NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu di Atas Papan Catur

Lantai 30 Wijaya Group biasanya adalah jantung kesuksesan yang berdenyut tenang. Namun, pukul dua dini hari, koridor kaca itu terasa seperti lorong menuju sarang singa. Lampu sensor menyala satu per satu mengikuti langkah kaki Sasha yang tegas. Ia tidak lagi memakai gaun yang robek akibat keributan di rumah; ia mengenakan setelan blazer hitam milik Gio yang ia ambil dari ruang ganti rumah sakit, sedikit kebesaran di bahu, tapi memberinya aura otoritas yang tak terbantahkan.

Di belakangnya, empat pria tegap dengan setelan jas hitam, tim keamanan elit yang disewa dengan dana darurat dari rekening pribadinya, menjaga jarak yang pas.

"Nyonya Sasha, sistem keamanan pusat sudah kami ambil alih selama tiga puluh menit. Setelah itu, protokol otomatis akan mengirimkan notifikasi ke ponsel Tuan Dimas sebagai wakil direktur operasional," bisik salah satu pria bernama Arga, pemimpin tim keamanannya.

Sasha tidak menoleh. Matanya tertuju pada pintu jati besar dengan plat emas bertuliskan: CEO - GIO ARTHA WIJAYA.

"Tiga puluh menit sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan sebuah kerajaan yang dibangun di atas kebohongan, Arga," jawab Sasha dingin.

Ia menempelkan kartu akses Gio pada pemindai. Bunyi klik halus terdengar, diikuti oleh desisan pintu yang terbuka otomatis. Ruang kerja Gio rapi, maskulin, dan beraroma kayu cendana, aroma yang biasanya menenangkan Sasha, tapi malam ini aroma itu memicu adrenalinnya.

Sasha melangkah menuju lukisan abstrak di balik meja kerja. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, ia menggeser bingkai lukisan itu, menyingkap sebuah brankas baja tertanam di dinding.

Jantungnya berdegup saat ia menyentuh layar digital brankas. Tanggal kematian ayah Gio.

1-2-0-5-2-0-2-1

Bip. Pintu brankas terbuka.

Di dalamnya, di antara tumpukan obligasi dan surat berharga, terdapat sebuah folder kulit hitam yang tampak tua. Sasha mengambilnya. Saat ia membukanya, lembaran demi lembaran mengungkap kebenaran yang jauh lebih gelap dari sekadar masalah warisan.

Bukan hanya ayah Gio yang bersalah. Folder itu berisi bukti bahwa ayah kandung Dimas—pria yang selama ini dianggap korban oleh Dimas—sebenarnya adalah otak di balik penggelapan dana besar-besaran yang menyebabkan kebangkrutan keluarga Pratama (keluarga Sasha). Ayah Gio mencoba menutupi jejak itu untuk menjaga nama baik rekan bisnisnya, namun akhirnya ia justru terjebak dan terpaksa menghancurkan keluarga Sasha untuk menyelamatkan Wijaya Group.

Dimas selama ini memuja seorang pengkhianat. Dia membenci orang yang salah.

"Jadi ini senjatanya," gumam Sasha. Sebuah kilatan kemenangan muncul di matanya. "Dimas bukan hanya tidak punya hak darah, dia juga tidak punya hak moral untuk menuntut apa pun dari rumah ini."

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip merah.

"Nyonya, kita punya masalah," suara Arga terdengar dari earpiece. "Elevator bergerak naik dari lantai dasar. Seseorang menggunakan kode akses darurat tertinggi. Itu Dimas."

Sasha menutup folder itu dengan tenang. Ia tidak lari. Ia justru duduk di kursi kebesaran Gio, menyalakan lampu meja yang temaram, dan menyilangkan kakinya. Ia meletakkan folder hitam itu tepat di tengah meja, di bawah sorotan lampu.

"Biarkan dia masuk," perintah Sasha.

Konfrontasi di Puncak Menara

Pintu ruangan itu terbanting terbuka. Dimas melangkah masuk dengan napas memburu, lengannya yang diperban tampak kaku di balik kemeja mahalnya yang kini kusut. Matanya yang merah menatap Sasha dengan campuran antara amarah dan ketidaksenangan yang murni.

"Berani-beraninya kau duduk di kursi itu, Sasha!" geram Dimas. Ia melihat ke sekeliling, menyadari bahwa anak buahnya tertahan di luar oleh tim keamanan Sasha. "Kau pikir dengan Gio terkapar di rumah sakit, kau bisa mengambil alih tempat ini? Kau hanyalah boneka yang dipajang Gio!"

Sasha tersenyum miring, sebuah ekspresi yang biasanya hanya dimiliki oleh Gio. "Duduklah, Dimas. Kau terlihat sangat lelah untuk seseorang yang baru saja merencanakan pembunuhan."

Dimas mendekat, tangannya menghantam meja kerja. "Di mana berkas itu? Berkas yang seharusnya menjadi milikku!"

"Maksudmu hasil DNA yang membuktikan kau bukan siapa-siapa?" Sasha mendorong selembar kertas hasil lab yang ia bawa dari rumah sakit ke depan wajah Dimas. "Atau folder ini?" Ia menepuk folder hitam di depannya.

Dimas merampas hasil DNA itu, membacanya sekejap, lalu merobeknya menjadi serpihan. "Kertas sampah! Gio pasti menyuap pihak laboratorium. Aku tahu siapa aku! Aku adalah putra mahkota yang dibuang!"

"Kau bukan putra mahkota, Dimas. Kau adalah putra dari seorang pencuri yang hampir menghancurkan keluargaku," Sasha membuka folder hitam itu dan membacakan sebuah dokumen dengan suara lantang. "Laporan Audit Forensik tahun 1998. Ayahmu, Hendra, menggelapkan 40% aset keluarga Pratama sebelum ayah Gio mengambil alih sisa reruntuhannya. Ayah Gio bukan musuhmu, dia adalah orang yang menanggung aib ayahmu selama puluhan tahun."

Wajah Dimas berubah dari merah menjadi pucat pasi. "Bohong... itu semua fabrikasi!"

"Bukti ini sudah dikirimkan ke server pengacara independen secara otomatis lima menit yang lalu," Sasha berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Dimas hingga mereka hanya terpaut jarak beberapa inci. "Jika kau menyentuhku, atau mencoba menyakiti Gio lagi, seluruh dunia akan tahu bahwa pahlawan yang kau puja adalah seorang kriminal rendahan. Dan kau? Kau akan kehilangan sisa martabat yang kau punya."

Dimas terdiam. Tangannya gemetar hebat. Seluruh fondasi hidupnya yang dibangun di atas kebencian selama dua puluh tahun runtuh seketika. Ia menatap Sasha, menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi Sasha yang bisa ia sudutkan di ruang tamu yang gelap.

"Kau... kau berubah," bisik Dimas penuh kebencian sekaligus ketakutan.

"Aku tidak berubah, Dimas. Aku hanya berhenti bersikap sopan pada parasit sepertimu," sahut Sasha dingin. Ia mengambil ponselnya dan menekan sebuah tombol. "Polisi sudah di bawah untuk menanyakan soal penembakan di rumahku. Kau punya dua pilihan: keluar dari sini dan menyerahkan diri, atau aku akan memastikan kau membusuk di penjara dengan nama ayahmu yang tercemar selamanya."

Dimas mundur satu langkah. Ia menoleh ke pintu, lalu kembali ke Sasha. Tawanya pecah—tawa yang terdengar gila dan putus asa. "Kalian pikir kalian menang? Meskipun aku pergi, kau akan selalu hidup dengan bayangan bahwa suamimu mencintaimu karena rasa bersalah, bukan karena cinta!"

Sasha menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Kau salah lagi, Dimas. Rasa bersalah adalah apa yang membuat orang lari. Tapi apa yang dilakukan Gio? Dia berdiri di depanku saat kau menarik pelatuk. Itu bukan rasa bersalah. Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti karena hatimu terlalu penuh dengan sampah."

Sasha memberi isyarat pada Arga. Dua pria berbadan besar masuk dan mencengkeram lengan Dimas.

"Bawa dia keluar. Aku muak melihat wajahnya di kantor suamiku," ucap Sasha tanpa emosi.

Saat Dimas diseret keluar, ruangan itu kembali sunyi. Sasha perlahan duduk kembali di kursi Gio. Kekuatan yang tadi ia tunjukkan seolah menguap, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa. Ia menyandarkan kepalanya, menghirup sisa aroma cendana di ruangan itu.

Ponselnya berbunyi. Panggilan video dari rumah sakit.

Sasha segera mengangkatnya. Di layar, Gio tampak sudah sedikit lebih segar, meski masih terhubung dengan selang oksigen. Ia melihat latar belakang ruangan tempat Sasha berada.

"Kau benar-benar melakukannya, Sha?" suara Gio terdengar lemah namun penuh kebanggaan.

Sasha menatap layar ponselnya, matanya melembut. "Aku sudah bilang padamu, Tuan Wijaya. Jangan pernah meremehkan istri yang sedang marah."

Gio tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Sasha lihat. "Lalu, apa rencana selanjutnya, Sang Ratu? Apakah kau akan memecat CEO-mu yang tidak berguna ini?"

Sasha tertawa kecil, air mata haru menggenang di sudut matanya. "Tidak. Aku akan menjemputmu besok pagi. Dan setelah itu..."

Akhir Bab

Sasha terdiam sejenak, menatap folder hitam di depannya, lalu menatap Gio di layar ponsel.

"Setelah itu, apa, Sha?" tanya Gio penasaran.

Sasha menutup folder itu dengan bunyi brak yang mantap.

"Setelah itu, kita akan membakar semua puing-puing masa lalu ini, Gio. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi folder hitam, dan tidak ada lagi bayang-bayang ayah kita. Aku ingin kau berjanji satu hal padaku."

"Apa pun, Sha."

Sasha tersenyum manis, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Mulai besok, kau tidak boleh lagi melindungiku sendirian. Karena mulai sekarang, jika ada yang berani menyentuh milikku... akulah yang akan memastikan mereka menyesal telah dilahirkan di dunia ini. Mengerti, suamiku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!