Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Baru
Emilie mendekam di kamarnya selama seharian penuh. Bahkan ia melewatkan makan malam bersama.
Nyonya Vivian masuk ke dalam kamar Emilie dengan membawa makanan dan segelas air. Tidak lupa obat penawar agar ia tidak sakit perut.
Tapi meskipun Emilie sudah meminumnya, ia tetap merasa perutnya melilit hingga keluar keringat dingin. Wajahnya juga pucat dan ia merasa detak jantung nya berdebar sangat kencang.
"Ibu, apa benar itu obat mahal yang Ibu katakan ? Kenapa aku masih merasa sakit, Bu. Perutku rasanya di remas-remas," kata Emilie. Ia sudah lelah menangis sepanjang hari hingga membuat kedua matanya membengkak.
"Benar. Dokter itu terpercaya. Sudahlah minum lagi obatnya. Mungkin besok kau akan sembuh," kata Nyonya Vivian menyodorkan makanan serta obat pada Emilie.
Sebenarnya ia juga merasa kasihan pada Emilie. Tapi ia pun bingung harus melakukan apa. Ia juga tidak menyangka Emilie akan sebodoh ini dan mau saja dipaksa oleh Annette.
"Lain kali jangan menyuruhku lagi," kata Emilie dengan mulut penuh makanan.
"Lain kali tidak ada rencana seperti itu. Sepertinya dia semakin cerdik setiap harinya," balas Nyonya Vivian jengkel.
"Kalau sudah tau Kakak cerdik kenapa melakukan hal itu ?" Emilie tidak mau kalah.
"Ya karena kemarin hanya rencana itu yang lewat di kepala, Ibu" sentak Nyonya Vivian. Semakin sebal saja ia mendengar Emilie seakan menyalahkan nya.
Emilie tidak memperdulikan Nyonya Vivian lagi. Ia cepat-cepat menghabiskan makanan nya lalu meminum obat berharap sakit perutnya segera hilang.
..
Malam hari Annette dan Leon sudah bersiap untuk tidur. Sejak tadi mereka hanya berbaring diatas ranjang sambil bercerita.
"Ayo Annette, tidurlah. Tidak baik ibu hamil tidur terlalu malam" kata Leon.
"Aku masih belum mengantuk," balas Annette. Banyak hal yang melintas di kepalanya. Tentang rencana membalas perbuatan Emilie dan ibunya. Serta mimpi aneh yang ia alami saat tidur siang tadi
Dalam tidurnya ia melihat dirinya dengan perut besar yang di dorong dari tepian jurang dengan kedua tangan yang terikat tali.
Di dasar jurang, ia melihat tubuh Leon terkapar dan bisa dipastikan ia sudah tidak bernyawa.
Suara tawa Emilie dan Nyonya Vivian bahkan masih terngiang di telinganya saat ia bangun tidur.
'Apa aku terlalu bertele-tele ? Tapi aku tidak jadi orang jahat,' gumam Annette yang gusar sendiri.
"Annette..." suara Leon mengejutkan nya. Menyadarkan Annette dari lamunannya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu," kata Annette bangun dari tidurnya. Lalu ia menurunkan kakinya perlahan. Tapi ia begitu terkejut saat ada sesuatu yang asing mengenai kakinya dan bergerak cepat.
"Leon, ada sesuatu di bawah sini" kata Annette panik setelah dengan cepat mengangkat kakinya kembali.
"Ada apa ?" tanya Leon cepat-cepat mendekat pada Annette. Annette menggelengkan kepalanya. Ia memang merasa asing dengan benda itu. Tapi sesuatu itu seperti menjijikkan saat mengenai kakinya.
"Tidak ada apa-apa. Memangnya apa yang kau rasakan ?" tanya Leon saat tidak mendapati sesuatu di bawah ranjang.
"Tidak tau. Tapi dia bergerak. Pasti hewan kan ? Apa mungkin ular ya ?" kata Annette tidak yakin.
"Ular ?" beo Leon.
"Tetap disini. Biar aku periksa," kata Leon. Ia menempatkan Annette dengan nyaman diatas ranjang kemudian menutup kakinya.
"Jangan, Leon. Berbahaya. Bagaimana jika benar ular ?"
"Tidak apa-apa. Aku tau cara menangkap nya," kata Leon menenangkan Annette.
Walaupun tidak yakin, tapi Annette tetap mengangguk. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar tidak terjadi hal buruk pada mereka.
Leon mengambil lampu tempel yang ada di dinding sebagai penerangan. Tidak ada rasa takut dalam dirinya. Ular adalah hewan yang setiap hari mengunjungi rumahnya di perkebunan. Bahkan dua hari kemarin ia juga masih mendapati ada ular masuk. Untung saja Annette tidak tau.
Dengan berbekal instingnya yang sudah terbiasa, Leon menuju tempat yang sekiranya akan di datangi sesuatu yang Annette duga sebagai ular itu.
"Leon hati-hati," kata Annette takut.
"Tenang saja. Aku dan ular itu seperti teman," balas Leon. Annette yang mendengar itu merasa sebal. Dalam situasi panik seperti ini suaminya masih bisa bercanda.
Setelah beberapa waktu Leon mencari, akhirnya ia melihat ekor ular dibawah jendela. Sengaja ia sentuh dengan benda agar kepalanya keluar dari persembunyiannya.
Saat ular tersebut menampakkan kepalanya, barulah Leon tau jika itu ular berbisa. Dengan pertimbangan yang matang, Leo. Akhirnya bisa menangkap kepala ular tersebut.
"Bagaimana bisa ada ular masuk kesini ?" tanya Annette tergopoh-gopoh menghampiri Leon.
"Tidak tau. Mungkin tersesat. Aku akan membuangnya dulu. Ayo sekalian aku antar ke kamar mandi,"
Annette mengangguk. Ia berjalan di belakang Leon karena ngeri melihat ular berbisa yang ukurannya lumayan besar. Tapi yang membuat Annette takjub adalah cara Leon yang bisa menangani ular tersebut.
Di sebuah lorong, Annette melihat beberapa orang berkerumun. Dan tentunya ada Nyonya Vivian. Ia segera melihat Annette saat mengetahui kedatangannya dan Leon.
"Sembunyikan ular itu," bisik Annette. Lalu ia segera maju ke hadapan Leon ada menutupi ular yang sedang Leon pegang.
Meskipun tidak mengerti kenapa, tapi Leon tetap menuruti Annette dan menyembunyikan ular tersebut.
Sebenarnya Leon tidak benar-benar bisa menyembunyikannya. Tapi karena penerangan di lorong sedikit gelap, jadi ia bisa mengkamuflasekan nya.
"Annette, kau mau kemana ? Jangan kemana-mana. Pelayan melihat ular tadi," kata Nyonya Vivian dengan wajah panik nya.
"Ular ? Benarkah?" tanya Annette.
"Iya. Mereka mengatakan melihat ular di sekitar rumah dan kemungkinan bisa masuk. Aku sudah memperingatkan Emilie. Sebaiknya kau juga masuk ke kamarmu,"
"Memang bagaimana bentuk ular itu ? Maksudku, jenis apa dan ukurannya seberapa ?" tanya Annette lagi.
"Lumayan besar dan berbisa," jawab Nyonya Vivian.
"Apa kau sudah melihat nya ?" tanya Annette memicingkan matanya.
"Tentu tidak. Pelayan yang melihatnya. Aku diberitahu oleh mereka," jawab Nyonya Vivian meyakinkan.
"Oh begitu. Baiklah, kalau begitu bubar semuanya. Jangan halangi jalanku aku mau ke kamar mandi," kata Annette.
"Baiklah. Setelah itu cepat masuk kamar," sekali lagi Nyonya Vivian mengingatkan. Annette hanya mengangguk dan menatap tajam kepergian Nyonya Vivian.
'Masuk ke kamar agar ular itu bisa mematuk ku kan ? gumam Annette.
"Hei kau. Kemari. Aku ingin kau mengambilkan sesuatu di dapur," teriak Annette pada salah satu pelayan. Ia sengaja mengeraskan suara nya agar Nyonya Vivian juga bisa mendengar nya.
"Iya, Nona. Apa yang anda butuhkan ?" pelayan itu menghampiri Annette. Dalam hatinya ia takut disuruh ke dapur. Takut bertemu ular yang katanya masih berkeliaran.
"Siapa yang sudah melihat rupa ular itu ?" tanya Annette.
"Saya tidak tau siapa yang pertama. Tapi tadi Nyonya Vivian yang berteriak pada kami. Ia mengatakan ada ular di sekitar rumah dan menyuruh kami mencarinya," jawab pelayan itu. Wajah ketakutan bisa Annette lihat dari pelayan itu.
...
Happy reading 🥰
pasti akal2an vivian aja...
😍😍😍😍💪💪💪
😍😍😍👍👍💪💪💪
kerennn Arnette..
😍😍💪💪👍
kalo menular pasti arnette ya mati
💪👍👍👍🙏🙏🙏
apalagi sayang ke arnette ..
pasti dihasud terus..
💪💪👍👍
aknkah bpaknya percaya klao vivian meracuni isabelle..
💪💪💪👍👍👍
😍😍💪💪👍👍
kuqt banget nahan tangis..
kirain tadi gk ada rsaa apa2..
nyatanya dia merasa sdih jga marah.
atsq pa yg nimpaarnette dan ibunya..
💪💪💪💪💪👍👍👍
😍😍💪💪💪
waahhh..
buka puasa..
😍😍😍💪💪
kapaan up lagiii....
😍😍❤❤❤💪💪
up donk..
😍💪💪❤❤❤❤💪💪💪💪
😍😍💪💪💪❤❤❤
lalu menyelidiki...
😍😍💪❤❤