NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:389.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Terima

“Papa!” suara Tuan Leon terdengar meninggi, memecah suasana ruang keluarga yang masih dipenuhi ketegangan. “Apa Papa tidak berlebihan memberikan Naomi empat puluh persen saham Elios Group?”

Tuan Jack menatap putranya dengan sorot mata tajam, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada protes itu.

“Memangnya kenapa?” tanyanya datar. “Itu hak Naomi.”

Leon menghela napas, jelas tidak puas. “Kalau begitu … bagaimana dengan Viviane, Pa?”

Tuan Jack mengernyit. “Maksudmu bagaimana?”

“Papa memberikan saham sebesar itu pada Naomi,” lanjut Leon, “lalu Viviane tidak mendapatkan apa-apa?”

Nada suara Tuan Jack mendadak berubah keras.

“Heh!” hardiknya. “Dia bukan cucu kandungku. Kenapa aku harus memberikan hartaku padanya?! Hah?!”

Ucapan itu meluncur tajam, menghantam tepat ke dada Viviane. Tangannya yang sejak tadi terkulai di sisi tubuh langsung mengepal kuat, kukunya hampir menancap ke telapak tangan.

Leon kembali menarik napas dalam-dalam. “Pa … Viviane sudah menjadi bagian dari keluarga kita.”

“Lalu?” potong Tuan Jack dingin. “Jadi sekarang dia mengharapkan sesuatu dari keluarga ini?”

Nyonya Ruby, Carlos, dan bahkan Leon langsung menggeleng cepat. “Tidak begitu, Pa,” ujar Leon tergesa. “Viviane anak baik. Dia gadis yang tulus.”

“Tulus?” Nyonya Merlin akhirnya ikut bersuara, bibirnya melengkung tipis.

Leon melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Bemar, Ma. Viviane sudah hidup bersama kita belasan tahun. Ia sudah kami anggap sebagai putri kami sendiri. Kenapa ia tidak mendapatkan apa pun?”

Protes itu semakin jelas terdengar. Bagaimanapun, dalam pembagian saham tersebut, hanya Carlos dan Naomi yang mendapatkan bagian.

Nyonya Merlin menatap Leon dengan dingin. “Apa lagi yang harus dia dapatkan?” ucapnya tajam. “Jika ia benar-benar tulus, ia seharusnya bersyukur bisa hidup enak dan mewah di kediaman ini.”

Wanita tua glamor itu menyilangkan tangan di dada. “Kalian tidak mengembalikannya ke jalanan, bukan? Lalu apa yang biasanya diharapkan anak angkat kalau bukan harta?”

Kata-kata itu membuat suasana semakin membeku.

Nyonya Merlin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Viviane. Tatapannya tajam dan menusuk.

“Viviane,” panggilnya. “Kamu tidak keberatan dengan pengaturan ini, bukan?”

Seisi ruangan menoleh.

Dengan tangan masih mengepal, Viviane perlahan mengangkat wajahnya. Senyum manis terlukis di bibirnya, sangat kontras dengan hatinya yang bergemuruh penuh emosi.

“Tidak, Nenek,” jawabnya lembut. “Aku tidak masalah jika tidak mendapatkan saham.”

Ia menunduk sedikit. “Aku sudah sangat bersyukur bisa memiliki keluarga yang lengkap. Itu adalah harta paling berharga bagiku.”

Nyonya Merlin mengangguk puas.

“Lihat?” katanya sambil menatap yang lain. “Viviane saja tidak mempermasalahkannya. Setidaknya dia mengerti posisinya di rumah ini yang hanya anak angkat.”

Sekali lagi menekankan kata anak angkat.

Ruangan kembali sunyi.

Tuan Jack dan Nyonya Merlin saling pandang, lalu tersenyum sinis. Berbeda dengan mereka, Tuan Leon, Nyonya Ruby, dan Carlos justru memandang Viviane dengan tatapan penuh iba dan kekaguman, seolah gadis itu benar-benar tulus dan tidak mementingkan apa pun.

Tuan Jack menghela napas panjang. “Sekarang semua ini sudah percuma,” katanya berat. “Naomi telah kembali ke keluarga Atlas.”

Tatapannya menyapu anak, menantu dan cucunya, satu per satu. “Dan semua ini terjadi karena ketidakbecusan kalian.”

Carlos segera angkat bicara. “Kakek tidak perlu khawatir. Naomi pasti akan kembali. Ia hanya merajuk. Nanti juga pulang sendiri.”

Tuan Jack menatap cucunya itu lama. “Mudah-mudahan,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Jika tidak … bersiaplah. Kalian akan merasakan penyesalan.”

Setelah berkata demikian, Tuan Jack bangkit dari duduknya. Nyonya Merlin mengikutinya tanpa menoleh lagi. Keduanya melangkah keluar dari mansion Elios, kembali menuju vila mereka.

Begitu pasangan itu pergi, suasana langsung berubah.

Nyonya Ruby berdiri dan memeluk Viviane erat..“Kamu terlalu baik, sayang,” katanya lembut. “Padahal kamu lebih berhak daripada Naomi.”

Viviane terkejut, namun tidak menolak pelukan itu. “Tenang saja,” lanjut Nyonya Ruby. “Mami akan memberikan saham milik Mami untukmu.”

Carlos ikut mendekat. “Kakak juga,” ujarnya mantap. “Kakak akan membagi saham kakak untuk Viviane.”

Tuan Leon mengangguk setuju. “Papi juga begitu.”

Viviane tampak terkejut. Ia segera menggeleng dan berkata pelan,

“Tidak perlu … aku sungguh tidak mengharapkannya. Yang terpenting kalian menyayamgi aku. Sungguh!”

Tapi di balik wajahnya yang tampak terharu, hatinya justru bersorak gembira.

Dasar manusia bodoh!

*

*

Di sisi lain, Naomi kembali dari toilet bersama Sonya. Setelah rambutnya dibersihkan dan ia duduk kembali di tempatnya, Naomi menatap ketiga sahabatnya dengan ekspresi serius yang jarang mereka lihat.

“Aku mau bicara serius dengan kalian,” ujar Naomi akhirnya.

Ia sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dan Naomi sudah bertekad memberitahu ketiga sahabatnya itu. Karena, ia tak bisa melakukan hal itu sendiri.

Naomi juga telah meminta pendapat pada Sila, dan Sila berkata tak ada salahnya memberitahu, banyak kepala lebih bagus dari pada satu kepala. Sebab, ketiga sahabat Naomi orang yang bisa dipercaya.

Sonya, Yura, dan Timmy langsung menoleh bersamaan.

“Serius bagaimana?” tanya Timmy heran.

“Wajahmu tegang sekali,” tambah Yura.

Naomi melirik sekeliling. Kantin masih ramai. Beberapa mahasiswa bahkan masih melirik ke arah mereka, berbisik-bisik membicarakan kejadian sebelumnya.

“Kita ke rooftop saja,” kata Naomi pelan. “Di sini terlalu ramai.”

Ketiganya saling pandang sebentar, lalu mengangguk.

Tanpa banyak bicara, keempatnya segera bergegas menuju lantai atas gedung fakultas bisnis, tempat yang sering mereka datangi untuk bersantai atau sekadar menghindari keramaian.

Begitu tiba di rooftop, Naomi menutup pintu dan menguncinya, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang bisa masuk. Angin sepoi-sepoi menyapu area itu. Mereka lalu duduk di kursi kayu yang berada di sudut rooftop.

Suasana mendadak hening.

Yura yang pertama kali membuka suara. “Jadi?” tanyanya hati-hati. “Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan, Nao?”

Naomi menunduk sejenak, lalu menghela napas panjang. “Kalian … percaya reinkarnasi?”

Pertanyaan itu membuat ketiganya terdiam. Mereka saling berpandangan, jelas tidak menyangka arah pembicaraan tersebut.

Timmy terkekeh kecil. “Reinkarnasi? Itu kan cuma ada di novel dan drama.”

“Iya,” sambung Sonya sambil mengangguk. “Di dunia nyata mana ada yang seperti itu.”

Yura menatap Naomi dengan ekspresi khawatir. “Kenapa, Nao? Kamu kenapa?”

Naomi mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu dengan serius. “Aku telah bereinkarnasi.”

Hening sesaat, lalu tak lama.

“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”

Ketiga sahabatnya langsung tertawa terbahak-bahak.

“Ya ampun, Nao!” Timmy menepuk pahanya. “Sejak kapan kamu suka bercanda seperti ini?”

“Ini efek setelah berkelahi, ya?” goda Sonya sambil tertawa. “Atau kamu kebanyakan baca novel?”

Yura ikut tertawa, meski tatapannya masih penuh kebingungan.n“Kamu lucu sekali hari ini.”

Naomi berdecak kesal. “Sudah kuduga,” gumamnya pelan.

Ia menyilangkan tangan di dada, menatap ke depan tanpa ikut tertawa. “Kalian memang tidak akan percaya. Apa di wajahku ini sedang terlihat bercanda?”

Perlahan tawa mereka berhenti meluhat Naomi tetap berwajah serius.

1
Si Topik
Good Ending.. semua sudah menemukan kebahagiaan 😊
beberapa pergi dg penyesalan dan maaf, dan ada yg berakhir dg ending yg buruk 🙂
Si Topik
aku ngebayangin nya peradaban semi-futuristik
dunia yg baru, kehidupan baru, dan tantangan yg juga baru ☺️
Si Topik
alam mempunyai cara nya sendiri tuk pulih ☺️
Nining Chili
👍
Si Topik
asli, butterfly effect itu Fenomena mengerikan 🥲
kita tidak bisa menebak hal kecil yg keliatan nya sepele, bisa menjadi efek besar dimasa mendatang 🥲🥲
Si Topik
astaga, aku sampai lupa soal kiamat es nya euyy :"-V

ternyata ini gejala awalnya, ku kira lah serangan musuh 😭
Si Topik
Maxim : Tuhan, kalau dia jodoh orang, buatlah orang itu aku ya Tuhan 😭
Husna
heiii... ini bisa kita siapkan dr sekarang....
denger-denger world war 3 bentar lagi walaupun Indonesia katanya tdk masuk sasaran tp pasti kena dampaknya jg...

5 poin ini bisa kita aplikasikan di dunia nyata loh, bisa mulai dr sekarang
Si Topik
yang kata nya sejak Piyik di didik bisnis? nyata nya kosong, sama kek isi kepala nya, kosong 😂😂
tau nya menghamburkan uang, selamat menumpuk hutang Viviane wkwkwk 😂
Si Topik
semoga Naomi tidak luluh dan tidak kembali dg keluarga durjana ini 😐

memaafkan mungkin, tapi untuk kembali, Big No ☺️
Si Topik
penyesalan mah emang selalu belakangan, klo diawal nama nya pendaftaran :-v
Si Topik
wkwkwk kau tidak bisa mengalahkan orang tua sepuh yg kenyang dg berbagai asam garam pengalaman biawak 😂
Si Topik
Yeeeyyy Mamah Arumi mulai memancing awkwkwk 😂😂
Si Topik
biasa nya orang kek gini mesti dipancing dulu biar ketar ketir 🙂
Si Topik
awokwokwok koplak emang 😂😂
Si Topik
nangkep elu lah Tim, apalagi wkwk 😂
Si Topik
apa yg terjadi yaa kalo Volkov tau keterlambatan nya karena ulah Timmy dan bestie2 nya wkwkwk 😂
Si Topik
owalahhh.. maka nya kata si asisten di awal " tuan ingin penyelidikan tidak diketahui Nona Cecilia? "

ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan ☺️
Si Topik
nama nya penyelidikan ya kali di umbar2 bjirr, tentu dilakukan dgn senyap tanpa terendus :"-v
yakali mau menyelidiki suatu individu, diberi info dulu
Si A : " heeii si B, aku mau menyelidiki kamu.. hati hati yaa "

si B : hohoo baiklah ☺️
Si Topik
terkadang penghianat justru berasal dari orang terdekat yg sudah kenal lama.. 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!