Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Penyesalan
Kepergian Alya meninggalkan luka yang mendalam di rumah itu. Hari-hari terasa sunyi, tak lagi dipenuhi suara tawa maupun langkah ringan putri yang selama ini menjadi pusat kehidupan mereka. Ayah dan ibu tirinya mulai menyadari kesalahan besar yang telah mereka perbuat.
Penyesalan datang terlambat.
Dalam diam, mereka merenungi setiap kata keras, setiap paksaan, dan setiap tuntutan yang pernah mereka lontarkan kepada Alya. Seharusnya mereka tidak memaksanya. Seharusnya mereka membiarkan Alya memilih jalan hidupnya sendiri. Kebahagiaan anak bukanlah tentang status, kemapanan, atau pandangan orang lain, melainkan tentang ketenangan hati dan rasa dicintai.
“Ayah salah… kita terlalu keras,” ucap sang ayah lirih, matanya menerawang kosong.
Ibu tiri Alya menunduk, air mata jatuh membasahi pipinya. Hatinya perih mengingat wajah Alya yang penuh tekanan, tangis yang kerap ia abaikan, serta keheningan yang dulu ia anggap sebagai kepatuhan. Kini ia mengerti, keheningan itu adalah jeritan hati yang tertahan.
Namun, penyesalan itu tidak berlaku bagi Rayhan.
Bagi Rayhan, penolakan Alya adalah luka harga diri yang tak tertahankan. Ia merasa terhina. Terluka. Terjatuh di hadapan cinta yang ia yakini pasti menjadi miliknya. Selama ini, hidupnya selalu berjalan sesuai keinginannya. Apa yang ia inginkan, pasti ia dapatkan. Namun kali ini, ia kalah—bukan oleh kekayaan yang lebih besar, bukan oleh kekuasaan yang lebih kuat, melainkan oleh cinta yang tulus.
Alya memilih Arga.
Dan keputusan itu menjadi tamparan paling keras dalam hidup Rayhan.
“Kau akan menyesal, Alya…” gumamnya dengan sorot mata dingin. “Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia.”
Sejak saat itu, dendam tumbuh dalam hatinya. Bukan lagi cinta yang mendorong langkahnya, melainkan ambisi untuk menghancurkan kebahagiaan Alya dan Arga. Rayhan bersumpah, ia akan membuat keduanya merasakan sakit yang sama seperti yang ia alami.
Di balik penyesalan keluarga dan dendam Rayhan, kehidupan Alya dan Arga berjalan penuh perjuangan. Mereka tak menyadari bahwa badai besar perlahan tengah mengintai, siap menguji cinta dan keteguhan mereka.
Bab ini menjadi titik balik:
Penyesalan keluarga yang datang terlambat, dan dendam Rayhan yang menjadi ancaman nyata bagi kebahagiaan Alya dan Arga.
Rayhan pun mulai melancarkan aksinya. Ia bertekad mencari keberadaan Alya dan Arga dengan menyewa seseorang untuk melacak jejak mereka. Dendam yang membara di hatinya membuat Rayhan tak lagi memikirkan batas moral.
Di sisi lain, Arga mendapatkan sebuah proyek besar dari klien yang selama ini ia sembunyikan dari Alya. Pekerjaan itu mengharuskannya sering bepergian ke luar Jakarta, meskipun sebagian besar tetap ia pantau dari jarak jauh dengan mengandalkan bantuan asistennya. Arga melakukan semua ini demi masa depan mereka berdua, tanpa ingin membebani Alya dengan kekhawatiran.
Tanpa mereka sadari, sebelum berangkat ke Jakarta, Rayhan ternyata telah memiliki pekerjaan yang jauh lebih baik dan jaringan luas yang memudahkannya menyusun rencana. Dengan kekuatan finansial dan ambisi balas dendam, Rayhan bersiap menjatuhkan Arga dan merebut kembali Alya, apa pun risikonya.
Arga menatap wajah Alya yang tertidur lelap di sampingnya. Wajah itu selalu menjadi sumber kekuatannya. Setiap kelelahan, setiap tekanan hidup, seolah menguap hanya dengan melihat senyum Alya. Dalam hati, Arga berjanji, apa pun yang terjadi, ia akan melakukan segalanya demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya itu.
Setiap pagi, Arga bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan sederhana, membersihkan rumah kecil mereka, lalu berangkat bekerja dengan semangat membara. Proyek demi proyek ia tangani dengan penuh tanggung jawab. Meski jarak dan waktu sering menguras tenaga, Arga tak pernah mengeluh. Baginya, lelah hari ini adalah investasi untuk kebahagiaan esok.
“Suatu hari nanti, kita akan punya rumah yang lebih layak, Alya,” gumamnya dalam hati. “Aku ingin kau hidup tanpa rasa takut, tanpa tekanan, tanpa air mata.”
Arga rela menahan lapar, menunda kesenangan pribadi, dan mengorbankan waktu istirahatnya demi menambah penghasilan. Baginya, melihat Alya tersenyum adalah hadiah terbesar. Ia ingin membuktikan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang janji, melainkan tentang perjuangan dan pengorbanan.
Di tengah segala keterbatasan, Arga tetap menanamkan harapan. Ia percaya bahwa kerja keras tak akan mengkhianati hasil. Ia ingin kelak Alya bisa berkata dengan bangga bahwa ia telah memilih orang yang tepat, bukan karena kemewahan, melainkan karena ketulusan.
Dalam sunyi malam, Arga memeluk Alya erat. Ia berbisik pelan, penuh keyakinan, “Aku tak punya segalanya, tapi aku punya cinta dan tekad. Dan dengan itu, aku akan membangun dunia yang layak untuk kita.”
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰