NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Seharusnya Tidak Di Dengar

Sepanjang jalan menuju lumbung, Aisyah tidak berkata apa-apa.

Pikirannya masih di pematang sawah Bu Karsih — cara tubuh Fariz melipat, cara tangannya mendorong sesuatu yang tidak ada, dan cara ayahnya mengangguk satu kali seolah itu semua sudah sesuai dengan yang ia perkirakan. Kakinya melangkah otomatis di atas jalan berbatu, melewati deretan pohon bambu yang bergerak pelan di angin sore.

"Mbak jangan melamun," kata Karno dari belakang. "Tempat ini angker."

Aisyah tidak menjawab.

Karno mencoba lagi. "Bapak bilang tahun ini hasilnya paling bagus dari lima tahun terakhir. Mbak Aisyah pasti capek hitung semuanya."

Ringan. Terlalu ringan untuk sore yang seperti ini.

Aisyah menoleh sebentar ke arahnya — wajah Karno tenang, senyum kecil di ujung bibirnya, mata yang menunggu ia menjawab. Seperti seseorang yang berusaha memindahkan percakapan ke tempat yang lebih aman.

Ia berbalik dan terus berjalan.

Lumbung desa berbau kemenyan sejak pintu belum terbuka sepenuhnya.

Seorang pria tua duduk di dekat pintu masuk, dupa di tangannya menyala redup, asapnya melingkar naik dalam ruangan yang tidak terlalu lebar. Ia mendongak saat Aisyah masuk.

"Pak De." Aisyah mengangguk. "Aku izin hitung semuanya sama Mas Karno ya."

"Silakan, Mbak." Pria tua itu mengantarnya ke ruang penyimpanan di bagian dalam.

Karung-karung hasil panen berjejer rapi — tomat, paprika, bayam, jagung. Aisyah mulai dari ujung kiri, mencatat satu per satu dengan teliti, tangannya bergerak teratur dari karung ke karung.

Sampai tangannya menyentuh karung jagung di barisan paling ujung.

Sesuatu mengalir dari kain karung itu ke telapak tangannya — bukan dingin, bukan panas biasa. Lebih seperti getaran yang sangat pelan, seperti denyut yang bukan milik benda mati. Aisyah menarik tangannya. Menatap telapaknya sebentar.

Tidak ada apa-apa.

Ia melirik ke Karno — dan menemukan Karno sedang melirik ke pria tua itu. Keduanya tidak berkata apa-apa. Tidak bergerak. Hanya tatapan yang berlangsung terlalu lama untuk disebut kebetulan.

Mereka tahu sesuatu.

Aisyah menelan pertanyaan itu, menyimpannya di tempat yang sama dengan semua pertanyaan lain yang belum punya waktu untuk dijawab. Ia mencatat angka di karung jagung itu tanpa menyentuhnya lagi, lalu melanjutkan ke karung berikutnya.

Hampir dua jam mereka menghitung.

Beberapa warga datang membawa hasil tambahan sehingga semua harus dihitung ulang dari awal. Ketika selesai, Karno menyerahkan catatan finalnya kepada Aisyah.

"Ini sudah semua, Mbak."

Aisyah memeriksa angkanya. Mengangguk. "Ayo pulang."

Ia sengaja mengambil jalan yang berbeda.

Bukan jalan yang biasa ia lewati — tapi jalan yang memutar kembali ke arah sawah Bu Karsih. Kakinya bergerak sebelum pikirannya sepenuhnya memutuskan, seperti ada sesuatu yang ingin ia periksa ulang meski ia tidak tahu apa yang ia cari.

Di tikungan sebelum jalan besar, ia melihat Fariz.

Berjalan sendirian, langkah yang biasa, tidak ada yang tampak salah dari caranya bergerak. Bukan seperti orang yang tadi hampir jatuh di sawah. Aisyah hampir memanggil, bibirnya sudah terbuka setengah — ketika ia melihat dua orang di belakangnya.

Langkah mereka hati-hati. Terlalu hati-hati. Berjarak cukup jauh tapi terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.

"Mas." Aisyah menyentuh lengan Karno. "Itu—"

"Sudah, Mbak." Karno memotong sebelum ia selesai. Tidak kaget, tidak melihat ke arah yang Aisyah tunjuk. Seperti seseorang yang sudah tahu apa yang ada di sana sebelum ditunjukkan. "Jangan ikut campur. Kita pulang sekarang."

Ia mendahului Aisyah, mengambil jalan lain.

Aisyah berdiri dua detik di tempatnya — menatap punggung Fariz yang terus berjalan tanpa tahu ia diikuti, menatap dua orang di belakangnya yang bergerak seperti bayangan. Lalu ia mengikuti Karno.

Tapi di dalam kepalanya, sesuatu mulai menyambung.

Darma Wijaya menerima catatan Aisyah tanpa banyak bicara.

"Ini baru sebagian, Pak. Karena sudah terlalu sore, jadi aku dan Mas Karno putuskan hitung lagi besok."

"Ndak perlu." Ayahnya membalik beberapa halaman catatan itu dengan cepat, matanya bergerak dari angka ke angka. "Besok kamu di rumah saja. Biar bapak yang selesaikan sama para tengkulak."

Ia meletakkan catatan itu di meja dan masuk ke kamarnya.

Pintu tertutup.

Aisyah berdiri di ruang tengah yang kini sepi, menatap catatan yang tadi ia susun dengan teliti tapi kini tergeletak di tepi meja seperti sesuatu yang tidak terlalu penting. Di luar, langit mulai kehilangan warnanya.

Malam datang dengan pelan.

Aisyah berdiri di depan jendela kamarnya, menatap halaman yang diterangi cahaya bulan yang setengah tertutup awan. Pikirannya berputar — sawah Bu Karsih, karung jagung yang berdenyut, dua orang yang mengikuti Fariz, cara Karno memotongnya sebelum ia selesai bicara.

Krak.

Gemeratak daun kering dari arah halaman belakang.

Aisyah menoleh. Dari jendela kamarnya ia bisa melihat sudut samping rumah — dan dua sosok yang bergerak mengendap ke arah ruangan belakang, ruangan yang biasa dipakai ayahnya untuk pertemuan yang tidak pernah ia diizinkan masuk.

Dua orang yang sama.

Yang tadi ia lihat mengikuti Fariz.

Aisyah tidak langsung bergerak.

Ia berdiri di tempat yang sama selama beberapa detik — menimbang, menghitung risiko, mendengarkan suara di dalam kepalanya yang bilang jangan dan suara lain yang lebih pelan tapi lebih keras yang bilang pergi.

Ia memilih yang kedua.

Tanpa alas kaki, ia keluar dari kamarnya, menyusuri koridor yang gelap dengan langkah yang dijaga agar tidak berbunyi. Dinding di sisinya terasa dingin di bawah telapak tangannya. Di ujung koridor, ia berbelok ke kanan — menuju sudut bangunan yang bisa ia gunakan sebagai penutup.

Ruangan belakang itu menyala redup dari dalam. Suara langkah, suara kursi bergeser.

Aisyah mendekat ke jendela di ujung dinding, yang siripnya sudah miring sejak lama dan tidak pernah diperbaiki. Celah itu cukup untuk suara lewat.

"Hey, ngapain ke sini?" Suara Karno — tegas, tapi pelan.

"Semuanya sudah siap, Pak." Suara yang tidak Aisyah kenal. "Tengkulak datang besok pagi. Mereka tidak akan tahu berapa yang sebenarnya."

Aisyah mengerutkan dahi. Tengkulak. Jadi ini soal laporan panen yang berbeda dari kenyataan.

"Anak itu?" Suara baru. Langkah yang berat, perlahan — Aisyah mengenali ritme langkah itu bahkan sebelum suaranya selesai.

Ayahnya.

"Sepertinya dia mulai melihat sesuatu, Pak. Tapi kami yakin dia belum tahu apa-apa soal malam ini." Suara pertama kembali. "Sang Dewi Kuasa tidak perlu menunggu lama. Suguhan sudah siap sebelum tengkulak datang besok."

Aisyah menahan napas.

"Anak itu?"

"Siapa yang dimaksud?" Pikirannya bergerak cepat menelusuri kembali semua yang terjadi hari ini, semua potongan yang belum tersambung. Sawah Bu Karsih. Fariz yang hampir jatuh lalu berjalan normal begitu keluar. Dua orang yang mengikutinya pulang. Karno yang memotong sebelum ia selesai bicara.

Jawabannya sudah ada sejak tadi. Ia hanya belum mau mengakuinya.

Langkah kaki Darma Wijaya bergerak.

Ke arah jendela.

Aisyah menekan tubuhnya ke dinding, bahu menempel di batu yang dingin dan kasar. Napasnya ia tahan — penuh, tidak dilepaskan, tidak satu hembus pun. Langkah itu semakin dekat. Berhenti.

Tepat di sisi jendela tempat ia bersembunyi.

Satu langkah lagi, satu keputusan kecil untuk membuka sirip itu,  dan semuanya selesai.

Tidak ada yang bergerak.

Darma Wijaya berdiri di sana beberapa detik yang terasa seperti beberapa menit. Aisyah bisa mendengar napasnya  pelan, teratur, napas orang yang tidak terburu-buru karena tidak pernah merasa perlu terburu-buru.

Lalu langkah itu kembali menjauh.

"Pastikan semuanya berjalan sebelum subuh," kata Darma Wijaya dari dalam. "Dan pastikan tidak ada yang tahu."

Suara pintu. Langkah yang menjauh ke dalam rumah.

Aisyah tidak bergerak sampai semuanya sunyi.

Lalu ia berjalan kembali ke kamarnya — lebih cepat dari tadi, tapi tetap tanpa suara. Tangannya menemukan meja, laci, kertas, pulpen. Ia duduk.

Dan mulai menulis.

Bukan dengan rapi, tulisannya tidak beraturan, beberapa kata dicoret dan ditulis ulang. Tangannya tidak sepenuhnya stabil. Tapi ia tidak berhenti. Setiap kata yang ia dengar tadi ia turunkan ke kertas satu per satu, sebelum bagian dari dirinya yang lebih pengecut berhasil meyakinkannya bahwa mungkin ia salah dengar, mungkin ia salah paham, mungkin semua ini bisa dijelaskan dengan cara yang tidak menghancurkan semua yang selama ini ia percaya.

Ia tidak mau mungkin.

Tidak malam ini.

Di luar, desa tidur dalam diam yang selalu terasa seperti ketenteraman.

Aisyah tahu sekarang bahwa ada perbedaan antara diam yang tenang dan diam yang menahan sesuatu.

Dan Sumberarum sudah lama memilih yang kedua.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!