Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Berakhir Bersama Elin
Di Indonesia, Adimas hari ini akhirnya bisa bertemu dengan Elin. Ada jarak yang begitu jelas pada keduanya, noda merah tampak di leher jenjang Elin malam itu.
"Adimas, aku mau minta maaf." Elin menundukkan pandangannya, Adimas sudah tahu apa yang akan dikatakan wanita itu.
"Aku sudah tahu segalanya," ucap Adimas menghela napas kasar. Dengan pilihan Elin yang akan ke Prancis saja sudah jelas maksud Elin sesungguhnya.
"Kamu pergi ke sana, di sana berbeda. Dan di sinipun kamu sudah tidak memiliki harapan untuk tinggal. Kamu tahu, aku tahu tentang kamu dan menegermu itu sejak tujuh bulan lalu. Aku tetap diam, mencoba tenang dan tidak memperdulikan segalanya. Namun sekarang, aku ingin mempertegas semuanya." Adimas diam, di restoran yang terkesan sunyi itu Adimas mengusap cincin di jari manisnya, pemberian Rani.
"Ayo kita berpisah," ajak Adimas. Dia menyerahkan beberapa foto tentang Elin yang sudah berbuat banyak hal serong di belakang Adimas.
Elin menutup mulutnya sendiri, selama ini dia merasa sudah bersembunyi dengan baik dari Adimas. Namun ketenangan Adimas seolah membuat Elin diliputi rasa bersalah, namun dia juga perempuan yang cukup sadar diri.
"Maafkan aku," lirih lagi Elin. Adimas menghela napas kasar.
"Tidak apa-apa, namun sebaiknya di masa depan, bila kamu bertemu dengan pria yang benar-benar mencintaimu, maka perlakukanlah dia dengan baik," ucap Adimas lagi. Elin mengangguk pelan.
"Kamu tidak marah atau menamparku?" tanya Elin lagi. Dia tak menyangka akan mendapatkan tanggapan setenang itu dari Adimas.
"Mungkin karena aku sudah menemukan rumah yang aku cari, jadi aku tidak marah," ucap Adimas bangkit dari duduknya.
"Tapi, apa kita bisa jadi teman?" tanya lagi Elin. Adimas berbalik dan menggeleng pelan.
"Akan jauh lebih baik bila kita tidak usah bertemu lagi," ucap Adimas. Elin membelalakkan matanya. "Bukan aku tidak bersahabat, hanya saja ada kalanya sesuatu yang berada di masa lalu dikubur saja. Dan bila lain kali bertemu lagi, ada baiknya kita saling mengenalkan diri lagi," ucap lagi Adimas. Elin menghela napas kasar.
Tenang tapi begitu kejam, justru karena ketenangan Adimas itu pula. Adimas justru terlihat mengerikan, dan seolah setiap kata dari bibirnya menjadi kutukan bagi Elin.
Adimas pergi meninggalkan Elin. Adimas jelas lega dengan semuanya. Lega dengan statusnya yang sendiri, dan Adimas merasa sangat bersyukur karena Elin dapat introspeksi dan tahu kesalahannya sendiri dan tidak mempersulit dirinya.
Setelah kepergian Rani, Adimas seolah berada dalam ombang-ambing tidak pasti. Adimas belajar agama, namun penampilannya berubah drastis.
Guru matematika itu kini berhenti dari keinginannya mendapat legalitas. Dia memilih fokus dengan pekerjaannya sebagai bos di bengkelnya, dia juga membuat beberapa produk dan perlahan menjelma jadi bos besar setelah beberapa produk motor dikeluarkan oleh Adimas.
Pria itu berubah, dari penampilan hingga sifatnya juga perlahan berubah. Rambut Adimas kini panjang, bahkan rambutnya sering diikat karet asal saat berangkat kerja. Adimas yang dulu sangat suka naik mobil kini lebih sering naik motor, dan Adimas yang dulu pendiam tidak banyak bergaul. Kini bersama dengan Arya yang menjadi guru ngajinya, justru dibuat tersesat oleh Adimas, Arya jadi teman gilanya.
Adimas jelas tidak menyentuh minuman, tidak juga wanita, apalagi taruhan. Adimas tidak melakukan itu, hanya saja kini dia nyaman dengan dunianya.
Sedangkan Rani yang jauh di sana juga berubah, dulu dia yang usil dan sangat pecicilan. Menjelma jadi wanita tenang dan penuh pertimbangan.
Sudah hampir tiga tahun Adimas dan Rani kehilangan kontak, namun Adimas sering kali menanyakan kabar Rani pada Ziyan yang merupakan sahabat dekatnya.
.
.
.
Hari itu Adimas bersama Arya dengan sepeda motor mereka hendak memeriksa bengkel yang baru saja dibuka. Tempatnya agak jauh dari kota, namun tempat di sana banyak sekali penggunaan sepeda motor. Alhasil Adimas membangun bengkel khusus bengkel motor.
Ketika Adimas berbelok memasuki jalan perkampungan, katanya itu jalan pintas menuju bengkel yang akan dibuka oleh Adimas. Motor Arya dan Adimas berhenti mendadak. Seorang ibu di pinggir jalan dengan muka panik, hampir menangis, berteriak parau.
[Kalo kalian nanya, kok ini adegannya kaya di novel sebelah? Emang iya, aku terinspirasi dari sini awalnya. Terus muncullah ide, dan kebetulan otakku lagi butuh hiburan, alhasil aku pengen buat novel genre komedi romantis, dan jadilah Gilang dan Rangga. Disinikan bukan komedi romantis, tapi otakku masih pengen ngakak aja setiap inget kejadian ini teh, inget kejadian orang-orang di bengkel dan para anak kuliah yang selalu jadi mahasiswa abadi karena tak pernah masuk kampus, jadi aku buat adegan yang mirip aja hahahah. Begitulah!]
"Tolong maling!"
Seseorang yang belum begitu jauh dari motor Adimas tampak berlari kencang meninggalkan wanita itu. Jalan yang sepi karena kebanyakan orang di sana masih di kebun atau di tempat kerja membuat pencopet itu lari dengan mulus seolah sudah terlatih.
"Copet! Tolong! Copet!" Ibu itu masih berteriak parau. "Mas, tolong!" Ibu itu berteriak pasrah memohon pertolongan ketika melihat motor Adimas dan Arya berhenti di dekatnya.
Adimas dengan sigap melompat turun dari motornya. Melepas helm standar yang melindungi kepalanya dan melemparnya ke atas sadel. Tanpa pikir panjang ia melesat mengejar pencopet itu. Helm yang dilempar jatuh berguling terantuk keras jalanan. Beberapa gores kini menghiasi helm hitamnya itu.
Arya menatap heran. “Dimas! Naik motor aja! Cepat!” teriak Arya akhirnya, mengingatkan.
Adimas berhenti. Bodoh! Dalam pikirannya, mengejar pencopet itu ya berarti dia tidak harus ikut berlari mengejar pencopet itu. Ia menepuk kening kesal. Jaraknya dengan motornya sudah terlalu jauh. Diperlukan banyak waktu untuk mencapai sepeda motornya. Keburu pencopet itu tak terkejar. Adimas mengabaikan motornya dan kembali melesat mengejar pencopet itu.
"Bodoh! Bodoh!" rutuk Arya. Ia yang hendak menyusul Adimas dengan motornya melihat ke arah ibu yang sudah lemas itu. Ia tidak tega meninggalkan ibu itu sendiri. Akhirnya, ia turun dari motor dan menyimpan kunci motor milik Adimas, ia memapah ibu itu, duduk di atas trotoar di tepi jalan. Berusaha menenangkan.
Pencopet yang tahu kalau dirinya sedang dikejar menambah kecepatannya. Adimas mengeluarkan sumpah serapahnya kesal. Pencopet itu membelok ke arah gang kecil. Adimas berlari mengikutinya.
Jalan kampung itu mempunyai banyak belokan. Rumah-rumah yang tidak begitu besar tampak kumuh dengan pakaian-pakaian basah yang dijemur di depan rumah. Beberapa anak kecil dan ibunya yang sedang berjalan di gang itu hanya menoleh tertarik ketika Adimas dan pencopet itu berkejar-kejaran.
Mulut gang sudah tampak. Berakhir di jalan raya. Pencopet itu salah mengambil belokan. Ia tidak mengira belokan kecil yang dipilihnya akan berakhir di jalan raya.
Adimas menambah kecepatannya. Kalau pencopet itu sampai di mulut gang dan ada angkot yang sedang lewat, ia khawatir pencopet itu melompat masuk ke dalam angkot dan tak terkejar lagi.
Seseorang yang berdiri di luar mulut gang melihat tertarik. Sejak dari tadi, daripada harus memperhatikan seorang laki-laki menyebalkan yang terus merayunya, ia mengalihkan pandangannya ke dalam gang. Wajah pencopet yang sudah tampak merah dengan peluh membanjir membuat seseorang itu mengambil kesimpulan kalau orang itu adalah copet. Selain itu ia sedang menggenggam erat sebuah tas berwarna hitam lusuh, warna khas seorang ibu-ibu tua, dan berusaha lari menghindari kejaran orang di belakangnya. Dia bersiap. Dan ....
BUUGGHH!
Pencopet itu terpental. Ia terhuyung mundur. Belum sadar apa yang telah menonjok mukanya keras. Tanpa sempat dicegah, sebuah tendangan samping menghantam keras, tepat di ulu hatinya.
[Selamat kau Adimas, dulu kamu tidak kena tendangan maut itu.]
Adimas yang masih berkonsentrasi berlari di belakang pencopet itu tak sempat mengerem larinya. Sambil membelalakkan mata terkejut, ia jatuh tertimpa badan pencopet yang terjungkal ke belakang akibat tendangan itu. Ia jatuh berguling. Kepalanya terantuk jalanan gang yang dipaving. Adimas mengerang keras, pencopet itu berguling pelan menjauh dari Adimas dan kemudian tak sadarkan diri.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang