Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan yang sia sia
Ini adalah sebuah kisah dalam kehidupanku tentang percintaan yang telah aku alami. Perkenalkan namaku adalah Indira Virnanda biasanya dipanggil Indira, dan umurku sekarang baru menginjak 22 tahun. Ayah dan Ibuku bercerai ketika aku masih berusia 10 tahun, dan tahun kemarin Ayahku baru saja meninggal karena sebuah penyakit.
Semenjak mereka bercerai, aku bahkan sama sekali tidak mengenali siapa Ibuku, dia hanya sibuk dengan bekerja demi membiayai hidup dan sekolahku. Kami memang memiliki hubungan yang sangat dekat yakni seorang Anak dan Ibu, tetapi hubungan itu hanya sebuah status karena aku haus akan kasih sayangnya selama ini.
Setelah Ayahku meninggal, Ibuku baru menikah lagi dengan sosok pria yang memiliki dua orang anak lelaki. Semenjak itu juga aku diusir dari keluarga Ayah kandungku karena adanya sebuah insiden yang dimana aku hendak dilecehkan oleh Kakak Iparku, tetapi justru aku yang difitnah merayunya. Tidak ada yang percaya kepadaku, semua orang meragukan akan diriku, dan bahkan rasanya Ibuku sendiri juga ragu kepadaku tetapi ia tetap memilih percaya.
Semenjak kejadian itu, Kakakku Riri begitu sangat membenciku bahkan bertemu denganku saja rasanya seperti bertemu dengan musuh bebuyutan. Terkadang anak anaknya ketika bermain denganku pun langsung dipukuli disuruh untuk menjauh dariku, oleh karenanya mulai sekarang aku belajar menjauh dari mereka agar mereka tidak dipukuli terus terusan.
Aku selalu menganggap mereka adalah bagian dalam hidupku yang sangat berarti, tapi mereka menganggap diriku hanyalah sebagai beban dan tidak ada artinya. Apapun usaha yang telah aku lakukan semuanya hanyalah hal yang sepele bagi mereka, bahkan hingga aku kehilangan rasa takutku sendiri hanya demi mereka pun mereka hanya menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa.
Iparku seperti memendam sebuah hasrat ketika bertemu denganku, sebelumnya aku tinggal bersama dengan keluargaku dirumah tetapi semenjak keluargaku pisah Kakakku menempati rumah itu bersama dengan suaminya. Aku tidak memiliki tempat lagi untuk tinggal selain rumahku sendiri, oleh karenanya aku harus tinggal bersama dengan mereka.
Suatu ketika dimalam hari yang sunyi, iparku tiba tiba masuk kedalam kamarku dimana aku yang tengah terlelap dalam tidur nyenyak ku. Ketika ia datang seketika hawa sekitar kamarku terasa sangat panas sehingga membuatku terbangun dari tidurku, aku merasa bahwa ada seseorang yang tengah masuk kedalam kamarku diam diam, dan ketika aku membuka kedua mata aku tidak melihat siapapun di depanku.
Iparku masuk kedalam kamarku, ketika aku terbangun dia langsung bersembunyi di bawah dipan kasurku, aku pun merasa hal demikian tetapi pikiranku terus tertuju bahwa itu adalah hantu yang sangat menyeramkan. Aku mencoba menghubungi teman temanku untuk meminta mereka menemaniku sepanjang malam, sehingga aku masih bisa terjaga hingga pagi menjelang.
Aku pernah meminta dipasang sebuah pintu di kamarku sebagai ruangan pribadiku, tapi mereka semua melarangnya karena takut jika aku mengunci diri didalam kamar dan pikiran pikiran negatif terus bermunculan didalam ingatan mereka. Sehingga permintaanku dibuatkan sebuah pintu tidak ada yang mau menyanggupinya, dan antara kamarku dengan ruang keluarga hanya terbatas sebuah kain yang memanjang dan siapapun bisa melewati kain tersebut.
Hingga suatu ketika Iparku benar benar terpergok oleh Kakakku sendiri tetapi justru Kakakku yang menyalahkan diriku tanpa mau mendengar penjelasan dariku, sehingga ia sangat membenciku dan tidak mau lagi tinggal bersamaku dan menganggap ku hanya sebuah beban. Ia menyebarkan sebuah berita yang sama sekali tidak enak didengar dan akulah yang menjadi topik utama dalam pembicaraannya.
Aku sudah lelah untuk membela diri, aku tidak tau lagi harus membela diri seperti apa, sehingga aku hanya bisa diam menyaksikan berita buruk tentang diriku yang bahkan tidak pernah aku lakukan selama ini. Mereka selalu menganggap ku sebagai wanita yang hina, dan bahkan suka merusak rumah tangga orang lain.
Hingga diusia 22 tahun ini aku sama sekali tidak pernah dekat dengan seorang lelaki, aku membatasi diriku sendiri agar tidak terlalu dekat dengan mereka. Hal itu justru dianggap oleh Kakakku bahwa aku menyukai suaminya sehingga tidak mau berpacaran dengan siapapun, padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku tidak mau berpacaran karena ucapan dari Ibuku yang melarang ku untuk berpacaran kalau aku sampai berpacaran maka ia tidak lagi mau memberiku uang.
Aku lebih baik tidak pacaran seterusnya daripada harus kehilangan uang jajanku, karena tanpa uang jajan aku tidak bisa makan. Dirumah itu juga aku biasanya makan hanya ketika ada saja, kalo tidak ada makanan yang bisa dimakan maka aku tidak akan makan. Terkadang dua atau tiga hari sekali aku bisa makan nasi, selebihnya hanya akan makan mie instan itu pun hasil dari uang jajanku.
Begitu banyak hal yang membuatku sangat menderita disana, tetapi rasa dibenci yang terlihat sangat jelaslah yang membuatku tidak betah berada ditempat itu tetapi aku tidak tau lagi harus pergi kemana. Hingga tiba saatnya aku lulus dari sekolah dan memiliki pekerjaan yang tetap, aku mulai berani untuk menantang takdirku sendiri.
Ayahku pergi untuk selamanya dan disaat itulah aku memutuskan untuk memilih jalanku sendiri tanpa harus mengikuti kemauan orang lain. Dengan uang gajiku sendiri aku membangun kamarku sesuai dengan keinginanku, karena uangku sendiri mereka tidak bisa berkomentar apapun mengenai diriku dan kemauanku sejak kecil yang belum pernah mereka turuti.
Dengan uangku sendiri aku bebas melakukan apapun sesuai dengan kemauanku, aku bisa membeli barang barang yang sejak kecil tidak pernah bisa membelinya. Boros? Iya, aku boros dengan membeli barang barang yang ingin aku miliki sejak kecil yang dimana anak anak lain dibelikan oleh orang tua mereka, sementara aku? Hanya disuruh sabar sabar dan sabar tapi tidak tau harus sabar sampai kapan.
Aku memiliki seorang pacar yang tengah ldr an antara jatim dengan jakarta, disana ia merantau mencari uang sementara disini aku menunggu kepulangannya. Suatu ketika aku dan dia loss kontak, tidak pernah mengirim kabar atau menanyakan kabar selama setengah tahun lebih, dan waktu itu aku tidak sengaja melihat bahwa ia memasang foto wanita lain dikontak WhatsApp nya.
Aku selalu menemaninya dikala senang ataupun susah tapi justru wanita lain yang menikmati kesenangannya, sementara aku hanya menjadi penonton story nya dan hanya bisa merasa sakit hati sendiri. Dia terus meyakinkan diriku bahwa dia berbeda dari lelaki pada umumnya, nyatanya orang yang ku yakini itu justru sama seperti yang lainnya hanya saja sifatnya diperhalus.
Apakah semua lelaki suka sekali dengan yang namanya selingkuh? Bahkan Ayahku sendiri pun tega menduakan Ibuku padahal dia sudah memiliki aku dan Kakakku, sehingga aku sangat sulit untuk bisa percaya dengan yang namanya laki laki. Banyak yang meyakini bahwa tipu daya wanita itu luar biasa, padahal yang sesungguhnya rayuan seorang lelaki yang mampu membuat kehidupan wanita hancur.
Andai saja waktu bisa diulang kembali, aku tidak ingin bertemu dengan dirinya di kebetulan mana pun itu, dan aku hanya ingin menjadi hilang ingatan agar bisa menghapusnya dalam ingatanku untuk selamanya. Sungguh ingatan ini sangat menyiksa bagiku, ingatan yang sama sekali tidak ingin aku miliki seumur hidup, andai ada cara untuk melupakannya aku akan lakukan itu meskipun nantinya aku akan kehilangan nyawaku.
Aku hancur benar benar hancur, di keluarga aku hancur didalam percintaan pun aku dihancurkan. Apakah anak broken home tidak pantas untuk dicintai? Apakah orang sepertiku sangat tidak layak untuk dimiliki oleh siapapun? Dan apakah manusia manusia diluar sana sangat membenci anak anak seperti diriku? Dunia ini sangat kejam, bahkan manusialah yang menduduki peringkat mahluk paling kejam.
Rasanya manusia paling hina adalah anak anak yang mengalami broken home, bukan hanya tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarga tetapi juga banyak manusia yang mencacinya lantaran tidak ada yang membelanya. Andai waktu bisa diputar kembali, aku mungkin tidak ingin dilahirkan didunia ini dalam keadaan seperti ini, dan 77 pertanyaan itu pasti aku akan menolaknya.
Alangkah di sayangnya, bahkan 77 pertanyaan itu lolos begitu saja hingga lahirlah diriku. Aku tidak tau hal apa yang membuatku sangat yakin untuk dilahirkan didunia ini, cinta mana lagi yang ingin ku kejar saat ini, dan demi siapa aku mau dilahirkan didunia ini. Demi dia orang yang paling ku cinta, entah siapa yang akan ditakdirkan untukku nantinya.
Sebuah insiden pun terjadi dalam kehidupanku, yang dimana kejadian itu membuatku terombang ambing tidak berdaya. Didalam sebuah kamar yang hening dan cahaya lampu yang redup, aku terbaring tidak berdaya didalamnya, ditambah lagi dengan cuaca panas yang ada diluar rumah.
Suara bising dari luar kamar menganggu tidurku yang nyenyak, apalagi suara itu penuh dengan sindiran terhadapku yang dimana aku anak yatim tetapi tidak diakui keberadaannya. Sindiran itu mengatakan bahwa anak yatim hanya diakui ketika balita saja, sementara aku bukanlah anak yatim karena sudah dewasa.
Padahal sudah dijelaskan bahwa seorang perempuan akan menjadi tanggung jawab Ayahnya hingga ia menikah, dan jika Ayah tidak sanggup untuk bertanggung jawab atau telah meninggal maka tanggung jawab itu akan diambil alih oleh keluarga Ayahnya termasuk Ayah dari Ayahnya, atau saudara laki laki dari Ayahnya.
Sindiran itu mengatakan bahwa aku hanyalah beban bagi orang orang terdekat, termasuk Nenek dan Kakekku. Gajiku tidaklah banyak, tetapi sebagian besar aku berikan kepada Nenekku untuk masak agar aku bisa makan, tetapi justru hal itu menjadi kesalahpahaman yang mengatakan bahwa aku tidak ikhlas untuk memberikannya.
Mereka mengatakan seolah olah aku memberikan begitu sedikit kepada Nenek dan Kakekku, padahal jika dihitung dalam waktu satu bulan pun mereka tidak akan sanggup untuk memberikannya kepada Kakek dan Nenekku kecuali aku. Sakit, itulah yang ku rasakan saat ini, bahkan apapun yang aku lakukan kepada mereka hanyalah sebuah hal kecil yang sama sekali tidak berarti apapun.
Telingaku sangat panas mendengar sindiran itu, ingin sekali aku meluapkan semuanya saat ini, dan bahkan aku sendiri juga sudah tidak tahan menahan penderitaan yang selama ini aku rasakan. Ku dobrak pintu kamarku dan mendatangi orang yang tengah membicarakan buruk tentangku, dan yang aku lakukan langsung membuat orang lain begitu sangat terkejut.
"Maksudmu apa berkata begitu!" Teriakku sambil menuding Riri, Kakak kandungku sendiri.
"Emang kenyataannya begitu, dasar benalu yang tidak tau aturan. Bener kan yang ku katakan? Sudah besar masih aja nyusahin orang orang," Ucap Riri yang sama sekali tidak merasa bersalah mengatakan itu.
Kakakku merasa bahwa apa yang ia lakukan itu benar, dan menganggap memang akulah yang bersalah karena hanya bisa menjadi beban orang orang terdekatku. Hatiku sangat terluka dan rasanya sangat sakit sekali, perjuangan yang telah aku lakukan selama ini hanyalah sia sia, dan tidak seorangpun yang menghargai perjuanganku.
Kakakku sangat membenciku, dan membuatku tidak merasa tenang berada didalam rumah itu padahal itulah rumah peninggalan orang tuaku. Sebelum Ayahku meninggal ia mengatakan bahwa itu akan menjadi rumahku nantinya, karena aku anak terakhir dari istri sahnya dan sudah menjadi hakku rumah itu.
Saat itu juga tersulutlah emosiku, aku menarik rambut Kakakku dan menendang perutnya dengan sangat kencang. Melihat kejadian itu Iparku langsung bereaksi membela istrinya dan memukulku dengan keras, keluarga yang selama ini aku bela ternyata ialah yang paling menyakitkan bagiku.
Keributan itu memicu para tetangga sehingga mereka langsung berdatangan untuk melihatnya, begitu banyak orang yang tengah berkumpul di rumahku dan sebagian dari mereka adalah kerabat terdekatku yakni saudara dari Ayahku. Nyatanya Kakakku memang pandai memutar balikkan fakta, dan apa yang terjadi berbeda jauh dengan apa yang ia katakan dan seolah olah akulah yang bersalah disana.
Aku yang menjadi korban ditempat itu, justru dia mengatakan bahwa akulah pelaku utamanya yang membuat kericuhan. Tiada seorangpun yang percaya kepadaku, mereka semua menyalahkan ku atas ketidak adilan yang terjadi kepadaku, dan pelaku utamanya dapat tertawa dengan senangnya.
Ibuku datang dari kerjanya untuk membela diriku, tapi justru dialah yang paling dibenci oleh Kakakku. Bahkan Kakakku tega mengatakan bahwa dia bukanlah Ibunya, dan Ibuku tidak memiliki hak didalam rumah itu karena ia sudah pisah dengan Ayahku. Darah menetes dikaki Ibuku dengan sangat derasnya, aku yang menyaksikannya hanya bisa menangis dan berusaha untuk menghentikan pendarahan itu.
"Ngapain kamu datang kesini?" Tanya Iparku ketika melihat Ibuku datang dengan nada yang sok berkuasa.
"Kenapa? Apa aku nggak boleh datang kerumahku sendiri?" Tanya Ibuku.
"Hakmu apa disini? Kamu itu nggak ada hak apapun dirumah ini," Hanya seorang menantu saja berani mengatakan hal tersebut kepada mertuanya yang termasuk pemilik rumah itu.
"Hakku anak, Riri masih anakku dan aku berhak disini."
"Siapa anakmu? Aku nggak punya Ibu!" Teriak Kakakku kepada Ibuku.
"Oh jadi sekarang sudah tidak mengakui ku sebagai Ibu, iya kamu udah besar dan punya suami jadi tidak butuh Ibu lagi,"
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.