Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25. "Bukannya kita memang akur?"
Gerbang Utama Istana Kekaisaran Aurelius
Kereta kuda mewah berhenti dengan mulus di depan tangga marmer megah yang mengarah ke pintu utama Istana Kekaisaran. Lambang House Vancroft—perisai merah dengan pedang bercahaya—terukir jelas di sisi badan kereta, berkilau tertimpa cahaya siang.
Dua pelayan berseragam formal House Vancroft segera turun dari tempat duduk belakang. Dengan gerakan serempak dan terlatih, mereka membuka pintu kereta tanpa suara berlebih.
Di dalamnya, Arthur Vancroft duduk tegak dengan postur sempurna—hasil dari tiga hari pelatihan keras di bawah bimbingan Valerine. Ia mengenakan kemeja putih rapi dengan rompi merah gelap, jas hitam berhias bordir emas di bagian kerah, serta celana formal hitam yang jatuh presisi mengikuti garis tubuhnya. Sebuah jubah merah panjang dengan tepian bulu putih menyempurnakan penampilannya—ciri khas seorang Archduke.
Ia adalah The Crimson Aegis yang dikenal banyak orang—simbol kekuatan dan keteguhan.
Arthur menarik napas dalam. Ia merasakan aliran mana biru tipis dari Valerine—seperti benang tak kasatmata yang menghubungkan mereka, menstabilkan Mana Heart-nya dan menggantikan fungsi Magic Circuits yang telah rusak.
Aku bisa melakukannya, batinnya.
Kemudian ia melangkah keluar.
Begitu ujung sepatunya menyentuh tangga marmer, suasana di sekelilingnya berubah. Seolah tekanan udara mendadak meningkat. Seolah gravitasi menjadi sedikit lebih berat.
Puluhan bangsawan yang tengah berkumpul di halaman istana—berbincang dalam kelompok-kelompok kecil sambil menunggu pembukaan Dewan—tiba-tiba terdiam. Percakapan terhenti di tengah kalimat. Kepala-kepala menoleh serempak.
Dan tanpa perintah, banyak di antara mereka menundukkan kepala sedikit.
Bukan hormat resmi.
Hanya sebuah pengakuan naluriah—sebuah respons bawah sadar terhadap kehadiran yang jauh lebih kuat.
Aura alami yang memancar dari seorang pemimpin sejati tidak dapat dibuat-buat, tidak dapat ditiru. Ia lahir dari reputasi, dari pencapaian, dari rasa takut sekaligus hormat yang telah Arthur bangun selama bertahun-tahun.
Dan meskipun tubuhnya lemah, aura itu tetap ada.
Karena itu tidak bersumber dari mana ataupun kekuatan fisik. Itu adalah manifestasi dari kehendak murni.
Arthur berdiri di puncak tangga dengan postur sempurna—punggung tegak, bahu terbuka, dagu sedikit terangkat. Sorot matanya menyapu kerumunan dengan ketenangan penuh percaya diri.
Kemudian ia berbalik sedikit dan mengulurkan tangan ke dalam kereta.
Gerakan seorang pria terhormat yang terlatih yang menawarkan bantuan dengan elegansi alami.
Dari dalam, muncul tangan kecil. Tangan itu diletakkan dengan lembut di atas telapak Arthur.
Valerine Vancroft turun dari kereta dengan keanggunan yang membuat beberapa bangsawan wanita di antara kerumunan tak mampu menyembunyikan rasa iri.
Rambut peraknya ditata setengah terikat, sementara sisanya jatuh mengalir di punggung. Sebuah mahkota kecil perak bertatahkan safir bertengger anggun di kepalanya. Di lehernya, kalung perak dengan liontin berbentuk kepingan salju yang telah menjadi ciri khasnya.
Ia adalah The Silver Frost dalam seluruh kemegahannya.
Dengan satu tangan berada dalam genggaman Arthur dan tangan lainnya sedikit mengangkat ujung gaunnya agar tidak terinjak, Valerine melangkah turun dengan gerakan yang jelas terlatih oleh bertahun-tahun pendidikan etiket.
Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia tidak segera melepaskan tangan Arthur.
Sebaliknya, dengan gerakan halus, ia menggeser posisinya—menggandeng lengan Arthur dengan anggun, berdiri di sisinya sebagai pasangan yang setara dalam wibawa dan kemuliaan.
Posisi mereka sempurna—formasi klasik pasangan bangsawan. Sang Duchess menggandeng lengan kiri Archduke. Dari luar, mereka tampak seperti gambaran ideal, adipati agung yang berwibawa dan duchess yang anggun, berdiri berdampingan dengan koordinasi tanpa cela.
Kerumunan perlahan kembali berbicara, meski dengan nada yang lebih rendah. Kehadiran Arthur masih terasa seperti tekanan tak kasatmata di udara.
Valerine sedikit mendekat, nyaris tanpa terlihat. Senyumnya tetap terpasang—sopan, elegan, sempurna. Namun suaranya berubah menjadi bisikan yang hanya bisa didengar Arthur.
“Kenapa kau tidak langsung pergi?” gumamnya pelan, mata tetap lurus ke depan. “Kalau seperti ini, aku malah takut digosipkan bahwa kita benar-benar akur.”
Arthur menoleh tipis. Ekspresinya berubah—bukan secara dramatis. Hanya sekelebat kesedihan halus di mata merahnya yang biasanya tajam.
“Lho?” jawabnya dengan nada tulus dan sedikit terluka. “Bukannya kita memang sudah akur?”
Valerine nyaris tersandung saat mendengar itu.
Ia menatap Arthur dengan mata sedikit melebar, bibirnya terbuka tipis dalam keterkejutan.
Ekspresi macam apa itu?
“Kita tidak—” mulai Valerine.
Namun ucapannya terpotong ketika seorang bangsawan tua mendekat dengan langkah tergesa namun terhormat.
“Yang Mulia Archduke Vancroft! Duchess!” sapa Count Aldwin dengan antusias, disertai sedikit membungkuk. “Sungguh menyenangkan melihat Anda berdua dalam kondisi yang begitu baik!”
Dalam sekejap, Arthur beralih ke mode publik. Senyumnya berubah menjadi hangat namun tetap terlihat dingin.
“Count Aldwin,” ia membalas dengan anggukan hormat yang sesuai dengan pangkat sang Count. “Terima kasih. Saya pun senang bertemu kembali dengan Anda.”
“Dan Duchess Valerine, Anda terlihat memukau seperti biasa!” puji sang Count dengan kekaguman tulus.
Valerine membalas dengan senyum anggun yang tak pernah benar-benar menyentuh matanya. “Anda terlalu baik, Count.”
Percakapan ringan pun berlangsung singkat—sekitar cuaca, kondisi perjalanan menuju Aurelius, serta bisik-bisik agenda Dewan yang akan segera dimulai. Setelah sekitar 5 menit, Count Aldwin pamit dengan sopan dan menjauh.
Begitu jaraknya cukup aman dari pendengaran, Valerine langsung kembali berbisik, senyum formalnya tetap tak bergeser sedikit pun.
“Kita tidak akur,” desisnya halus. “Kita hanya sekutu sementara karena keadaan. Jangan berkhayal.”
Arthur menatap lurus ke depan, seolah tak terpengaruh. Namun nada suaranya terdengar ringan.
“Tapi kita menghabiskan tiga hari berlatih bersama,” balasnya polos.
Nada lugu itu entah bagaimana justru membuatnya semakin terlihat menjengkelkan.
“Itu karena aku harus, bukan karena aku mau,” potong Valerine pelan. Nadanya mendesis, tetapi tetap cukup rendah agar tidak terdengar orang lain.
“Tapi kau tetap melakukannya,” jawab Arthur tenang.
“Karena—”
“Yang Mulia Archduke! Duchess!”
Gangguan lagi. Kali ini seorang Marchioness muda dengan gaun merah muda yang terlalu penuh rumbai mendekat dengan antusias.
Dalam satu detik, keduanya kembali ke mode publik. Senyum sempurna. Anggukan anggun. Percakapan ringan tentang tren busana musim dingin dan pesta yang akan datang. Tawa kecil yang terukur. Segalanya tampak harmonis.
Begitu sang Marchioness berlalu, Valerine langsung melanjutkan dengan bisikan tajam.
“Dengar,” katanya dengan nada frustrasi yang tipis, “hanya karena kita bekerja sama bukan berarti kita tiba-tiba menjadi sahabat… atau—atau—”
Ia terhenti, mencari kata yang tepat.
“Atau pasangan yang harmonis?” Arthur membantu dengan nada seolah benar-benar ingin menolong.
“Ya! Kita bukan—”
“Yang Mulia!”
Seorang Duke tua berjanggut putih panjang mendekat. Siklus yang sama terulang. Senyum. Percakapan ringan tentang hasil panen di wilayah masing-masing.
Duke itu pun pergi.
Valerine kembali berbisik, kali ini ada sedikit nada putus asa di balik ketenangannya.
“Maksudku, orang-orang akan mulai menyadari kalau kita terlihat terlalu… nyaman satu sama lain. Mereka akan berpikir ada sesuatu yang berubah.”
“Tapi memang ada yang berubah,” jawab Arthur lugas.
Tatapan Valerine menajam. “Tidak. Ada. Yang. Berubah.”
“Valerine, tiga hari lalu kau menjaga koneksi mana denganku berjam-jam. Kau melatihku tanpa ampun. Kau tidur hanya empat jam setiap malam untuk memastikan aku siap hari ini—”
“Itu bukan karena aku peduli,” desis Valerine, menekankan setiap kata. “Itu demi bertahan hidup sebuah keputusan pragmatis yang aku ambil. Tidak lebih dari itu.”
Arthur menatapnya.
“Kenapa kau begitu menolak untuk mengakui bahwa kita mungkin… mulai benar-benar cocok satu sama lain?”
Pertanyaan itu diucapkan pelan.
Hanya rasa ingin tahu yang dilapisi melankolia tipis.
Valerine terdiam.
Senyumnya masih terpasang untuk dunia luar. Namun untuk sesaat, ia tidak memiliki jawaban.
...***...
🤭🤭