Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aku cukup lama berdiam diri dan tatapanku lurus ke depan. Dadaku masih terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tertinggal di ruang ini.
“Dok…” lirihku akhirnya.
“Iya?”
“Aku mau pulang,” seruku pelan, nyaris seperti permintaan maaf.
“Boleh. Aku antar kamu sampai depan,” ucapnya lembut.
“Gak perlu, Dok. Aku bisa sendiri,” jawabku cepat, refleks menolak.
Aku mengangkat wajah dan menatapnya.
Sekejap aku tertegun.
Dokter itu masih muda. Wajahnya bersih, rahangnya tegas, dan sepasang matanya menatapku dengan tenang—bukan tatapan iba, tapi perhatian yang tulus. Jantungku sempat berdetak tak beraturan karena kaget, bukan karena kagum semata, melainkan karena caranya membuatku merasa… aman.
“Kamu yakin?” tanyanya lagi, alisnya sedikit bertaut.
“Iya,” jawabku mengangguk, meski kakiku masih terasa lemas.
Ia tersenyum tipis, senyum profesional tapi hangat. “Kalau begitu, hati-hati di jalan. Kalau pusing atau sesaknya balik lagi, langsung ke IGD, ya.”
“Iya, Dok. Makasih…”
Aku melangkah pergi, tapi entah kenapa langkahku terasa berat. Ada perasaan asing yang menyelinap—bukan harapan, hanya sekadar kehangatan kecil di tengah kekacauan yang baru saja menelanku.
Saat pintu otomatis rumah sakit terbuka, aku menarik napas dalam.
Di luar, dunia tetap berjalan seperti biasa…
sementara hidupku terasa baru saja retak.
Mau mengadu ke siapa?
Sedangkan aku hanya perempuan yang tumbuh di lingkungan panti asuhan.
Aku tak pernah tahu siapa kedua orang tuaku, bahkan wajah mereka pun tak sempat tinggal di ingatanku. Hidupku berjalan apa adanya, sampai akhirnya aku mengenal Mas Bram—laki-laki yang kutemui lewat pekerjaanku di perusahaannya.
Aku kira dia adalah kebahagiaan yang Tuhan titipkan untuk mengganti semua kekosongan dalam hidupku. Aku percaya, aku berharap, aku menyerahkan hatiku tanpa ragu.
Namun ternyata…
semuanya tak seperti yang kubayangkan.
Yang kupeluk ternyata bayangan,
yang kuharap ternyata luka,
dan yang kusebut rumah justru menjadi tempat paling menyakitkan untuk kembali.
Aku tersenyum di depan orang lain,
tapi di dalam diriku, ada perempuan rapuh yang kelelahan—
bingung harus kuat untuk siapa,dan menangis kepada siapa.
Sesampainya di rumah, aku langsung melangkah masuk tanpa menoleh ke belakang. Pintu kututup agak keras, seolah ingin mengurung semua rasa yang menyesakkan.
Aku masuk ke kamarku. Sunyi.
Langkah kakiku terhenti saat pandanganku jatuh pada satu bingkai di meja—foto pernikahanku dan Mas Bram. Senyum kami di sana terlihat begitu bahagia, begitu palsu.
Tanganku gemetar saat meraih bingkai itu.
“Aku gak nyangka, Mas… kamu sejahat ini,” isakku pecah. “Kamu jadikan aku istri kedua seorang suami…”
Dadaku terasa perih, napasku tersengal.
“Aku benci kamu, Mas! Aku benci!” teriakku histeris.
“AGGGHHHH!!”
Aku berteriak sekencang mungkin, membiarkan amarah, kecewa, dan sakit hati keluar bersamaan.
Air mataku jatuh tanpa bisa dihentikan, tubuhku melemas hingga aku terduduk di lantai, memeluk bingkai foto itu seperti orang bodoh yang masih berharap.
Cinta yang kukira anugerah…
ternyata hanya cara Tuhan mengujiku dengan luka paling kejam.
--
Keesokan paginya aku terbangun dengan mata sembab dan kepala terasa berat. Bekas tangis semalam masih jelas terasa, perihnya belum juga pergi. Pandanganku beralih ke sisi ranjang—kosong.
Mas Bram tidak pulang semalam.
Dadaku kembali terasa sesak. Hatiku sakit, sakit sekali, sampai rasanya napas pun ikut nyeri. Aku tersenyum pahit, menyadari satu hal yang sejak dulu sebenarnya sudah berulang kali menampar logikaku.
Pantas saja…
Pantas saja dia sering keluar kota.
Pantas saja dia hanya dua minggu di rumah ini, selebihnya entah ke mana.
Ternyata bukan urusan pekerjaan.
Dia pulang—bukan ke aku, tapi ke istri tuanya.
Aku hanya persinggahan.
Hanya rumah singgah di antara jadwalnya yang rapi.
Air mataku kembali jatuh, tanpa suara. Bukan karena cemburu semata, tapi karena aku sadar betapa bodohnya diriku yang selama ini memilih percaya. Aku yang menunggu, aku yang berharap, aku pula yang ditinggalkan.
Dan pagi itu, aku benar-benar mengerti…
Aku bukan istrinya sepenuhnya.
Aku hanya rahasia yang disembunyikan rapi,
sementara luka-lukaku harus kupeluk sendiri.
Kuusap air mataku kasar, memaksa diriku untuk berhenti menangis. Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan jika hidup tetap harus berjalan. Aku segera bangkit,
masuk ke kamar mandi, membiarkan air dingin mengalir membasahi tubuhku—seolah ingin membersihkan sisa luka semalam.
Selesai bersiap, hanya satu nama yang terlintas di kepalaku.
Arumi.
Satu-satunya sahabat yang kumiliki saat ini. Tempatku berbagi cerita tanpa takut dihakimi.
Arumi bekerja di sebuah toko bunga kecil. Tangannya selalu harum oleh aroma mawar dan melati, berbanding terbalik dengan hidupnya yang dulu juga tak kalah keras.
Kami berasal dari panti asuhan yang sama, tumbuh bersama dengan mimpi sederhana: hidup tenang dan dicintai dengan tulus.
Akulah yang lebih dulu pergi, menikah, meninggalkan panti dengan harapan baru.
Sedangkan Arumi… tetap menjadi dirinya yang hangat, setia, dan kuat.
Aku mengambil ponsel, jemariku sedikit gemetar.
[Rum, aku mau ke tempat kamu. Aku perlu cerita.]
Hanya kepadanya aku bisa rapuh.
Karena dari semua orang di dunia ini, Arumi adalah satu-satunya keluarga yang kupunya.
Tak lupa aku mengenakan kacamata hitam, menutupi mata sembab yang masih menyisakan bekas tangis. Aku tak ingin ada pertanyaan, apalagi tatapan iba.
Aku pun bergegas masuk ke dalam mobil. Pintu kututup, mesin dinyalakan. Tanpa ragu, aku melajukan mobil menuju toko bunga tempat Arumi bekerja—aku yakin toko itu sudah buka sejak pagi.
Sepanjang perjalanan, pikiranku penuh. Ingatanku kembali ke masa lalu, saat aku dan Arumi berbagi kamar sempit di panti asuhan, berbagi mimpi tentang hidup yang lebih baik.
Aku tak menyangka, hidup yang kupilih justru membawaku pada luka sebesar ini.
Setibanya di depan toko bunga itu, aroma segar samar-samar tercium bahkan sebelum aku turun dari mobil. Toko kecil dengan etalase sederhana itu selalu terasa hangat—berbeda dengan rumahku sendiri yang kini terasa dingin.
Aku menarik napas dalam sebelum melangkah keluar.
Entah kenapa, aku merasa…
di tempat inilah, air mataku akhirnya boleh jatuh tanpa harus kusembunyikan lagi.
“Rania,” sapa Arumi begitu melihatku turun dari mobil.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu melangkah ke depan toko dan duduk di bangku kecil dekat etalase bunga. Tanganku saling menggenggam, gelisah.
Arumi memperhatikanku sebentar, seolah membaca sesuatu dari caraku diam.
Ia meletakkan sapunya, lalu duduk di sampingku.
“Apa kamu baik-baik saja, Rania?” tanyanya lembut.
Pertanyaan sederhana itu justru membuat dadaku terasa sesak. Bibirku bergetar, kacamata hitam yang kupakai seolah tak lagi mampu menyembunyikan apa pun. Perlahan kuturunkan kacamata itu, memperlihatkan mataku yang sembab.
“Rum…” suaraku serak. “Aku capek…”
Satu kalimat itu cukup.
Air mataku jatuh tanpa izin, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, aku membiarkan diriku rapuh di hadapan seseorang yang benar-benar peduli.
****