Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Membakarmu dengan Data
Aroma Gudeg Manggar dan Sate Klatak yang dipanggang di atas arang batok kelapa mulai memenuhi udara Bangsal Kencana.
Para Abdi Dalem wanita, dengan sanggul tekuk rapi dan kemben batik, bergerak tanpa suara menyajikan hidangan pembuka untuk acara makan malam agung.
Sekar duduk di samping Arya, postur tubuhnya tegak namun rileks.
Di seberang meja bundar VVIP itu, Raden Ajeng Mawar tampak sibuk memotong daging bistik lidah sapi dengan gerakan pisau yang sedikit terlalu agresif untuk ukuran seorang putri keraton.
Mata Sekar, yang kini kembali jernih setajam lensa mikroskop, memindai meja.
Target hilang.
Cangkir keramik bermotif naga biru tempat Sekar meminum "Wedang Uwuh" beracun tadi sudah lenyap.
"Cangkirnya sudah diganti," gumam Sekar dalam hati.
Analisis forensiknya bekerja otomatis.
Cleanup crew bekerja cepat.
Mereka menghilangkan primary evidence, bukti utama segera setelah target lumpuh.
Tanpa cangkir itu, tidak ada residu cairan yang bisa diuji.
Tidak ada bukti fisik.
Hanya tuduhan kosong.
Mawar mengangkat wajahnya, menangkap tatapan Sekar.
Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyum kemenangan yang tipis.
Dia tahu Sekar tidak punya bukti.
Di mata hukum dan adat, ini adalah kata-kata seorang gadis desa melawan calon diplomat lulusan Oxford.
Namun, Mawar melupakan satu variabel: Sekar bukan detektif konvensional.
Dia adalah ilmuwan yang terbiasa bekerja dengan partikel nano.
Sekar memejamkan mata sesaat, mengakses memori fotografisnya.
Rewind.
Tiga puluh menit yang lalu.
Sebelum pandangannya kabur.
Cairan merah kecokelatan itu tumpah sedikit saat Mawar menyodorkannya dengan "tangan gemetar" yang dibuat-buat.
Sekar ingat dia refleks mengambil sapu tangan dari saku dalam kebayanya untuk mengelap tetesan itu di meja agar tidak mengotori taplak beludru.
Sapu tangan itu.
Tangan kanan Sekar perlahan meraba saku tersembunyi di balik kutubaru brokatnya.
Jari-jarinya menyentuh kain katun halus yang terasa sedikit lembap dan lengket di satu sisi.
Gotcha.
Sekar menoleh pada Arya, menyentuh lengan pria itu pelan.
"Mas, aku izin ke belakang sebentar. Touch up bedak."
Arya menatapnya cemas.
"Mau ditemani?"
"Tidak perlu. Ada Prajurit Estri di depan toilet, kan? Aku hanya butuh dua menit," bisik Sekar meyakinkan.
Bilik toilet VVIP Keraton itu luas, harum melati, dan yang terpenting: privat.
Dindingnya terbuat dari marmer tebal yang kedap suara.
Sekar mengunci pintu, memastikan tidak ada celah intip.
Dia duduk di atas kloset tertutup, menggenggam sapu tangan yang ternoda bercak cokelat kering itu.
Dia menarik napas panjang, memusatkan pikiran pada tanda lahir bulir padi di jari manisnya.
Masuk.
Dalam sekejap mata, kebisingan samar gamelan dan aroma dupa lenyap.
Digantikan oleh udara steril, dingin, dan aroma ozon yang khas.
Sekar berdiri di tengah Laboratorium Riset Bio-Hayati pribadinya di dalam Ruang Spasial.
Kontras visual itu selalu membuatnya takjub.
Dia masih mengenakan kebaya beludru hitam berpayet emas dan sanggul Jawa penuh bunga melati, namun kini dia berdiri di depan meja stainless steel yang dipenuhi peralatan canggih dari masa depan.
"Waktu di sini berjalan 10 kali lebih cepat," gumam Sekar.
"Aku punya waktu 20 menit di sini, yang hanya berarti 2 menit di dunia nyata."
Sekar tidak membuang waktu.
Dia mengambil pinset steril, menjepit bagian sapu tangan yang bernoda, lalu memotongnya sedikit sebagai sampel.
Dia memasukkan potongan kain itu ke dalam tabung reaksi, menambahkan pelarut organik, dan memasukkannya ke dalam Portable Mass Spectrometer, mesin penganalisa komposisi kimia seukuran microwave yang terhubung ke layar hologram raksasa.
Mesin itu berdengung halus.
Cahaya biru memindai sampel.
Processing...
Sekar mengetuk-ngetuk jari kuku yang berkuteks bening di atas meja lab.
Matanya terpaku pada grafik kromatografi yang mulai terbentuk di layar.
Puncak-puncak gelombang kimia mulai muncul.
"Ayo, tunjukkan racunmu," desis Sekar.
TING.
Hasil analisis muncul dalam teks merah menyala.
KOMPOSISI TERDETEKSI:
Zingiber officinale, Jahe Merah): 45% - Masking Agent sebagai Penyamar Rasa.
Saccharum officinarum, Gula Batu: 30%.
ALKALOID TROPAN, TOKSIK TINGGI:
Scopolamine: 15%
Hyoscyamine: 8%
Atropine: 2%
SUMBER: Ekstrak Murni Datura metel atau Kecubung Wulung.
Sekar tersenyum dingin.
"Scopolamine. 'Napas Setan'. Zat yang menekan sistem saraf parasimpatis, menyebabkan halusinasi, kepatuhan total, dan amnesia sementara. Klasik."
Dosis yang tertera di layar membuatnya merinding.
Jika dia tidak memiliki metabolisme yang sudah ditingkatkan oleh Air Spiritual, dosis ini bisa menyebabkan henti jantung permanen.
Ini bukan lelucon.
Ini percobaan pembunuhan.
"Tapi ini belum cukup," gumam Sekar.
"Aku butuh pelaku."
Dia menekan tombol 'Deep Trace Analysis' pada layar.
Mesin itu kini memindai residu biologis lain yang tertinggal di kain: minyak kulit atau keringat dari orang yang memegang cangkir atau... memegang botol racunnya.
Sekar ingat, saat Mawar pura-pura tersandung dan menumpahkan minuman, jari Mawar sempat menyentuh bibir cangkir.
Dan sapu tangan Sekar mengusap area itu.
Layar berkedip lagi.
Kali ini menampilkan struktur molekul kompleks dari minyak esensial.
RESIDU LIPID & FRAGRANCE:
Sebum Manusia: Profil DNA Parsial - Tidak Lengkap.
Chemical Marker Identifikasi: Rosa centifolia, Rose de Mai, Absolute Oil.
Alis Sekar terangkat.
Rose de Mai.
Mawar dari Grasse, Prancis.
Bahan dasar parfum paling mahal di dunia.
Satu kilogram minyak asirinya seharga puluhan ribu dolar.
Di seluruh Yogyakarta malam ini, hanya ada satu orang yang memakai parfum dengan aroma mawar spesifik yang begitu creamy dan honey-like.
Bukan mawar lokal, bukan mawar Bulgaria.
"Raden Ajeng Mawar," bisik Sekar.
Sekar menekan tombol Print.
Sebuah kartu memori tipis seukuran kartu SIM keluar dari mesin, berisi seluruh data spektroskopi, grafik kimia, dan analisis toksikologi.
Dia menyelipkan kartu memori itu ke balik sanggulnya, lalu mengambil kembali sapu tangan itu.
Benda ini sekarang adalah senjata nuklir.
"Kau bermain api dengan ilmuwan, Mawar," ucap Sekar pada bayangan dirinya di cermin lab.
"Maka aku akan membakarmu dengan data."
Sekar menutup mata.
Keluar.
"Ceklek."
Kunci pintu toilet terbuka.
Sekar melangkah keluar.
Udara malam keraton kembali menyapanya.
Dia melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tepat dua menit.
Dia berjalan kembali menuju Bangsal Kencana.
Langkah kakinya ringan, namun setiap hentakan tumit selopnya di lantai marmer terasa seperti palu hakim yang siap menjatuhkan vonis.
Di kejauhan, dia melihat Mawar sedang tertawa renyah menanggapi lelucon seorang pejabat.
Tawa itu akan segera berhenti.
Sekar meraba saku kebayanya sekali lagi, memastikan sapu tangan itu aman.
Let the game begin.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄