Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Lamaran Dan Pernikahan Bagas dengan Dita
"cantik" ucap Bagas tanpa sadar.
"Emang aku udah cantik mas dari lahir. Selama ini matamu aja yang sudah katarak" sahut Dara dengan sewot.
Bagas yang menyadari sudah salah berbicara langsung meninggalkan Dara begitu saja.
"Lihat yang bening dikit aja langsung bilang cantik. Hais,, yaa gini jadinya, kalau nikah sama orang yang salah " guman Dara lirih.
Dara melangkah kakinya menuju meja makan untuk melihat seberapa cantik calon istri kedua suaminya. Setibanya di ruang makan, semua mata tertuju kepada Dara yang tampak tampil berbeda.
"Sial, katanya mas Bagas istri nya jelek, gak pernah dandan, pakai baju apa adanya, terus katanya gak menarik sama sekali. Lah terus ini apa, gak menarik dari segi mananya coba?" Guman Dita di dalam hati.
"Nih anak pinjam bajunya siapa?, gak mungkin kalau itu baju milik dia?" Batin Bu Dewi.
"Pinjam uang kesiapa kamu bisa beli baju bagus, terus kamu pakai make up punya siapa?, setau ku di kamar cuma ada pelembab sama lipstik itu pun sudah habis" batin Bagas.
"Hai semua,, maaf sudah membuat kalian menunggu lama, aku tadi gak dengar suara mobilnya mas Bagas, jadi aku pikir mas Bagas belum pulang" ucap Dada yang basa basi lalu duduk disamping suaminya.
Dita yang melihat Dara duduk disamping Bagas mendelik Tidak suka. Dita sebenarnya sudah jengah mendengar ibu Siti yang terus bercerita dari A - Z, karena ini pertemuan pertama dengan calon mertua mau tidak mau Dita selalu menanggapi agar terkesan baik Dimata mertuanya.
"Hai mbak, kenalin aku Dita istri keduanya mas Bagas" ucap Dita kepada Dada sambil menyodorkan tangannya. Dara hanya melihat tangan Dita tanpa mau bersalaman.
"Dar, Dita mau kenalan sama kamu itu loh. Itu juga diajak salaman tangannya Dita Sampek pegel kalau digantung terus kayak gitu" ucap Bu Dewi dengan nada yang tidak suka, karena Dara mengacuhkan Dita.
"Oh iya, aku Dara pasti mas Bagas sering mengucapkan nama aku setiap kalian bercerita tentang aku. Jadi aku pikir gak perlu perkenalan lagi, lagian masih calon kN belum jadi istri mas Bagas" ucap Dara yang akhirnya mau bersalaman sama Dita walaupun dengan sedikit meremas telapak tangan Dita.
"Mas Bagas selalu curhat ke aku kalau dia mau punya keturunan loh mbak, tapi sayang nya mbak Dara nya mandul" ucap Dita yang ingin memperkeruh suasana.
"Kata siapa aku mandul?, emang aku sama mas Bagas udah periksa kesuburan?, kamu kalau punya mulut dijaga" ucap Dara yang terpancing emosi.
"Ya kata aku lah mbak. Mas Bagas tu gak mandul. Ini buktinya kalau mas Bagas gak mandul" ucap Dita dengan bangga sambil mengelus-elus perutnya yang belum membuncit.
"Maksud kamu apa yank?" tanya Bagas yang belum mengerti arah pembicaraannya Dita.
"Maksud aku sekarang aku lagi hamil anak kamu mas" ucap Dita dengan bangga.
"Serius kamu?, gak lagi nge prank kan?, aku akan menjadi ayah?" Tanya Bagas yang bertubi-tubi dengan mata berbinar dan menghampiri Dita lalu memeluk Dita.
Dara yang mendengar ucapan Dita merasa terkejut.
"Gak mungkin kalau yang dia kandung anaknya mas Bagas. Yang sebenarnya mandul itu mas Bagas bukan aku. Kok bisa Dita ngaku kalau dia lagi mengandung anaknya mas Bagas" batin Dara. Dara diam diam sudah memeriksa kesehatan rahim hasilnya bahwa dirinya sehat dan dapat hamil.
"Oh, ya ampun. Ibu sebentar lagi jadi Oma. Tuh dengerin Dar, Dita aja bisa mengandung anaknya Bagas loh. Lah kamu yang udah dua tahun menikah belum juga hamil. Berarti yang mandul itu kamu" ucap Bu Dewi yang senang karena sebentar lagi dirinya akan mendapatkan cucu meskipun cucu dari hasil nyicil sebelum menikah menurutnya tidak masalah.
"Gas, kalau begitu segera atur acara pernikahan kamu. Nanti kalau di tunda perut Dita akan semakin lama semakin besar, kasian dia kalau lagi hamil harus pakai baju pengantin yang berat" ucap Bu Dewi dengan antusias. Dita yang melihat respon ibu mertuanya dan calon suaminya ikut senang. Lalu memandang Dara dengan pandangan remeh.
"Aku gak yakin sih, kalau itu anaknya mas Bagas" ucap Dara penuh selidik. Sedangkan Dita sekertika langsung berubah ekspresi gugup.
"Apa maksud kamu?, kamu masih meremehkan aku?, kamu nya aja yang mandul!" Ucap Bagas sewot
"Kamu bilang aja iri kan sama Dita, dia bisa mengandung keturunan Bagas sedangkan kamu enggak" sentak ibu mertua.
"Terserah kalian mau percaya apa enggak!, aku bukannya iri tapi kan cuma gak percaya aja kalau yang di kandung Dita anak mu mas!" Ucap Dara.
"Ini memang anaknya mas Bagas mbak. Kalau gak percaya kita bisa tes DNA kok" ucap Dita dengan percaya diri karena bisa Dita pastikan kalau Bagas tidak akan mau kalau harus tes DNA. Bagas yang mendengar ucapan Dita lantas menatap tajam Dara.
"Aku gak setuju, setahu ku kalau tes DNA masih didalam kandungan resikonya sangat besar. Lagian kamu kenapa sih Dar bilang enggak percaya kalau yang di kandung Dita anak aku?, kamu iri kan?, gak usah iri, kalau anaknya Dita sudah lahir kalian bisa membesarkan bersama-sama" ucap Bagas yang masih menatap tajam Dara. Dara yang tidak mau kalah dengan Bagas membalas tatapan tajamnya.
"Iya mbak, mbak Dara gak usah sedih, nanti kita besarkan anak ini bersama- sama ya" ucap Dita yang sok baik padahal dalam hatinya ketawa senang karena berhasil mengalahkan Dara.
"Hidih, membesarkan bersama- sama ogah sih, yang ada malah akunya nya nanti jadi baby sitter gratisan, urus aja sendiri" batin Dara.
"Sudah, gak usah ribut, sekarang kita tentuin aja kapan kalian menikah?" Ucap Bu Dewi yang sudah pusing mendengarkan adu mulut antara Dara, Dita dan Bagas.
"Bagaimana kalau satu bulan dari sekarang Bu?" Tanya Bagas yang meminta pendapat.
"Kelamaan gas, itu pasti nanti perut Dita sudah sedikit membuncit pasti nanti kalian menjadi bahan gunjingan kalau mereka tau Dita hamil duluan" sahut Bu Dewi.
"Kalian nikah dua Minggu lagi aja, untuk Minggu depan acara lamaran terus Minggu depannya kalian nikah" ucap Dara dengan santai. Semua yang berada di ruang makan langsung menatap Dara. Mereka semua baru menyadari kalau Bagas belum melamar Dita secara resmi.
"Betul itu yang dibilang Dara. Kamu belum melamar Dita di hadapan orang tuanya Gas" ucap Bu Dewi yang membenarkan ucapan Dara.
"Kalau begitu deal ya Minggu depan aku melamar Dita di depan orang tuanya, Minggu depannya lagi aku dan Dita menikah" ucap Bagas untuk memastikan.
"Iya, nanti persiapan biar ibu dan Dara yang mempersiapkan" ucap Bu Siti dengan semangat. Sedangkan Dara yang mendengar namanya disebut juga memicingkan matanya.
"Aku suruh mempersiapkan acara lamaran sama pernikahan mas Bagas dengan istri keduanya?, idih gak Sudi!, tapi gak papa sih itung-itung itu bakti aku yang terakhir sebelum menjadi mantan istri" batin Dara mencoba legowo.
"Kamu siap yank kalau kita menikah dua Minggu lagi?. Setau ku kalau hamil trimester pertama ibu hamil mabuk parah" tanya Bagas kepada Dita.
"Dita setuju aja mas. Si dedek gak akan membuat ibunya susah" ucap Dita dengan tersenyum.
"Kalau gitu sebelum dua Minggu lagi akte cerai harus sudah turun. Berarti besok pagi aku harus membuat janji sama Reyhan" batin Dara