💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Cia menaikkan sebelah alisnya, menantang ancaman Viona dengan seringai sinis.
"Oh ya? Kita lihat saja siapa yang kan menyesal nanti," cibir Cia dengan nada mengejek yang membuat Viona semakin meradang. Baginya, Viona hanyalah nyamuk pengganggu yang tidak perlu ditanggapi serius.
Viona semakin geram dengan jawaban Cia yang meremehkannya, baru kali ini ada anak baru yang berani menentang dirinya. Ia maju selangkah, mencoba mengintimidasi Cia dengan mendekatkan wajahnya. "Lo bakal nyesel udah berani ngelawan gue," bisik Viona dengan suara penuh ancaman yang terdengar menggelikan di telinga Cia.
Cia tertawa meremehkan. "Ngelawan? Gue bahkan gak ngerasa lo itu lawan," balas Cia dengan tatapan mata yang mengejek. Ia tidak sedikit pun merasa takut dengan ancaman Viona.
"Berani lo ya! Lo hanya anak baru miskin yang tersasar di SMA Garuda ini, dan asal lo tahu aja jika bokap gue lah yang punya donatur terbesar di SMA ini! " desis Viona, deng angkuh lalu memberi isyarat pada kedua temannya untuk bertindak.
Sindy dan Mira langsung maju dan mencoba mendorong Cia tubuh Cia. Namun belum sempat mereka menyentuh kulitnya ia lebih dulu bergerak cepat, Cia menepis tangan Sindy dan berbalik menendang kaki Mira hingga gadis itu meringis kesakitan. Cia menyeringai puas melihat ekspresi terkejut di wajah Viona.
"Ck! Lo yakin jika bokap Lo itu donatur sekolah ini?" balas Cia dengan tatapan menyelidik sama sekali tak percaya.
"Dan gue gak suka disentuh," lanjut Cia dingin, menatap tajam kedua teman Viona yang kini tampak ragu-ragu untuk menatapnya.
"Lepasin gue!" teriak Sindy dengan nada ketakutan.
Cia menoleh pada Viona dengan tatapan menantang. "Mau lanjutin?" tantang Cia dengan senyum miring yang membuat Viona merinding sekaligus kesal.
Viona mengepalkan tangannya erat-erat, menahan amarah yang meluap-luap. Ia tidak menyangka bahwa Cia akan seberani itu melawannya balik. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak berkali-kali oleh Cia.
"Awas lo," desis Viona, lalu berbalik dan pergi meninggalkan meja Cia dengan langkah menghentak-hentakan kakinya dengan kesal, diikuti kedua temannya yang meringis kesakitan.
Setelah Viona dan gengnya pergi, Cia menghela napas lega. Ia merasa puas karena berhasil membuat Viona dan teman-temannya mundur. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengintimidasinya.
Cia menghela napas, namun bukan lega yang ia rasakan, melainkan perasaan datar yang hampa. Baginya, menghadapi Viona dan antek-anteknya sama seperti menginjak semut, tidak memuaskan, hanya sedikit mengganggu.
Ia menatap punggung Viona yang menjauh dengan seringai sinis yang nyaris tak terlihat. Baginya, Viona hanyalah pion kecil dalam permainan yang jauh lebih besar.
Varo, yang sedari tadi menjadi penonton setia pertunjukan drama singkat itu dari pintu masuk, berjalan mendekat dengan langkah santai yang khas. Ia menarik kursi di depan Cia dan duduk dengan gaya seenaknya, seolah kelas itu adalah perpanjangan dari kamarnya sendiri. Ia tahu, di balik sikap dingin Cia, ada gejolak emosi yang berusaha disembunyikan.
"Viona masih nyari masalah?" tanya Varo dengan nada santai, namun sorot matanya menunjukkan perhatian yang tulus. Ia tahu betul, Cia tidak akan pernah mencari masalah, tapi masalahlah yang selalu datang padanya.
Cia memutar bola matanya dengan malas, ekspresi wajahnya menunjukkan kebosanan yang teramat sangat.
"Ya, begitulah. Biarin aja, aku mau lihat sejauh mana tuh anak berani bertindak," jawab Cia dengan nada acuh tak acuh. Ia tidak merasa terancam, melainkan penasaran sejauh mana Viona akan merusak dirinya sendiri.
Varo tertawa pelan, namun kali ini ada nada khawatir dalam tawanya. "Lo emang nggak pernah berubah," ujarnya sambil menggelengkan kepala. "Tapi tetep hati-hati. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang berbahaya. Lo tahu kan, Viona itu nekatnya nggak ketulungan kalau udah dibutakan sama dendam."
Cia mendengus, namun kali ini suaranya tidak sedingin biasanya. Ada semburat kelembutan yang muncul, meski hanya sesaat.
"Gue bisa jaga diri, Var," balasnya singkat, namun sorot matanya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Lagian, kalau mereka berani macam-macam, gue nggak akan tinggal diam. Mereka yang bakal nyesel udah cari gara-gara sama gue."
Varo mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke, oke. Gue cuma ngingetin aja," ujarnya sambil menyeringai.
"Oh ya, tadi gue lihat Aksa keluar dari kelas ini. Ada apa? Jangan bilang, jika ia masih belum nyerah juga buat ngejar lo?"
Cia menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan rasa jengkel yang mendalam. Ia merasa seolah-olah membahas Aksa hanya membuat kepalanya tambah pusing. "Nggak penting. Standar lah, modus murahan," jawabnya malas.
Varo menaikkan sebelah alisnya, menatap Cia dengan tatapan penuh selidik. "Lo yakin! Tapi dia cowok populer loh! Di luar sana banyak cewek yang ngantri ingin jadi pacarnya! Tapi Lo malah nolak pesonanya begitu aja!"
"Jangan ngaco!" potong Cia dengan nada tajam, pipinya merona merah tiba-tiba. Ia kesal ketika Varo mulai menggodanya tentang cowok. Ia merasa seolah-olah privasinya dilanggar.
"Gue nggak tertarik sama cowok populer kayak dia. Cowok kayak gitu cuma bikin ribet dan drama."
Varo tersenyum jahil, menyadari bahwa Cia berusaha mengelak. Ia tahu betul, di balik sikap dingin dan cuek Cia, ada sisi lembut dan rapuh yang berusaha disembunyikan.
"Yakin?" godanya, lagi kini lebih semangat.
"Siapa tahu aja, dia bisa bikin lo jatuh cinta. Lo kan juga manusia, punya hati dan perasaan. Nggak mungkin kan, lo mau jomblo terus seumur hidup?"
Cia mendelik tajam ke arah Varo, matanya memancarkan kilatan kesal yang berbahaya. "Jangan pernah lagi bahas cowok itu di depan gue," desisnya dengan nada dingin yang membuat Varo yang sudah sering melihatnya tapi tetap aja merinding.
"Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama cowok kayak dia. Lebih baik gue jomblo seumur hidup daripada milih tu cowok resek!"
Varo tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Cia. "Jangan terlalu membenci nanti malah bucin sama dia!" lanjutnya Varo dengan seringai jahilnya. Ia tahu betul bahwa Cia hanya berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, dan ia sangat menikmati momen ini. Ia selalu merasa senang ketika bisa membuat Cia keluar dari zona nyamannya.
"Oke, oke, gue percaya," ujarnya sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa. "Tapi inget, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Lo juga butuh seseorang untuk berbagi, Cia. Nggak baik kalau lo memendam semuanya sendirian."
Bersambung ....
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,