Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunangan
Paula tertegun oleh rasa panas yang membekas di pipinya. Tamparan itu membuat dunianya seolah membeku sejenak. Di hadapannya, mata Charls memerah. Kilasan hidupnya yang suram di masa lalu pun muncul.
“Bukan itu … Bu-bukan itu maksudku! Aku tidak bermaksud begitu,” katanya cepat, napasnya tersengal panik.
“Lalu apa maksudmu?” Suara Charls serak namun tajam. “Kamu ingin menjadi pel*curku dan pergi setelah bosan denganku? Atau ingin mencari pria kaya lain untuk memuaskanmu?”
“Tidak! Tidak! Bukan seperti itu!” Paula memegangi pipinya, tubuhnya gemetar. “Aku … aku mau menikah denganmu! Tentu saja!”
Kebohongan itu terasa pahit, tapi ia harus menyelamatkan dirinya lebih dulu. Ia tidak boleh dicap sebagai wanita murahan. Tidak sekarang. Tidak menjelang kedatangan putra mahkota saat perburuan musim semi. Jika rumor buruk menyebar, reputasinya akan hancur sebelum ia sempat memperbaikinya.
Pertengkaran itu memanas sebentar lalu mereda dengan cepat. Keduanya akhirnya saling mengakui kesalahan—atau lebih tepatnya, saling menenangkan diri dengan kebohongan yang diperlukan. Mereka akhirnya berkata sebagai pasangan yang akan menikah dalam waktu dekat.
Tak ingin masalah semakin membesar, keduanya buru-buru berkemas dan meninggalkan pertunjukan opera dengan kepala tertunduk.
Beatrice dan kedua saudara kandung Vort juga meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke penginapan.
“Tadi itu benar-benar gila,” desis Beatrice, menjatuhkan diri ke kursi. “Aku yakin kali ini mereka benar-benar bertengkar hebat.”
Alicia mengangguk sambil menatap keluar jendela. “Mereka tidak punya pilihan lain selain bertunangan. Aku yakin Paula akan memaksanya bertunangan lebih dulu untuk mengulur waktu.”
Beatrice menyipitkan mata. “Jadi kamu akhirnya sadar kalau Paula tidak pernah jatuh cinta pada Charls?”
“Ya,” Alicia menjawab perlahan. “Dari caranya memandang Charls … jelas dia membencinya.”
“Memang.” Beatrice menarik napas dalam.
Bagaimana mungkin tidak? Paula terlahir kembali setelah kematian yang tragis—terbunuh oleh tangan pria yang kini ia hadapi lagi. Bagaimana mungkin dia tidak membencinya hingga ke tulang?
Sementara itu, Bernard duduk di meja kecil dekat jendela, menulis surat dengan cepat namun rapi. Ia menyegelnya dan memberikannya kepada seorang kenalan yang bisa dipercaya.
"Kepada siapa kamu mengirim surat malam-malam seperti ini?" tanya Beatrice.
"Untuk keluargamu, siapa lagi memangnya? Aku sudah berjanji akan mengirim surat ke Kastil Vassal jika kita pulang terlambat."
"Oh ...!" Beatrice tidak lagi bertanya lebih jauh. "Haruskah kita makan malam?"
"Apakah makanan di pertunjukan opera tidak membuatmu kenyang?"
"Itu hanya camilan, jangan bercanda. Aku masih butuh makanan utamanya."
Sepiring kue kering, roti isi dan dua gelas bir dengan kadar alkohol kecil ... tidak cukup? Pikir Bernard.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, ketika Beatrice akhirnya kembali ke Kastil Vassal, matahari sudah condong ke barat dan langit mulai gelap. Ia pulang dengan aman dan sehat. Alicia dan Bernard langsung pergi seusai mengantarnya.
“Apakah kamu bersenang-senang di sana?” tanya Marionne, menyambut putrinya di aula kastil.
“Ya, Ibu. Apakah Ayah dan Kakak sudah pulang?”
Marionne tampil elegan dengan gaun lembut dan rambut disanggul anggun. Dia menggelengkan kepala. “Belum. Ayah dan saudaramu paling lambat akan kembali besok.”
Keduanya mengobrol sebentar. Marionne lalu pergi untuk memenuhi undangan minum teh dengan teman selingkarannya. Setelah itu, Beatrice naik ke lantai atas dan memasuki ke kamarnya.
Erica muncul tak lama kemudian. Ia tampak sangat senang setelah menerima hadiah kecil dari nona mudanya itu.
“Nona,” katanya sambil mendekat. "Saya dengar Marquis Kyron akan bertunangan dengan Lady Paula.”
Beatrice mengerutkan kening. “Kapan berita itu muncul?”
“Siang tadi,” jawab Erica. “Saya ikut Nyonya Duchess membeli beberapa barang di kota. Dan … ibu Marquis Kyron datang ke toko yang kebetulan sedang kami singgahi. Lalu dia bilang pada semua orang bahwa putranya akan segera bertunangan.”
“Begitu senang?” Beatrice duduk di pinggir ranjang, menatap pelayannya. “Padahal putranya menikah dengan putri keluarga Baron. Bukankah seharusnya dia mencari wanita bangsawan yang setara atau lebih tinggi dari putranya?”
Erica mengusap hidung dan menurunkan suaranya. “Nona mungkin tidak tahu … ibu Marquis Kyron itu dulu kekasih Baron Perrone. Tapi keluarga kelahirannya menentang hubungan mereka. Akhirnya dia dijodohkan dengan Marquis Kyron terdahulu. Meski begitu … kudengar mereka tetap saling jatuh cinta.”
“Hah? Sungguh?!"
“Tentu saja,” jawab Erica yakin.
Beatrice termenung sejenak.
Jadi begitu ceritanya. Mungkin Nyonya Kyron gagal menikah dengan Baron Perrone, jadi dia membiarkan putranya menikahi putri pria itu. Tidak heran ia tampak sangat senang.
“Lalu apa lagi yang terjadi?” tanya Beatrice.
“Nyonya Kyron akhirnya terdiam setelah menyadari kehadiran Nyonya Duchess,” kata Erica. “Beliau langsung meminta maaf dan pergi terburu-buru.”
“Begitu …” Beatrice mengangguk.
Setidaknya wanita itu masih tahu kapan harus mundur. Dan rahu siapa yang tidak seharusnya ia singgung.
Ia menyentuh dagunya, lalu bergumam pelan, “Jika memang demikian … bukankah nyonya Kyron dan Baroness Perrone tidak akur?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pertunangan Charls dan Paula digelar tergesa-gesa keesokan harinya. Acaranya tidak megah, tapi juga tidak bisa disebut kecil—cukup banyak tamu yang datang. Sebagian karena rasa ingin tahu dan sebagian lagi karena ingin melihat bagaimana keluarga Marquis Kyron memperlakukan wanita yang telah mengganggu keharmonisan rumah tangannya.
Keluarga Marquis Kyron juga mengundang keluarga Duke Vassal, tetapi tak satu pun yang hadir. Leonidas dan Angelo masih berada di perbatasan dan Marionne tak mungkin datang hanya berdua dengan putrinya.
Di antara kerumunan, ekspresi Baroness Perrone tampak buruk sejak awal. Ia tidak pernah suka pada Nyonya Kyron. Wanita itu terlalu gemar memamerkan diri dan diam-diam sering menyebut hubungan cinta masa lalu dengan suaminya—sesuatu yang selalu menusuk perasaannya.
Namun, mau bagaimana lagi? Putrinya sudah bersama Charls terlalu lama. Jika mereka tidak bertunangan hari ini juga, reputasi keluarga Perrone akan hancur.
“Ibu …” Paula mencoba bicara, tapi melihat wajah ibunya yang dingin, ia mengubah nada. “Bersabar saja. Ini cuma pertunangan.”
“Aku tidak peduli kamu bertunangan dengan dia atau tidak,” bisik Baroness Perrone dingin. “Yang kuharapkan hanya satu, jangan mempermalukan keluarga kita.”
Paula mengepalkan tangannya.
Selalu begini. Ayahnya tak pernah peduli padanya kecuali saat menyangkut Charls. Ibunya pun tak pernah menyukainya. Kedua orang tuanya hanya peduli pada kakak laki-lakinya yang pemalas itu—sementara dirinya diperlakukan seperti pembantu di rumah sendiri.
Ayahnya baru-baru ini tampak perhatian padanya hanya karena hubungan masa lalu dengan Nyonya Kyron.
Ketika tidak ada orang di sekitar, Paula mencondongkan tubuh dan berbisik sangat pelan, “Aku akan berusaha menunda pernikahan. Aku tidak benar-benar ingin menikah dengannya. Tujuanku bukan dia, tapi putra mahkota.”
Baroness Perrone memutar bola matanya. “Kamu masih bermimpi di siang bolong? Menikah dengan putra mahkota? Coba lihat dirimu di cermin.”
Ia dan Paula memiliki wajah yang mirip. Ia tahu betul sampai mana kemampuan putrinya itu. Andai bukan karena masa lalu suaminya dengan Nyonya Kyron, mana mungkin Paula memiliki peluang masuk ke keluarga Marquis?
“Bu, jangan meremehkanku,” Paula membalas, suaranya mulai mengeras. “Putri Duke Vassal yang sakit-sakitan itu saja bisa bertunangan dengan Grand Duke Carlitos.”
Setelah Beatrice sembuh, keluarga Duke Vassal mengumumkannya pada dunia luar. Meski mereka tidak mengadakan debutante resmi, berita itu tetap sampai ke seluruh keluarga bangsawan di Northern.
Baroness Perrone mendengus. “Ibu memang belum pernah melihat Lady Tricia sebelumnya. Tapi ibu yakin dia cantik seperti ibunya. Pertunangannya dengan Grand Duke bukan kebetulan—itu karena kemampuannya. Kalau penampilanmu punya setengah kecantikannya saja, mungkin ibu bisa bangga.”
Paula hampir tersedak oleh kata-kata itu.
Penampilanku seperti ini, bukankah karena kamu sendiri tidak cantik? Gerutunya dalam hati.
Baroness Perrone mengibaskan tangan, malas melanjutkan. “Sudahlah, lupakan mimpimu mendaki gunung. Ibu akan pulang setelah jamuan selesai.”
“Tidakkah Ibu akan pulang bersama Ayah?”
“Tidak.” Baroness Perrone mendecak. “Dia pasti minum-minum dengan wanita itu malam nanti. Ibu tidak perlu khawatir dia selingkuh. Bagaimanapun, wanita itu segemuk b*bi.”
Paula melirik ke arah Nyonya Kyron yang tertawa sambil menghibur para tamu. Wanita itu memang gemuk … tapi tidak sampai separah yang ibunya katakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...