Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Terima
“Papa!” suara Tuan Leon terdengar meninggi, memecah suasana ruang keluarga yang masih dipenuhi ketegangan. “Apa Papa tidak berlebihan memberikan Naomi empat puluh persen saham Elios Group?”
Tuan Jack menatap putranya dengan sorot mata tajam, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada protes itu.
“Memangnya kenapa?” tanyanya datar. “Itu hak Naomi.”
Leon menghela napas, jelas tidak puas. “Kalau begitu … bagaimana dengan Viviane, Pa?”
Tuan Jack mengernyit. “Maksudmu bagaimana?”
“Papa memberikan saham sebesar itu pada Naomi,” lanjut Leon, “lalu Viviane tidak mendapatkan apa-apa?”
Nada suara Tuan Jack mendadak berubah keras.
“Heh!” hardiknya. “Dia bukan cucu kandungku. Kenapa aku harus memberikan hartaku padanya?! Hah?!”
Ucapan itu meluncur tajam, menghantam tepat ke dada Viviane. Tangannya yang sejak tadi terkulai di sisi tubuh langsung mengepal kuat, kukunya hampir menancap ke telapak tangan.
Leon kembali menarik napas dalam-dalam. “Pa … Viviane sudah menjadi bagian dari keluarga kita.”
“Lalu?” potong Tuan Jack dingin. “Jadi sekarang dia mengharapkan sesuatu dari keluarga ini?”
Nyonya Ruby, Carlos, dan bahkan Leon langsung menggeleng cepat. “Tidak begitu, Pa,” ujar Leon tergesa. “Viviane anak baik. Dia gadis yang tulus.”
“Tulus?” Nyonya Merlin akhirnya ikut bersuara, bibirnya melengkung tipis.
Leon melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Bemar, Ma. Viviane sudah hidup bersama kita belasan tahun. Ia sudah kami anggap sebagai putri kami sendiri. Kenapa ia tidak mendapatkan apa pun?”
Protes itu semakin jelas terdengar. Bagaimanapun, dalam pembagian saham tersebut, hanya Carlos dan Naomi yang mendapatkan bagian.
Nyonya Merlin menatap Leon dengan dingin. “Apa lagi yang harus dia dapatkan?” ucapnya tajam. “Jika ia benar-benar tulus, ia seharusnya bersyukur bisa hidup enak dan mewah di kediaman ini.”
Wanita tua glamor itu menyilangkan tangan di dada. “Kalian tidak mengembalikannya ke jalanan, bukan? Lalu apa yang biasanya diharapkan anak angkat kalau bukan harta?”
Kata-kata itu membuat suasana semakin membeku.
Nyonya Merlin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Viviane. Tatapannya tajam dan menusuk.
“Viviane,” panggilnya. “Kamu tidak keberatan dengan pengaturan ini, bukan?”
Seisi ruangan menoleh.
Dengan tangan masih mengepal, Viviane perlahan mengangkat wajahnya. Senyum manis terlukis di bibirnya, sangat kontras dengan hatinya yang bergemuruh penuh emosi.
“Tidak, Nenek,” jawabnya lembut. “Aku tidak masalah jika tidak mendapatkan saham.”
Ia menunduk sedikit. “Aku sudah sangat bersyukur bisa memiliki keluarga yang lengkap. Itu adalah harta paling berharga bagiku.”
Nyonya Merlin mengangguk puas.
“Lihat?” katanya sambil menatap yang lain. “Viviane saja tidak mempermasalahkannya. Setidaknya dia mengerti posisinya di rumah ini yang hanya anak angkat.”
Sekali lagi menekankan kata anak angkat.
Ruangan kembali sunyi.
Tuan Jack dan Nyonya Merlin saling pandang, lalu tersenyum sinis. Berbeda dengan mereka, Tuan Leon, Nyonya Ruby, dan Carlos justru memandang Viviane dengan tatapan penuh iba dan kekaguman, seolah gadis itu benar-benar tulus dan tidak mementingkan apa pun.
Tuan Jack menghela napas panjang. “Sekarang semua ini sudah percuma,” katanya berat. “Naomi telah kembali ke keluarga Atlas.”
Tatapannya menyapu anak, menantu dan cucunya, satu per satu. “Dan semua ini terjadi karena ketidakbecusan kalian.”
Carlos segera angkat bicara. “Kakek tidak perlu khawatir. Naomi pasti akan kembali. Ia hanya merajuk. Nanti juga pulang sendiri.”
Tuan Jack menatap cucunya itu lama. “Mudah-mudahan,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Jika tidak … bersiaplah. Kalian akan merasakan penyesalan.”
Setelah berkata demikian, Tuan Jack bangkit dari duduknya. Nyonya Merlin mengikutinya tanpa menoleh lagi. Keduanya melangkah keluar dari mansion Elios, kembali menuju vila mereka.
Begitu pasangan itu pergi, suasana langsung berubah.
Nyonya Ruby berdiri dan memeluk Viviane erat..“Kamu terlalu baik, sayang,” katanya lembut. “Padahal kamu lebih berhak daripada Naomi.”
Viviane terkejut, namun tidak menolak pelukan itu. “Tenang saja,” lanjut Nyonya Ruby. “Mami akan memberikan saham milik Mami untukmu.”
Carlos ikut mendekat. “Kakak juga,” ujarnya mantap. “Kakak akan membagi saham kakak untuk Viviane.”
Tuan Leon mengangguk setuju. “Papi juga begitu.”
Viviane tampak terkejut. Ia segera menggeleng dan berkata pelan,
“Tidak perlu … aku sungguh tidak mengharapkannya. Yang terpenting kalian menyayamgi aku. Sungguh!”
Tapi di balik wajahnya yang tampak terharu, hatinya justru bersorak gembira.
Dasar manusia bodoh!
*
*
Di sisi lain, Naomi kembali dari toilet bersama Sonya. Setelah rambutnya dibersihkan dan ia duduk kembali di tempatnya, Naomi menatap ketiga sahabatnya dengan ekspresi serius yang jarang mereka lihat.
“Aku mau bicara serius dengan kalian,” ujar Naomi akhirnya.
Ia sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dan Naomi sudah bertekad memberitahu ketiga sahabatnya itu. Karena, ia tak bisa melakukan hal itu sendiri.
Naomi juga telah meminta pendapat pada Sila, dan Sila berkata tak ada salahnya memberitahu, banyak kepala lebih bagus dari pada satu kepala. Sebab, ketiga sahabat Naomi orang yang bisa dipercaya.
Sonya, Yura, dan Timmy langsung menoleh bersamaan.
“Serius bagaimana?” tanya Timmy heran.
“Wajahmu tegang sekali,” tambah Yura.
Naomi melirik sekeliling. Kantin masih ramai. Beberapa mahasiswa bahkan masih melirik ke arah mereka, berbisik-bisik membicarakan kejadian sebelumnya.
“Kita ke rooftop saja,” kata Naomi pelan. “Di sini terlalu ramai.”
Ketiganya saling pandang sebentar, lalu mengangguk.
Tanpa banyak bicara, keempatnya segera bergegas menuju lantai atas gedung fakultas bisnis, tempat yang sering mereka datangi untuk bersantai atau sekadar menghindari keramaian.
Begitu tiba di rooftop, Naomi menutup pintu dan menguncinya, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang bisa masuk. Angin sepoi-sepoi menyapu area itu. Mereka lalu duduk di kursi kayu yang berada di sudut rooftop.
Suasana mendadak hening.
Yura yang pertama kali membuka suara. “Jadi?” tanyanya hati-hati. “Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan, Nao?”
Naomi menunduk sejenak, lalu menghela napas panjang. “Kalian … percaya reinkarnasi?”
Pertanyaan itu membuat ketiganya terdiam. Mereka saling berpandangan, jelas tidak menyangka arah pembicaraan tersebut.
Timmy terkekeh kecil. “Reinkarnasi? Itu kan cuma ada di novel dan drama.”
“Iya,” sambung Sonya sambil mengangguk. “Di dunia nyata mana ada yang seperti itu.”
Yura menatap Naomi dengan ekspresi khawatir. “Kenapa, Nao? Kamu kenapa?”
Naomi mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu dengan serius. “Aku telah bereinkarnasi.”
Hening sesaat, lalu tak lama.
“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”
Ketiga sahabatnya langsung tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun, Nao!” Timmy menepuk pahanya. “Sejak kapan kamu suka bercanda seperti ini?”
“Ini efek setelah berkelahi, ya?” goda Sonya sambil tertawa. “Atau kamu kebanyakan baca novel?”
Yura ikut tertawa, meski tatapannya masih penuh kebingungan.n“Kamu lucu sekali hari ini.”
Naomi berdecak kesal. “Sudah kuduga,” gumamnya pelan.
Ia menyilangkan tangan di dada, menatap ke depan tanpa ikut tertawa. “Kalian memang tidak akan percaya. Apa di wajahku ini sedang terlihat bercanda?”
Perlahan tawa mereka berhenti meluhat Naomi tetap berwajah serius.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....