Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERON NOMOR SEMBILAN
Stasiun Oakhaven adalah sebuah bangunan tua dari era industrial yang dipenuhi dengan uap panas dari mesin kereta dan aroma besi yang terbakar. Langit-langitnya yang tinggi terbuat dari kaca-kaca kusam yang memperangkap cahaya abu-abu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Orang-orang berlalu-lalang seperti siluet yang terburu-buru, membawa koper-koper besar dan harapan yang sama beratnya.
Kai berdiri di dekat pilar beton nomor sembilan. Tas ranselnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah gulungan kertas di dalamnya terbuat dari timah. Di dalam sakunya, jemarinya terus meraba permukaan kunci perak pemberian Elara. Benda kecil itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak tenggelam dalam lautan kepanikan.
"Tepat waktu seperti biasa," suara Yudha muncul dari balik kabut uap kereta.
Pria itu tampak sangat rapi dengan mantel wol hitamnya, kontras dengan Kai yang terlihat kuyu dan tertutup debu arang. Di belakang Yudha, berdiri dua pria berbadan tegap yang mencoba berbaur dengan kerumunan, namun tatapan tajam mereka tidak bisa menipu Kai. Mereka adalah penjaga, atau mungkin algojo.
"Di mana dokumennya?" tanya Yudha tanpa basa-basi. Matanya berkilat penuh ambisi.
Kai tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kereta menuju ibu kota sudah bersiap, mesinnya menderu rendah, siap untuk membawa siapa pun pergi dari kota beku ini. "Aku ingin jaminan bahwa ibuku sudah dipindahkan ke rumah sakit pusat sebelum aku menyerahkan ini."
Yudha tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Kai berdiri. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Di sana, terlihat ibu Kai sedang berada di dalam ambulans modern, dikelilingi oleh peralatan medis yang canggih. "Dia sudah dalam perjalanan. Sekarang, tunjukkan padaku sketsa Lumina."
Kai menarik napas panjang. Ia mengeluarkan gulungan kertas dari tasnya. Namun, ia tidak menyerahkannya begitu saja. Ia membukanya sedikit, cukup untuk menunjukkan detail arsitektur yang sangat rumit di atas kertas kalkir tua.
"Ini yang kau cari, bukan?" tanya Kai.
Yudha melangkah maju, tangannya terjulur untuk meraihnya, namun Kai menariknya kembali.
"Ada satu hal yang tidak kau tahu, Yudha," ucap Kai, suaranya kini terdengar lebih mantap. "Ayahku tidak hanya menggambar sebuah gedung. Dia menggambar sebuah pernyataan. Aku menghabiskan sepanjang malam untuk memahami setiap garis yang dia buat. Dan aku menemukan tanda tanganmu di tempat yang tidak seharusnya."
Ekspresi Yudha berubah seketika. Ketenangannya retak. "Apa maksudmu?"
"Data enkripsi yang kau cari... itu bukan di dalam kode digital. Itu ada di dalam teknik arsirannya. Jika kau melihatnya dengan sudut pandang yang salah, kau hanya melihat gambar gedung. Tapi jika kau melihatnya sebagai seorang seniman, kau akan melihat bukti transfer dana gelap yang kau gunakan untuk menyabotase proyek ini tiga tahun lalu."
Yudha tertawa, namun kali ini suaranya terdengar tegang. "Kau hanya seorang pelukis yang cacat mental, Kai. Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Serahkan kertas itu sekarang, atau kau tidak akan pernah melihat ibumu hidup-hidup."
Dua pria di belakang Yudha mulai bergerak mendekat, menyempitkan ruang gerak Kai.
"Aku sudah membuat salinannya," bisik Kai, matanya menatap tajam ke arah Yudha. "Dan aku sudah mengirimkan foto-foto detailnya kepada seseorang yang bisa dipercaya di Oakhaven. Jika aku tidak memberikan kabar dalam satu jam, dokumen itu akan langsung sampai ke tangan pihak otoritas."
Itu adalah gertakan. Kai sebenarnya hanya menitipkan pesan pada Maya di kafe untuk memberikan sebuah amplop pada pengacara tua yang sering berkunjung ke sana, namun ia harus membuat Yudha percaya bahwa ia memiliki posisi tawar.
"Kau berani bermain-main denganku?" Yudha mencengkeram kerah mantel Kai, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kau pikir siapa kau? Kau hanya sampah yang bersembunyi di kota ini!"
"Aku adalah orang yang tidak punya beban apa pun lagi untuk kehilangan, Yudha," balas Kai dengan nada dingin yang mengejutkan dirinya sendiri. "Sedangkan kau? Kau punya segalanya untuk dipertaruhkan. Kariermu, perusahaanmu, kebebasanmu."
Suasana di peron itu mendadak menjadi sangat sunyi, meskipun suara mesin kereta masih menderu. Yudha menatap mata Kai, mencari tanda-tanda keraguan, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang dalam—jenis kehampaan yang dimiliki oleh orang yang sudah pernah melewati neraka.
Perlahan, Yudha melepaskan cengkeramannya. Ia merapikan mantelnya sendiri dengan gerakan yang gemetar. "Baiklah. Kau menang untuk hari ini. Tapi jangan pikir ini berakhir di sini. Serahkan dokumen asli itu, dan aku akan membiarkanmu pergi ke ibu kota menemui ibumu tanpa gangguan."
"Aku akan membawanya bersamaku," kata Kai. "Kau bisa mengambilnya setelah aku memastikan ibuku aman di tanganku sendiri. Bukan di tangan orang-orangmu."
Yudha memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk mundur. "Naiklah ke kereta itu. Tapi ingat, Kai... mataku ada di mana-mana. Satu gerakan salah darimu, dan kau akan menyesal pernah dilahirkan."
Kai tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam gerbong kereta. Saat kakinya menyentuh lantai kereta, ia merasakan lututnya lemas. Keberanian yang ia tunjukkan tadi hanyalah sebuah topeng tipis yang hampir saja hancur.
Ia duduk di dekat jendela, memeluk tas ranselnya erat-erat. Kereta mulai bergerak perlahan, meninggalkan peron nomor sembilan. Melalui kaca jendela yang berembun, Kai melihat sosok Yudha yang berdiri diam di peron, tampak seperti bayangan hitam yang semakin mengecil.
Namun, bukan Yudha yang ia cari.
Di ujung peron, di balik pagar pembatas, ia melihat seorang wanita dengan mantel krem dan syal yang melambai ditiup angin. Elara.
Wanita itu tidak melambai. Ia hanya berdiri di sana, menatap kereta yang membawa Kai pergi. Kai menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela yang dingin. Di kepalanya, ia seolah-olah bisa mendengar suara harmonika Elara yang memainkan nada perpisahan yang manis namun menyakitkan.
"Aku akan kembali," bisik Kai, uap napasnya menutupi pemandangan Elara di luar.
Saat kereta meninggalkan batas kota Oakhaven dan memasuki wilayah hutan pinus yang tertutup salju, Kai membuka tasnya. Ia mengambil sketsa asli Lumina. Ia memperhatikan garis-garis itu sekali lagi. Di bawah cahaya lampu gerbong yang berkedip, ia menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Ayahnya bukan hanya menyembunyikan bukti kejahatan Yudha. Di sudut kertas yang paling tersembunyi, ada sebuah coretan kecil yang baru Kai sadari. Itu adalah gambar sebuah bunga kecil yang tumbuh di antara beton—bunga yang sama dengan yang pernah ia lihat di buku ibunya.
Dan di sana, di pusat bunga itu, Kai merasakannya lagi. Sebuah denyutan di saraf matanya. Warna kuning. Tipis, samar, namun ia tahu itu kuning.
Air mata jatuh membasahi pipi Kai. Ia tidak lagi melihat dunia sebagai penjara abu-abu. Ia mulai melihatnya sebagai sebuah perjuangan. Sebuah perjalanan untuk merebut kembali warna-warna yang telah dicuri darinya.
Perjalanan menuju ibu kota akan memakan waktu berjam-jam, namun bagi Kai, ini adalah perjalanan pulang yang paling panjang dalam hidupnya. Ia tahu Yudha tidak akan membiarkannya lolos begitu saja. Ia tahu bahaya yang lebih besar menunggunya di kota yang penuh dengan lampu neon dan kebohongan itu.
Namun, setiap kali ia merasa ragu, ia menyentuh kunci perak di sakunya. Ia mengingat janji Elara. Ia mengingat bau kopi di 'The Last Note'. Dan ia tahu, selama ada satu orang saja yang menunggunya di balik kabut Oakhaven, ia akan menemukan jalan untuk kembali.
Kereta terus melaju, membelah badai salju, membawa seorang pelukis tanpa warna menuju pusat badai yang sebenarnya.