NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: Ujian Tanah dan Kesetian yang Dibaktikan

Portal berwarna hijau tua menyala dengan terang saat Ye Chen melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Wajahnya penuh dengan tekad, namun juga terdapat sedikit keraguan yang tersembunyi di dalam matanya. Sejak awal, dia selalu merasa berada di bayangan kemampuan luar biasa Feng dan ketenaran Linglong sebagai putri keluarga Ye. Sekarang saatnya dia membuktikan nilai dirinya sendiri.

Di dalam ujian, dia menemukan dirinya berdiri di tengah desa kecil yang sangat mirip dengan desa Feng sebelum dibakar. Rumah-rumah kayu yang sederhana berdiri rapi di sepanjang jalan tanah, dan suara anak-anak yang bermain memenuhi udara. Namun suasana damai itu segera sirna ketika sekelompok orang berpakaian hitam dengan lambang Sekte Ular Hitam muncul dari balik bukit.

“Selamat datang di ujian ketiga, Ye Chen,” suara yang kuat dan dalam terdengar dari belakangnya. Dia menoleh dan melihat sosok ayahnya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu berdiri dengan sikap tegas. Wajahnya sama seperti yang dia ingat—kuat, penuh perhatian, namun juga sangat menuntut.

“Bapak?” bisik Ye Chen dengan suara yang penuh dengan kejutan dan emosi. Ia tidak pernah berpikir akan melihat ayahnya lagi setelah dia terbunuh oleh Sekte Ular Hitam saat dia masih berusia belas tahun.

“Di sini, kamu harus membuat pilihan yang sulit, anakku,” ujar sosok ayahnya dengan suara yang penuh kedalaman. “Kamu akan menghadapi kesempatan untuk membalas dendam atas kematianku, atau melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang akan menjadi korban selanjutnya. Pilihlah dengan bijak—karena pilihanmu akan menentukan siapa kamu sebenarnya.”

Saat kata-katanya keluar, sekelompok penduduk desa yang tak berdaya mulai berlari ke arah mereka, dengan anggota Sekte Ular Hitam mengejar dari belakang. Di sisi lain desa, sosok pemimpin Sekte Ular Hitam yang membunuh ayahnya berdiri dengan senyum sinis, menantangnya untuk bertempur.

Ye Chen merasakan darahnya mendidih dengan kemarahan. Selama bertahun-tahun, dia telah bermimpi untuk bertemu dengan pembunuh ayahnya lagi dan membalas dendam yang telah lama tertahan. Sekarang kesempatan itu ada di depannya—dia hanya perlu meninggalkan penduduk desa dan mengejar pembunuh itu.

Namun ketika dia melihat wajah-wajah penuh ketakutan pada anak-anak dan orang tua yang berlari mencari perlindungan, ingatan tentang apa yang diajarkan ayahnya muncul di benaknya. “Kesetiaan bukan hanya tentang membela keluarga atau membalas dendam,” suara ayahnya terdengar di ingatannya. “Kesetiaan adalah tentang melindungi yang lemah dan menjadi pembela bagi mereka yang tidak bisa membela diri sendiri.”

Tanpa ragu lagi, Ye Chen mengambil pedangnya dan berlari ke arah penduduk desa yang sedang dalam bahaya. Dia menghadang sekelompok anggota Sekte Ular Hitam yang mengejar mereka, menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Setiap gerakan pedangnya presisi dan tepat sasaran, tidak menyia-nyiakan satu pun tenaga.

“Sini! Mari kita berkelahi jika kamu berani!” teriaknya, menarik perhatian semua penyerang ke arah dirinya. Dengan begitu, penduduk desa memiliki kesempatan untuk berlari ke tempat yang aman.

Dia bertempur dengan lima anggota Sekte Ular Hitam sekaligus, gerakannya semakin lancar dan penuh keyakinan. Setiap serangan yang dia berikan berasal bukan dari kemarahan, tapi dari keinginan yang tulus untuk melindungi orang lain. Saat dia mengalahkan penyerang terakhir, sosok ayahnya dan pembunuhnya muncul berdiri bersebelahan di depan dia.

“Kamu telah membuat pilihan yang benar, anakku,” ujar sosok ayahnya dengan senyum bangga. “Kamu telah membuktikan bahwa kesetiaanmu bukan hanya untuk keluarga atau untuk balas dendam—kesetiaanmu adalah untuk kebaikan dan keadilan.”

Pembunuh ayahnya juga mengangguk dengan rasa hormat. “Aku membunuh ayahmu karena aku salah paham tentang kekuatan dan kekuasaan,” katanya dengan suara yang rendah. “Namun melihatmu hari ini membuatku menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan yang besar. Kamu lebih baik dariku dalam segala hal.”

Saat sosok-sosok itu mulai menghilang seperti daun yang terbawa angin, suara lembut terdengar di udara: “Kamu telah melewati ujian ketiga. Kamu telah membuktikan bahwa kamu memiliki kesetiaan yang tulus dan tanggung jawab yang besar terhadap orang lain.”

Ketika pemandangan desa menghilang, Ye Chen menemukan dirinya kembali di depan pintu gua. Feng dan Linglong segera mendekatinya dengan wajah penuh kagum dan kebahagiaan.

“Kita tahu kamu bisa melakukannya!” ujar Linglong dengan senyum ceria. Dia memberikan pelukan pada sepupunya, merasa bangga dengan apa yang dia capai.

Ye Chen tersenyum dengan lega, merasa seperti beban berat telah terangkat dari pundaknya. “Aku akhirnya mengerti apa yang selalu ingin diajarkan ayahku padaku,” katanya dengan suara yang penuh emosi. “Kekuatan sebenarnya bukanlah tentang bisa membunuh atau menguasai orang lain—kekuatan sebenarnya adalah tentang bisa melindungi mereka yang kita cintai.”

Tepat ketika dia menyelesaikan kata-katanya, pintu batu raksasa di depan mereka mulai bergetar dengan kuat. Bagian atas pintu itu perlahan terbuka, mengungkapkan lorong gelap yang dalam dengan cahaya keemasan samar yang terpancar dari dalam. Di atas pintu, tulisan kuno mulai menyala dengan terang:

“Selamat datang, pembela yang layak. Warisan naga telah menunggu kamu.”

Mereka memasuki lorong dengan hati-hati, diiringi oleh cahaya keemasan yang semakin terang seiring mereka semakin dalam. Dinding gua di kedua sisi mereka dihiasi dengan lukisan dinding yang menceritakan sejarah hubungan antara manusia dan naga—cerita tentang persahabatan, perang, dan perjanjian yang telah dibuat berabad-abad yang lalu.

“Lihat itu,” bisik Feng sambil menunjuk ke salah satu lukisan. Lukisan itu menunjukkan seorang pria dengan wajah yang mirip dengannya berdiri bersama Naga Putih Tianwu, dengan sebuah pedang besar yang menyala cahaya keemasan di antara mereka. “Itu adalah nenek moyangku yang pertama kali bersatu dengan naga.”

Mereka melanjutkan perjalanan sampai akhirnya mencapai ruangan utama gua yang luas. Di tengah ruangan, sebuah panggung batu tinggi ditempatkan dengan sebuah kotak batu besar di atasnya. Cahaya keemasan yang sangat terang terpancar dari dalam kotak itu, dan mereka bisa merasakan getaran kekuatan yang luar biasa dari dalamnya.

Sebelum mereka bisa mendekati panggung, sosok besar muncul dari balik bayangan—Naga Putih Tianwu yang telah membimbing Feng berkali-kali berdiri dengan anggun di dalam ruangan. Tubuhnya panjang dan megah, dengan sisik yang berkilau seperti permata putih di bawah cahaya gua. Matanya yang berwarna biru kebiruan melihat mereka dengan pandangan yang penuh dengan kedalaman dan kebijaksanaan.

“Selamat datang, keturunan Chen, putri Ye, dan pemuda dari keluarga Ye,” suara naga itu terdengar di benak mereka semua, lembut namun penuh kekuatan. “Aku adalah Tianwu, penjaga Pedang Naga selama lebih dari seribu tahun. Kamu telah melewati ujian dengan baik dan membuktikan bahwa kamu layak untuk mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik warisan ini.”

Feng melangkah ke depan dengan tekad yang kuat, matanya penuh dengan kejelasan. “Kami telah datang untuk mengambil Pedang Naga,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kami perlu kekuatannya untuk mengalahkan Sekte Ular Hitam dan membawa perdamaian kembali ke Tanah Seribu Pegunungan.”

Tianwu mengangguk perlahan, lalu memalingkan kepalanya ke arah kotak batu. “Pedang Naga memang ada di sana,” ujarnya. “Namun sebelum kamu bisa mengeluarkannya dan menguasainya, kamu harus mengetahui kebenaran yang sebenarnya—kebenaran tentang asal-usul Sekte Ular Hitam dan mengapa mereka begitu ingin mendapatkan pedang itu.”

 

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!