NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Matahari Asteria

Cahaya di Atas Puing Keangkuhan

Sinar matahari pagi yang menerobos jendela kamar kaisar terasa asing di kulit Elara, seolah-olah bola api di langit itu sedang menghakimi kegelapan yang baru saja ia telan ke dalam jiwanya. Elara berdiri mematung di depan kaca besar, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra tipis pemberian Valerius. Luka sayatan di lengannya, yang semalam masih bersimbah darah akibat belati perak milik Elena, kini hanya menyisakan garis merah tipis yang hampir pudar. Kecepatan pemulihan ini adalah bukti bahwa sirkuit energi Void-nya telah mencapai sinkronisasi yang lebih dalam dengan tubuh manusianya setelah ia memurnikan residu energi hitam yang ia rampas dari Elena.

"Nyonya, Anda sudah bangun?" suara Rina terdengar sangat pelan dari balik pintu, penuh dengan nada hormat yang belum pernah ada sebelumnya.

"Masuklah, Rina," jawab Elara tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.

Pintu terbuka dengan desis halus. Rina masuk membawa nampan berisi air mawar dan handuk bersih. Langkah pelayan itu terhenti sejenak saat melihat Elara berdiri di tengah cahaya matahari. "Istana sedang gempar, Nyonya. Berita tentang jatuhnya Selir Utama Elena ke penjara bawah tanah menyebar lebih cepat daripada wabah. Para pelayan... mereka takut, tapi mereka juga merasa lega."

"Takut karena mereka tidak tahu siapa yang akan menggantikannya, dan lega karena tidak akan ada lagi sihir hitam yang mencekik napas mereka di lorong-lorong ini," Elara berbalik, matanya yang kini tampak lebih tajam menatap Rina. "Bagaimana dengan Panglima Vane?"

Rina meletakkan nampan dengan tangan yang sedikit bergetar. "Beliau terlihat di gerbang taman pagi ini, Nyonya. Wajahnya sangat gelap. Dia mencoba meminta izin masuk untuk melihat kondisi taman yang Anda pulihkan semalam, tapi pengawal pribadi kaisar menahannya."

"Biarkan dia masuk," kata Elara dingin. "Aku ingin dia melihat dengan matanya sendiri bahwa matahari telah terbit kembali di Asteria, dan dia tidak lagi memiliki bayangan untuk bersembunyi."

"Tapi Nyonya, dia adalah ksatria tingkat logam. Jika dia berniat buruk—"

"Dia tidak akan berani menyentuhku di bawah pengawasan Valerius yang sedang terobsesi, Rina. Justru jika aku bersembunyi, aku memberinya harapan bahwa aku takut padanya," Elara melangkah mendekati Rina, mengambil buah Asteria yang ranum dari nampan. "Bawakan jubah luarku. Kita akan menyambut Panglima di taman."

Taman Asteria yang kemarin lusa tampak seperti tanah kematian yang membusuk akibat racun Elena, kini bernafas dengan kehidupan yang tidak wajar. Mawar-mawar ungu perak mekar dengan kelopak yang begitu kaku namun indah, beresonansi dengan detak jantung Elara. Setiap kali Elara melangkah, ia bisa merasakan aliran energi di bawah tanah, sebuah jaring informasi metafisika yang ia tanam semalam.

Panglima Vane berdiri di tengah jalan setapak, tangannya menggenggam gagang pedang dengan kencang hingga buku jarinya memutih. Saat melihat Elara mendekat, aura ksatria tingkat duanya meledak secara instan, mencoba menekan mental wanita di depannya.

"Nyonya Elara," suara Vane berat dan penuh kecurigaan. "Saya tidak percaya pada keajaiban. Saya hanya percaya pada apa yang bisa dijelaskan oleh logika militer. Bagaimana mungkin taman yang sudah mati dalam hitungan jam bisa mekar seperti ini tanpa bantuan sihir terlarang?"

Elara tidak berhenti. Ia terus berjalan hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Aura penekanan Vane membentur dinding Void yang tak terlihat di sekitar Elara, hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuh kulitnya.

"Logika militer Anda seringkali gagal memahami bahwa tanah ini memiliki ingatannya sendiri, Panglima," Elara menatap langsung ke pupil mata Vane. "Taman ini tidak mekar karena sihir terlarang. Ia mekar karena racun yang selama ini membebaninya telah saya angkat. Apakah Anda sedang menuduh saya, atau Anda sebenarnya sedang berduka karena sumber kekuatan selir Anda telah musnah?"

"Jangan bermain kata dengan saya! Elena adalah aset kekaisaran!" Vane menggeram, suaranya naik satu oktaf.

"Elena adalah parasit yang hampir membunuh kaisar Anda dengan paranoid yang ia ciptakan," Elara menyela dengan nada yang lebih tajam dari belati mana. "Jika Anda lebih peduli pada seorang pengkhianat yang mencoba membunuh penasihat kaisar daripada stabilitas istana, maka mungkin saya harus bertanya pada Yang Mulia; di mana sebenarnya loyalitas faksi militer lama berada?"

Wajah Vane memucat sejenak. Ancaman itu sangat nyata. Ia tahu Valerius saat ini tidak akan ragu mengeksekusi siapapun yang menghalangi Elara.

"Saya hanya ingin memastikan keamanan kekaisaran," Vane mencoba membela diri, meskipun suaranya kini goyah.

"Keamanan kekaisaran ada di tangan saya sekarang, Panglima. Bukan di tangan seorang wanita yang bicara dengan entitas kegelapan di balik kelambu," Elara melangkah maju, memaksa Vane untuk mundur selangkah. "Jika Anda ingin tetap memegang pedang Anda, pastikan pedang itu mengarah ke musuh di perbatasan Utara nanti, bukan ke arah saya. Karena jika Anda mencoba melakukannya lagi, saya tidak akan hanya mematahkan sihir Anda, saya akan menghapus eksistensi Anda dari sejarah."

Resonansi di Antara Akar

Vane terdiam, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia merasakan sebuah kekuatan yang sangat asing—sesuatu yang jauh lebih purba dan dingin daripada sihir hitam Elena—sedang mengamatinya dari balik mata Elara. Tanpa kata lagi, Panglima itu membungkuk kaku dan berbalik pergi, langkahnya tidak lagi seangkuh saat ia datang.

Elara menghela napas panjang setelah Vane menghilang dari pandangan. Ia merasakan sirkuit energinya berdenyut nyeri. Menggunakan penekanan Void terhadap ksatria tingkat logam memerlukan konsentrasi yang menguras mentalnya.

"Nyonya, Anda baik-baik saja?" Rina mendekat dengan cemas.

"Hanya sedikit lelah, Rina. Memanipulasi ketakutan orang seperti Vane membutuhkan lebih banyak energi daripada memperbaiki bunga-bunga ini," Elara duduk di bangku taman kayu yang menghadap ke arah matahari terbit.

Seorang pelayan muda, mungkin baru berusia dua belas tahun, sedang berjongkok di dekat semak mawar, tampak gemetar ketakutan saat melihat konfrontasi tadi. Elara memperhatikannya sejenak. Anak itu mengingatnya pada pelayan kecilnya di masa lalu yang tewas terbakar saat penyerangan Asteria. Sebuah getaran irasional muncul di dada Elara—sisa kemanusiaan Aurelia yang seharusnya sudah ia kubur.

"Kemarilah, kecil," panggil Elara lembut.

Anak itu mendekat dengan langkah ragu, kepalanya tertunduk dalam. "Mohon ampun, Nyonya... saya tidak bermaksud menguping..."

"Kau tidak melakukan kesalahan," Elara mengambil buah Asteria yang tadi ia bawa dan menyerahkannya pada anak itu. "Makanlah. Buah ini akan memberimu kekuatan untuk bertahan di istana yang dingin ini."

"Tapi... ini buah untuk bangsawan..." anak itu menatap buah merah ranum itu dengan mata membelalak.

"Di taman ini, aku yang menentukan siapa yang pantas mendapatkan apa," Elara mengusap kepala anak itu pelan. "Dengarkan aku. Jika ada penjaga atau orang asing yang bertanya padamu tentang apa yang kulihat atau kulakukan di sini, kau hanya perlu mengatakan bahwa aku sedang berdoa untuk kemakmuran kaisar. Sebagai imbalannya, kau akan selalu aman di bawah perlindunganku. Mengerti?"

Anak itu mengangguk cepat, matanya berbinar penuh rasa terima kasih. "Saya mengerti, Nyonya! Saya akan setia pada Anda!"

Setelah anak itu pergi, Elara menatap tangannya yang tadi mengusap kepala sang pelayan. Tangan itu masih terasa hangat, sebuah sensasi yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

"Anda memberikan buah yang sangat langka itu hanya untuk seorang pelayan rendahan, Nyonya?" Rina bertanya dengan nada heran.

"Satu pelayan yang merasa berhutang nyawa padaku jauh lebih berguna daripada sepuluh penjaga yang bekerja hanya karena gaji, Rina," Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Mereka adalah mata dan telingaku. Di istana ini, informasi adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas."

Suasana taman yang tenang tiba-tiba terusik oleh kehadiran sosok yang sangat ia kenali. Kaelen muncul dari balik bayangan pohon ek besar di sudut taman. Ia mengenakan seragam penjaga biasa untuk menyamar, namun langkah tegap dan tatapan matanya yang waspada tidak bisa menyembunyikan identitas aslinya sebagai jenderal besar Asteria.

Elara memberi isyarat pada Rina untuk menjauh dan menjaga perimeter.

"Kau mengambil risiko besar dengan datang ke sini di siang hari, Kaelen," bisik Elara saat pria itu berdiri di sampingnya.

"Aku harus melihat sendiri bahwa kau masih hidup setelah kekacauan semalam, Aurelia... maksudku, Elara," suara Kaelen parau. "Berita tentang kau ditikam di koridor membuatku hampir menyerbu gerbang istana."

"Luka itu perlu, Kaelen. Tanpa darah itu, Elena tidak akan pernah bisa dijebloskan ke penjara bawah tanah," Elara menunjukkan lengannya yang sudah membaik. "Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan pasukanmu. Valerius akan segera mengumumkan pengiriman pasukan ke perbatasan Utara untuk meredam gejolak faksi militer lama. Ini adalah kesempatan kita untuk memindahkan aset Asteria keluar dari pusat pengawasan istana."

"Jadi kita benar-benar akan ke Utara?" Kaelen menatap Elara dengan duka yang mendalam. "Itu adalah tanah kematian yang bersalju. Jika tanganmu mulai menghitam karena Void, suhu dingin di sana akan mempercepat pembusukan syarafmu."

"Maka aku harus menjadi lebih kuat sebelum kita sampai di sana," Elara menatap cakrawala dengan tatapan absolut. "Sesi pertama telah usai, Kaelen. Aku telah menghancurkan selir utamanya. Sekarang, aku akan menghancurkan sistem militernya dari dalam."

Deklarasi di Atas Takhta yang Retak

Suara terompet perak bergema di sepanjang lorong utama istana, memanggil seluruh petinggi militer dan bangsawan untuk berkumpul di Ruang Sidang Agung. Elara berjalan di samping Valerius, bukan lagi sebagai tawanan yang menunduk, melainkan sebagai bayangan yang berdiri tegak di sisi sang penguasa. Gaunnya yang berwarna putih dengan sulaman benang perak Asteria tampak berkilau, memberikan kesan kesucian yang kontras dengan noda darah yang baru saja dibersihkan dari koridor semalam.

Valerius duduk di takhtanya, matanya menyapu ruangan dengan sorot paranoid yang kini bercampur dengan kepuasan dingin. Di barisan depan, Panglima Vane berdiri dengan wajah kaku, sementara kursi yang biasanya ditempati oleh faksi Elena kini kosong melompong—sebuah lubang hitam dalam hierarki politik istana.

"Semalam, sebuah pengkhianatan busuk mencoba meracuni jantung kekaisaran ini," Valerius memulai, suaranya menggelegar, memantul di dinding marmer yang tinggi. "Selir Elena, yang selama ini kita percayai, telah melakukan upaya pembunuhan terhadap Elara, penasihat pribadiku yang telah memulihkan taman suci kita. Tindakan ini bukan hanya kriminal, tapi merupakan penghinaan terhadap kehendak kaisar."

Bisikan-bisikan halus menjalar di antara para bangsawan seperti ular yang merayap di rerumputan. Elara bisa merasakan frekuensi ketakutan mereka; mereka tahu bahwa jatuhnya Elena berarti jatuhnya perlindungan bagi banyak dari mereka.

"Mulai hari ini, gelar Selir Utama dicabut selamanya," lanjut Valerius, tangannya mencengkeram lengan kursi takhtanya. "Dan untuk memastikan stabilitas, aku mengumumkan struktur baru. Elara akan memegang kendali penuh atas urusan internal istana dan pemulihan spiritual kekaisaran. Segala bentuk penentangan terhadapnya adalah penentangan terhadapku."

Vane melangkah maju, suaranya bergetar namun mencoba tetap tegas. "Yang Mulia, bagaimana dengan perbatasan Utara? Pasukan kita di sana membutuhkan kepemimpinan yang kuat, bukan sekadar urusan internal istana. Gejolak di tanah dingin semakin meningkat."

Valerius menatap Vane dengan tatapan yang membuat sang panglima tertunduk. "Justru karena itulah, Vane, kau dan pasukanmu akan segera berangkat ke Utara. Aku bosan mendengar laporan tentang kegagalan kalian meredam pemberontakan. Elara akan ikut serta sebagai pengawas pribadiku untuk memastikan tidak ada lagi 'gangguan' sihir hitam yang menghambat kemenangan kita."

Elara mencatat raut wajah Vane yang mendadak pucat. Ini adalah manuver Third Option yang sempurna. Valerius tidak hanya menyingkirkan faksi militer dari ibu kota, tapi juga meletakkan mereka di bawah pengawasan Elara di medan perang yang paling berbahaya. Bagi Vane, ini adalah hukuman mati yang dibungkus dalam tugas negara.

"Keputusan yang bijaksana, Yang Mulia," Elara berbisik pelan, namun suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan yang mendadak sunyi. "Perbatasan Utara adalah tempat di mana loyalitas sesungguhnya diuji oleh badai salju. Saya akan memastikan bahwa setiap tetes keringat pasukan Anda digunakan untuk kejayaan kekaisaran, bukan untuk intrik yang sia-sia."

Perpisahan dengan Tanah yang Hangat

Setelah sidang berakhir, Elara kembali ke taman Asteria untuk terakhir kalinya sebelum keberangkatan. Ia berdiri di bawah pohon ek besar, tempat di mana Kaelen biasanya menunggu. Angin sore membawa aroma mawar yang kini telah sepenuhnya pulih, namun bagi Elara, aroma itu mulai terasa hambar. Penggunaan sihir Void yang intens semalam telah mengikis sebagian dari indra perasanya; ia bisa mencium bau bunga, tapi ia tidak lagi bisa merasakan kegembiraan darinya.

"Semua sudah siap, Nyonya," Kaelen muncul dari balik bayangan, suaranya rendah. "Pasukan Asteria yang tersisa telah menyusup ke dalam barisan logistik yang akan berangkat besok. Kita akan bergerak di bawah radar Vane."

"Bagus. Pastikan mereka membawa cukup banyak Kristal Mana tingkat rendah. Di Utara, sumber energi akan sulit didapat," Elara menyerahkan sebuah kantong kecil berisi garam penawar yang ia buat di laboratorium istana. "Berikan ini pada orang-orang kita. Suhu dingin di Utara bisa memicu efek samping sihir hitam Elena yang mungkin masih tersisa di tubuh mereka."

Kaelen menatap tangan Elara yang kini terbungkus sarung tangan sutra hitam yang baru. "Aurelia... apakah kau benar-benar sanggup menghadapi dinginnya Utara dengan kondisi jiwamu yang sekarang?"

"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi di tempat terbuka, Kaelen," Elara menatap jenderalnya dengan mata yang dingin dan absolut. "Aurelia yang lembut telah mati di dalam api. Elara yang sekarang adalah satu-satunya yang bisa membawa kita pulang ke Asteria yang merdeka. Meskipun aku harus membekukan seluruh dunia untuk melakukannya."

Kaelen terdiam, menundukkan kepalanya sebagai bentuk kepatuhan sekaligus kesedihan yang tak terucapkan. Ia menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi sekadar putri yang ia lindungi, melainkan seorang penguasa yang mulai kehilangan kehangatan manusianya demi tujuan yang lebih besar.

Malam itu, Elara berdiri di balkon paviliunnya, menatap bintang-bintang yang bersinar di langit malam yang jernih. Besok, ia akan meninggalkan kenyamanan istana yang penuh intrik menuju medan perang yang jujur dan mematikan. Sesi pertama dari pembalasannya telah ditutup dengan kemenangan telak atas Elena, namun ia tahu bahwa musuh sesungguhnya bukan hanya manusia, melainkan entitas yang bersembunyi di balik segel-segel kuno yang mulai retak.

Ia menyentuh luka di lengannya yang kini sudah benar-benar menghilang, tidak meninggalkan bekas apapun. Namun di dalam batinnya, luka yang ditinggalkan oleh api Valerius masih terus membara, memberikan panas yang ia butuhkan untuk bertahan hidup di tanah yang paling dingin sekalipun.

"Matahari Asteria telah terbit," bisik Elara pada kegelapan malam. "Dan besok, ia akan menyinari jalan menuju kehancuran mereka yang telah mencuri kehidupanku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!