Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Farhan dan mantan istrinya
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk rumah saya tanpa permisi?" tanya Farhan menatap datar mantan istrinya.
Elnara diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Farhan sebenarnya bukan tidak memperbolehkan ia bertamu lagi ke rumah dan bertemu dengan anak-anaknya, tapi yang membuat Farhan akhirnya memutuskan untuk Elnara agar tidak boleh lagi menginjakkan kakinya di rumah ia karena empat bulan yang lalu, waktu dimana Farhan belum menikahi Helena, Elnara datang ke rumah dan membuat keributan besar, Elnara memaksa untuk menggendong Nael sedangkan Nael selalu menolaknya.
Ketika Elnara berhasil menggendongnya dengan paksa, Nael memberontak dan berakhir jatuh dengan kepala yang terjatuh lebih dulu, jangan tanyakan bagaimana keadaan Nael waktu itu.
Darah bercucuran dari dahinya, bahkan Nael sendiri sudah menjerit keras karena sakit dengan luka robekan di dahinya, sedangkan Elnara malah bengong karena masih terkejut Nael terjatuh dari dalam gendongannya.
Sus Widya waktu itu langsung menelpon Farhan dan mengatakan jika Nael terjatuh. Sejak saat itulah Farhan melarang keras Elnara berkunjung lagi ke rumahnya, karena setiap kali ia datang, selalu menimbulkan kekacauan di dalam rumahnya.
"Papa apa sih? Kok larang-larang mama main ke rumah, mama hanya ingin main sama aku sama Kenzo," bals Freya menatap tajam papanya.
Farhan menghela napas lelah, kapan Freya akan bersikap dewasa juga tegas, itulah kenapa Freya sangat keras kepala karena ia tidak tahu apapun yang terjadi dengan mama dan papanya, Freya hanya tahu jika papanya jahat karena mengusir mamanya dari dalam rumah tanpa tahu alasannya apa.
"Bukan maksud papa seperti itu Freya, kamu dan abangmu bebas bermain dengan mama kalian kapan saja, tapi jangan di sini," Farhan berusaha memberi pengertian kepada anak-anaknya.
"Memangnya kenapa kalau mama main ke rumah ini? Ini juga rumah mama? Tapi papa mengusirnya?" tanya Freya semakin berani kepada papanya.
"Lihat Nara, lihat bagaimana semuanya menjadi seperti ini," kedua mata Fafhan tertuju kepada Elnara yang masih menunduk.
"Jangan bersandiwara di sini, saya muak melihatnya,"
Mendengar itu, amarah yang Elnara pendam sejak tadi menguar begitu saja, ia menatap mantan suaminya tajam.
"Bersandiwara? Bersandiwara seperti apa yang kau maksud? Jawab Farhan!" teriak Elnara yang sudah habis kesabarannya, ia datang dengan niat baik ingin bertemu dengan anak-anaknya tapi Farhan dengan seenak jidatnya mengatakan jika ia sedang bersandiwara.
"Keluar, saya muak lihat kamu!" perintah Farhan menunjuk pintu dengan jari telunjuknya.
"Kamu ngusir aku? Kenapa? Kamu takut aku rebut Nael dari kamu? Apa kamu takut anak-anak lebih milih aku daripada kamu?" tanya Elnara tersenyum remeh kepada Farhan.
"Widya bawa Nael ke kamarnya!" perintah Farhan.
Sus Widya mengangguk lalu membawa Nael menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar si kecil.
"Freya, Kenzo, masuk kamar!" perintah Farhan menatap dia anaknya yang beranjak remaja.
"Tidak, papa pikir aku mau masuk kamar, aku dan Kenzo mau main sama mama, jadi berhenti larang-larang mama untuk ajak aku main," Farhan menghembuskan napas lelah, tidak akan pernah selesai jika perdebatan ini terus berlanjut, jadi biarlah kali ini saja Farhan membiarkan kedua anaknya dibawa oleh Elnara.
"Silakan!"
Farhan mempersilakan anak-anaknya untuk ikut keluar dengan Elnara dengan suara datarnya.
Tatapan Farhan bertemu dengan Helena, wajahnya kembali melunak dan tersenyum kecil kepada istrinya itu.
"Kita masuk kamar, yuk!" ajak Farhan menggandeng pinggang istrinya dan membawanya memasuki kamar.
Mengabaikan kedua anaknya juga mantan istrinya yang hanya diam menatap punggung Farhan dan Helena yang menghilang di balik pintu.
"Sebentar, kalian tunggu mama di mobil ya!"
"Baik, mama," jawab Freya senang, lalu ia menggandeng tangan Kenzo dan membawanya keluar rumah.
Elnara berdiri di depan pintu kamar yang baru saja dimasuki oleh Farhan juga Helena. Dan dengan tidak tahu sopan santunya, Elnara menggedor-gedor pintu kamar Farhan juga Helena.
"Farhan, keluar kamu!" teriak Elnara kesetanan.
Baru saja Farhan membuka pintu kamar, pipinya langsung mendapatkan tamparan keras dari Elnara.
"Berani-bedaninya kamu mengatakan itu di depan anak-anak, maksud kamu apa hah? Ingin mencuci otak mereka agar benci mama kandungnya sendiri?" tanya Elnara menatap marah Farhan.
Farhan hanya menampilkan raut wajah datarnya, sudah biasa ia seperti ini, jadi apa lagi yang perlu ia katakan kepada Elnara? Seperti tidak ada, karena apapun yang keluar dari kedua bibirnya tidak akan pernah masuk ke dalam pendengaran Elnara.
"Jawab aku Farhan!" bentak Elnara kesal.
"Pergi! "
"Dengar ya, aku sudah baik-baik datang ke sini, tapi kamu, kamu malah mengajakku berdebat, bertengkar bahkan di depan anak-anak, kamu ingin mereka membenci aku sebagai mama kandungnya? Ingat, suatu saat nanti mereka akan aku bawa jauh darimu juga wanita murahan itu," Ancaman itu sama sekali tidak membuat Farhan membuka mulutnya untuk membalas Elnara, ia berikan hal Elnara untuk mengoceh sampai ia lelah sendiri.
"Kamu pikir aku sebodoh itu Farhan, kamu mengusirku dan menceraikanku secara sepihak, tidak dengan persetujuanku, kamu pikir aku tidak tahu otakmu yang sebenarnya bermasalah, lihat saja nanti, kekayaanmu akan ku ambil beserta anak-anakku akan menjadi milikku,"
"Kamu pikir saya akan membiarkan anak-anak saya hidup menderita denganmu dan laki-laki kuli bangunan itu hah?"
"Jahat kamu Farhan," teriak Elnara kembali menampar pipi Farhan hingga meninggalkan kemerahan di pipinya.
"Jangan pernah berpikir bisa membawa anak-anak dari rumah ini, mereka tidak terbiasa hidup serba kekurangan denganku, kau pikir mereka akan meu hidup miskin denganmu?" tanya Farhan semakin pedas.
"Siapa yang kau sembuh miskin? Siapa yang sudah membuatku miskin? Kamu Farhan, pelakunya itu kamu, kamu mengambil semua kekayaan yang aku punya,"
"Jangan membalikkan fakta Elnara, Kamu sendiri yang menghabiskan kekayaanmu hanya untuk laki-laki gembel seperti dia," balas Farhan datar.
"Mama," panggil Freya yang sudah berada di belakang Elnara.
Elnara segera membalikkan tubuhnya dan memeluk Freya dengan sayang.
"Maafin mama sayang, mama kelamaan ya?" tanya Elnara lembut.
Freya mengangguk, dan membalas pelukan Elnara tak kalah kencang.
"Iya, Kenzo suruh aku samperin mama, karena sudah lebih dari dua puluh menit kita tunggu mama di mobil," adu Freya dengan manjanya.
"Mama kenapa, kok wajah mama merah?" tanya Freya begitu pelukannya terlepas dan ia melihat wajah mamanya memerah.
Freya langsung menoleh ke arah papanya dan menatap tajam papanya, "papa apakan mama? papa nyakitin mama lagi, sudah berapa kali papa membuat mama sakit hati dan terluka, tidak cukupkah papa mengusir mama dari rumah, sekarang pun papa masih bisa menyakiti mama?" tanya Freya menatap papanya kecewa.
"Bersenang-senanglah dengan mamamu Freya, papa lelah, butuh istirahat!"
"PAPAAAAAA," teriak Freya kesal karena papanya yang menutup pintu kamar begitu saja, padahal dirinya belum selesai berbicara.