Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Garis yang Tidak Terlihat
Marcus tidak tidur malam itu.
Bukan karena takut.
Ia tidak mengenal rasa takut dalam bentuk yang sederhana. Yang mengganggunya adalah sesuatu yang jauh lebih halus—perasaan bahwa ia sedang tertinggal satu langkah.
Dan Marcus tidak pernah tertinggal.
Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandangi kota yang tetap bergerak seolah tidak ada yang berubah. Lampu-lampu menyala, kendaraan melintas, dunia berjalan seperti biasa.
Namun bagi Marcus, semuanya terasa seperti latar panggung.
Dan seseorang baru saja menggeser skripnya.
Ponselnya bergetar.
Kepala keamanan.
“Pak, kami sudah cek ulang semua sistem. Tidak ada pelanggaran.”
Marcus tidak langsung menjawab.
“Ulangi,” katanya datar.
“Sudah tiga kali, Pak. Semua bersih.”
Marcus menutup mata sesaat.
Seseorang masuk… meninggalkan pesan… lalu menghapus dirinya sendiri.
Presisi seperti itu bukan kebetulan.
“Itu berarti,” katanya pelan, “seseorang ingin aku tahu bahwa sistem kita bisa disentuh.”
Hening di ujung sana.
“Kami akan meningkatkan pengawasan.”
“Tidak,” potong Marcus. “Lakukan tanpa terlihat.”
Ia menutup panggilan.
Kata-kata Elena terngiang di kepalanya:
Ancaman selalu lebih jujur daripada rasa aman.
Marcus menghembuskan napas panjang.
Ia tidak suka ketika orang lain benar.
...****************...
Pagi datang tanpa membawa kelegaan.
Marcus tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Lantai eksekutif masih sepi, udara dingin dan bersih. Ia berjalan lurus ke ruang rapat tanpa membuka lampu sepenuhnya.
Di sana, Selene sudah menunggu.
Matanya sedikit merah. Entah kurang tidur… atau terlalu banyak berpikir.
“Kau datang cepat,” katanya.
Marcus duduk tanpa basa-basi.
“Ada pergerakan aneh,” ujarnya. “Dana kecil. Tidak signifikan. Tapi berpola.”
Selene menegang.
“Itu bisa saja fluktuasi biasa.”
Marcus menatapnya.
Diam.
Tekanan mengisi ruangan.
“Kau tahu aku tidak membahas ‘biasa’,” katanya pelan.
Selene menarik napas.
“Aku akan audit ulang.”
“Kau sudah melakukannya.”
“Kalau begitu aku ulang lagi.”
Marcus memperhatikannya.
Nada defensif.
Terlalu cepat.
“Kau gugup,” katanya.
Selene tertawa kecil—kering.
“Semua orang gugup kalau kau menatap seperti itu.”
Marcus tidak tersenyum.
“Orang yang bersih biasanya tidak perlu gugup.”
Ruangan terasa menyempit.
Selene menahan pandangannya.
“Apa kau menuduhku?”
Marcus bersandar.
“Aku sedang mengamati.”
Perbedaan itu tipis… tapi tajam.
Selene menelan ludah.
“Aku tidak melakukan apa pun.”
Marcus mengangguk pelan.
“Bagus.”
Namun ketika ia berdiri untuk pergi, Selene merasakan sesuatu yang lebih berat dari tuduhan.
Ketidakpercayaan.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
...****************...
Di sisi lain kota, Elena duduk di balkon apartemen Adrian. Angin pagi membawa suara kota yang samar. Di tangannya, sebuah tablet menyala dengan grafik yang bergerak halus.
Adrian bersandar di pintu.
“Kau yakin ini tidak terlalu cepat?”
Elena tidak menoleh.
“Marcus tidak takut kehilangan,” katanya tenang. “Ia takut tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”
Adrian menyilangkan tangan.
“Dan kau memberi dia teka-teki.”
Elena tersenyum tipis.
“Teka-teki membuat orang cerdas merasa bodoh.”
Grafik di layar bergerak lagi.
Pola kecil.
Transaksi mikro.
Tidak cukup besar untuk memicu alarm… tapi cukup untuk membangun cerita.
“Selene akan jadi retakan pertama,” kata Adrian.
“Bukan,” jawab Elena lembut. “Marcus akan membuatnya retak.”
Adrian menatapnya.
“Kau tidak mendorong?”
“Aku hanya membuka pintu.”
Elena mematikan layar.
“Orang seperti Marcus tidak butuh dorongan,” lanjutnya. “Mereka menghancurkan sendiri apa yang mereka curigai.”
Hening.
“Kau masih yakin ingin sampai sejauh ini?” tanya Adrian.
Elena menatap ke arah matahari.
“Dia membangun dunianya dari kendali,” katanya pelan. “Aku hanya menunjukkan bahwa fondasinya rapuh.”
Nada suaranya tidak marah.
Tidak pahit.
Hanya pasti.
Dan itu jauh lebih dingin.
...****************...
Sore itu, Marcus memanggil Selene kembali.
Kali ini tanpa pemberitahuan.
Ia berdiri ketika Selene masuk.
“Duduk,” katanya.
Selene menurut.
Marcus meletakkan tablet di meja.
“Jelaskan.”
Selene melihat layar.
Warna menghilang dari wajahnya.
“Itu… aku tidak—”
“Pola yang sama,” kata Marcus. “Kecil. Konsisten.
Tersembunyi.”
Selene menggeleng.
“Aku tidak pernah—”
Marcus mencondongkan tubuh.
“Berhenti bicara seolah aku bodoh.”
Keheningan jatuh seperti palu.
Selene gemetar.
“Aku bersumpah… aku tidak tahu itu dari mana.”
Marcus menatapnya lama.
Ia mencari tanda kebohongan.
Atau kepanikan.
Dan menemukan keduanya.
Namun tidak bisa membedakan yang mana.
“Kalau ini sabotase,” katanya pelan, “kau adalah orang terakhir yang menyentuh sistem.”
Selene menahan napas.
“Marcus… kau mengenalku.”
Ia tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Selene berdiri perlahan.
“Aku akan cari tahu,” katanya.
Marcus mengangguk.
“Lakukan.”
Ketika pintu tertutup, Marcus merasa sesuatu yang tidak biasa:
Keraguan.
Bukan pada Selene.
Pada dirinya sendiri.
Dan itu membuatnya lebih marah daripada apa pun.
...****************...
Malam turun.
Rumah terasa sunyi ketika Marcus masuk.
Elena duduk di sofa, mendengarkan musik pelan.
“Kau pulang terlambat,” katanya.
“Banyak hal yang harus dibersihkan,” jawab Marcus.
Elena memiringkan kepala.
“Hal-hal jarang berantakan sendiri.”
Marcus berhenti.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?”
Elena tersenyum tipis.
“Hanya observasi.”
Marcus menatap tongkat di sampingnya.
Tidak tersentuh.
“Kau terlihat… tenang,” katanya.
“Aku belajar menerima hal di luar kendali,” jawab Elena.
Kalimat itu menggantung.
Marcus merasakan tekanan di dadanya lagi.
Ia menatap Elena lebih lama dari yang seharusnya.
Wanita itu tampak rapuh.
Namun tidak terasa seperti korban.
Dan pikiran itu mengganggunya.
“Apa kau percaya pada kebetulan?” tanya Elena tiba-tiba.
Marcus mengernyit.
“Tidak.”
Elena mengangguk kecil.
“Bagus.”
Ia berdiri, berjalan melewati Marcus dengan langkah mantap.
Tanpa ragu.
Tanpa mencari arah.
Marcus memperhatikannya.
Dan di detik itu—
sesuatu terasa salah.
Bukan besar.
Bukan jelas.
Hanya… tidak selaras.
Seperti nada sumbang dalam melodi sempurna.
Marcus berdiri sendirian di ruang tamu.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak yakin apa yang sedang ia lihat…
atau siapa yang sebenarnya memegang kendali.
Marcus duduk di kursinya, kepala menunduk.
Tangannya mengepal di atas meja. Ia selalu percaya pada logika, pada pola, pada kendali. Tapi malam ini… sesuatu tidak masuk akal. Jejak mikro itu terlalu rapi untuk menjadi kebetulan, terlalu disengaja untuk diabaikan.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Elena muncul—tenang, terkontrol, namun tak bisa ditebak. Mata itu seperti menembus dinding-dinding kendali Marcus sendiri.
Di luar jendela, kota berdenyut, lampu-lampu mobil membentuk garis-garis panjang di jalanan yang basah hujan. Semua orang bergerak sesuai ritme mereka sendiri. Marcus merasa seperti satu-satunya yang bergerak salah.
“Bagaimana mungkin?” gumamnya. “Aku yang mengatur semuanya… dan ia… ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.”
Selene mengetuk pintu. “Pak… aku… aku sudah mencoba menelusuri pola itu. Semua sistem kami bersih.”
Marcus menatapnya. Sorot matanya tajam, menimbulkan rasa dingin yang tak bisa ditutupi. Selene menelan ludah. Ia jarang melihat Marcus seperti ini—tidak marah, tapi… tak terkendali.
“Apakah kau yakin, Selene?” suaranya pelan tapi berat. “Tidak ada yang terlewatkan?”
“Aku bersumpah, Pak. Tidak ada.” Selene mengangkat tangan, seolah sumpahnya bisa menutupi semua celah.
Marcus menunduk lagi. Ia tahu sumpah itu hanyalah kata. Dan kata-kata bisa dimanipulasi. Ia bangkit, berjalan ke jendela, menatap kota di bawah. Hatinya berdebar, bukan karena ketakutan, tapi karena rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi gelisah.
...****************...
Di sisi lain kota, Elena dan Adrian masih duduk di kafe yang sama. Kopi mereka mulai dingin, tapi mereka tidak peduli. Elena menatap layar tablet, mengulang pola transaksi yang ia temukan beberapa hari lalu. Adrian melihatnya, matanya menandakan pertanyaan yang tidak ia ucapkan.
“Kau yakin langkah ini aman?” tanya Adrian akhirnya.
Elena tersenyum tipis. “Aku tidak mencari keamanan. Aku mencari efek.”
Adrian mengernyit. “Efek yang berbahaya.”
“Bukan bagi kita,” balas Elena. Suaranya lembut, tapi tegas. “Hanya bagi mereka yang merasa memiliki segalanya.”
Adrian menunduk, memahami maksudnya. Ia tahu Marcus, dan Marcus terlalu percaya pada kendali.
Dan kendali itu… bisa dihancurkan oleh seseorang yang sabar dan cerdas.
Malam semakin larut. Marcus kembali ke rumah. Ruangan terasa sunyi, terlalu sunyi. Setiap benda di tempatnya, setiap buku di rak, setiap langkah terasa terukur. Namun ada sesuatu yang tidak beres.
Marcus bisa merasakannya—tanpa melihat.
Elena duduk di sofa, tangannya menyentuh tongkat yang kini terasa seperti properti daripada alat bantu.
Ia menatap Marcus, matanya tetap tenang. Marcus menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia bergerak, cara ia menahan napas. Ada energi yang tidak bisa ia jelaskan.
“Kau terlihat berbeda,” kata Marcus akhirnya.
Elena tersenyum tipis. “Kau juga.”
Marcus menatapnya, mencoba membaca ekspresinya. Tapi tidak ada tanda takut, tidak ada ketidakpastian. Hanya kesadaran penuh. Dan itu… lebih berbahaya daripada segala ancaman yang pernah ia temui.
Suasana hening. Suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Marcus merasa seperti berada di pusat badai, meski badai itu terlihat damai dari luar. Ia menyadari satu hal: kendali yang ia pegang selama ini mulai retak. Perlahan, halus, tapi nyata.
Dan retakan itu dimulai dari Elena—tanpa satu pun gerakan yang jelas, tanpa kata-kata yang bisa ditangkap.
Marcus menutup mata sesaat, menarik napas. Ia harus merencanakan langkah berikutnya, tapi hatinya sudah tahu—ini bukan lagi permainan biasa.
Di balkon, Elena menatap ke arah kota. Adrian berdiri di belakangnya. Mata mereka bertukar pandang singkat. Tidak perlu kata-kata. Strategi mereka sedang berjalan, dan Marcus… Marcus belum menyadari bahwa ia kini berada di papan catur yang bukan ia buat.
Malam menutup kota, tapi bagi Elena, malam itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berisik, jauh lebih rapuh, dan sangat mematikan bagi siapa pun yang percaya pada kendali mutlak.
Marcus berdiri di ruang tamu, tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketidakpastian yang tidak bisa ia atasi dengan logika. Ada sesuatu bergerak di sekelilingnya. Ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan untuk pertama kalinya… Marcus tidak tahu apakah ia masih menjadi pemburu… atau sudah menjadi mangsa.