NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KLIEN ANONIM

02:17 AM. Atap Gedung Aristo Prime, Jakarta.

Jakarta tidak pernah tidur, ia hanya pingsan sebentar karena kelelahan. Dari ketinggian ini, Raka bisa mencium bau khas kota ini yang merayap naik menembus filter maskernya campuran antara aspal panas yang mendingin, asap knalpot sisa kemacetan tadi sore, dan aroma sampah dari bantaran kali yang tak jauh dari Sudirman. Angin dini hari menghantam wajahnya, bukan sebagai hembusan yang menyegarkan, tapi lebih seperti tamparan kasar yang membawa debu halus.

Raka menyesuaikan posisi setelan ghillie hitamnya. Di film film, bahan ini terlihat keren. Kenyataannya? Rasanya seperti memakai karpet wol di tengah sauna. Keringat mengucur di pelipisnya, membuat matanya perih.

"Selamat datang di neraka, Raka," gumamnya pelan. Suaranya pecah, ditelan oleh deru angin yang bersiul di sela sela rangka baja rooftop.

Di bawah sana, lantai 48 adalah tujuannya. Prospera Capital. Sebuah firma yang katanya memiliki sistem keamanan paling mahal di Asia Tenggara. Bagi Raka, mereka hanyalah sekumpulan orang kaya paranoid yang butuh pembuktian bahwa uang mereka tidak bisa membeli keselamatan absolut. Klien anonimnya menyebut ini sebagai audit. Raka lebih suka menyebutnya sebagai ajang pamer.

Ia memeriksa Signal Jammer yang terikat di pergelangan tangan kirinya. Alat itu mengeluarkan bunyi nging frekuensi tinggi yang hanya bisa didengar oleh telinga yang terlatih. Lima antena mikro di sana sedang bekerja keras, mencoba mencekik semua gelombang radio dalam radius lima meter. Indikator LED nya berkedip biru pucat, seolah-olah sedang sekarat.

"Jangan mati sekarang, brengsek," umpat Raka saat melihat sinyalnya sedikit fluktuatif.

Ia mengaitkan grappling hook ke rangka baja utama. Tali Dyneema berdiameter 3mm itu terlihat rapuh, seperti benang jahit yang mencoba menantang gravitasi. Tapi Raka tahu, benda ini bisa menahan beban satu ton. Masalahnya bukan pada talinya, tapi pada keberaniannya untuk melangkah keluar dari tepi beton ini.

Raka menarik napas dalam, merasakan paru-parunya terisi udara tipis ketinggian Jakarta, lalu ia terjun.

Turunnya tidak semulus di film aksi. Angin malam di antara gedung pencakar langit adalah predator. Sebuah hembusan tiba tiba menghantam tubuh Raka, melemparkannya ke samping hingga bahunya menghantam dinding kaca dengan bunyi gedubrak yang cukup keras.

"Sialan!" Raka mengumpat, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokan. Ia berhenti sejenak, menempel pada dinding kaca seperti cicak hitam yang ketakutan. Ia menunggu. Menunggu alarm berbunyi, menunggu lampu sorot, menunggu tim SWAT mendobrak pintu di bawah sana.

Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.

Hening. Kaca gedung Aristo Prime cukup tebal untuk meredam kecerobohannya. Raka mengatur napasnya kembali, mengendurkan glove geseknya, dan lanjut meluncur. Kaki kakinya mendorong dinding kaca secara ritmis, mencoba menjaga keseimbangan di tengah angin yang terus mencoba menghempaskannya ke aspal Sudirman.

Sampai di lantai 48, ia berhenti tepat di depan jendela besar kantor CEO. Dari balik kacamata night vision nya, ruangan di dalam tampak seperti hutan hantu berwarna hijau berpendar. Tidak ada tanda tanda kehidupan. Hanya deretan meja mahoni dan kursi kulit yang harganya mungkin cukup untuk menghidupi satu kelurahan di pinggiran Jakarta selama setahun.

Raka mengeluarkan Laser Microphone. Tangannya sedikit gemetar efek adrenalin dan dinginnya angin. Ia menempelkan sinar laser merah tak terlihat itu ke kaca. Di telinganya, hanya terdengar suara statis. Tidak ada napas penjaga, tidak ada dengungan AC yang biasanya aktif.

"Terlalu sepi," pikirnya. Perasaannya mulai tidak enak. Instingnya yang sudah terasah selama bertahun-tahun di dunia gelap spionase berbisik bahwa ada yang salah. Tapi, pesanan tetaplah pesanan.

Ia mengambil pemotong kaca thermal mikro. Alat itu bekerja dengan cara memanaskan titik kecil di kaca hingga mencapai suhu ekstrem, lalu mendinginkannya secara instan dengan gas nitrogen cair. Krek. Sebuah lingkaran sempurna terbentuk. Raka menekan bagian kaca itu dengan cup penghisap, menariknya keluar, lalu merogoh ke dalam untuk membuka kunci magnetik jendela.

Klik.

Jendela terbuka tanpa suara. Raka menyelinap masuk, mendarat di atas karpet tebal yang baunya seperti bahan kimia pembersih ruangan. Begitu kakinya menyentuh lantai, ia merasa dunia di sekelilingnya mendadak berubah. Suara angin di luar menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Raka bergerak seperti bayangan. Ia mengeluarkan Ghost Emitter perangkat kecil yang seharusnya menipu sensor inframerah dengan menciptakan panas tubuh palsu yang acak. Ia berjalan menuju meja utama, tempat sebuah laptop touchscreen tipis duduk dengan angkuhnya.

Ia merogoh sakunya, mengambil sebuah kartu nama hitam matte tanpa logo. Di dalamnya tertanam chip NFC yang akan mengirimkan pesan singkat ke server Prospera: Security Compromised.

Raka meletakkan kartu itu di atas keyboard. "Selesai. Terlalu mudah," bisiknya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sebelas menit empat puluh detik. Rekor baru.

Ia berbalik untuk kembali ke jendela. Tapi tepat saat ia melangkah, jammer di lengannya mendadak bergetar hebat. Indikator biru itu berubah menjadi merah darah dan mulai berkedip liar.

​Pagi di rumah Raka tidak dimulai dengan alarm ponsel, melainkan dengan alarm biologis yang sudah tertanam di otaknya selama belasan tahun. Begitu kelopak matanya terbuka, kesadaran Raka langsung berada pada level seratus persen. Tidak ada kantuk, tidak ada disorientasi.

​Ia bangkit dari tempat tidur pegasnya yang keras ia benci kasur empuk yang membuat tubuh manja dan langsung melakukan ritual wajib 50 diamond push up dan 10 menit plank statis. Keringat mulai membasahi kaos mikrofiber hitamnya, menonjolkan garis garis otot yang kering dan fungsional, bukan otot binaraga yang besar namun lamban. Setiap serat ototnya dirancang untuk satu tujuan efisiensi.

​Raka berjalan menuju dapur minimalisnya yang tampak lebih seperti laboratorium daripada tempat memasak. Sambil menunggu mesin kopi manualnya mengekstraksi kafein, ia menatap ke luar jendela.

Rumah ini tampak seperti rumah beton biasa dari luar, namun di balik dindingnya tertanam lapisan mesh tembaga yang menjadikannya sebuah Faraday Cage.

Tidak ada sinyal WiFi yang keluar, tidak ada gelombang radio yang masuk tanpa izinnya. Di sini, ia benar benar hantu.

​Sambil menyesap kopi hitam tanpa gula, Raka menyalakan terminal komputer pusat di basement nya. Ruangan ini adalah jantung dari dunianya. Enam monitor melengkung menyala, menampilkan aliran data dari berbagai sumber bursa saham global, frekuensi radio kepolisian, hingga pergerakan satelit di orbit rendah.

​Namun, pikirannya masih tertahan pada kejadian di gedung Aristo Prime semalam. Drone mikro itu.

​"Siapa yang memilikinya?" gumamnya pelan. Suaranya serak, jarang digunakan untuk berbicara dengan manusia lain.

​Raka adalah pria yang terobsesi dengan kendali. Baginya, variabel yang tidak diketahui adalah ancaman. Sejak ia mati dalam operasi gagal di perbatasan sepuluh tahun lalu operasi yang mengkhianati seluruh timnya Raka telah menghapus jati dirinya.

Ia tidak memiliki KTP aktif, tidak ada akun media sosial, tidak ada hubungan emosional. Baginya, keterikatan adalah kelemahan.

​Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa lapar yang tak terpuaskan. Bukan lapar akan makanan, tapi lapar akan kompetensi. Ia merasa paling hidup justru saat nyawanya berada di ujung tanduk, saat ia harus memeras otaknya untuk meretas sistem enkripsi tingkat militer atau melakukan manuver taktis yang mustahil.

​Tiba tiba, salah satu monitornya berkedip merah. Sensor di gerbang luar mendeteksi beban seberat 50 gram di kotak pos rahasianya.

​Raka segera memeriksa kamera pengawas tersembunyi. Tidak ada orang. Hanya sebuah truk pengantar barang yang baru saja lewat. Ia mengambil pistol Glock 17 dari bawah meja, memeriksa ruang peluru, dan bergerak menuju gerbang dengan langkah tanpa suara yang sudah menjadi sifat alaminya.

​Di dalam kotak pos, ia menemukan sebuah paket kecil terbungkus plastik kedap udara. Di dalamnya bukan surat, melainkan sebuah Floppy Disk 3,5 inci yang sudah menguning teknologi purba yang seharusnya sudah berada di museum.

​Raka mengerutkan kening. Mengirimkan data digital lewat media fisik kuno adalah teknik spionase klasik untuk menghindari eavesdropping digital. Hanya ada satu orang yang masih menggunakan metode ini. Seseorang yang ia kira sudah terkubur bersama masa lalunya.

​Kembali di basement, Raka mengeluarkan pembaca disk eksternal tua yang ia simpan di dalam kotak anti statik. Saat mesin itu mulai berderit membaca data, sebuah perasaan yang jarang ia rasakan muncul: kecemasan.

​Layar monitor hitam itu perlahan menampilkan barisan kode hijau yang familiar. Kode-kode itu membentuk sebuah lambang yang membuat jantung Raka berdegup kencang. Sebuah lingkaran dengan garis melintang di tengahnya.

​"protokol sunyi," Raka berbisik. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak pucat di bawah sinar monitor.

​Itu bukan sekadar pesan. Itu adalah panggilan tugas bagi orang orang yang sudah dianggap mati. Dan di dunia Raka, jika Protokol Sunyi aktif, itu berarti kiamat sudah mulai berhitung mundur.

​Raka menatap pantulan dirinya di layar yang gelap. Seorang pria dengan mata tajam yang telah melihat terlalu banyak kematian, kini menyadari bahwa masa tenang yang ia bangun dengan susah payah baru saja berakhir. Ia bukan lagi seorang auditor independen. Ia kembali menjadi sang Hantu dalam jaringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!