"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Siapa Pria dari Masa Lalu itu?
Jakarta menyambut kepulangan mereka dengan langit mendung yang seolah ikut merasakan ketegangan di hati Clarissa. Begitu mendarat, Devan tidak membiarkan Clarissa menginjakkan kaki di tanah tanpa pengawalan ketat. Empat mobil SUV hitam sudah menunggu di landasan pacu pribadi.
"Kita langsung ke kantor Notaris Surya. Tim IT-ku sudah melacak bahwa proses balik nama aset Wijaya sedang berlangsung di sana sekarang," Devan berbicara dengan nada komando sambil memeriksa jam tangannya.
Clarissa hanya mengangguk. Ia sudah berganti pakaian dengan setelan blazer merah menyala dan celana kain hitam—sebuah pernyataan perang yang jelas. Meskipun wajahnya adalah Lestari, namun cara ia melipat tangan dan tatapan matanya yang dingin adalah milik Clarissa Wijaya, sang Ratu Bisnis yang ditakuti.
"Ingat, kau tetap di belakangku," bisik Devan saat mereka sampai di depan gedung kantor notaris.
"Iya, iya, Tuan Posesif. Kau sudah mengatakannya seratus kali sejak di pesawat," sahut Clarissa jengkel.
Begitu pintu ruang rapat notaris dibuka, Clarissa langsung melihat sosok pria asing duduk di kursi utama, membelakangi pintu. Di sampingnya berdiri seorang pengacara paruh baya yang tampak gemetar memegang dokumen.
"Maaf, sepertinya perjamuan pencurian ini harus dihentikan," suara Clarissa menggema, memecah kesunyian ruangan.
Pria yang duduk di kursi itu berputar perlahan. Ia masih muda, mungkin seumuran dengan Devan. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun ada sepasang mata biru yang sangat kontras dengan rambut hitamnya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi.
Begitu melihat Clarissa, pria itu berdiri. Senyum tipis mengembang di bibirnya, sebuah senyum yang tampak sangat familiar bagi tubuh Lestari.
"Lestari? Kau akhirnya pulang, Kecil," ucap pria itu dengan suara yang berat namun lembut.
Clarissa mematung. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dan ada rasa rindu yang asing menyeruak dari ingatan-ingatan kabur tubuh Lestari. "Kau... siapa?"
"Kau tidak ingat aku?" Pria itu melangkah maju, namun Devan segera menghadangnya. Dada mereka hampir bersentuhan, menciptakan aura permusuhan yang sangat kental.
"Berhenti di sana, Tuan. Siapa kau dan apa hakmu menyentuh aset keluarga Wijaya?" Devan bertanya dengan nada yang sangat rendah, tangannya sudah siap menarik Clarissa ke belakang tubuhnya.
Pria itu terkekeh, menatap Devan dengan tatapan meremehkan. "Namaku Julian. Dan soal hak... aku adalah tunangan sah dari Lestari. Kami dibesarkan bersama di bawah perlindungan 'Keluarga' yang sama."
DEG!
Clarissa merasa seperti tersambar petir. Tunangan? Lestari punya tunangan?
"Tunangan?" Devan tertawa sinis, suaranya mengandung ancaman murni. "Lucu sekali. Gadis ini adalah asisten pribadiku dan dia tidak pernah menyebut nama seorang pecundang sepertimu."
Julian mengabaikan Devan dan menatap langsung ke mata Clarissa. "Lestari, aku tahu kau mengalami masa sulit. Hendrawan memang bajingan karena mencoba memanfaatkanmu. Aku di sini untuk menyelamatkanmu, dan juga mengambil apa yang menjadi hakmu sebagai bagian dari Naga Hitam."
"Cukup!" Clarissa maju, menyingkirkan tangan Devan yang menghalanginya. Ia menatap Julian dengan tajam. "Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak peduli dengan status tunangan itu. Dokumen yang kau pegang itu palsu. Aku tidak pernah menandatangani penyerahan aset Wijaya!"
Julian mengangkat satu alisnya, tampak terkejut dengan keberanian Lestari yang sekarang. "Oh? Kau berubah banyak ya? Dulu kau hanya gadis kecil yang selalu bersembunyi di belakangku saat latihan fisik. Tapi sidik jari ini... ini asli, Lestari. Kau memberikan sampelnya sepuluh tahun lalu saat kita mengucap sumpah darah."
Julian meletakkan sebuah dokumen di atas meja. Di sana terdapat cap darah berbentuk naga yang di tengahnya ada sidik jari Lestari.
"Itu sumpah masa kecil! Tidak berlaku di pengadilan!" Devan membanting dokumen itu ke meja. "Dengar, Julian atau siapa pun kau. Pergi dari sini sekarang, atau aku akan memastikan organisasi Naga Hitam-mu itu menjadi sejarah malam ini juga."
Julian tidak merasa terintimidasi. Ia malah melirik tangan Devan yang menggenggam pergelangan tangan Clarissa. "Kau sangat posesif pada aset orang lain, Tuan Mahendra. Tapi perlu kau ingat, darah Naga tidak bisa dimiliki oleh orang luar. Lestari, aku akan memberimu waktu tiga hari. Kembali padaku, atau aku akan menghancurkan Mahendra Group dimulai dari sektor logistiknya besok pagi."
Tanpa menunggu jawaban, Julian berjalan keluar diikuti oleh para pengawalnya. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, ia menoleh ke arah Clarissa. "Sampai jumpa di rumah, Kecil."
Suasana di dalam mobil dalam perjalanan pulang sangat mencekam. Devan diam seribu bahasa, namun urat-urat di tangannya yang memegang kemudi terlihat menonjol. Clarissa tahu, singa di sampingnya ini sedang dalam mode cemburu buta tingkat dewa.
"Devan, soal tunangan itu... aku benar-benar tidak tahu," Clarissa mencoba mencairkan suasana.
"Oh, benarkah?" Devan menyahut sinis. "Tatapanmu tadi tidak bilang begitu. Kau menatapnya seolah kau baru saja melihat pahlawan masa kecilmu."
"Itu memori tubuh ini, bukan jiwaku! Kau tahu sendiri perasaanku!" Clarissa mulai emosi. "Kenapa kau malah marah padaku? Harusnya kita fokus pada ancamannya terhadap logistikmu!"
Devan mendadak menginjak rem, membuat mobil berhenti mendadak di pinggir jalan yang sepi. Ia berbalik, menatap Clarissa dengan tatapan yang sangat intens dan posesif.
"Aku tidak peduli dengan logistikku! Aku bisa membangun sepuluh perusahaan lagi dalam semalam!" bentak Devan. "Tapi pria itu... dia menatapmu seolah dia memilikimu lebih lama dariku. Dia tahu masa kecilmu, dia tahu sumpah darahmu. Dan aku? Aku hanyalah rival bisnismu yang kebetulan mencintaimu!"
Clarissa tertegun. Ia melihat kerapuhan di balik kemarahan Devan. "Devan... kau cemburu?"
"Ya! Aku cemburu sampai mau gila!" Devan menarik kerah baju Clarissa perlahan, membawa wajah gadis itu mendekat. "Jangan pernah menatapnya lagi seperti itu. Jangan pernah menyebut namanya. Kau adalah milikku, Clarissa. Dalam hidup ini, dan hidup mana pun yang akan kau jalani nanti."
Clarissa menatap Devan, lalu tiba-tiba ia tertawa kecil. "Kau benar-benar kekanak-kanakan, Tuan Mahendra. Tapi jujur, aku suka melihatmu seperti ini."
"Kau mengolok-olokku?" Devan menyipitkan mata.
"Tidak, aku serius," Clarissa mengalungkan tangannya di leher Devan. "Pria tadi... Julian... dia memang berbahaya. Tapi dia tidak punya apa yang kau punya."
"Apa itu?"
"Hatiku," bisik Clarissa tepat di depan bibir Devan.
Devan tidak membuang waktu. Ia membungkam bibir Clarissa dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh dominasi, seolah ingin menghapus setiap jejak kehadiran Julian dari pikiran Clarissa. Ciuman itu terasa sangat panas dan penuh gairah, hingga Clarissa merasa dunianya kembali berputar pada poros yang benar.
Setelah beberapa saat, Devan melepaskan ciumannya, dahinya masih menempel pada dahi Clarissa. "Tiga hari. Kita punya waktu tiga hari untuk menghancurkan Julian sebelum dia bergerak."
"Bukan menghancurkan," Clarissa menyeringai licik. "Kita akan menjadikannya alat. Jika dia memang tunangan Lestari, maka dia pasti punya informasi tentang siapa pria bermuka terbakar dan hubungannya dengan ayahku."
"Kau mau menemuinya?" Devan kembali waspada.
"Hanya jika kau ada di sana untuk memegang tanganku," Clarissa mengerling nakal. "Gimana? Deal, Iblis Posesif?"
Devan menghela napas, mencium ujung hidung Clarissa. "Deal, Ratu Menyebalkan. Tapi kalau dia berani menyentuh ujung rambutmu, aku tidak menjamin dia bisa pulang dengan dua kaki yang utuh."
Di tengah kemesraan itu, ponsel Clarissa berbunyi. Sebuah pesan teks dari Julian masuk.
[Ingat kunci perak itu, Lestari? Kunci itu bukan untuk brankas. Kunci itu untuk membuka peti mati di ruang bawah tanah rumah lama kita. Datanglah sendirian jika kau ingin tahu kebenaran tentang ibumu.]
Clarissa membeku. Ibu?