NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harlan dan Jawaban yang Belum Lengkap

Pagi itu terasa seperti jeda sebelum badai yang lebih besar. Raito dan Mira meninggalkan penginapan lebih awal, berjalan melalui jalan-jalan sempit yang masih basah oleh embun malam. Udara dingin menusuk, tapi tidak ada hujan—hanya kabut tipis yang menyelimuti Yorknew seperti selimut kelabu.

Mereka tidak banyak bicara di perjalanan. Raito sesekali menyentuh luka di bahunya—masih perih, tapi sudah tidak berdarah lagi. Mira berjalan di sampingnya, mata menyapu setiap sudut jalan seperti burung yang sedang mencari mangsa.

Saat tiba di gedung pabrik tua yang menaungi arena bawah tanah, pintu got sudah terbuka. Tidak ada penjaga malam ini—hanya suara samar dari dalam, seperti orang sedang membersihkan setelah pesta yang berantakan. Mereka turun tangga spiral, langkah mereka bergema di ruangan yang sekarang kosong.

Harlan sudah menunggu di ruang belakang yang sama. Dia duduk sendirian di kursi kayu reyot, Eclipse Stone masih berada di meja di depannya, garis cahaya retak di dalam batu itu berdenyut pelan seperti napas makhluk hidup. Tidak ada pengawal malam ini—hanya dia, batu itu, dan dua cangkir teh panas yang sudah disiapkan.

“Kalian kembali lebih cepat dari yang kukira,” kata Harlan tanpa menoleh. Suaranya serak, seperti orang yang sudah terlalu lama merokok. “Duduk. Tehnya masih hangat.”

Raito dan Mira duduk di seberangnya. Raito langsung ke inti.

“Kami nggak datang untuk ambil batu itu sekarang. Kami datang untuk tanya lebih dalam. Apa pengorbanan itu bisa ditunda? Apa ada cara lain buka portal tanpa harus kehilangan sesuatu yang hidup?”

Harlan menatap Raito lama, mata sipitnya seperti sedang menghitung nilai nyawa. Lalu dia tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.

“Portal bukan pintu biasa, anak muda. Ia bukan mesin yang bisa kamu nyalakan dengan tombol. Ia adalah cermin. Ia memantulkan apa yang ada di dalam dirimu. Kalau niatmu murni, pengorbanan bisa ringan—mungkin hanya kenangan yang paling berharga, atau sebagian kekuatan Nen-mu yang kamu rela lepaskan. Kalau niatmu tercemar… pengorbanan akan berat. Bisa nyawa orang lain. Bisa nyawa sendiri.”

Mira menyilangkan tangan. “Jadi tergantung niat?”

Harlan mengangguk. “Tepat. Batu ini tidak punya kehendak sendiri. Ia hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam pemakainya. Kalau kamu pegang batu ini sekarang, dengan hati yang masih ragu-ragu, ia akan ambil apa yang paling kamu takutkan kehilangan.”

Raito menatap batu itu. Garis cahaya di dalamnya berdenyut lebih cepat, seolah merespons tatapannya.

“Kalau aku tunda? Kalau aku latih dulu Nen-ku, cari tahu lebih banyak tentang diriku… apa batu ini masih bisa dipakai nanti?”

Harlan mengangkat bahu. “Bisa. Batu ini tidak punya tanggal kedaluwarsa. Tapi waktu bukan sekutu. Shadow Serpent sudah tahu kamu ke sini dua kali. Mereka akan datang lagi—mungkin malam ini, mungkin besok. Mereka nggak akan tanya baik-baik. Mereka akan paksa kamu pegang batu itu, dan paksa kamu buka portal untuk kepentingan mereka.”

Mira mencondongkan tubuh ke depan. “Kalau mereka paksa Raito pegang batu itu, apa yang terjadi?”

Harlan tertawa kecil—tawa yang pahit. “Kalau niatnya dipaksa, portal akan terbuka. Tapi ia akan buka ke tempat yang salah. Bukan dunia asalnya—mungkin ke kegelapan yang lebih dalam. Atau mungkin ia akan tarik semua orang di sekitarnya ke dalamnya. Batu ini bukan mainan. Ia seperti cermin retak—kalau kamu paksa lihat pantulanmu, retaknya akan memotong.”

Raito diam lama. Lalu dia bertanya dengan suara pelan.

“Kalau aku pegang batu itu sekarang… apa yang akan ia tunjukkan padaku?”

Harlan memandangnya tajam. “Coba saja. Tapi ingat: sekali kamu sentuh, batu ini akan ingat niatmu. Ia tidak akan lupakan. Kalau kamu mundur setelah menyentuh, batu bisa jadi tidak mau buka lagi untukmu.”

Raito menatap batu itu. Tangan kanannya bergerak pelan ke arah meja—tapi berhenti di udara, jari-jarinya gemetar sedikit.

Mira menarik tangannya pelan. “Jangan sekarang. Kita belum siap jawab pertanyaan yang batu itu akan tanyakan.”

Raito menarik tangan kembali. Dia mengangguk. “Terima kasih, Harlan. Kami akan kembali. Saat aku sudah tahu apa yang bisa aku lepaskan… dan apa yang nggak bisa.”

Harlan mengangguk pelan. “Aku tunggu. Tapi jangan lama. Shadow Serpent nggak sabar orang.”

Mereka berdiri untuk pergi. Tapi sebelum keluar ruangan, Harlan bicara lagi—suara lebih rendah, hampir berbisik.

“Anak muda… cahaya di dadamu itu bukan cuma Nen. Ia adalah bagian dari apa yang membawamu ke sini. Jangan biarkan ia padam karena takut. Tapi jangan juga biarkan ia membakar dirimu sendiri.”

Raito berhenti di pintu. Dia menoleh.

“Terima kasih. Aku akan ingat.”

Mereka keluar dari arena bawah tanah. Di luar, malam Yorknew sudah larut—lampu jalan berkedip kuning pucat, suara mobil jauh terdengar seperti gumaman kota yang tak pernah tidur.

Mira berjalan di samping Raito. “Kamu hampir pegang batu itu tadi.”

Raito mengangguk. “Aku penasaran. Tapi aku takut jawabannya.”

Mira berhenti, memandangnya langsung. “Kalau kamu takut jawabannya, berarti kamu sudah tahu apa yang mungkin dikorbankan. Kamu takut itu aku. Atau orang lain yang kamu mulai sayang di dunia ini.”

Raito tidak menyangkal. Dia hanya mengangguk pelan.

Mira melanjutkan. “Itu bagus. Artinya kamu nggak egois. Artinya cahaya-mu masih murni. Tapi kalau kamu terus tunda, Shadow Serpent akan paksa keputusan itu untukmu.”

Raito menatap langit gelap. “Aku tahu. Makanya besok kita latih lebih keras. Aku mau pastikan kalau mereka datang lagi… aku bisa lindungi kita berdua.”

Mira tersenyum kecil. “Kita lindungi satu sama lain. Bukan kamu lindungi aku, atau aku lindungi kamu. Kita sama-sama.”

Raito mengangguk. “Sama-sama.”

Mereka melanjutkan jalan pulang. Di kejauhan, suara langkah kaki samar terdengar—mungkin hanya orang lewat, mungkin bukan.

Tapi Raito tidak takut lagi.

Dia tahu bayang-bayang itu mendekat.

Dan dia tahu cahaya di dadanya—meski masih retak—masih cukup terang untuk menerangi jalan di depan.

Setidaknya untuk satu malam lagi.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!