-menara masif yang menjangkau awan, dihubungkan oleh jembatan-jembatan yang melayang, dikelilingi penghalang-penghalang berkilauan yang terlihat bahkan dari jarak bermil-mil.
Arcanum Academy.
Lebih mengesankan, lebih megah, lebih nyata dari deskripsi atau ilustrasi mana pun yang bisa menangkapnya.
Inilah saatnya.
Besok—tiba.
Tiga hari dari sekarang—ujian masuk, awal dari segalanya.
Besok adalah babak baru.