NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makam Mungil

Acara perpisahan itu berlangsung hingga sore hari, sebenarnya semua orang ingin melanjutkan acara hingga malam hari. Namun kepala desa melarang, sebab keesokan paginya Theo dan Maerin akan meninggalkan desa. Jadi acara diakhiri di sore hari supaya malam harinya Theo dan Maerin bisa beristirahat.

Malam hari itu Theo tak bisa tidur, ia hanya berganti ganti posisi di atas tempat tidur.

"Pasti gak bisa tidur ya?" Tanya Maerin dalam posisi miring memunggungi Theo.

"Kau benar, aku tak bisa tidur sama sekali. Apa aku membangunkanmu?" Tanya Theo.

"Tidak. Akupun sama, tak bisa tidur juga." Jawab Maerin.

"Lalu kenapa kau tak banyak bergerak sama sekali seolah sedang tidur?" Tanya Theo.

"Haruskah aku juga banyak bergerak sepertimu, suamiku?" Ejek Maerin.

"Kau masih bisa bercanda ya..." Ucap Theo.

"Apa maksudmu?" Tanya Maerin sambil membalikkan badannya menghadap ke arah Theo.

"Nggak ada maksud, hanya saja kau selalu bisa bersikap tenang dalam banyak situasi." Kata Theo sambil menatap langsung ke arah Maerin.

"Apa itu pujian?" Ledek Maerin.

"Kau bisa berasumsi semaumu." Jawab Theo sedikit mengejek sambil menyentuh pipi Maerin dengan lembut.

"Ngomong-ngomong, apa tuan Silas masih berkemas atau masih melalukan sesuatu? Sebab aku samar-samar mendengar suara dari luar kamar." Kata Maerin.

"Entahlah, coba aku pastikan dulu. Dan kau cobalah untuk memejamkan matamu dan tidur." Ucap Theo sambil bangun dari tempat tidur untuk mengecek Silas.

Maerin pun mencoba memejamkan matanya, namun hanya kilas balik kenanangan-kenanangan masa lalu yang telah dia lalui bersama orang-orang berharga baginya di desa ini. Kemudian dia membuka mata kembali, dan hanya menatap kosong lurus ke arah dinding.

Sementara itu Theo yang keluar dari kamarnya cukup terkejut melihat Silas yang sedang terduduk sendirian dan terlihat sedang melamun. Dan Theo mencoba untuk mengajak bicara. "Kau baik-baik saja?"

"Oh, Yang Mulia Pangeran Kedua. Maafkan saya tak menyadari kehadiran anda." Jawab Silas.

"Tolong panggil aku Theo saja selama kita belum tiba di istana. Aku ingin menikmati masa-masa terakhirku sebelum kembali ke istana." Jawab Theo sambil berjalan ke arah Silas dan duduk di dekatnya.

"Baiklah, jika itu yang anda inginkan. " Ucap Silas.

"Apa yang membuatmu masih terjaga hingga selarut ini?" Tanya Theo.

"Saya hanya memikirkan apakah ini keputusan terbaik yang bisa diambil. Perasaan saya rasanya bercampur aduk jika saya boleh berkata jujur." Kata Silas.

"Itu wajar, akupun juga merasakan hal yang sama. karena itu aku tak bisa tidur sama sekali. Aku hanya mencemaskan Maerin. Entah akan seberat apa kehidupan dalam istana untuk Maerin." Ucap Theo.

"Saya tak ingin pura-pura menghibur anda, yang jelas anda harus lebih kuat dan berani dari sekarang. Anda harus percaya diri serta tegas." Jawab Silas dengan serius.

"Yang kau sebutkan itu semua sifat dan sikap kakakku." Kata Theo sambil tersenyum getir.

"Andapun bisa mengikuti jejak kakak anda, atau bahkan menciptakan langkah anda sendiri. Meskipun saya telah berjanji dengan mempertahankan nyawa saya untuk melindungi anda dan istri anda. Tetap saja pada akhirnya anda harus bisa melindungi diri anda dan orang-orang yang anda cintai dengan kekuatan anda sendiri." Ucap Silas.

"Yang kau ucapkan memang benar, aku harus bisa melindungi orang-orang yang berharga dan kucintai. Sepertinya jalanku menjadi kuat masih sangat panjang." Kata Theo yang sedikit terlihat lega.

"Anda tak sendirian, jadi jangan menanggungnya seorang diri." Imbuh Silas.

"Ya kau benar, sekarang aku merasa sedikit lega. Dan juga aku merasakan rasa kantuk datang. Sepertinya aku bisa untuk tidur sebentar. Dan kau juga segeralah beristirahat agar besok bisa melakukan perjalanan dalam kondisi prima." Theo sambil berjalan ke arah kamarnya.

"Baik, Yang Mu- maksud saya Theo." Jawab Silas.

Theo hanya mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan ke kamarnya. Ia membuka pelan pintu kamarnya supaya tak membangunkan Maerin jika Maerin sudah tertidur. Saat menutup pintu kamar setelah Theo berada di dalam kamarnya, ia cukup terkejut mendapati Maerin yang menoleh ke arahnya.

"Kau mengejutkanku.. apa kau terbangun karenaku?" Tanya Theo.

"Tidak, aku hanya tak bisa tidur sama sekali." Jawab Maerin.

Theo pun segera berjalan ke arah tempat tidur, lalu berbaring dan mendekatkan badannya di dekat badan Maerin. Kemudian memeluk lembut sambil mengelus rambut Maerin dan berkata, "Maafkan aku, kau pasti sangat merasa cemas sebab tempat yang akan kita tuju adalah istana yang sama sekali belum pernah kau dengar dan kunjungi." Theo mencium lembut kening Maerin.

"Yah itu juga salah satunya, tapi aku lebih mencemaskan karena tak bisa lagi mendatangi makam anak kita yang belum sempat lahir setiap hari." Maerin meneteskan air mata.

Theo mengusap lembut air mata yang keluar dari mata Maerin, "Besok sebelum berangkat, kita berpamitan dengannya dan juga kakek nenek. Walaupun kita tak lagi bisa setiap hari datang ke makam mereka, namun mereka selalu kita kenang dan ingat. Mereka selalu ada dalam hati kita. Jadi jangan bersedih lagi ya. Kau masih memiliki aku untukmu bersandar. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Mari saling menguatkan satu sama lain." Theo kembali mencium kening Maerin sambil memeluknya erat.

"Ya, mari lakukan itu. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu." Maerinpun juga memeluk Theo.

Keduanya akhirnya tertidur saling berpelukan satu sama lain. Sementara itu, Silas tertidur dalam kondisi terjaga. Yaitu dalam posisi duduk namun tertidur.

***

Keesokan harinya, masih pagi buta. Theo dan Maerin pergi ke makam kakek dan nenek serta anak mereka. Mereka membersihkan rumput liar yang tumbuh di atas makam kakek dan nenek, serta di atas makam mungil yang merupakan makam anak mereka dan berada di dekat makam nenek. Theo dan Maerin mengucapkan salam perpisahan.

Langit perlahan terang karena matahari mulai terbit. Theo dan Maerin saling bergandengan tangan sambil melihat matahari terbit untuk terakhir kalinya di desa ini. Suasananya terasa hangat dan damai. Maerin tanpa sadar meneteskan air mata seolah merasa hal damai ini yang bisa ia rasakan terakhir kalinya. Theo dan Maerin berjalan bersama untuk kembali ke rumahnya. Namun, mereka cukup terkejut karena banyak warga desa yang sudah berkerumun di halaman rumah mereka. Saat mereka mencoba meminta dibukakan jalan sebab kerumunan warga menghalangi jalan masuk ke arah rumahnya, mereka lebih terkejut lagi melihat kereta kuda yang lumayan besar dan mewah berhenti tepat di depan pintu masuk rumah. Theo menoleh dan melihat sekeliling, mengamati apakah ada orang yang tak dikenalnya diantara kerumunan warga. Namun, ia hanya melihat wajah-wajah familiar warga desa. Lalu kereta kuda milik siapa yang sedang terparkir di depan rumahnya itu?

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!