NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 krisis porselen dan rahasia kaldu tulang naga

Asap hitam dari kematian Mu Chen masih membubung tipis di puncak Menara Penatua Agung. Han Shuo berdiri di langkan menara, memandang ke bawah. Ribuan murid Sekte Awan Merah bersorak, tapi Han Shuo tidak merasa menang. Hatinya justru terasa berat seberat Kuali Naga Merah yang kini kembali ke punggungnya.

"Bos, lihat itu!" suara Ying memecah lamunan Han Shuo.

Di kejauhan, di luar gerbang utama sekte yang terletak di kaki gunung, awan debu membubung tinggi. Suara derap langkah kaki yang ritmis terdengar—bukan suara langkah manusia yang berat dan berdaging, melainkan suara dentingan keramik yang tajam dan dingin.

Klang. Klang. Klang.

Han Shuo menyipitkan matanya. Menggunakan penglihatan Qi yang ditingkatkan oleh Kitab Rasa Semesta, ia melihat barisan sosok putih yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Mereka adalah manusia, atau setidaknya berbentuk manusia, tapi seluruh tubuh mereka terbuat dari porselen putih yang indah namun mematikan.

"Pasukan Boneka Porselen Peramal Agung," desis Tetua Li yang baru saja selesai memulihkan diri. Wajahnya pucat pasi. "Mu Chen hanya pion untuk melemahkan kita. Peramal Agung ingin menghapus bukti... dia ingin meratakan seluruh gunung ini!"

Seni Perang dan Bumbu Darurat

Han Shuo tahu Sekte Awan Merah tidak dalam kondisi untuk bertarung. Pertempuran semalam melawan zombie kelaparan telah menguras tenaga semua orang.

"Tetua Li, kumpulkan semua murid yang masih bisa berdiri. Bawa mereka ke dapur pusat," perintah Han Shuo.

"Dapur? Tapi kita harus ke gerbang depan!"

"Kalian tidak akan menang melawan boneka sihir dengan pedang tumpul," Han Shuo berbalik, matanya berkilat. "Boneka itu digerakkan oleh Benang Qi yang sangat tipis. Untuk memutuskannya, kalian butuh energi yang tajam dan meledak. Aku akan memasak Bakpao Inti Ledakan."

Di dapur pusat sekte, suasana sangat kacau namun terorganisir di bawah komando Han Shuo. Ini bukan lagi sekadar memasak untuk rasa, ini adalah logistik perang.

"Ying, ambil stok Cabai Langit Sembilan Tingkat dari gudang rahasia Mu Chen. Kita butuh rasa pedas yang bisa membakar meridian!"

"Murid-murid sekte, dengarkan! Kalian tidak akan makan untuk kenyang. Kalian akan makan untuk menjadi senjata!"

Han Shuo berdiri di depan kuali raksasa yang bisa menampung seratus liter air. Ia memasukkan tulang-tulang binatang roh tingkat tinggi yang ditemukan di simpanan pribadi Mu Chen.

"Teknik Ekstraksi Rasa: Sumsum Mendidih!"

Han Shuo tidak menggunakan api biasa. Ia memanggil Api Jantung Bumi. Api biru kehijauan itu membungkus kuali, seketika membuat air di dalamnya bergolak hebat. Tulang-tulang itu hancur, mengeluarkan esensi berwarna emas yang kental.

Inilah rahasia Kaldu Tulang Naga (Palsu). Meski bukan naga asli, tulang ini berasal dari Kadal Tanah yang memiliki darah naga tipis.

Han Shuo mencampurkan kaldu itu ke dalam adonan tepung gandum roh. Di tengah setiap bakpao, ia memasukkan potongan daging yang telah direndam dalam minyak cabai peledak dan bubuk kristal Qi.

"Setiap bakpao adalah bom waktu," gumam Han Shuo. "Begitu masuk ke perut, energinya akan meledak ke seluruh pori-pori kulit, memberikan pemakannya kekuatan fisik dua kali lipat selama lima belas menit."

Pertempuran di Gerbang Porselen

Saat matahari mencapai puncaknya, Pasukan Boneka Porselen telah mencapai anak tangga terakhir. Ada sekitar lima ratus boneka. Di depan mereka, berdiri seorang pria berjubah perak dengan topeng tanpa wajah.

"Aku adalah Utusan Ketujuh dari Aula Peramal," suara pria itu dingin dan datar. "Sekte Awan Merah telah tercemar oleh iblis. Perintahnya adalah: Sterilisasi Total."

Boneka-boneka itu mengangkat tangan mereka. Lengan mereka terbelah, menyingkap peluncur anak panah porselen yang beracun.

"Makan sekarang!" teriak Han Shuo dari atas gerbang.

Ratusan murid Sekte Awan Merah secara serentak menggigit bakpao panas di tangan mereka.

BOOM!

Bukan ledakan suara, tapi ledakan aura. Uap panas keluar dari telinga dan hidung para murid. Kulit mereka berubah merah membara. Mata mereka penuh dengan semangat tempur yang gila akibat efek cabai langit.

"SERBUUUU!"

Para murid melompat turun dari tembok setinggi sepuluh meter. Biasanya, mereka akan terluka, tapi dengan efek Bakpao Inti Ledakan, otot mereka sekeras baja.

Seorang murid tingkat rendah menghantam boneka porselen dengan tinjunya. Boneka itu, yang biasanya antipuru dan anti-pedang, hancur berkeping-keping. Energi pedas dari bakpao itu merambat melalui sentuhan, membakar benang sihir yang menggerakkan boneka tersebut.

Han Shuo tidak tinggal diam. Ia meluncur turun menggunakan kualinya sebagai seluncuran.

"Utusan Ketujuh, kau membawa porselen ke depan seorang koki?" Han Shuo mendarat di depan pria bertopeng itu. "Kau tahu apa kegunaan porselen yang paling tepat bagi kami?"

Pria bertopeng itu mengeluarkan pedang tipis dari porselen hitam. "Untuk apa?"

"Untuk menjadi piring makananku!"

Han Shuo menghunus Pisau Bulan Sabit. Namun, kali ini pisaunya tidak mengeluarkan cahaya putih, melainkan cahaya merah gelap. Ia menggunakan fitur baru sistemnya: Inventaris Rasa.

"Aktivasi Rasa: Kepahitan Empedu Iblis!" (Rasa yang ia simpan dari sisa energi parasit Mu Chen semalam).

Pisau Han Shuo menebas udara. Gelombang energi berwarna ungu gelap menyapu barisan boneka. Boneka-boneka yang terkena energi ini tiba-tiba melambat. Sendi-sendi porselen mereka mulai berkarat secara ajaib. Keasaman dan kepahitan yang ekstrem merusak struktur magis mereka.

"Apa?! Bagaimana mungkin rasa bisa mempengaruhi benda mati?!" Utusan Ketujuh terkejut.

"Bagi koki tingkat tinggi, segala sesuatu di alam semesta ini memiliki 'Rasa' dan 'Tekstur'," Han Shuo melesat maju. "Dan kau... kau hanyalah kerupuk yang terlalu keras. Perlu direnyahkan!"

Duel: Pisau Koki vs Pedang Porselen

Utusan Ketujuh adalah seorang kultivator Inti Emas (Golden Core) tahap awal. Kekuatannya jauh di atas Han Shuo yang baru setengah langkah. Setiap ayunan pedang porselennya menciptakan sayatan di udara yang bisa memotong batu.

Han Shuo terdesak. Jubahnya robek di beberapa tempat.

"Kau punya bakat, Han Shuo. Bergabunglah dengan Aula Peramal. Kami bisa memberimu bahan-bahan yang tidak pernah kau impikan. Jantung Dewa, Darah Phoenix... kau bisa memasak apa saja!"

"Aku tidak memasak untuk ambisi," jawab Han Shuo sambil menangkis serangan pedang dengan sisi Kuali Naga Merah. TING! Suara dentingan itu memekakkan telinga. "Aku memasak untuk memberi makna pada kehidupan!"

Han Shuo memejamkan mata. Ia mengingat ajaran dalam Kitab Rasa Semesta Bab 2: Keseimbangan Rasa Tertinggi.

Di tengah pertempuran yang bising, Han Shuo masuk ke dalam zona meditasi kuliner. Ia melihat aliran Qi Utusan Ketujuh. Itu dingin, kering, dan rapuh—seperti keramik yang tidak dibakar dengan sempurna.

"Ketemu titik matangnya."

Han Shuo meletakkan kualinya di tanah. Ia tidak lagi bertahan. Ia berlari lurus ke arah Utusan Ketujuh.

"Mati kau!" Utusan Ketujuh menusukkan pedangnya ke jantung Han Shuo.

Han Shuo tidak menghindar. Ia menangkap bilah pedang porselen itu dengan tangan kosong. Darah mengalir, tapi Han Shuo tersenyum.

"Teknik Pemanasan Cepat: Api Jantung Bumi!"

Han Shuo mengalirkan api sucinya melalui luka di tangannya ke pedang porselen tersebut. Porselen adalah penghantar panas yang unik. Dalam sekejap, pedang itu membara merah.

"Sekarang... Kejut Pendingin!"

Han Shuo menyemburkan sisa air dari botol rohnya yang berisi air es gunung salju ke pedang yang panas itu.

PRANG!

Pedang porselen tingkat tinggi itu hancur menjadi debu halus akibat perubahan suhu yang ekstrem—prinsip dasar yang sama saat seorang koki merendam sayuran panas ke air es agar tetap renyah.

Sebelum Utusan Ketujuh bisa bereaksi, pisau Han Shuo sudah berada di lehernya.

"Katakan pada tuanmu," bisik Han Shuo. "Aku akan datang ke Ibukota. Bukan untuk melayaninya, tapi untuk membongkar perutnya dan melihat betapa busuknya isi jiwanya."

Han Shuo tidak membunuhnya. Ia menendang pria itu hingga terpental ke arah pasukan boneka yang mulai hancur.

"Pergi!"

Rahasia Kotak Bumbu Raja

Malam harinya, setelah pasukan boneka mundur dan sekte kembali tenang, Han Shuo duduk sendirian di perpustakaan rahasia Menara Penatua Agung. Di depannya, terletak Kotak Bumbu Raja yang masih tersegel dengan rantai hitam tipis.

Ying masuk membawa dua cangkir teh. "Bos, kenapa tidak kau buka saja? Mungkin isinya resep rahasia untuk menjadi Dewa Koki."

Han Shuo menggeleng. "Mu Chen benar. Kotak ini memiliki hawa keberadaan yang haus. Jika aku membukanya sekarang tanpa persiapan, aku akan menjadi seperti dia—hanya wadah bagi rasa lapar."

Namun, saat Han Shuo menyentuh permukaan kotak, Kitab Rasa Semesta di dalam kepalanya tiba-tiba terbuka ke halaman yang sebelumnya kosong.

Teks emas muncul:

[Syarat Membuka Segel Pertama: Kumpulkan Tiga Rasa Murni dari Benua Tengah.]

* Air Mata Permaisuri yang Jatuh (Rasa Kesedihan Murni).

* Keringat Petani Seribu Sawah (Rasa Kerja Keras Murni).

* Darah Pahlawan yang Dikhianati (Rasa Penyesalan Murni).

Han Shuo menarik napas panjang. Ini bukan sekadar mencari bahan makanan. Ini adalah perjalanan untuk memahami emosi manusia melalui rasa.

"Ying, siapkan barang-barang kita. Besok kita berangkat ke Ibukota."

"Hah? Secepat itu? Kita bahkan belum merayakan kemenangan!"

"Kemenangan ini hanya bersifat sementara," Han Shuo berdiri, menatap bintang-bintang. "Peramal Agung memiliki pengaruh di seluruh negeri. Jika kita tetap di sini, kita hanya akan menunggu giliran untuk dikepung lagi. Kita harus menyerang ke pusatnya."

Langkah Pertama Menuju Ibukota

Keesokan paginya, Han Shuo dan Ying meninggalkan Sekte Awan Merah. Tetua Li dan ribuan murid mengantar mereka sampai ke kaki gunung. Mereka memberikan sebuah lencana perak—Lencana Penatua Kehormatan.

"Tuan Han, jika Anda butuh bantuan, kirimkan pesan lewat merpati roh. Sekte Awan Merah akan selalu menjadi dapur Anda," kata Tetua Li dengan hormat.

Han Shuo mengangguk. Ia memacu kudanya (binatang roh bertanduk satu) menuju jalan utama yang mengarah ke utara.

Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah desa kecil yang tampak sunyi. Han Shuo menghentikan kudanya. Penciumannya yang tajam menangkap sesuatu yang aneh.

Aroma masakan yang sangat... familiar.

Aroma tumis kangkung dengan terasi roh dan bawang putih yang dihancurkan dengan sempurna. Aroma yang hanya bisa dibuat oleh satu orang.

"Ibu?" gumam Han Shuo, jantungnya berdegup kencang.

Ia melompat dari kuda dan berlari menuju sebuah gubuk kecil di pinggir desa. Tapi saat ia sampai di sana, gubuk itu kosong. Di atas meja kayu tua, masih ada sepiring tumis kangkung yang mengepul panas.

Di samping piring itu, ada sebuah surat kecil dengan tulisan tangan yang anggun:

"Shuo-er, jangan mencari ibu di masa lalu. Carilah ibu di puncak rasa. Dunia ini lebih luas dari yang kau bayangkan. Jangan biarkan api di kualimu padam."

Han Shuo mengepalkan tangannya. Air mata hampir menetes, tapi ia menahannya. Ia mengambil sumpit yang ada di meja dan mencicipi masakan itu.

Rasanya... pedas, gurih, dan penuh kerinduan.

[Sistem Pemberitahuan: Anda telah mencicipi 'Sisa Rasa Keibuan'. Kultivasi meningkat secara paksa! Inti Emas terbentuk 10%!]

"Aku akan menemukanmu, Ibu. Bahkan jika aku harus memasak untuk seluruh dunia ini demi menarik perhatianmu."

Han Shuo kembali ke kudanya dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya. Di cakrawala, menara-menara Ibukota Pusat mulai terlihat samar di balik kabut. Di sanalah, Turnamen Koki Dewa akan diadakan. Dan di sanalah, semua jawaban berada.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!