NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 RESTU DI UJUNG PERJALANAN

Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan dalam keheningan yang aneh. Bukan hening karena kami berhenti berbicara, tetapi hening karena setiap kata kini terasa lebih berat. Aku dan Nisa tetap saling memberi kabar, tetapi tidak lagi seramai dulu. Ada ruang yang kami beri untuk diri masing-masing, ruang untuk berpikir tanpa tekanan.

Aku kembali menata hidupku seperti biasa. Pagi hari tetap dimulai dengan suara mesin motor bekasku. Aku membersihkannya lebih lama dari biasanya, seakan mencari jawaban di setiap kilap kecil yang muncul di bodinya. Motor ini selalu sederhana, tapi setia. Ia tidak pernah menuntut jalan yang mulus, hanya butuh dirawat agar tetap berjalan.

Di kantor, aku mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Target demi target kuselesaikan. Rekan-rekanku tetap hangat seperti biasa, bercanda tanpa beban. Namun di sela tawa itu, pikiranku sering melayang.

Suatu siang, atasanku memanggilku.

“Kamu terlihat lebih pendiam akhir-akhir ini,” katanya.

Aku tersenyum tipis. “Sedikit banyak pikiran pribadi, Pak.”

Ia mengangguk. “Ingat, hidup itu soal memilih. Tapi setiap pilihan ada konsekuensinya. Pastikan kamu siap dengan konsekuensinya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menghantam tepat di hatiku.

Di rumah, suasana juga terasa berbeda. Mama tidak lagi membahas Nisa secara langsung, tetapi aku tahu ia sedang menunggu sikapku. Kakakku pernah mendekatiku di dapur saat sedang membantu memotong sayur.

“Kamu masih memikirkannya?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Kamu harus jujur pada dirimu sendiri. Tapi jangan lupa, keluarga juga bagian dari hidupmu.”

Aku tahu itu. Itulah yang membuat semuanya terasa sulit.

Malam itu, Nisa mengajakku bertemu lagi. Kali ini bukan di kafe, bukan di taman kota. Ia memilih masjid kampusnya sebagai tempat berbicara. Tempat yang tenang, tempat orang biasa mencari jawaban.

Kami duduk di halaman, jarak di antara kami cukup, tetapi hati terasa dekat.

“Aku sudah berbicara dengan orang tuaku,” katanya pelan. “Mereka juga punya kekhawatiran yang sama.”

Aku menunduk. “Tentang agama?”

Ia mengangguk.

Perbedaan itu kini berdiri jelas di hadapan kami. Bukan sekadar status di kolom biodata, tetapi prinsip hidup yang menyangkut masa depan, anak-anak, cara beribadah, bahkan cara memaknai hidup.

“Aku tidak ingin kita memaksakan sesuatu yang pada akhirnya menyakiti banyak orang,” lanjutnya.

Aku memejamkan mata sejenak. Selama ini aku selalu berpikir cinta bisa mengatasi segalanya. Namun kini aku sadar, cinta juga harus realistis.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis, lesung pipitnya muncul meski matanya sedikit berkaca-kaca.

“Aku ingin yang terbaik untuk kita. Bahkan kalau itu berarti tidak bersama.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.

Beberapa minggu setelah percakapan itu, kami sepakat untuk memberi jarak. Bukan untuk saling melupakan, tetapi untuk memberi ruang agar hati tidak memaksa.

Hari-hariku kembali sederhana. Kantor, rumah, motor, teh manis buatan mama, dan bakwan goreng kakak. Namun ada ruang kosong yang terasa.

Aku mulai lebih sering berbicara dengan mama, bukan untuk berdebat, tetapi untuk memahami.

“Ma,” kataku suatu malam, “kalau aku memilih berbeda dari harapan mama, apa mama akan membenciku?”

Mama menatapku lama, lalu tersenyum lembut.

“Mama tidak akan pernah membencimu. Mama hanya takut kamu menderita.”

Aku terdiam. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat ketakutan di balik sikapnya. Ia tidak sedang memaksakan adat. Ia sedang melindungi anaknya.

“Mama pernah melihat pernikahan beda keyakinan yang tidak berjalan baik,” lanjutnya. “Mama tidak ingin kamu mengalami itu.”

Aku mengangguk pelan.

Malam itu, aku berdoa lebih lama dari biasanya.

Waktu berjalan. Aku mulai fokus memperbaiki diriku. Aku mengikuti kursus tambahan, memperluas jaringan kerja, bahkan merencanakan membeli motor baru suatu hari nanti. Namun motor bekasku tetap setia.

Suatu sore, saat aku memarkirkannya seperti biasa, ponselku bergetar.

Pesan dari Nisa.

“Aku ingin bertemu sekali lagi.”

Kami bertemu di tempat pertama kali kami minum kopi. Suasana terasa seperti mengulang awal, tetapi hati kami jauh lebih dewasa.

“Aku sudah banyak berpikir,” katanya.

“Aku juga.”

Ia menarik napas panjang. “Aku tidak ingin kita saling menyakiti. Perbedaan ini terlalu besar untuk diabaikan. Dan aku tidak ingin kamu harus memilih antara aku dan keluargamu.”

Aku menatapnya, mencoba menghafal setiap detail wajahnya.

“Kamu adalah salah satu bagian terindah dalam hidupku,” lanjutnya pelan. “Tapi mungkin kita memang dipertemukan bukan untuk bersama, melainkan untuk belajar.”

Air mata akhirnya jatuh, bukan deras, tetapi cukup untuk menandai akhir sebuah bab.

Aku mengangguk. “Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.”

Kami berpisah tanpa kebencian. Tanpa drama. Hanya dua hati yang memilih kedewasaan.

Hari-hari setelahnya terasa sunyi, tetapi tidak hancur. Aku tetap bekerja, tetap pulang membawa cemilan, tetap menikmati teh manis buatan mama. Hidup terus berjalan.

Perlahan, aku menyadari sesuatu. Cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Kadang ia berakhir dengan merelakan.

Motor bekasku masih menemaniku. Setiap kali mengendarainya, aku teringat perjalanan panjang ini. Dari keberanian mengirim pesan, tawa di kedai kopi, hingga perpisahan yang tenang.

Suatu malam, mama duduk di sampingku.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Aku tersenyum tipis. “Iya, Ma.”

Mama memegang tanganku. “Suatu hari nanti, kamu akan bertemu seseorang yang sejalan denganmu dalam segala hal. Dan saat itu, semuanya akan terasa lebih mudah.”

Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk.

Beberapa bulan kemudian, hidupku terasa lebih stabil. Di kantor, aku resmi mendapat kenaikan jabatan kecil. Gajiku bertambah. Tabunganku mulai terlihat lebih nyata.

Aku tetap merawat motor bekasku, meski kini aku mampu membeli yang baru. Entah mengapa, aku belum ingin melepasnya. Ia adalah saksi perjalanan hatiku.

Suatu sore, saat matahari tenggelam, aku duduk di depan rumah dengan secangkir teh manis di tangan. Angin berhembus pelan.

Aku membuka Instagram. Nama Nisa masih ada di daftar pengikutku. Ia terlihat bahagia dengan kegiatannya. Aku tersenyum tulus.

Aku tidak lagi merasa sakit. Hanya rasa syukur karena pernah mengenalnya.

Hidup mengajarkanku satu hal besar: tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Dan tidak semua perpisahan adalah kegagalan.

Kadang, restu memang berada di ujung perjalanan—bukan untuk hubungan yang kita pertahankan, tetapi untuk hati yang kita dewaskan.

Aku berdiri, memandang motorku yang terparkir rapi.

Perjalanan masih panjang.

Dan kali ini, aku siap melanjutkannya dengan hati yang lebih matang.

Beberapa bulan berlalu sejak perpisahan itu. Luka yang dulu terasa menganga kini berubah menjadi bekas yang samar. Ia tidak lagi perih, tetapi tetap mengingatkanku bahwa aku pernah mencintai dengan sungguh-sungguh.

Aku mulai menikmati ritme hidup yang baru. Bangun pagi tanpa menunggu notifikasi pesan. Berangkat kerja tanpa berharap ada sapaan manis di sela-sela rapat. Anehnya, semuanya terasa lebih tenang. Tidak lebih bahagia, tetapi lebih stabil.

Suatu Minggu pagi, mama memintaku menemaninya ke acara adat keluarga di luar kota. Sebuah pesta pernikahan sepupu jauh. Aku sempat ragu untuk ikut. Pesta pernikahan selalu mengingatkanku pada rencana-rencana yang dulu kubuat bersama Nisa. Namun akhirnya aku mengangguk.

Perjalanan itu cukup panjang. Di dalam mobil sewaan, mama banyak bercerita tentang masa mudanya. Tentang bagaimana ia dulu juga tidak sepenuhnya setuju dengan pilihan opa dan oma terhadap papa.

“Mama juga pernah melawan,” katanya sambil tersenyum kecil.

Aku terkejut. “Serius, Ma?”

Mama mengangguk. “Dulu mama ingin merantau jauh. Tidak mau diatur soal jodoh. Tapi akhirnya mama sadar, keluarga itu bukan musuh. Mereka hanya ingin memastikan kita tidak jatuh.”

Aku terdiam. Ada sesuatu yang hangat di dadaku mendengar pengakuan itu.

Di pesta pernikahan itu, aku melihat kebahagiaan yang sederhana. Tawa keluarga, pelukan hangat, dan doa-doa yang diucapkan dalam bahasa Batak yang kental. Aku memandang pengantin yang berdiri di pelaminan dengan pakaian adat lengkap. Mereka terlihat bangga dan yakin.

Mama menepuk bahuku pelan.

“Lihatlah, Nak. Pernikahan bukan hanya tentang dua orang. Ini tentang dua keluarga, dua tradisi, dua dunia yang disatukan.”

Aku mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami sudut pandang mama, bukan sebagai larangan, tetapi sebagai kekhawatiran.

Sekembalinya dari acara itu, aku merasa ada yang berubah dalam diriku. Bukan berarti aku menyesal pernah mencintai Nisa. Justru sebaliknya, aku bersyukur pernah melalui semua itu.

Aku mulai membuka diri pada lingkungan. Di kantor, aku lebih aktif mengikuti kegiatan sosial perusahaan. Aku ikut komunitas lari kecil-kecilan setiap Sabtu pagi. Tubuhku terasa lebih sehat, pikiranku lebih jernih.

Suatu hari, di acara bakti sosial perusahaan, aku bertemu seorang perempuan bernama Maria. Ia rekan dari divisi lain. Kami tidak langsung akrab, hanya berbincang ringan soal pekerjaan dan hobi. Tapi ada sesuatu yang berbeda—tidak ada rasa berdebar yang berlebihan, hanya rasa nyaman yang pelan-pelan tumbuh.

Maria adalah orang yang tenang. Ia banyak mendengar sebelum berbicara. Dan yang membuatku tersenyum, ia juga berasal dari keluarga Batak yang memegang adat dengan kuat. Namun ia tidak kaku. Cara berpikirnya terbuka dan dewasa.

Beberapa kali kami mulai bertukar cerita sepulang kerja. Tentang mimpi, tentang keluarga, bahkan tentang luka masa lalu. Aku tidak langsung menceritakan semuanya tentang Nisa, tetapi suatu malam aku memilih jujur.

“Aku pernah mencintai seseorang yang berbeda keyakinan,” kataku.

Maria tersenyum lembut. “Dan kamu belajar banyak darinya, kan?”

Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya. Sangat banyak.”

Ia tidak menghakimi. Tidak bertanya terlalu jauh. Ia hanya berkata, “Setiap orang datang untuk mengajarkan sesuatu.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa menenangkan.

Hubungan kami tidak berjalan cepat. Tidak ada janji-janji besar dalam waktu singkat. Kami berjalan perlahan, seperti dua orang yang sama-sama berhati-hati.

Suatu malam, aku memberanikan diri memperkenalkannya pada mama. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, tetapi karena ingin semuanya berjalan baik.

Mama menyambutnya dengan hangat. Mereka berbicara tentang keluarga, tentang kampung halaman, bahkan tentang masakan khas Batak. Aku melihat mama tersenyum lebih sering malam itu.

Setelah Maria pulang, mama duduk di ruang tamu bersamaku.

“Dia perempuan yang baik,” kata mama pelan.

Aku tersenyum. “Mama suka?”

Mama mengangguk. “Yang penting kamu bahagia. Dan kali ini, mama merasa kamu lebih tenang.”

Aku menunduk, menahan haru.

Namun di tengah semua itu, suatu malam aku kembali membuka pesan lama dari Nisa. Bukan untuk mengulang luka, tetapi untuk mengucapkan terima kasih dalam hati.

Aku akhirnya mengirim satu pesan sederhana:

“Semoga kamu selalu bahagia. Terima kasih untuk semuanya.”

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

“Kamu juga. Semoga menemukan kebahagiaanmu.”

Tidak ada rasa sakit. Hanya kedamaian.

Aku menutup ponsel dan menatap langit-langit kamar. Hidup memang tidak selalu membawa kita pada apa yang kita inginkan. Tapi ia selalu membawa kita pada apa yang kita butuhkan.

Beberapa bulan kemudian, aku dan Maria semakin dekat. Tidak ada drama. Tidak ada konflik besar. Kami banyak berdiskusi tentang masa depan dengan kepala dingin.

“Aku ingin pernikahan yang sederhana,” katanya suatu sore.

“Aku juga,” jawabku.

Kami membicarakan mimpi tentang rumah kecil, tentang anak-anak yang tumbuh dalam nilai yang sama, tentang keluarga yang saling mendukung.

Untuk pertama kalinya, rencana itu terasa realistis dan tidak penuh ketakutan.

Suatu malam, di teras rumah dengan teh manis di tangan, aku berkata pada mama,

“Ma, kalau waktunya tiba, aku ingin melamar Maria.”

Mama tersenyum, matanya berkaca-kaca.

“Mama akan mendoakanmu.”

Aku memandang motor bekasku yang masih setia terparkir di depan rumah. Ia telah menjadi saksi perjalanan hatiku—dari cinta yang penuh gejolak hingga cinta yang tenang.

Kini aku mengerti.

Cinta bukan hanya soal memperjuangkan. Kadang, cinta adalah soal melepaskan agar kita dipertemukan dengan yang sejalan.

Dan di titik ini, aku tidak lagi mengejar restu di ujung perjalanan.

Aku berjalan dengan restu yang sudah ada sejak awal—restu dari keluarga, dan restu dari hatiku sendiri.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!