EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Umroh
Sore hari, sebuah tantangan kembali datang. Saat Zunaira hendak kembali ke asramanya, ia berpapasan dengan rombongan pengurus santri putri.
Di tengah-tengah mereka ada Ustadzah Sarah yang belakangan ini nampak lebih sering memperhatikan gerak-gerik Zunaira.
"Ustadzah Zunaira, saya dengar tadi pagi Gus Azlan menitipkan tugas khusus di perpustakaan?" tanya ustadzah Sarah dengan nada menyelidik.
"Biasanya Gus Azlan kalau memberi instruksi lewat rapat resmi, kok tumben sekali lewat perpustakaan?" lanjutnya tanpa sadar mengintrogasi Zunaira
Zunaira merasa tenggorokannya kering, namun ia teringat sisi spiritual yang selalu Azlan tekankan yaitu ketenangan adalah kunci kemenangan.
"Nggih Mbak Sarah." jawab Zunaira tenang.
"Gus Azlan sedang sangat sibuk menyiapkan dokumen akreditasi madrasah untuk tahun depan dan beliau tidak ingin mengganggu jam istirahat para ustadzah dengan rapat-rapat tambahan jadi beliau menaruh berkas referensi di rak Fathul Mu'in untuk saya pelajari terlebih dahulu, bukankah lebih efisien begitu?" jawab Zunaira dengan tenang.
Sarah terdiam sejenak untuk mencari celah dalam jawaban Zunaira.
"Begitu ya? Baiklah, tapi hati-hati Zu karena banyak pasang mata yang mengawasi, jadi jangan sampai niat baik untuk bekerja malah disalahartikan." ucap ustadzah Sarah memperingatkan rekan mengajarnya.
"Terima kasih pengingatnya Mbak Sarah, saya selalu ingat pesan Abah Kyai bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, maka kita harus selalu menjaga marwah pesantren." jawab Zunaira telak, membuat Sarah tak punya alasan lagi untuk bertanya.
Malam itu, Zunaira tidak bisa langsung tidur tapi ia mengambil Kitab Tafsir Jalalain maharnya dan membukanya di bawah lampu meja yang temaram.
Ia membaca catatan kecil Gus Azlan yang ia temukan di perpustakaan tadi pagi dan di balik nota vitamin itu ada tulisan tangan yang sangat rapi.
"Zu, sabtu malam setelah isya, Abah ingin kita berkumpul sebentar di ruang rahasia mushala, ada hal penting soal perkembangan bangunan gedung baru yang ingin beliau diskusikan, sekaligus mungkin sebentar saja kita bisa duduk dalam satu ruangan tanpa perlu merasa takut dilihat orang, bersabarlah istriku karena setiap vitamin yang kau telan adalah doaku yang mengalir di nadimu."
Air mata Zunaira luruh, betapa suaminya itu berusaha sekuat tenaga menjaganya di tengah keterbatasan ini. Dan dia teringat ayat yang sering dibaca Gus Azlan.
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5)
Zunaira menyadari bahwa pernikahan rahasia ini bukan hanya soal sembunyi-sembunyi, melainkan sebuah madrasah kedewasaan bagi batinnya.
Ia belajar melayani tanpa pengakuan, mencintai tanpa pamer dan bersabar tanpa batas.
Setiap kotak bekal yang ia kirim lewat Ummi, setiap vitamin yang ia ambil di sela rak kitab adalah bentuk pengabdian yang sunyi namun sangat bermakna di hadapan Allah.
Ia menutup kitabnya lalu bersujud syukur, meskipun dunia belum memanggilnya istri Gus Azlan namun di mata langit ia adalah wanita yang telah dimuliakan oleh ikatan suci di sepertiga malam.
Kerahasiaan di balik jilbabnya bukan lagi beban, melainkan perisai yang menjaga keindahan cinta mereka hingga waktu yang tepat tiba.
Zunaira mematikan lampu kamarnya, namun hatinya tetap terang oleh janji suci yang akan selalu ia jaga, sekuat ia menjaga setiap ayat yang ia hafal.
...****************...
Malam Sabtu di Pesantren Al-Anwar biasanya diisi dengan kegiatan manaqiban atau musyawarah santri senior.
Riuh rendah suara lantunan doa dari kejauhan terdengar seperti dengung lebah yang menenangkan.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Zunaira berjalan dengan langkah yang disamarkan.
Ia mengenakan mukena berwarna gelap dan melapisinya dengan kerudung lebar, seolah hendak menuju ke kamar mandi umum untuk mengambil wudhu, padahal tujuannya adalah pintu belakang mushala pribadi ndalem.
Sebagaimana pesan yang terselip di rak kitab kemarin dan malam ini adalah pertemuan keluarga yang tidak tercatat.
Jantungnya berdegup kencang, meskipun sudah resmi menjadi istri Gus Azlan dan setiap kali harus berdekatan dengan suaminya di lingkungan pesantren, ia merasa seperti sedang menjalankan misi rahasia yang mempertaruhkan segalanya.
Begitu melewati pintu kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja, Zunaira disambut oleh Ning Arifa yang sudah menunggu dengan wajah ceria.
"Mbak Zu! Masuk Mbak, aman semua santri khadam sedang di masjid besar." bisik Arifa sambil menarik tangan Zunaira.
Di dalam ruangan itu, suasananya begitu kontras dengan ketegangan yang dirasakan Zunaira di luar.
Kyai Hamid duduk di kursi kayu jatinya yang besar, Ummi Salamah sedang menuangkan teh dan di sudut ruangan ada Gus Haidar tengah memangku Naura yang nampak mengantuk namun menolak untuk tidur.
Gus Azlan berdiri di dekat jendela, begitu melihat Zunaira masuk matanya langsung beradu pandang, ada binar kelegaan yang tak terbendung di wajah pria itu.
"Assalamu’alaikum." ucap Zunaira lirih.
"Wa’alaikumussalam." jawab seisi ruangan hampir serentak.
"Sini Nak Zunaira, duduk di dekat Ummi." ajak Ummi Salamah dengan suara yang sejuk.
Naura yang melihat kedatangan Zunaira pun langsung melepaskan diri dari pangkuan ayahnya dan berlari kecil menuju Zunaira.
"Ustadzah Zu! Paman Azlan tadi bilang kalau Ustadzah mau datang dan Naura harus kasih permen ini." Bocah kecil itu menyodorkan sebutir permen cokelat dengan tangan mungilnya.
Zunaira tersenyum kemudian mengelus kepala Naura.
"Terima kasih, Sayang." ucap Zunaira lembut.
"Naura." tegur Gus Haidar sambil tertawa kecil.
"Pamanmu itu memang pandai menyuap keponakannya sendiri supaya rahasianya dijaga." lanjut Gus Haidar tidak percaya adiknya mengatakan hal itu kepada sang anak.
Azlan hanya bisa berdehem canggung, meski senyum tipis tak bisa lepas dari bibirnya.
Interaksi keluarga ini begitu hidup membuat Zunaira sesaat lupa bahwa di luar sana, ia harus berpura-pura tidak mengenal pria yang kini duduk di hadapannya sebagai suami.
Setelah suasana mencair, Kyai Hamid berdehem pelan tanda bahwa pembicaraan serius akan dimulai dan semua orang merapat, menciptakan lingkaran kecil yang intim.
"Azlan, Zunaira." panggil Kyai Hamid.
Beliau menatap keduanya dengan tatapan kebapakan yang dalam.
"Abah tahu, empat bulan ini tidak mudah bagi kalian karena hidup dalam bayang-bayang dan harus menahan diri untuk tidak sekadar menyapa di depan umum, abah melihat kesabaran kalian dan Abah bangga." ujar Kyai Hamid.
Kyai Hamid terdiam sejenak, mengambil sebuah amplop panjang dari atas meja.
"Gedung madrasah baru akan diresmikan tiga bulan lagi dan itu adalah momen yang kita sepakati untuk mengumumkan pernikahan kalian secara resmi agar tidak ada lagi fitnah dari pihak manapun, termasuk keluarga Kyai Mansur. Namun sebelum badai peresmian itu tiba, Abah ingin kalian memiliki waktu untuk benar-benar bernapas sebagai suami istri." lanjutnya.
Beliau menyerahkan amplop itu kepada Gus Azlan, dengan tangan yang sedikit gemetar Gus Azlan membukanya dan matanya membelalak.
"Ini... tiket Umrah, Bah?" tanya Azlan tak percaya.
"Bulan depan, hanya kalian berdua dan satu pendamping dari biro perjalanan kepercayaan Abah di luar kota dan di sana, di depan Ka'bah kalian tidak perlu sembunyi, kalian bisa bergandengan tangan, kalian bisa beribadah bersama tanpa takut ada mata-mata pesantren yang melihat dan anggap saja ini hadiah dari Abah dan Ummi untuk awal pernikahan kalian yang sunyi." ujar Kyai Hamid.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...